YAP...
Annyeong Haseyoooo!!!
I'm Here with my bad News....-_-",,,
bad...
artinya jelek...
bahkan sudah mau ancur kali ya....--" soalnya udah basi...
TT....yap... hari ini tuh saya/aku/siapadah namanya...
sedang aneeehhhh banget -_-"....
entah masalah apa masalah apa....
yang jelas bingung aja....
capek lagi...
ceritanya nanti aja deh..
Senin, 30 Januari 2012
Kamis, 19 Januari 2012
Cerpen SRI
Aku Akan Berjilbab!
Dita Hyun Rin
“Katakanlah kepada wanita yang beriman… … … . . Dan hendaklah mereka
menutupkan kerudung kepalanya sampai kedadanya”… … . .(Q.S. An-Nur : 31)
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri
orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Kututup dengan perlahan Al – Quran yang ada di genggaman tanganku. Kitab
suci pedoman hidup dunia dan akhirat yang sedari tadi kubaca dan kucoba
memaknainya. Mencoba mengerti dengan segala keterbatasan kemampuan yang
kumiliki. Untuk menghilangkan kebimbangan yang saat ini menyelimutiku.
Kulepas mukena yang saat ini membalut tubuhku sedari subuh hari tadi hingga aku
menutup Al – Quran yang kubaca. Usai itu, kulangkahkan kakiku mendekat ke arah
meja rias di kamar. Aku mengikat rambutku yang panjang dan hitam menjuntai. Aku
melihat gambaran seorang gadis yang tidak lain ialah diriku sendiri di dalam kaca di
meja riasku. Kutatap ia lekat. Dan bergumam,“yaa, gimana. Aku ko jadi galau begini
ya..” Keluh ku sendiri seraya menatap gambaran diriku yang kini terpampang jelas
dihadapanku.
Aku menoleh. Kulihat jilbab yang terbungkus plastik di atas lemari pakaianku.
Bungkusan yang masih damai dengan kebisuannya. Aku menatapnya bimbang.
Itu jilbab hadiah dari Tante Ani saat aku berhasil masuk SMA yang aku impikan.
Namun, sudah setengah tahun berlalu, jilbab itu tak pernah sekalipun kupakai. Jilbab
selain jilbab pasangan baju muslim sekolah yang kumiliki. Maklum, mamaku pun tak
berjilbab. Ya otomatis mama tak membelikanku baju – baju berjilbab.
Dari dulu aku tak mempermasalahkan hal itu karena teman – temanku pun jarang
yang mengenakannya kalau bukan diperintah oleh sekolah. Sebentar dikenakan?
Sebentar kemudian dilepaskan dengan mudahnya. Dahulu hal itu sudah biasa
kulakukan. Namun sekarang , aku mulai mengetahui betapa pentingnya jilbab bagi
seorang wanita. Jilbab itu sebagai penjaga kehormatan dirinya. Di Al – Quran tertera
dengan jelas akan kewajban itu. Hal inilah yang menggalaukan hatiku saat ini.
Aku ingin. Sangat ingin. Ketika aku melihat temanku di sekolah yang berjilbab. Aku
melihat wajah mereka tampak lebih cantik dan dipenuhi kedamaian. Aku ingin. Tapi
aku bingung. Apa kata yang lain nanti? Apa kata mama? Mungkin aku dikira pura
– pura alim. Atau ikut – ikutan teman. Haaa… aku bingung. Kugerakkan tanganku
untuk menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Kemudian aku bebalik
dan melangkah pergi menuju kamar mandi untuk mandi pagi dan bersiap – siap ke
“eum..ma Nay boleh Tanya sesuatu enggak?” Ujarku saat hendak mengambil nasi
goring yang tersaji di meja makan.
“boleh. Nanya apa Nay sayang?” Jawab mama ramah.
“ma, Nay boleh enggak merubah penampilan Nay?” Tuturku perlahan tapi pasti.
Bersamaan dengan gerakan tubuhku untuk duduk. Dan,
“Nay, mama gamau denger kalau kamu berubah hanya karena ikutan temanmu ya.
