========= Happy Reading ^^===============
Aku, Cinta, dan
Persahabatan Kita
Dita Hyun Rin
Assalamu’alaykum !
Hai Syifa! Gimana kabar nih? Udah lama ya? (padahal
baru enam bulan kita ga ketemu. Hihihi). Setelah kamu pindah ke Semarang
rasanya sepi loh disini . Tias, Dio, Eka, dan lainnya. Semua kangen padamu.
Terutama aku wkwkwk.
Meski
telah kau tolak pernyaaan cintaku untuk yang kesekian kalinya. Wkwkwk aku tetep
nunggu kamu loh #eh. Hehe. Sebenarnya tujuanku mengirim surat ini sekedar
melepas rasa rinduku padamu hihi. Semoga kamu ga keberatan untuk membalasnya.
Oh iya, sepeninggal kamu Dio jadi tambah kurus loh.
Wkwk. Dia yang biasanya makan di Kantin Mbak Ros sampai tiga porsi sekarang
hanya satu porsi ! katanya, dia inget kamu terus. Kamu di sana makannya baik
apa engga. Haha! Tias dan Eka sekarang
berjilbab ! wah.. dakwahmu sama mereka ga sia – sia. Wkwk. Oh iya aku sekarang
sekelas sama mereka wkwkwk kelas 12 IPA 3.
Oh iya.. karena mau bulan Puasa. Mohon maaf lahir
batin ya !
Udah dulu ya. Mudah mudahan kamu membalas suratku ini.
Eh tapi terserah deh. hehe. Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Note : wkwkwk aku lagi usaha loh. Biar bisa kuliah di
UNDIP. Biar di Semarang bareng kamu. Doakan ya! Hehe. Oh iya, ini nomor baruku
08124438****
Jakarta, 17 Juli
2012
Fahmi
***
Kubolak
– balikan surat yang berada tepat diantara kedua tanganku. Aku tersenyum. Surat
dari teman – teman ku di Jakarta. Mereka masih mengingatku. Namun, aku belum
sempat mengirim surat kepada mereka. Bukan karena aku tak mau, melainkan,
sangat sulit mencari keberadaan kantor pos di daerah tempat tinggalku. Selain
itu, karena ponselku terjatuh dan hilang disuatu tempat entah kemana. Naasnya,
karena kejadian itu semua nomor telfon teman – temanku pun ikut menghilang
bersamaan dengan ponselku.
“Alhamdulillah,
Keadaan disana baik. Aku juga disini Alhamdulillah. Temen – temen, maaf ya.
Syifa belum kirim kabar. Ponsel Syifa hilang.” Ucapku sendiri.
Fahmi.
Ah. Ia masih menungguku hingga saat ini? Maaf ya. Maafkan aku yang tiada dapat
menerimamu sampai saat ini. Bukan karena aku tiada menyukaimu. Melainkan aku
menunggu saat yang tepat. Saat dimana kita benar – benar bisa menjadi satu.
Bukan dalam ikatan ‘PACARAN’.Karena menjurus kedalam perbuatan zina. Dan itu
sangat dibenci Allah. Semua itu ada waktunya. Jika kamu dan aku sabar menunggu.
Dan bilamana Allah menjadikan kita berjodoh. Maka, semua akan indah pada
waktunya kelak. Aku percaya, janji-Nya itu sungguhlah nyata.
Kulangkahkan
kaki menuju lemari yang berada disudut kamarku. Kubuka perlahan tapi pasti.
Terdengarlah decitan parau dari dalam. Mataku menelisik mencari. Dari atas
hingga ke bawah. Dari sudut kanan hingga ke kiri. Ah! Kutemukan jua. Buku Diary
lamaku yang sudah sangat usang. Aku tersenyum. Disinilah tempat kucurahkan
segala perasaanku tentang hari – hari yang kulewati.
