Halaman

Sabtu, 05 Januari 2013

Aku Cinta Dan Persahabatan Kita

cerpen lomba LP3I sih ~ tapi karena gak ada kabar berita. lebih baik di post saja lah hehehehe

========= Happy Reading ^^===============





Aku, Cinta, dan Persahabatan Kita
Dita Hyun Rin
Assalamu’alaykum !
Hai Syifa! Gimana kabar nih? Udah lama ya? (padahal baru enam bulan kita ga ketemu. Hihihi). Setelah kamu pindah ke Semarang rasanya sepi loh disini . Tias, Dio, Eka, dan lainnya. Semua kangen padamu. Terutama aku wkwkwk.

Meski telah kau tolak pernyaaan cintaku untuk yang kesekian kalinya. Wkwkwk aku tetep nunggu kamu loh #eh. Hehe. Sebenarnya tujuanku mengirim surat ini sekedar melepas rasa rinduku padamu hihi. Semoga kamu ga keberatan untuk membalasnya.
Oh iya, sepeninggal kamu Dio jadi tambah kurus loh. Wkwk. Dia yang biasanya makan di Kantin Mbak Ros sampai tiga porsi sekarang hanya satu porsi ! katanya, dia inget kamu terus. Kamu di sana makannya baik apa engga. Haha! Tias dan Eka  sekarang berjilbab ! wah.. dakwahmu sama mereka ga sia – sia. Wkwk. Oh iya aku sekarang sekelas sama mereka wkwkwk kelas 12 IPA 3.

Oh iya.. karena mau bulan Puasa. Mohon maaf lahir batin ya !

Udah dulu ya. Mudah mudahan kamu membalas suratku ini. Eh tapi terserah deh. hehe. Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Note : wkwkwk aku lagi usaha loh. Biar bisa kuliah di UNDIP. Biar di Semarang bareng kamu. Doakan ya! Hehe. Oh iya, ini nomor baruku 08124438****
Jakarta, 17 Juli 2012
Fahmi
***
Kubolak – balikan surat yang berada tepat diantara kedua tanganku. Aku tersenyum. Surat dari teman – teman ku di Jakarta. Mereka masih mengingatku. Namun, aku belum sempat mengirim surat kepada mereka. Bukan karena aku tak mau, melainkan, sangat sulit mencari keberadaan kantor pos di daerah tempat tinggalku. Selain itu, karena ponselku terjatuh dan hilang disuatu tempat entah kemana. Naasnya, karena kejadian itu semua nomor telfon teman – temanku pun ikut menghilang bersamaan dengan ponselku.

“Alhamdulillah, Keadaan disana baik. Aku juga disini Alhamdulillah. Temen – temen, maaf ya. Syifa belum kirim kabar. Ponsel Syifa hilang.” Ucapku sendiri.

Fahmi. Ah. Ia masih menungguku hingga saat ini? Maaf ya. Maafkan aku yang tiada dapat menerimamu sampai saat ini. Bukan karena aku tiada menyukaimu. Melainkan aku menunggu saat yang tepat. Saat dimana kita benar – benar bisa menjadi satu. Bukan dalam ikatan ‘PACARAN’.Karena menjurus kedalam perbuatan zina. Dan itu sangat dibenci Allah. Semua itu ada waktunya. Jika kamu dan aku sabar menunggu. Dan bilamana Allah menjadikan kita berjodoh. Maka, semua akan indah pada waktunya kelak. Aku percaya, janji-Nya itu sungguhlah nyata.

Kulangkahkan kaki menuju lemari yang berada disudut kamarku. Kubuka perlahan tapi pasti. Terdengarlah decitan parau dari dalam. Mataku menelisik mencari. Dari atas hingga ke bawah. Dari sudut kanan hingga ke kiri. Ah! Kutemukan jua. Buku Diary lamaku yang sudah sangat usang. Aku tersenyum. Disinilah tempat kucurahkan segala perasaanku tentang hari – hari yang kulewati.