Memang kamu mau berubah yang seperti apa?” Sahut mama.
“eh? Enggak mah. Enggak jadi. Hehehe.” Ucapku. Aku menelan ludah. Belum apa –
apa mama sudah berkata seperti itu. Membuat nyaliku makin menciut saja.
“oh. Sudah itu nasinya cepat dimakan Nay, nanti kamu terlambat.” Sambung mama.
“iya..ma.” jawabku pendek seraya memainkan sendok di piringku.
Mama yang sepertinya memperhatikan aksiku pun menggelengkan kepalanya
seraya bergumam,“ehm..iya ma. Berarti harus cepat dilakukan.” Aku terkejut dan
segera menghabiskan makananku. Usai itu aku segera beranjak dan mengambil tas
milikku dan kemudian mencium tangan mama lalu berangkat ke sekolah.
Teng! Teng! Teng!...
Bel sekolah berdenting keras tepat saat kakiku berpijak di depan gerbang sekolah.
Seketika itu pun dengan segera satpam yang berjaga di pos dekat gerbang berjalan
dan menutup pintu. Aku menoleh kebelakang tepat saat kedua wajah gerbang
“hosh..hosh.. Alhamdulilah. Nyaris saja.” Ucapku dengan napas yang masih tak
beraturan. Setelah kurasa napasku cukup teratur, aku berjalan santai menuju ruang
“assalamualaikum.” Sapaku saat menginjakan kakiku ke dalam ruang kelas
bertuliskan sepuluh tujuh.
“waalaikumsalam.” Balas beberapa anak. Kulihat, ternyata yang membalasnya
hanya dari sekumpulan anak yang berjilbab. Mereka tersenyum saat tau bahwa
aku melihat ke arah mereka. Aku membalasnya dengan salah tingkah. Tiba – tiba,
sekelompok anak berseragam pendek datang menghampiriku. Salah satunya
berujar,“Nay, pulang nanti ke gading yoo? Kita nonton.”
“eh? Aku lagi engga mood Sel.” Jawabku malas. Mereka mendengus kesal.
Aku hanya tersenyum seadanya. Jujur saja, semenjak aku dihinggapi kegalauan ini
aku jadi agak malas bersama dengan kawan – kawanku. Mereka selalu mengajakku
untuk shopping dan shopping paling kalo yang lain ya nonton.Aku pikir, sama sekali
enggak ada manfaatnya. Kemudian seorang anak perempuan berjilbab datang
menghampiriku.
“Nayla, kamu mau ikut ? Pulang nanti kan ada mentoring di masjid sekolah. Yang
ngasih materi itu alumni loh.” Ucapnya.
Aku terdiam. Sebenarnya aku ingin sekali bilang ‘iya’ tapi gimana ya, malu. Aku kan
jarang banget dateng. Kawan – kawanku selalu mengajak untuk kabur saat jam
itu. “memangnya boleh? Aku kan jarang ikutan mentoring.” Tuturku.
“ya gapapa lah? Emang siapa yang ngelarang? Berarti kamu ikut ya? Nanti abis
bel kita shalat zuhur dulu di sana ya!” Serunya ramah. Aku terperangah mendengar
jawabannya. Dan bergumam,”insya Allah”. Kemudian aku tersenyum tulus padanya.
Teng! Teng! Teng!..
Bel pulang sekolah berdenting keras. Pertanda jam belajar hari ini telah selesai.
Seluruh siswa bersiap pulang. Berdoa, dan kemudian member salam pada guru.
Setelah itu mereka berhamburan keluar kelas bagaikan tahanan yang bebas.
“Nay, beneran kamu ga ikut kita – kita?” Tanya seorang anak perempuan
berseragam dan berambut sebahu seraya menepuk bahuku. Aku menggeleng
perlahan. Kemudian ia menambahkan,”ah lo sekarang ga asik!” kemudian ia berlari
meninggalkanku yang membisu sendiri. Aku menghela napasku. “ayo Nayla!”
Panggil beberapa anak dari belakangku. Aku menoleh dan tersenyum lalu berlari
menghampiri mereka.
Aku mengucap salam ke kanan dan kiri usai melaksanakan shalat zuhur berjamaah.
Setelah itu aku menegadahkan tanganku dengan kusyuk untuk berdoa. Berharap
aku diberi penyelesaian dari kegalauan yang menghinggapiku saat ini. Usai itu kami
bersalaman satu sama lain. Dan segera melepas mukenah dan menuju ke tempat
mentoring. Dimana disana sudah bersiaga kakak – kakak alumni.
Teman – temanku segera bergabung. Namun aku masih ragu, karena hanya
aku yang engga berjilbab. Aku malu. Namun, tiba – tiba seorang kakak
menghampiriku. “ayo, ke sini aja. gapapa ko.” Ajaknya. Ia merangkulku lembut dan
mengajakku untuk duduk.
“assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semuanya, terima kasih sudah
hadir pada mentoring hari ini. Semoga pada pertemuan siang ini, kita semua
mendapat manfaat serta hidayah dari Allah SWT.” Tutur salah seorang kakak. Kami
semua menjawab salam darinya.
“pertama – tama, kita ucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Materi hari ini adalah
keutamaan Hijab atau Jilbab bagi seorang muslimah.” Tuturnya kembali.
Aku menelan ludah. Hal inilah yang menggalaukanku. Kenapa bisa pas begini?
“adik – adik ukhti sudah tahu mengapa adik – adik di wajibkan untuk megenakan
Hijab atau Jilbab? Apa karena disuruh? Atau bagaimana?” Tanya salah seorang
kaka yang lain.
“Hijab atau Jilbab merupakan hal terpenting yang harus dikenakan seorang akhwat.
Di Al – Quran pun sudah dengan jelas tertera tentang kewajiban itu. Namun,
seringkali kita yang lalai. Ada yang merasa pake jilbab ga keren lah, atau panaslah.
Padahal Jilbab itu menjauhkan kita dari bahaya fitnah, membuat kita tampak
lebih cantik, dan menjauhkan kita dari api neraka. Karena kan itu perintah Allah.”
Jelasnya.
“apa sih halangan kalian untuk mengenakan Jilbab? Rasa ragu ya? Atau belum
siap? Takut dengan pandangan orang terhadap kalian nantinya? Adikku, kenapa kita
harus takut atau ragu untuk menjalankan suatu perbuatan yang benar? Mengapa kita
harus ragu atau takut untuk membuat diri kita terhindar dari api neraka? Yakinkan
diri kita sendiri. Toh, nanti keuntungannya juga ada pada diri kita sendiri.” Jelasnya
kembali yang serasa menggambarkan keadaanku saat ini. Aku terperangah.
Terjawablah segala persoalan batinku.
Hatiku sudah tenang sekarang. Kudengarkan segala yang dijelaskan kakak – kakak
itu. Semakin memantapkan hatiku untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh
Allah. ‘Aku akan memakai jilbab’.ucapku membatin. Aku bertekad, sesampainya di
rumah aku akan menjelaskan semua pada mama. Ya Allah, tolong bulatkan tekadku
Hai, namaku Nayla Fitriani. Sekarang aku bukan Nay yang dulu lagi. Nay yang
agak sesat. Hehe. Sekarang aku mengenakan jilbab. Bagaimana dengan mama?
Alhamdulillah, ternyata mama mendukung tekadku. Dan mama pun ternyata akan
berjilbab juga! Hmm..bagaimana dengan teman – temanku yang lain? Tadinya
mereka memusuhiku. Aku dikaakannya penghianat. Tapi, sekarang mereka mulai
sering bertanya tentang rasanya memakai jilbab! Mereka pun ada keinginan juga
ternyata! Semoga mereka dapat berjilbab juga. Amin.
So, teman – teman. Kalian juga dong! Hehe..
Tamat
Dita Hyun Rin
“Katakanlah kepada wanita yang beriman… … … . . Dan hendaklah mereka
menutupkan kerudung kepalanya sampai kedadanya”… … . .(Q.S. An-Nur : 31)
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri
orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Kututup dengan perlahan Al – Quran yang ada di genggaman tanganku. Kitab
suci pedoman hidup dunia dan akhirat yang sedari tadi kubaca dan kucoba
memaknainya. Mencoba mengerti dengan segala keterbatasan kemampuan yang
kumiliki. Untuk menghilangkan kebimbangan yang saat ini menyelimutiku.