Kubuka
lembaran pertama, terlihat sebuah foto jenaka yang di dalamnya tergambar sosok
anak perempuan berkepang dua bersama empat temannya tengah bersorak dengan
riangnya. Ingatanku berpendar hebat. Ah ! aku ingat. Ini selepas pengambilan
rapor smp kelas dua. Ini ketika kami berlima masuk dalam deretan sepuluh besar
terbaik. Masa itu..
“Dio !!! gimana – gimana? Kamu kan udaah ngambil rapot
duluan tuh.” Seru Fahmi dengan tatapan was – was. Dio hanya terdiam seraya
bergumam,
“Sepertinya..” Ah. Tamatlah sudah. Ekspressi wajah Dio
menampakan bahwa sepertinya kita semua gagal.
“YAH! Gagal lagi ya? Alamat potong uang jajan ini
mah.” Gerutu Eka. Ia pun mengintip ke dalam kelas lewat jendela yang terbuka.
Untuk melihat ekspressi ayahnya. Dan mencoba menerka bagaimana wajah ayahnya
bilamana tau ia gagal lagi dalam ujian kali ini.
Kutatap wajah teman – temanku. Mereka semua menghela
napas dengan pasrah. Ah. Teman – teman, jangan sedih seperti ini.
“Sudah. Kita kan udah usaha? Jangan sedih gitu dong.
Soal hasilnya mah. Yah, mungkin belum rejeki kali !” Seruku riang. Kuharap
dapat sedikit menghibur mereka. Namun, mereka tetap diam.
“Ayolah.. Cuma nilai doang kan? masa sampe ngilangin
semangat hidup?” ledekku. Ah! Mereka tertawa.
“hahaha. Iya – iya. Paling bisa kamu Syifa!” Seru
Fahmi, Eka, dan Tias bersamaan. Hanya Dio yang kini masih diam.
“Diooo ?? Dioo?? Ardio Muhammad Putra??temanku yang
sangat rupawan. Ini benar dirimu kan?” ledekku. Ia tetap tak bergeming. Sesedih
itukah ia? Kemudian ia tersenyum.
“Ahaha. Kena tipu kalian ! kita semua masuk sepuluh
besar! Yang paling hebat tuh Syifa. Dia rangking satu loh!” serunya tiba –
tiba. Kami semua terdiam. Ekspressi heran dan kesal bercampur aduk menjadi
satu.
“DIOOOO!!!” seru kami bersamaan. Dio, kau ini sifat
iseng mu memang luar biasa.
“Hahahaha. Sudah – sudah. Eh, eka jangan nangis dong !
kan udah berhasil nih yee.” Ledeknya.
CKLEK!
Diam – diam ayah mengambil gambar kami berlima.
“Ah! Ayah ! gabilang – bilang mau foto nih ! kita kan
bisa gaya dulu !” seruku yang disambut bersamaan tawa ayah.
Ah. Masa SMP yang indah.
“Haha.
Aku belum berjilbab waktu itu. teman – teman, aku semakin merindukan kalian.”
Gumamku. Kubuka lembar kedua. Ternyata tulisan tanganku. Ah ! aku ingat. Ini
ketika pertama kalinya Fahmi menyatakan perasaannya kepadaku. Tepatnya kelas
tiga SMP..
“Syifaaa!!” panggil seseorang kepadaku. Aku menoleh.
Fahmi?
“Iya, ada apa?” tanyaku.
“Hmm.. pulang kamu ada waktu gak? Kalo ada temenin aku
nyari buku ke gramedia yuk !” ajaknya dengan semangat. Ah, aku sangat senang.
Aku juga sekalian mau beli buku. Tapi,
“Sama siapa aja?” tanyaku.
“Berdua aja ?” ucapnya. Berdua? Aih. Apa pantas
seorang wanita berjilbab jalan berdua dengan laki – laki yang bukan muhrimnya
ya? Sudahlah kutolak saja. Kan ada hadist yang mengatakan kalau tinggalkan yang
meragukan.
“Ah. Pulang ini aku ada rapat keputrian Mi. maaf ya.”
Ucapku.
“Oh. Yaudah gak papa hehe. Aku ajak Dio saja. Oh iya,
ini buat kamu.” Ia memberikan sesuatu padaku. Apa ini?
“Ini apa Mi?” tanyaku.
“Untukmu. Aku kemarin baca buku dan bukunya tuh bagus.
Makanya aku beli buat kamu, siapa tau suka juga. Hehe gapapa kan?” tanyanya
ragu. Aduh, mau nolak tapi..
“Yaudah. Makasih ya!” Seruku. Ia pun berlari dengan gembira.
Kemudian melambai dari kejauhan seraya berkata,
“Kalo udah dibuka, kasih tau aku ya! Assalamu’alaykum
!”
“Wa’alaykumussalam.” Batinku.
Sesampainya dirumah, aku membuka bungkusan dari Fahmi.
Ternyata, bukan hanya buku tapi ada selembar surat darinya.
“Surat apa ya?” tanyaku sendiri. Lalu kubuka, dan
kubaca perlahan isi surat tersebut. Mataku membelalak setelahnya,
“Fahmi.. Fahmi suka padaku?” tanyaku sendiri. Ya
Allah. Bagaimana ini. Sejujurnya juga aku sangat menyukainya. Tapi, itu tidak
boleh ! Pacaran itu tidak boleh ! aku sedang meniatkan untuk merubah diriku
kearah yang yang lebih baik.
“Ya Allah, untuk menjadi lebih dekat kepadamu begitu
banyak cobaan yang menerpaku ya Allah. Kemarin, tentang anak – anak yang
mempertanyakan jilbabku. Itu selesai, kini tentang hatiku. Tegarkanlah aku ya
Allah. Kuatkan tekadku hanya untukMu semata.” Ucapku. Dengan segera kuraih
ponsel yang tergeletak diatas meja. kuketikkan pesan balasan untuk Fahmi.
To : Fahmi
From : Syifa
Assalamu’alaykum. Fahmi, maaf ya aku tidak bisa
menerima pernyataanmu. Aku merasa ini belum saatnya. Lagipula, pacaran itu
tidak boleh. Maaf ya. Lebih baik kita tetap menjadi sahabat. Hingga nanti
saatnya tiba, jikalau Allah menjadikan kita berjodoh semua akan indah pada
waktunya maaf ya.
Dengan segera kutekan tombol ‘send’ untuk meluruskan
niatku. Aku yakin, ini yang terbaik untuk aku dan dia. Ponselku bergetar
kembali. Ia membalasnya?
To : Syifa
From : Fahmi
Wa’alaykumussalam. Hehe. Iyaa Syifa harusnya aku yang
minta maaf karena meminta hal yang bukan – bukan padamu. Hehe. Aku akan tetep
nunggu kamu. Sekaligus memperbaiki diriku. Aamiin semoga saja hehe. Maaf ya
maaf. Udah kuduga sih sebenernya. ^^v
Aku tersenyum tenang. Semua sudah selesai.
“Fahmi..
Fahmi. Kamu masih menungguku sampai sekarang rupanya. Haha, aku juga sih
sebenarnya.” Bisikku sendiri.
Allahu
akbar! Allahu akbar!....
Azan
telah berkumandang. Pertanda waktu shalat ashar telah tiba. Mereview masa lalu
ternyata menghabiskan waktu berjam – jam. Haha. Tapi semua menyenangkan. teman
– teman, nostalgia ini membuatku sangat merindukan kalian.
Dengan
segera kututup buku harianku. Bergegas keluar kamar untuk mengambil air wudhu.
Setelah itu shalat dan segera kutuliskan balasan surat Fahmi kepadaku. Aku
berharap dapat berjumpa lagi dengan semuanya ketika liburan di bulan yang suci
ini. Berbuka puasa bersama mereka. Ah. Sungguh menyenangkan ! Ya Allah
lancarkan rencanaku ini. Dan sekarang aku harus bergegas !
Tamat
gimana ?jelek yak ? terlalu ringkas yak ?
yaudahlah yaa ~ hehehe buat pembelajaran :) semoga kedepannya makin bisa lagi :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar