Halaman

Sabtu, 19 November 2011

KITA(DITA HYUN RIN)

Seorang gadis tengah mengayuh sepedanya cepat. Napasnya tersengal – sengal, namun ia tetap mengayuh secepat yang ia bisa. Peluhnya menetes deras. Seolah ia bak pembalap yang tengah berpacu cepat demi kehormatan negara.
BRUK!!
Ia terbanting dari sepedanya. Sudah ketiga kalinya. Namun sial, kali ini ia jatuh ditengah – tengah pasar yang penuh dengan kerumunan manusia. Tepat dugaan, semua mata menatapnya. Ia sempat membisu. Lalu segera bangkit berdiri.
“MAAF!!” ucapnya keras. Lalu ia memperbaiki posisi sepedanya dan kembali mengayuh cepat meninggalkan kerumunan itu.  Mereka semua hanya meggeleng pelan. Salah seorang dari mereka berujar seraya menggeleng,
“Asahi, kau ini..”
***
Sebuah mobil Toyota Kijang Innova tengah menepi di depan sebuah rumah. Seorang laki – laki dewasa turun dari dalam mobil. Ia berjalan memutar cepat ke pintu mobil di sebelahnya. Lalu ia membuka pintunya. Seorang laki – laki muda dengan kaki disangga turun dengan hati – hati. Seraya dipapah oleh laki – laki dewasa itu ia menurunkan tongkatnya. Lalu membetulkan posisi tubuhnya yang tadi dipapah menjadi berdiri bersama tongkatnya.
“aku bisa jalan sendiri pa.” Ucap laki – laki bertongkat itu. Ia dengan hati – hati melangkah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan laki – laki dewasa yang tengah melepaskan napasnya.
Laki – laki bertongkat itu berjalan memasuki rumah. Matanya menatap tajam keseluruh penjuru rumah. Laki – laki dewasa itu berjalan menghampirinya lalu berujar padanya,
“Ryo, kau menyukainya? Ini rumah kita sekarang.”
Laki – laki muda itu hanya menghela napasnya. Tanpa terlihat satupun reaksi yang berarti darinya ia berucap,
“pa, aku mau ke kamar dulu.”
***
“yeay!!akhirnya aku berhasil lagi mengitari komplek ini dua ratus kali sebelum hujan tiba!!” Seru seorang gadis yang tengah duduk diatas sepedanya. Ialah Asahi yang berpacu bersama sepedanya tadi. Kini ia benar – benar menghentikan laju sepedanya. Benar – benar berhenti.
PLOK..PLOK..PLOK...
Seorang laki – laki muda menghampirinya seraya menepukkan kedua tangannya. Asahi tersenyum kepadanya. Wajah laki – laki itu sungguh tak asing bagi Asahi. Ia dengan cepat meyapanya,
“Sho!”  Laki – laki itu tersenyum.
“yap!selamat ya. Hmm.. lagi – lagi kau berhasil dengan predikatmu sebagai gadis pembalap.” Ucapnya. Asahi kembali tersenyum riang.
“tentu!hehehe. Sho? Kapan kau kembali heh?” Tanya Asahi.
“baru saja.” Jawabnya pendek. Lalu ia segera duduk menepi di bangku taman. Asahi menbuka standar sepedanya. Lalu segera duduk di sebelah laki – laki bernama Sho tadi.
“lalu, kau langsung kesini?” tanya Asahi cepat.
“hmm..tentu saja. Setibanya aku di sini aku langsung teringat wajah manis gadis pembalapku.” Jawab Sho. Ia menoleh seraya tersenyum manis pada Asahi.
“ha...h? huh..da..sar kau ti..tidak pernah bisa serius ka..kalau ditanya!” Seru Asahi terbata – bata. Ia menoleh cepat. Wajahnya sudah mulai memerah.
“hahaha. Aku serius. Sumpah aku kangen banget sama kamu tau ga?ayolah...jangan marah padaku. Kita kan udah hampir lima tahun ga ketemu loh.” Ucap Sho. Ia memutar posisi tubuhnya hingga ia berada sejajar dengan kaki Asahi.
“huh.kau ini. Ya...,sudah cepat bangun. Iya aku juga kangen banget sama kamu.hehe.” ucap Asahi. Kemudian ia segera tertawa.
“hahaha.Dugaanku tepat, kau masih seperti dulu Nishikawa Asahi.” Ucap Sho. Ia bangkit dan kembali duduk.
“ya, memang kau kira aku akan berubah seperti apa heh?hehe. kau sendiri masih sama Sho Misuyama” Balas Asahi.
“sama? Bukannya aku tambah tampan ya? Lihat ini.” Sho segera memamerkan senyum andalannya. Asahi ingin membalasnya,
“huekk...apa itu.” Ucap Asahi dengan meniruan seperti orang yang ingin muntah.
“huh.dasar, cewek yang enggak tau barang berkualitas sih.” Ujar Sho kesal.
“hahahaha. Satu sama.” Ucap Asahi. Lalu mereka berdua tertawa bersama.
“kurang lengkap ya?” Ujar Asahi tiba – tiba. Sho menoleh penuh tanda tanya padanya.
“iya,kurang lengkap tanpa kehadiran Ryo.”
***
Seorang laki – laki muda tengah menatap dengan bisu ke arah jendela. Tatapannya kosong. Ia hanya diam. Entah apa yang dilakukannya.
“tuan, makanan bibi taruh di dalam ya?” ucap seorang pelayan padanya. Namun ia tetap tak terusik. Ia masih diam. Tetap dalam tatapan kehampaan yang dalam.
“apa yang dapat kuperbuat sekarang?” tanyanya sendiri. Ia lalu berjalan menghampiri makanan yang tadi diletakkan oleh pelayan dirumahnya.
Ditatapnya dalam – dalam piring yang berisi aneka makanan itu. Ia menghela napasnya. Lalu tangannya meraih satu sisi dari piring itu.
PRANG!!
Piring itu ia jatuhkan dalam satu hentakan keras. Lalu,
BRUK!
Ia pun terjatuh bersamaan dengannya. Seketika ia lempar tongkat yang biasa menyangganya. Air matanya mengalir. Ia menatap kakinya yang kini tiada lagi sempurna. Ia menangis sejadi – jadinya.
“AKU INGIN MATI!!” Serunya panjang dan keras. Bersama derainan air matanya yang kini mengalir deras.
***
“bagaimana kabarmu selama di sana?” Tanya Asahi seraya berjalan di taman pada seorang laki – laki bernama Sho yang tengah menuntun sepedanya.
“hmm...ya begitulah.hehe. Kamu sendiri?” Sho balas bertanya pada Asahi yang tengah membuka botol minum miliknya.
“ya begini. Kamu bisa lihat sendiri kan?” Jawab Asahi.
“hmm..sepeertinya sangat tidak baik ya?” Ujar Sho pendek.
“grr..hei Sho Misuyama jangan mulai lagi deh.” Gumam Asahi.
“iya iya. Hei ada kabar bagus. Setelah ini aku akan menetap di sini.” Ujarnya.
“di sini?”
“iya. Kan kuliahku si Paris sudah selesai. Nah aku akan menetap di sini dan bekerja di perusahaan papa.”
“wah..bagus deh.hehe. Ternyata kau memang pintar,bisa lulus secepat itu” Jawab Asahi. Namun ia buru – buru melanjutkan.
“kira – kira bagamana kabar Ryo ya? Aku enggak pernah denger tentang dia sedikitpun setelah kepergiannya ke Ausie.”