Kulepas mukena yang saat ini membalut tubuhku sedari subuh hari tadi hingga aku
menutup Al – Quran yang kubaca. Usai itu, kulangkahkan kakiku mendekat ke arah
meja rias di kamar. Aku mengikat rambutku yang panjang dan hitam menjuntai. Aku
melihat gambaran seorang gadis yang tidak lain ialah diriku sendiri di dalam kaca di
meja riasku. Kutatap ia lekat. Dan bergumam,“yaa, gimana. Aku ko jadi galau begini
ya..” Keluh ku sendiri seraya menatap gambaran diriku yang kini terpampang jelas
dihadapanku.
Aku menoleh. Kulihat jilbab yang terbungkus plastik di atas lemari pakaianku.
Bungkusan yang masih damai dengan kebisuannya. Aku menatapnya bimbang.
Itu jilbab hadiah dari Tante Ani saat aku berhasil masuk SMA yang aku impikan.
Namun, sudah setengah tahun berlalu, jilbab itu tak pernah sekalipun kupakai. Jilbab
selain jilbab pasangan baju muslim sekolah yang kumiliki. Maklum, mamaku pun tak
berjilbab. Ya otomatis mama tak membelikanku baju – baju berjilbab.
Dari dulu aku tak mempermasalahkan hal itu karena teman – temanku pun jarang
yang mengenakannya kalau bukan diperintah oleh sekolah. Sebentar dikenakan?
Sebentar kemudian dilepaskan dengan mudahnya. Dahulu hal itu sudah biasa
kulakukan. Namun sekarang , aku mulai mengetahui betapa pentingnya jilbab bagi
seorang wanita. Jilbab itu sebagai penjaga kehormatan dirinya. Di Al – Quran tertera
dengan jelas akan kewajban itu. Hal inilah yang menggalaukan hatiku saat ini.
Aku ingin. Sangat ingin. Ketika aku melihat temanku di sekolah yang berjilbab. Aku
melihat wajah mereka tampak lebih cantik dan dipenuhi kedamaian. Aku ingin. Tapi
aku bingung. Apa kata yang lain nanti? Apa kata mama? Mungkin aku dikira pura
– pura alim. Atau ikut – ikutan teman. Haaa… aku bingung. Kugerakkan tanganku
untuk menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Kemudian aku bebalik
dan melangkah pergi menuju kamar mandi untuk mandi pagi dan bersiap – siap ke
“eum..ma Nay boleh Tanya sesuatu enggak?” Ujarku saat hendak mengambil nasi
goring yang tersaji di meja makan.
“boleh. Nanya apa Nay sayang?” Jawab mama ramah.
“ma, Nay boleh enggak merubah penampilan Nay?” Tuturku perlahan tapi pasti.
Bersamaan dengan gerakan tubuhku untuk duduk. Dan,
“Nay, mama gamau denger kalau kamu berubah hanya karena ikutan temanmu ya.
Memang kamu mau berubah yang seperti apa?” Sahut mama.
“eh? Enggak mah. Enggak jadi. Hehehe.” Ucapku. Aku menelan ludah. Belum apa –
apa mama sudah berkata seperti itu. Membuat nyaliku makin menciut saja.
“oh. Sudah itu nasinya cepat dimakan Nay, nanti kamu terlambat.” Sambung mama.
“iya..ma.” jawabku pendek seraya memainkan sendok di piringku.
Mama yang sepertinya memperhatikan aksiku pun menggelengkan kepalanya
seraya bergumam,“ehm..iya ma. Berarti harus cepat dilakukan.” Aku terkejut dan
segera menghabiskan makananku. Usai itu aku segera beranjak dan mengambil tas
milikku dan kemudian mencium tangan mama lalu berangkat ke sekolah.
Teng! Teng! Teng!...