Kubuka lembaran pertama, terlihat sebuah foto jenaka yang di dalamnya tergambar sosok anak perempuan berkepang dua bersama empat temannya tengah bersorak dengan riangnya. Ingatanku berpendar hebat. Ah ! aku ingat. Ini selepas pengambilan rapor smp kelas dua. Ini ketika kami berlima masuk dalam deretan sepuluh besar terbaik. Masa itu..

“Dio !!! gimana – gimana? Kamu kan udaah ngambil rapot duluan tuh.” Seru Fahmi dengan tatapan was – was. Dio hanya terdiam seraya bergumam,

“Sepertinya..” Ah. Tamatlah sudah. Ekspressi wajah Dio menampakan bahwa sepertinya kita semua gagal.

“YAH! Gagal lagi ya? Alamat potong uang jajan ini mah.” Gerutu Eka. Ia pun mengintip ke dalam kelas lewat jendela yang terbuka. Untuk melihat ekspressi ayahnya. Dan mencoba menerka bagaimana wajah ayahnya bilamana tau ia gagal lagi dalam ujian kali ini.

Kutatap wajah teman – temanku. Mereka semua menghela napas dengan pasrah. Ah. Teman – teman, jangan sedih seperti ini.

“Sudah. Kita kan udah usaha? Jangan sedih gitu dong. Soal hasilnya mah. Yah, mungkin belum rejeki kali !” Seruku riang. Kuharap dapat sedikit menghibur mereka. Namun, mereka tetap diam.

“Ayolah.. Cuma nilai doang kan? masa sampe ngilangin semangat hidup?” ledekku. Ah! Mereka tertawa.

“hahaha. Iya – iya. Paling bisa kamu Syifa!” Seru Fahmi, Eka, dan Tias bersamaan. Hanya Dio yang kini masih diam.

“Diooo ?? Dioo?? Ardio Muhammad Putra??temanku yang sangat rupawan. Ini benar dirimu kan?” ledekku. Ia tetap tak bergeming. Sesedih itukah ia? Kemudian ia tersenyum.

“Ahaha. Kena tipu kalian ! kita semua masuk sepuluh besar! Yang paling hebat tuh Syifa. Dia rangking satu loh!” serunya tiba – tiba. Kami semua terdiam. Ekspressi heran dan kesal bercampur aduk menjadi satu.

“DIOOOO!!!” seru kami bersamaan. Dio, kau ini sifat iseng mu memang luar biasa.
“Hahahaha. Sudah – sudah. Eh, eka jangan nangis dong ! kan udah berhasil nih yee.” Ledeknya.

CKLEK!

Diam – diam ayah mengambil gambar kami berlima.

“Ah! Ayah ! gabilang – bilang mau foto nih ! kita kan bisa gaya dulu !” seruku yang disambut bersamaan tawa ayah.

Ah. Masa SMP yang indah.

“Haha. Aku belum berjilbab waktu itu. teman – teman, aku semakin merindukan kalian.” Gumamku. Kubuka lembar kedua. Ternyata tulisan tanganku. Ah ! aku ingat. Ini ketika pertama kalinya Fahmi menyatakan perasaannya kepadaku. Tepatnya kelas tiga SMP..

“Syifaaa!!” panggil seseorang kepadaku. Aku menoleh. Fahmi?

“Iya, ada apa?” tanyaku.

“Hmm.. pulang kamu ada waktu gak? Kalo ada temenin aku nyari buku ke gramedia yuk !” ajaknya dengan semangat. Ah, aku sangat senang. Aku juga sekalian mau beli buku. Tapi,

“Sama siapa aja?” tanyaku.

“Berdua aja ?” ucapnya. Berdua? Aih. Apa pantas seorang wanita berjilbab jalan berdua dengan laki – laki yang bukan muhrimnya ya? Sudahlah kutolak saja. Kan ada hadist yang mengatakan kalau tinggalkan yang meragukan.

“Ah. Pulang ini aku ada rapat keputrian Mi. maaf ya.” Ucapku.