Bel sekolah berdenting keras tepat saat kakiku berpijak di depan gerbang sekolah.
Seketika itu pun dengan segera satpam yang berjaga di pos dekat gerbang berjalan
dan menutup pintu. Aku menoleh kebelakang tepat saat kedua wajah gerbang
“hosh..hosh.. Alhamdulilah. Nyaris saja.” Ucapku dengan napas yang masih tak
beraturan. Setelah kurasa napasku cukup teratur, aku berjalan santai menuju ruang
“assalamualaikum.” Sapaku saat menginjakan kakiku ke dalam ruang kelas
bertuliskan sepuluh tujuh.
“waalaikumsalam.” Balas beberapa anak. Kulihat, ternyata yang membalasnya
hanya dari sekumpulan anak yang berjilbab. Mereka tersenyum saat tau bahwa
aku melihat ke arah mereka. Aku membalasnya dengan salah tingkah. Tiba – tiba,
sekelompok anak berseragam pendek datang menghampiriku. Salah satunya
berujar,“Nay, pulang nanti ke gading yoo? Kita nonton.”
“eh? Aku lagi engga mood Sel.” Jawabku malas. Mereka mendengus kesal.
Aku hanya tersenyum seadanya. Jujur saja, semenjak aku dihinggapi kegalauan ini
aku jadi agak malas bersama dengan kawan – kawanku. Mereka selalu mengajakku
untuk shopping dan shopping paling kalo yang lain ya nonton.Aku pikir, sama sekali
enggak ada manfaatnya. Kemudian seorang anak perempuan berjilbab datang
menghampiriku.
“Nayla, kamu mau ikut ? Pulang nanti kan ada mentoring di masjid sekolah. Yang
ngasih materi itu alumni loh.” Ucapnya.
Aku terdiam. Sebenarnya aku ingin sekali bilang ‘iya’ tapi gimana ya, malu. Aku kan
jarang banget dateng. Kawan – kawanku selalu mengajak untuk kabur saat jam
itu. “memangnya boleh? Aku kan jarang ikutan mentoring.” Tuturku.
“ya gapapa lah? Emang siapa yang ngelarang? Berarti kamu ikut ya? Nanti abis
bel kita shalat zuhur dulu di sana ya!” Serunya ramah. Aku terperangah mendengar
jawabannya. Dan bergumam,”insya Allah”. Kemudian aku tersenyum tulus padanya.
Teng! Teng! Teng!..
Bel pulang sekolah berdenting keras. Pertanda jam belajar hari ini telah selesai.
Seluruh siswa bersiap pulang. Berdoa, dan kemudian member salam pada guru.
Setelah itu mereka berhamburan keluar kelas bagaikan tahanan yang bebas.
“Nay, beneran kamu ga ikut kita – kita?” Tanya seorang anak perempuan
berseragam dan berambut sebahu seraya menepuk bahuku. Aku menggeleng
perlahan. Kemudian ia menambahkan,”ah lo sekarang ga asik!” kemudian ia berlari
meninggalkanku yang membisu sendiri. Aku menghela napasku. “ayo Nayla!”
Panggil beberapa anak dari belakangku. Aku menoleh dan tersenyum lalu berlari
menghampiri mereka.
Aku mengucap salam ke kanan dan kiri usai melaksanakan shalat zuhur berjamaah.
Setelah itu aku menegadahkan tanganku dengan kusyuk untuk berdoa. Berharap
aku diberi penyelesaian dari kegalauan yang menghinggapiku saat ini. Usai itu kami
bersalaman satu sama lain. Dan segera melepas mukenah dan menuju ke tempat
mentoring. Dimana disana sudah bersiaga kakak – kakak alumni.
Teman – temanku segera bergabung. Namun aku masih ragu, karena hanya
aku yang engga berjilbab. Aku malu. Namun, tiba – tiba seorang kakak
menghampiriku. “ayo, ke sini aja. gapapa ko.” Ajaknya. Ia merangkulku lembut dan
mengajakku untuk duduk.
“assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semuanya, terima kasih sudah
hadir pada mentoring hari ini. Semoga pada pertemuan siang ini, kita semua
mendapat manfaat serta hidayah dari Allah SWT.” Tutur salah seorang kakak. Kami
semua menjawab salam darinya.
“pertama – tama, kita ucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Materi hari ini adalah
keutamaan Hijab atau Jilbab bagi seorang muslimah.” Tuturnya kembali.
Aku menelan ludah. Hal inilah yang menggalaukanku. Kenapa bisa pas begini?
“adik – adik ukhti sudah tahu mengapa adik – adik di wajibkan untuk megenakan
Hijab atau Jilbab? Apa karena disuruh? Atau bagaimana?” Tanya salah seorang
kaka yang lain.
“Hijab atau Jilbab merupakan hal terpenting yang harus dikenakan seorang akhwat.
Di Al – Quran pun sudah dengan jelas tertera tentang kewajiban itu. Namun,
seringkali kita yang lalai. Ada yang merasa pake jilbab ga keren lah, atau panaslah.
Padahal Jilbab itu menjauhkan kita dari bahaya fitnah, membuat kita tampak
lebih cantik, dan menjauhkan kita dari api neraka. Karena kan itu perintah Allah.”
Jelasnya.
“apa sih halangan kalian untuk mengenakan Jilbab? Rasa ragu ya? Atau belum
siap? Takut dengan pandangan orang terhadap kalian nantinya? Adikku, kenapa kita
harus takut atau ragu untuk menjalankan suatu perbuatan yang benar? Mengapa kita
harus ragu atau takut untuk membuat diri kita terhindar dari api neraka? Yakinkan
diri kita sendiri. Toh, nanti keuntungannya juga ada pada diri kita sendiri.” Jelasnya
kembali yang serasa menggambarkan keadaanku saat ini. Aku terperangah.
Terjawablah segala persoalan batinku.
Hatiku sudah tenang sekarang. Kudengarkan segala yang dijelaskan kakak – kakak
itu. Semakin memantapkan hatiku untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh
Allah. ‘Aku akan memakai jilbab’.ucapku membatin. Aku bertekad, sesampainya di
rumah aku akan menjelaskan semua pada mama. Ya Allah, tolong bulatkan tekadku
Hai, namaku Nayla Fitriani. Sekarang aku bukan Nay yang dulu lagi. Nay yang
agak sesat. Hehe. Sekarang aku mengenakan jilbab. Bagaimana dengan mama?
Alhamdulillah, ternyata mama mendukung tekadku. Dan mama pun ternyata akan
berjilbab juga! Hmm..bagaimana dengan teman – temanku yang lain? Tadinya
mereka memusuhiku. Aku dikaakannya penghianat. Tapi, sekarang mereka mulai
sering bertanya tentang rasanya memakai jilbab! Mereka pun ada keinginan juga
ternyata! Semoga mereka dapat berjilbab juga. Amin.
So, teman – teman. Kalian juga dong! Hehe..
Tamat
Sulit
aku mungkin terlihat tidak bersyukur...
iya...
aku zholim terhadap diriku...
dan raga yang diciptakan oleh Allah ini...
sang hakim yang paling adil...
tapi kenapa???
aku saat ini tiada bisa berfikir kau tahu
???
aku ingin menangis...
tapi aku hanya sendirian...
Bisakah??????
iya...
aku zholim terhadap diriku...
dan raga yang diciptakan oleh Allah ini...
sang hakim yang paling adil...
tapi kenapa???
aku saat ini tiada bisa berfikir kau tahu
???
aku ingin menangis...
tapi aku hanya sendirian...
Bisakah??????
RENUNGAN DARI SEORANG HELEN KELLER
kawan,
Pernahkah kawan mendengar kisah Helen Kehler?
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan
dalam kondisi buta dan tuli.
Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa
membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dlm
kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.
Tidak ada seorangpun yang menginginkan
lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya
Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan
memilih untuk lahir dalam keadaan normal.
Namun siapa sangka, dengan segala
kekurangannya, dia memiliki semangat hidup
yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang
legendaris.
Dengan segala keterbatasannya, ia mampu
memberikan motivasi dan semangat hidup
kepada mereka yang memiliki keterbatasan
pula, seperti cacat, buta dan tuli.
Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti
dirinya mampu menjalani kehidupan seperti
manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit
dilakukan.
Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah
diucapkan Helen Kehler:
"It would be a blessing if each person
could be blind and deaf for a few days
during his grown-up live. It would make
them see and appreciate their ability to
experience the joy of sound".
Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah
bila setiap org yang sudah menginjak dewasa
itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja.
Dengan demikian, setiap orang akan lebih
menghargai hidupnya, paling tidak saat
mendengar suara!
Sekarang, coba anda bayangkan sejenak....
......anda menjadi seorang yang buta
dan tuli selama dua atau tiga hari saja!
Tutup mata dan telinga selama rentang waktu
tersebut. Jangan biarkan diri anda melihat
atau mendengar apapun.
Selama beberapa hari itu anda tidak bisa
melihat indahnya dunia, anda tidak bisa
melihat terangnya matahari, birunya langit, dan
bahkan anda tidak bisa menikmati musik/radio
dan acara tv kesayangan!
Bagaimana? Apakah beberapa hari cukup berat?
Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?
Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja,
bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur
atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada
dalam diri kita!
Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah
keluhan demi keluhan.... Hingga tidak pernah
menghargai apa yang sudah kita miliki.
Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan
kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati
oleh orang lain. Ya! Kemewahan utk orang lain!
Coba kita renungkan, bagaimana orang yang
tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah
kemewahan yang luar biasa baginya.
Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia
diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin
akan mampu melakukan banyak hal, termasuk
membuat sebuah tulisan yang menarik.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita
mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal
yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan
bisa memandang hidup dengan lebih baik.
Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah!
Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif
dan menjadi seorang manusia yang lebih baik.
Pernahkah kawan mendengar kisah Helen Kehler?
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan
dalam kondisi buta dan tuli.
Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa
membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dlm
kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.
Tidak ada seorangpun yang menginginkan
lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya
Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan
memilih untuk lahir dalam keadaan normal.
Namun siapa sangka, dengan segala
kekurangannya, dia memiliki semangat hidup
yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang
legendaris.
Dengan segala keterbatasannya, ia mampu
memberikan motivasi dan semangat hidup
kepada mereka yang memiliki keterbatasan
pula, seperti cacat, buta dan tuli.
Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti
dirinya mampu menjalani kehidupan seperti
manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit
dilakukan.
Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah
diucapkan Helen Kehler:
"It would be a blessing if each person
could be blind and deaf for a few days
during his grown-up live. It would make
them see and appreciate their ability to
experience the joy of sound".
Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah
bila setiap org yang sudah menginjak dewasa
itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja.
Dengan demikian, setiap orang akan lebih
menghargai hidupnya, paling tidak saat
mendengar suara!
Sekarang, coba anda bayangkan sejenak....
......anda menjadi seorang yang buta
dan tuli selama dua atau tiga hari saja!
Tutup mata dan telinga selama rentang waktu
tersebut. Jangan biarkan diri anda melihat
atau mendengar apapun.
Selama beberapa hari itu anda tidak bisa
melihat indahnya dunia, anda tidak bisa
melihat terangnya matahari, birunya langit, dan
bahkan anda tidak bisa menikmati musik/radio
dan acara tv kesayangan!
Bagaimana? Apakah beberapa hari cukup berat?
Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?
Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja,
bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur
atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada
dalam diri kita!
Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah
keluhan demi keluhan.... Hingga tidak pernah
menghargai apa yang sudah kita miliki.
Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan
kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati
oleh orang lain. Ya! Kemewahan utk orang lain!
Coba kita renungkan, bagaimana orang yang
tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah
kemewahan yang luar biasa baginya.
Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia
diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin
akan mampu melakukan banyak hal, termasuk
membuat sebuah tulisan yang menarik.
Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita
mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal
yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan
bisa memandang hidup dengan lebih baik.
Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah!
Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif
dan menjadi seorang manusia yang lebih baik.
Langganan:
Komentar (Atom)