“Oh. Yaudah gak papa hehe. Aku ajak Dio saja. Oh iya, ini buat kamu.” Ia memberikan sesuatu padaku. Apa ini?

“Ini apa Mi?” tanyaku.

“Untukmu. Aku kemarin baca buku dan bukunya tuh bagus. Makanya aku beli buat kamu, siapa tau suka juga. Hehe gapapa kan?” tanyanya ragu. Aduh, mau nolak tapi..
“Yaudah. Makasih ya!” Seruku. Ia pun berlari dengan gembira. Kemudian melambai dari kejauhan seraya berkata,

“Kalo udah dibuka, kasih tau aku ya! Assalamu’alaykum !”

“Wa’alaykumussalam.” Batinku.

Sesampainya dirumah, aku membuka bungkusan dari Fahmi. Ternyata, bukan hanya buku tapi ada selembar surat darinya.

“Surat apa ya?” tanyaku sendiri. Lalu kubuka, dan kubaca perlahan isi surat tersebut. Mataku membelalak setelahnya,

“Fahmi.. Fahmi suka padaku?” tanyaku sendiri. Ya Allah. Bagaimana ini. Sejujurnya juga aku sangat menyukainya. Tapi, itu tidak boleh ! Pacaran itu tidak boleh ! aku sedang meniatkan untuk merubah diriku kearah yang yang lebih baik.

“Ya Allah, untuk menjadi lebih dekat kepadamu begitu banyak cobaan yang menerpaku ya Allah. Kemarin, tentang anak – anak yang mempertanyakan jilbabku. Itu selesai, kini tentang hatiku. Tegarkanlah aku ya Allah. Kuatkan tekadku hanya untukMu semata.” Ucapku. Dengan segera kuraih ponsel yang tergeletak diatas meja. kuketikkan pesan balasan untuk Fahmi.

To     : Fahmi
From : Syifa
Assalamu’alaykum. Fahmi, maaf ya aku tidak bisa menerima pernyataanmu. Aku merasa ini belum saatnya. Lagipula, pacaran itu tidak boleh. Maaf ya. Lebih baik kita tetap menjadi sahabat. Hingga nanti saatnya tiba, jikalau Allah menjadikan kita berjodoh semua akan indah pada waktunya maaf ya.
Dengan segera kutekan tombol ‘send’ untuk meluruskan niatku. Aku yakin, ini yang terbaik untuk aku dan dia. Ponselku bergetar kembali. Ia membalasnya?

To     : Syifa
From : Fahmi
Wa’alaykumussalam. Hehe. Iyaa Syifa harusnya aku yang minta maaf karena meminta hal yang bukan – bukan padamu. Hehe. Aku akan tetep nunggu kamu. Sekaligus memperbaiki diriku. Aamiin semoga saja hehe. Maaf ya maaf. Udah kuduga sih sebenernya. ^^v

Aku tersenyum tenang. Semua sudah selesai.

“Fahmi.. Fahmi. Kamu masih menungguku sampai sekarang rupanya. Haha, aku juga sih sebenarnya.” Bisikku sendiri.

Allahu akbar! Allahu akbar!....

Azan telah berkumandang. Pertanda waktu shalat ashar telah tiba. Mereview masa lalu ternyata menghabiskan waktu berjam – jam. Haha. Tapi semua menyenangkan. teman – teman, nostalgia ini membuatku sangat merindukan kalian.

Dengan segera kututup buku harianku. Bergegas keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Setelah itu shalat dan segera kutuliskan balasan surat Fahmi kepadaku. Aku berharap dapat berjumpa lagi dengan semuanya ketika liburan di bulan yang suci ini. Berbuka puasa bersama mereka. Ah. Sungguh menyenangkan ! Ya Allah lancarkan rencanaku ini. Dan sekarang aku harus bergegas !

Tamat

gimana ?jelek yak ? terlalu ringkas yak ?
yaudahlah yaa ~ hehehe buat pembelajaran :) semoga kedepannya makin bisa lagi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar