Halaman

Minggu, 24 Juni 2012

Everlasting Love - Dita Hyun Rin

Assalamualaykum...!!! :)
ini nih... FF yang Alhamdulillah membuatku menang di page SJFF... hehehehehe....
share share... ^^v...
Maaf Kalo ga nyambung ceritanya :(
****************************************************


Everlasting Love
Author’s: Dita (Park Hyun Rin)
Cast                :
-Cho Kyu Hyun       
-Mita a.ka Im Yoo Eun (Indonesian ELF)
-Super Junior Member’s
-ELF
Genre             :
Sad
Length            :
Oneshoot
Rating             :
General
Disclaimer      :
I making this fanfiction is for ELF and Super Junior’s member of course. The story I make from my imagination but some part I think it is the fact. So don’t bash me after you read it and you feel my story is bad…L.hehehe Gomawo.:)

“Hyung!! Tidakkah kau lihat luka di tanganku ini?!” Seruku dengan berapi – api. Seraya menunjukan goresan kuku yang kini terukir di tanganku dihadapan para Hyung ku.

“Kyuhyun-ah…,sudahlah. Kau ini terlalu membesar – besarkan.” Ujar Kangin Hyung menyepelekan.

“ne, Kyu-ah kau ini.” Sahut Eunhyuk Hyung sambil merebahkan diri di atas sofa di dorm kami.

“Mwo? Ya!! Hyung, aku tahu ini memang terlihat  berlebihan. Tapi apa kau sadar? fans kita sekarang semakin keterlaluan!” Seruku. Mereka hanya menatapku dengan tatapan hambar. Seolah mereka hanya berbicara pada anak kecil yang sedang merajuk.

“Kyu-ah? Mungkin kamu terlalu lelah, ayo istirahat saja yah? Nanti akan Hyung buatkan bubur kesukaanmu.” rayu teuki hyung menghampiriku perlahan. Ia menanggapiku seolah ia berhadapan dengan anaknya sendiri. Aishh…aku tak habis pikir dengannya.

“Ah!! Sesuka kalian lah!!” Seruku dengan gusar. Lalu aku melangkahkan kaki ke kamarku.

BRAK !!

Ku banting pintu kamarku dengan dentuman yang cukup menyentakkan telinga. Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidurku. Lalu menatap ke dunia luar. Cukup lama aku menatap dan kemudian kulepaskan napas panjangku.

“aku…,aku…,semakin takut dengan diriku sekarang.” Gumamku. Lalu aku menatap luka yang kini tertoreh di tanganku.”aku takut diriku akan dilukai.” Gumamku kembali.

Aku bangkit dari tempatku merebah. Menatapi wajahku yang terpampang di lemari kamarku. Wajahku dikelilingi ratusan, bahkan ribuan balon berwarna biru bertuliskan ‘ELF’ cukup lama aku menatapi benda itu. Diantara rasa takutku yang kian menjadi, dan kebingungan yang menyelimuti diriku. Sayup – sayup kudengar suara Hyungku dari luar kamar,

“Teuki Hyung? Ada apa dengan Kyuhyun? Apa ia sakit?” Tanya Yesung Hyung.

“entahlah. Mungkin ia sedikit merasa trauma.” Jawab Teuki Hyung.

“aigoo, ada apa lagi dengannya. Ia sungguh anak manja. Bukankah ini resiko kita sebagai artis yang dikenal?” Timpal Siwon Hyung dengan ringannya.

“Siwon-ah, mungkin ia benar trauma. Aku juga sungguh merasa trauma atas kejadian ini tapi ya mau diapakan lagi. Ini resiko.” Sahut Shindong Hyung.

“tapi bagaimanapun mereka itu ELF. Fans kita. Tanpa mereka kita bukan apa – apa.” Timpal Ryeowook.

ELF. Aku mendengar kata itu lagi. Dan sekali lagi aku merasa diselimuti ketakutan yang luar biasa. Mungkin ini aneh. Atau bahkan sangat aneh. Tiba – tiba aku merasa takut pada fans yang sudah lama mengikuti perjalanan karirku bersama Super Junior. Namun ini benar. Aku sungguh merasa takut.

“Aku harus pergi.” Ucapku sendiri.
***
Entah dimana aku, ataupun bagaimana keadaanku nanti. Yang kuingat aku pergi dari dorm. Meninggalkan Super Junior dan ELF tentunya. Aku mengembara. Mencari tempat dimana tidak satupun ELF akan menemukanku.

“Desa Chuongnam” aku membaca peta jalur – jalur yang akan kulalui di dalam bis yang membawaku. Entah sampai mana. Namun akhirnya aku menjatuhkan pilihan di desa ini. Kelihatannya cukup terpencil dan kuharap tiada ELF di sana.

“TUJUAN DESA CHUONGNAM”. Seru kondektur bis. Aku segera bangkit lalu memperbaiki penyamaranku. Aku menyerahkan kartu dan uang kepada kondektur bis. Lalu melangkahkan kakiku untuk menapaki halte bis yang tidak pernah ku jamahi sebelumnya.

“ah!! Segarnya suasana di sini!! Benar – benar bebas!!” Aku berlari ke arah padang rumput yang menguning tepat di belakang halte pemberhentian tadi.

Aku bebas!
Itulah yang kurasakan sekarang. Tidak ada keributan,kerusuhan,dan hal yang membuatku muak. Dugaanku tepat desa ini benar – benar sepi.

“ya!! kau yang di sana!!” aku mendengar seruan seorang yeoja. Serentak, jantungku serasa ingin melompat keluar dari tubuhku.

 Aku tidak salah dengar?! itu suara seorang yeoja!! jangan – jangan dia ELF!!
Aku berlari ke arah semak- semak di depanku.

“aigoo.. jangan – jangan dia ELF. ” Gumamku dengan gelisah. Keringatku mengucur deras. Padahal disini angin semilir membelai dengan lembutnya.

Terlihat semak lebat tak jauh dari hadapanku. Dengan segera aku mencari perlindungan kepadanya. Berharap agar yeoja itu tidak dapat menemukanku.

“Ya…kau yang di sana! keluar kau! kau sudah terlanjur tertangkap! Ayo ikut ke kantor polisi.” Ujarnya yang cukup membuatku merutuki diriku sendiri.

Kantor Polisi? memangnya aku penjahat? aigoo jangan – jangan dia salah paham. Aku harus memberitahunya bagaimana pun caranya. Aku bangkit dengan ragu – ragu. Keringat masih terus mengalir. Satu,dua,tiga…

“mi…mianhae. A..aku buk..an Pen..pencuri.” Jawabku terbata – bata seraya menundukan kepalaku.

“gotjimal. Ya!!kau ini babo mana ada pencuri yang mau mengaku hah?! Di sini sudah banyak yang sepertimu mengaku – ngaku orang baik. Kau rentenir yang ingin merebut tanah ini kan?!” Tuduhnya.

“sungguh…aku baru sa..ja tiba…” Jawabku terbata – bata kembali. Namun, aku menegakkan sedikit kepalaku.

“HAH?!” Seru yeoja itu.

“w..a..e?” tanyaku.

“kau Cho KyuHyun kan?”

DEG!

Dia tahu namaku?!

“n..e.” Jawabku takut. Aku sungguh takut kalau yeoja dihadapanku ini benar seorang ELF.

“kau sedang apa di desa seperti ini?liburan? dimana yang lain?” tanyanya beruntun. Yang membuatku bingung harus menjawab yang mana dulu. Tapi, kenapa dia tidak menyerangku?

“ya…, ternyata artis sombong sekali, ditanya saja tidak menjawab. Ya sudah.” Gumamnya lalu berjalan melangkahkan kakinya.

“Ya!” seruku memberanikan diri.

“hmm…” Ujarnya seraya menoleh.

“apa kau ELF?” tanyaku perlahan.

“Bukan”. Jawabnya singkat.

“Jeongmal?” tanyaku dengan dengan mata pengharapanku.

“buat apa berbohong. Aku memang bukan ELF.” Jawabnya dengan pasti. Aku masih terdiam dalam kebimbangan.

“mau ikut tidak? Apa mau selamanya sendirian di tempat ini?” tawarnya.

“benar kau bukan ELF?? Iya aku mau ikut.” Jawabku pendek. Aku mengikutinya dengan langkah panjangku yang terasa berat.
***
Aku menatap lingkungan tempatku menapaki kakiku saat ini. Mataku menelisik tajam penuh hawa curiga. Aku takut. Takut yeoja yang kuhadapi ini berdusta padaku. Membohongiku untuk menculikku. Aku sungguh takut. Kenapa aku harus seperti ini?

“kau membawaku kemana ini?” tanyaku. Gadis itu tidak menjawab tanyaku. Ia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah.

“ya…,kau membohongiku kah? Tolong jawab pertanyaanku.” Tanyaku. Untuk sekali lagi ia tetap tak menjawab.

Aku semakin dihinggapi rasa takut. Entah apa yang akan terjadi padaku? Apa mungkin aku akan di culik lalu ditawan. OMO… aku tak dapat membayangkan hal itu. Aku harus apa sekarang? Mungkin yeoja itu sedang memanggil teman – temannya saat ini. Habislah aku.

“ya!!kau…” Seruku. Namun sebelum aku menyelesaikan kalimatku, tiba – tiba ia keluar. Ia sedang mendorong kursi roda yang diatasnya terduduk seorang yeoja kecil yang menatapku kosong.

tara!!Yul…,ada KyuHyun oppa dihadapanmu sekarang. Ayo beri salam pada oppa.” Ujarnya ramah pada yeoja kecil itu. Namun yeoja kecil itu tetap tak bergeming. Menatapku dengan tatapan kosong. Wajahnya yang putih pucat membuatnya tampak seperti mayat hidup. Aku merasa sedikit takut.

“di..dia siapa?” Tanyaku kemudian. Mataku masih tak dapat lepas dari tatapan kosong yeoja itu. Aku pun menjadi sedikit salah tingkah.

“ini? Ini Min Yul. Dia seorang ELF…,fans mu.” Jawab yeoja di hadapanku seraya tersenyum. Aku hanya terdiam tanpa berkata sepatah katapun. Selain aku terkejut dengan kata ELF aku juga merasa iba dengan yeoja kecil dengan tatapan hampa yang ada di hadapanku saat ini.

“ya..,kau merasa kasihan padanya ya? Umurnya baru 14 tahun. Dia sangatlah tertekan. Kau tahukah penyebabnya?” Tanya yeoja itu kembali.

“ani…wae?” Tanyaku kembali. Namun masih dalam posisi yang tadi. Menatap wajah yeoja kecil itu.

“dia mengetahui kenyataan bahwa gurunya di sekolah adalah orang yang menyebabkan appa dan eommanya meninggal hingga mengharuskan Yul untuk tinggal di Panti ini seorang diri.” Jelasnya.

“benarkah itu?” tanyaku. Aku merasa semakin iba dengannya. Ia masih kecil. Kenapa harus seperti itu?

“tentu saja. Ia sangat menyukai kau dan teman - temanmu. Ya…,terutama kau. Sebelum kejadian ini, saat dia tidak dapat memejamkan mata,tak dapat menahan perasaannya. Ia selalu mendengarkan lagu – lagu kalian. Ia bahkan sangat hafal liriknya.” Jelas yeoja itu. Aku hanya terpana mendengarnya. Hingga tak mampu menggerakkan otot – otot suaraku.

“ia sangat mencintaimu. Mencintai kalian. Lebih dari yang kalian bayangkan.” Ujarnya sendiri.
“mwo? Cinta…,ya.” Gumamku perlahan. Dan kemudian hatiku perlahan tergerak.
***
Aku mengamati sekitarku. Sudah dua hari aku ditempat yang asing bagiku. Kakiku kini menapaki sebuah panti asuhan yang terpencil. Dengan anak – anak sakit, dua orang ahjumma yang telah berumur pengurus panti, dan seorang yeoja bukan ELF yang tak kuketahui nama dan darimana ia berasal.

“kau tinggal di sini?” tanyaku seraya mengamati yeoja itu yang sedang menyuapi seorang namja kecil yang duduk di ranjangnya sedang ia menyelimuti kakinya.

“bisa dibilang iya?bisa juga tidak.” Jawabnya penuh rahasia. Kemudian ia melanjutkan kata – katanya,”kau mau Bantu menyuapi Yon Ju?”

“mwo?” Tanyaku.

“ne, kau mau membantu menyuapinya? Aku mau menyuapi Song Hee.” Ujarnya. aku pun meraih tempat makan itu. Menyendokkan bubur sedikit demi sedikit. Ya…,aku yakin aku pasti bisa. Dan.. Hap!ia melahapnya. Lalu tersenyum padaku.

“wah, kau tersenyum rupanya. Apa kau mengenalku? Aku Cho Kyu Hyun.” Sapaku ramah.

“ne…Ky..u..Hy..u..n Hyu..ng.” Jawabnya terbata – bata. Lalu kembali tersenyum. Tiba – tiba,

“A..Apa aku tak salah dengar?! Yon Ju bicara?!” Seru ahjumma – ahjumma pengurus panti dengan serentak.

“n..e. wae ahjumma? apa dia memang belum bisa bicara?” tanyaku bingung.

“dia hanya diam selama dua tahun belakangan ini. Sejak kecelakaan yang menghabisi satu kakinya.” Ucap satu orang ahjumma dengan sedih. Aku terlonjak,”hah? Menghabisi?!”

“ini,” ahjumma itu membuka sedikit selimut yang menutupi kaki namja kecil bernama Yon Ju itu. Aku sungguh tak percaya. Kakinya benar hanya sebelah. Aku tak dapat membayangkan bagaimana hidupku bila aku menjadi sepertinya.

“kasihan sekali umurnya baru 10 tahun. Ia tidak punya orang tua.” Gumam salah seorang ahjumma dengan sedih.

Aku menatap hambar ke arah Yon Ju. Kasihan. Yah aku sangat kasihan padanya. Begitu pula anak – anak di sini. Tiba – tiba aku melihat Yon Ju menggerakkan tangannya untuk mengambil sesuatu.

“sini,Hyung ambilkan. Kamu mau mengambil kertas ini?” aku menunjuk tumpukan kertas di atas meja. Dia mengangguk perlahan. Lalu menunjuk lagi ke arah pensil warna di sebelahnya.

“oh. Kamu mau menggambar ya?wah…,daebak.” Ujarku memujinya. Lalu aku mengambilkan pensil warna dan kertas dan menyerahkan kedua benda itu padanya. Dan untuk yang kedua,ia kembali tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan tulus.

“Song Hee, ayo buka mulutmu…” aku mendengar suara yeoja yang tak asing bagiku. Aku menoleh keluar jendela. Ternyata yeoja itu.

“Song Hee,kau harus makan nanti kalau tidak perutmu akan sakit lagi.” Ujarnya kembali. Namun yeoja kecil dihadapannya tetap tak bergeming. Aku pun menoleh kembali pada Yon Ju. Yon Ju juga ternyata sedang melihat keluar.

“apa kau mau menggambar di luar?” tanyaku. Ia hanya mengangguk. Aku menaikkannya diatas kursi roda. Lalu membawanya keluar.

“Song Hee, ayo buka mulutmu…,pesawat sudah dataaang!” rayu yeoja itu. Yeoja kecil di hadapannya tetap tak bergeming. Ia memandang jemu ke langit biru.

“kau ingin aku menyanyi?” Tawarku tiba – tiba. Entah dari mana aku terfikir ucapan seperti ini. Dan yeoja kecil itu mengangguk perlahan.
“benarkah? Kau mau menyanyi untuknya?” tanya yeoja di sebelahku dengan mata membelalak. Aku mengangguk, dan mulai menyanyi..
….Nuhneun neomu nuni busyeo
(Kau begitu menyilaukan)
Ni ga isseo nae shimjangi ddwi-uh
(Jantungku berdebar-debar)
Ojik nuhmani na-egen number one nuhl saranghae
(Kau satu-satunya bagi ku dan selalu menjadi nomor 1 yang aku cintai)
Jogeumman duh na dagawajwuh
(Datang sedikit lebih dekat dengan ku)
Neoui soneul kkok jabgo shipuh
(Aku ingin memegang erat tangan mu)
Ee noraeneun only for you youngwuhnhi saranghae
(Lagu ini hanya untuk mu, Aku mencintaimu selamanya)
…...(Super Junior – Angle)
PROK!!PROK!! mereka semua bertepuk tangan untukku. Aku tersenyum puas. Song Hee kemudian melahap makannya. Yeoja itu tersenyum tulus penuh arti padaku. Ahjumma – ahjumma tiada henti memujiku. Ahh… dunia ini nyaman sekali. Tiba – tiba Yon Ju memberikan sebuah kertas padaku seraya tersenyum.
“apa ini?” tanyaku. ia menyuruhku melihatnya. Ada seorang namja yang tengah tersenyum dibawah hamparan langit biru. Biru. Ya…,biru yang kutakutkan.
“ELF…” Gumamnya dengan sedikit jelas. Lalu tersenyum. Aku tak tahu harus berbuat apa.
***
Aku menatap seraya tersenyum ke langit. Ku hirup udara yang segar dan tenang ini. lalu kuhempaskan perlahan. Sudah hampir dua minggu aku di sini. Merawat, mengasuh,bermain,bernyanyi,bersama anak – anak panti dan seorang yeoja yang seakan menjadi pengobat tekananku. Aku merasa damai ,aku tak ingin kembali ,aku ingin damai di sini.
Kurebahkan tubuhku diatas hamparan rumput. Aku merasa ada sesuatu yang mengusikku, entah apa.
“ahh!!!” seruku.
“ya oppa!!kenapa kau bergerak.” Seru seorang yeoja dari sisi sebelahku.
“hah?! Sejak kapan disitu? Dan mau apa kau?!” selidikku. Aku melihatnya memegang kertas dan pensil. Mungkin ia melukisku. Tapi untuk apa?
“sejak tadi, aku melihatmu memandangi langit.” Jawabnya.
“oh..” jawabku pendek. ia berbaring di sebelah tempatku berbaring tadi. Dan ikut memandangi langit.
Aku kini dapat dengan jelas melihat wajahnya. Selama hampir dua minggu di sini, aku terlalu sibuk dengan aktifitas ku hingga tak sempat menatap wajah yeoja yang membawaku ke saat ini. Ia memiliki Kulit yang putih, namun berbeda dari kulit orang korea pada umumnya. Mata yang bulat dan besar lagi indah. Mata yang meyakinkanku bahwa ia benar bukan orang korea. Tapi? Apa hasil operasi plastik?
“ya..,kau operasi plastik dimana?” tanyaku.
“hah? Operasi?” Jawabnya dengan heran.
“iya, kau operasi dimana sehingga bisa mendapatkan mata seindah itu?” tanyaku kembali. Namun, di sambut dengan tawa darinya.
“ya…,kenapa kau tertawa?” tanyaku bingung.
“ini mata asliku. Seumur hidup aku belum pernah operasi.” Ujarnya.
“apa kau bukan orang Korea?” tanyaku kembali. Aku masih penasaran.
“ne…,aku bukan orang Korea aku dari Indonesia.” Jawabnya.
“In..Indonesia? Lalu kenapa kau di sini?” tanyaku kembali.
“aku ingin mengabdikan diriku pada anak – anak di sini. Mereka terlantar. Aku ingin menghabiskan penghujung hidupku di sini.” Jawabnya lalu kembali tersenyum manis. Senyum termanis yang pernah ku lihat.
“lalu kau sendiri oppa? Kenapa ke sini? Bukankah kau member Super Junior?” tanyanya kembali.
“entahlah…,aku rasanya tidak ingin kembali.” Jawabku pendek.
“HAH?! WAE???!” tanyanya tiba – tiba. Membuatku sedikit terkejut.
“aku takut aku akan terluka.” Ujarku. Tiba – tiba ia memukulku.
PLETAK!”aigoo!! kenapa aku dipukul?!” Seruku.
“oppa, jeongmal pabo-ya!!” Serunya.
“hah?”
“oppa, kau kesal pada ELF bukan? Membuatmu takut dan terluka.” Ujarnya. lalu ia melanjutkan,:tapi sesungguhnya merekalah yang paling lebih mencintaimu.” Jelasnya.
“mwo? Cinta? Cinta apa yang melukai?! Kau tidak tahu apa – apa!!” Seruku membalas ucapannya.
“tentu saja aku tahu! Aku mengerti oppa!! Mereka, ELF… EverLasting Friends Super Junior. Mereka membiarkan diri mereka kehujanan untuk melihatmu melihat kalian! Meraka ialah ELF yang membelamu membela kalian saat kalian dihina dicaci!! Mereka ialah ELF yang mencintai jauh lebih besar dari cinta kau!!kalian pada mereka! Meraka ialah ELF yang menyediakan air matanya untuk bersedih bersama kau!!kalian!!! dan…Mereka ialah ELF yang akan tertawa bahagia bila ia melihat kalian meskipun tidak lama lagi ia akan mati!!!!” Serunya seraya menangis. Mataku terbelalak. Hatiku bergemuruh. Aku bingung…
“oppa, kau harus kembali. Kembali untuk mereka!!tersenyumlah seperti saat kau tersenyum di sini. Kembali untuk Super Junior.” Isaknya. Aku mematung di hadapannya. Emosiku bercampur. Aku tak kuat lagi menahan airmataku.
BRESS!!hujan turun bersamaan jatuhnya air mataku ke pelipisku. Mengguyur hatiku yang diliputi kecemasan. Aku menatap kosong. Yeoja dihadapanku masih menangis. Aku heran, ia bukan ELF…,tapi kenapa ia seperti ini sekarang?
Aku menatap langit biru yang kini telah sembab. Dan telah merintikkan derai air matanya. Aku bingung. Aku bingung dengan diriku. Aku tetap diam dalam posisiku. Kemudian aku melihat setitik awan yang belum sembab. Cukup setitik. Ia masih tertahan dalam posisinya, meski kini terlihat ia mulai rapuh. Biru…,ya biru yang ku lihat. Kemudian hatiku bergemuruh kencang. Aku merasakan kedamaian. Aku menemukan diriku lagi.
“ya, kau benar…aku harus kembali.” Gumamku sendiri.
***
“semuanya…aku minta maaf bila selama aku tinggal di sini aku menyusahkan kalian.” Ucapku lalu membungkuk. Memberi penghormatan terakhirku.
“gwenchanayo oppa!!” Jawab mereka semua serempak. Senyum mereka cukup membuat mataku menatap nanar.
“Yon Ju, kau harus sembuh ne?” Ucapku ramah.
“n..e Hyung –ah” Jawabnya yang cukup membuatku dan dua ahjumma penjaga panti ini tersentak. Lalu aku tersenyum menatapnya.
“Song Hee kau harus banyak makan ne? jika kau sudah sembuh oppa yakin kau akan dapat menyanyi lebih indah dari oppa.” Ujarku pada yeoja kecil yang kini telah tersenyum menatapku. Matanya seolah berkata ‘gomawo oppa’ padaku. Dengan segera aku membalasnya “cheonmaneyo”.
Aku berpamitan pada dua orang ahjumma penjaga panti. Mereka sangat berterima kasih padaku. Karena, menurut mereka kedatanganku di sini membawa dampak yang baik bagi anak – anak. Syukurlah jika seperti itu, aku juga berterima kasih sekali kepada semua yang di sini. Yang telah menyambutku dengan ramah.
Mataku berkeliling, mencari sosok yeoja yang membuka hatiku. Menyadarkan aku untuk kembali. Tapi kenapa ia sekarang tidak ada?
“mianhae,Ahjumma dimana yeoja itu?” tanyaku. tiba – tiba seorang yeoja berlari ke arahku tersenyum berteriak – teriak menyerukan namaku. Lalu ia tiba dihadapanku. Napasnya masih tersengal – sengal. Namun??ada apa dengan wajahnya?
“oppa!! Mi..ian aku telat ne. oppa go..ma..wo kau sudah mau kembali. Jeongmal mianhaeyo kemarin aku memarahimu.” Sesalnya beruntun. Aku hanya tertawa.
“seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Kau telah menyadarkanku.” Ucapku.
“oppa…,jangan seperti ini lagi ya. Ini permintaan terakhirku sebelum aku benar – benar tidak dapat melihatmu lagi.” Ucapnya yang membuatku tersentak.
“mwo? Aniya…kau kan dapat melihatku di televisi – televisi. Kau ini, ucapanmu itu seolah hidupmu akan berakhir sekarang saja. Oh ne…,kau sakit? Wajahmu pucat?” tanyaku beruntun. Sebelum ia menjawabnya tiba – tiba aku meliha darah mengalir dari hidungnya. Mataku terbelalak.
“i…itu…da..rah. apa kau tidak apa – apa?” tanyaku. ia hanya tersenyum dan menghapus darah itu lalu mulutnya bergerak seperti ingin mengucapkan sesuatu. Namun sebelum suaranya terdengar. Ia..
“ya!!!ya!!kau kenapa!!” seruku panik. Begitu pula ahjumma – ahjumma penjaga panti. Aku berlari membawanya ke rumah sakit terdekat. Ya tuhan…,ada apa dengan yeoja ini.
***
 Aku sungguh cemas. Ada apa dengan yeoja ini kenapa tiba – tiba. Tidak hentinya aku menatapi wajah yeoja yang menyadarkanku ini. yang kini putih pucat persis seperti mayat.
“apa anda keluarganya?” tanya dokter di belakangku.
“aniya…dok. Aku temannya. Ia kenapa dok? Tiba – tiba pingsan seperti ini?” tanyaku cemas.
“mianhae…,saya harus mengatakan ini. pasien ini telah me..ning…gal.” Ujarnya yang membuatku tersentak.”MWO?!!!”
Air mataku mengalir. Aku tak bergeming lagi. Aku serasa mati rasa. Kenapa?kenapa?bukannya ia tadi masih sehat?kenapa sekarang?ADA APA INI,TOLONG JELASKAN PADAKU. Aku terus menangis.
Kemudian sesosok namja kecil datang menghampiriku. Ia berusaha dengan kursi rodanya. Lalu ia menatapku dan kemudian menyerahkan sebuah surat untukku. Aku membukanya lalu membacanya…
Annyeong KyuHyun oppa…
Mita atau Im Yoo Eun imnida. Hehehe…oppa aku berbohong padamu dengan bilang aku bukan ELF. Aku seorang ELF.hehehe. Oppa kau tidak marah lagi kan pada ELF?jangan pernah marah lagi yah… :(
Oppa kau tahukah?aku sangat bahagia oppa. Aku tidak menyangka aku dapat menghabiskan penghujung hidupku bersamamu yang selama ini selalu menjadi mimpiku. Melihatmu dengan jelas. Menatap wajahmu saat tersenyum. Seolah ini hanya mimpi yang membuatku tak ingin bangun kembali. Serta..membuatku merasa bahwa rasanya tak apa bila aku mati saat ini juga.
Oppa,kau tahukah?setiap tetes darah yang mengalir dari hidungku…yang memaksaku untuk berbaring. Setiap rasa sesak didadaku, yang memaksaku untuk menangis.  Aku dapat melawannya oppa!!! ya…apalagi kalau bukan karena kau. Aku tidak ingin tidur. Aku tidak ingin saat aku tidur aku tiada akan bisa melihatmu kembali. Hehe..aku jahat ya?masa ingin melawan takdir. Oppa sekali lagi aku mengucapkan terima kasih untukkmu. Karena telah ada di sisa hidupku ini.
Mita
Nb:oppa!jika kau sempat kunjungi ELF Indonesia ya.hehehe maaf karena telah memarahimu..
Aku mengakhiri surat yang dihiasi bercak tetesan darah ini. Aku menangis. Tangisan yang mengakhiri segala egoku. Aku menangis
***
1 tahun kemudian…
“ya!!sekarang kami akan mempersembahkan lagu terakhir dari kami!!” Seruku bersama para hyung ku. Ya…benar saat ini kami sedang menggelar konser di Indonesia.
“lagu ini teruntuk ELF yang kucintai. Maafkan aku ya?aku pernah kesal pada kalian. Namun aku sadar ucapan seseorang. Dan kini aku yakin, AKU CINTA KALIAN ELF!!” seruku lalu mulai menyanyi bersama para hyungku dan ELF tentunya. Aku bahagia.
Kami berdua di atas awan 
Tangan kita terkunci dalam janji 
Oh, aku cinta kamu 
Rasa sakit begitu banyak,
Mengetahui sendiri 
Dalam dunia yang luas 
Aku senang bahkan hanya dengan melihat 
Dengan hati yang tidak bisa anda tinggalkan
Terjaga sepanjang malam, menangis tersedu-sedu 
Aku ingin mengakui 
Aku hanya ingin dicintai
Sekali lagi aku berucap pada diriku sendiri. Betapa bodohnya aku bila aku takut terhadap ini semua. Terhadap birunya cinta yang mengelilingiku. Sungguh, sekarang aku merasa benar – benar bodoh. Bila aku sempat berfikir untuk pergi. Dan meninggalkan separuh hatiku.
 ‘Mianhae…ELF, you’re my EVERLASTING LOVE’
TAMAT

Frozen Heart - Dita Hyun Rin

Assalamualaykum!! :)

aku balik lagi!!!! hehehehehehe....
ceritanya lagi mau nostalgia nih... cerpen lama ku ku posting disini...
cerpen apa ff tau namanya...
pokoknya ini kubuat pas kelas 8. ^^v
jadi... harap dimaklumi yaa!! kalau TYPO dan cerita gak nyambung bertebaran dimana - mana...hehehehhe
ini tugas sekolah juga :)

okokokok!!!
**********************************
Desiran angin terasa sekali. Diiringi irama sunyinya. Senja, langit kemerahan menghiasi pesona angkasa. Sepi jalanan, senyap merayap. Suasana gelap terang. Seorang gadis kecil tertunduk lesu dibawah sebuah pohon besar ditepian jalan.
     Wajahnya memerah terkena pancaran senja. Masam air mukanya, begitu terlihat. Ia sendiri. Jarang sekali ada bising kendaraan. Lama dilakukannya, berdiri membatu sendiri. Sesaat, air matanya jatuh. Dan ia terisak memandang kakinya yang kemerahan seperti senja namun lebih merah lagi.
     Seorang ibu, menghampirinya. Yang sungguh terlihat mengasihinya. Dengan lembut, dibelainya rambut halus si gadis kecil. Lalu menenangkannya. Sesaat ia terdiam, membatin dalam hatinya, “sungguh kasihan kau.” Namun hanya bisikan hatinya. Ia berucap lembut yang sesungguhnya.
     “Ji Eun…, sudah…, sudahlah. Ibumu memang seperti itu. Bibi sudah begitu mengenal bagaimana peranggainya”
     “Bibi…, hiks…, hiks…, hiks” isaknya penuh duka.
     “Sudahlah”
     “Bi…,apa salah jika aku hanya meminta ibu menjemput ku ke sekolah?” tanya gadis itu polos.
     “Tidak…, tentu tidak. Sudahlah hapus air matamu. Yuk…, bibi obati lukamu ini” ujar bibi itu lembut seraya melihat darah yang mengalir di kaki Ji Eun.
     “Baiklah Bi” Ji Eun mencoba berdiri namun, ia jatuh. Lukanya terlalu sakit untuk ia tahan.
     “Ayo…, bibi bantu, pelan – pelan Ji Eun” ujar Bibi itu lembut.
     Kedua orang itu berjalan pergi diiringi langit kemerahan senja, dan isak tangis gadis kecil itu yang berjalan tertatih – tatih.
     Gadis yang menangis itu ialah Han Ji Eun. Ia selalu terluka, karena selalu dipukuli oleh ibunya yang seorang pelacur. Wajahnya manis, namun selalu diliputi awan gelap. Hatinya selalu gundah. Tak ada yang peduli terhadapnya. Kecuali satu, Bibi Mi Ja. Pembantu dirumahnya.
     Sesampainya di rumahnya, Bibi Mi Ja mengobati lukanya. Ia terlihat sangat kasihan akan nasib Han Ji Eun. Namun, tak ada yang lain yang dapat ia perbuat, ia hanya seorang pembantu.
     “Gomawo…, Bi.”
     “Cheonmaneyo…, Ji Eun agasshi”
     Sesaat suasana hening sejenak. Gadis berumur enam tahun itu kemudian bergerak. Ia ingin mengucapkan sesuatu,
     “Bi…, apa aku salah kalau aku ingin sekali Omma menjemputku di sekolah?”
     “Tidak…, sama sekali agasshi. Memangnya kenapa agasshi tiba – tiba bertanya seperti itu?”
     “Tidak Bi. Tadi aku bertanya pada omma. Tapi omma marah padaku.”
     Bibi Mi ja terlihat sangat mengasihani gadis kecil itu. Kini ia tahu apa penyebab Ji Eun sampai di pukuli tadi. Hatinya sangat mengasihani Ji Eun dan ia pun bingung, mengapa sampai ada ibu yang tega seperti itu.
     Ji Eun berusaha berdiri kembali. Meskipun dengan tertatih – tatih ia berjalan. Darah sudah tak mengalir lagi. Namun, luka masih membekas. Di luar maupun dihati Ji Eun. Ji Eun menghampiri ibunya yang sedang merias diri.
     “Omma…, bisakah besok kau menjemputku? Sekali saja? Aku ingin seperti teman – teman yang lain” pinta Ji Eun dengan memelas.
     “Apa katamu? Aku sibuk. Tidak bisa” jawab ibunya ketus.
     “Ayolah omma…, sekali saja”
     “Kubilang tidak ya tidak!” Ibu Ji Eun berdiri dan kemudian mendorong Ji Eun hingga kepalanya membentur meja dan menangis. Dengan tak ada rasa kasihan ibunya berjalan melewatinya. Bibi Mi Ja pun dengan cepat datang dan menolong Ji Eun.
     “Agasshi…, tidak apa – apa? Ayo agasshi…, bangunlah. Bibi obati lagi” Ucapnya penuh kasihan. Mata Bibi Mi Ja berkaca – kaca, seperti hampir menangis.
     “Bibi…, aku benci Omma, aku benci!” seru Ji Eun. Tangisnya meledak setelahnya.
     “Agasshi tak boleh berkata seperti itu…, jangan agasshi”
     “Tidak…, Bi. Dia bukan omma ku. Aku membencinya!”
     “Jangan berkata seperti itu agasshi” Bibi Mi ja pun akhirnya menagis juga.
     “Bi…, maukah bibi berjanji untuk tak meninggalkan aku sendiri?” tanya Ji eun seraya menyeka air matanya.
     “Iya…, Bibi janji” ucap Bibi Mi Ja kemudian.
     Entah takdir atau apa seiring di ucapkannya janji itu, Bibi Mi Ja tiba – tiba pergi meninggalkan Ji Eun. Ibunya pun kemudian menikah dengan seorang duda beranak satu. Anaknya berumur satu tahun lebih tua dari Ji eun ialah, Kim Jae Joong. Ibunya menghentikan pekerjaaannya sebagai pelacur karena ia telah menyadari perbuatan yang ia lakukan selama ini salah.
     Hal ini membuat Ji Eun terluka, sangat terluka. Kejadian terlewati. Ia merasa, Bibi Mi Ja telah menghianati janjinya. Menghianati dirinya. Ia pun menjadi gadis yang penuh kebencian dan tak percaya siapapun lagi.

*****

10 tahun kemudian

Siang ini, di Seoul langit terlihat sangat cerah. Tak diselimuti kegelapan. Angin pun berhembus sepoi – sepoi. Terlihat sekumpulan namja yang bermain basket di lapangan suatu SMA. Sedangkan, terlihat beberapa yeoja yang sedang menyemangati mereka dengan sorak – sorai gembira. Memanggil para idolanya. Semua terlihat gembira. Namun ada hal yang tak biasa.
Terlihat seorang yeoja yang menyendiri di bawah sebuah pohon yang rindang dengan buku tebal yang ia baca. Sungguh hal yang tak biasa diantara yang lainnya yang bergembira. Wajah gadis itu suram, sangat suram. Tak ada senyum yang menghiasinya.
Sekelompok namja berjalan melewatinya. Beberapa melihat padanya. Beberapa tak berani memandang. Entah takut atau tak perduli.
“Hei…, lihat itu si yeoja bermuka kuburan. Dia sedang apa itu?” tanya salah satunya.
“Hi…, dia itu manusia atau bukan sih? Wajahnya seperti hantu yang di film – film” tambah salah satunya.
“Memang siapa sih dia?” tanya salah satunya kembali.
“Iya…, sudah mau setahun kita disini kita tak tahu namanya” timpal salah satunya.
“Mmm…, kalau aku tak salah ingat ya…, waktu itu aku pernah bertanya dengan salah satu senior kita.”
“Siapa Min Hyuk? Yoo Na eonni?” ujar salah satunya.
“He… He… He. Iya dia kan kekasihku.”
“Wah hebat kau! Belum juga setahun disini sudah bisa memacari senior!!” seru salah satunya.
“Ha…, ha…, ha…, aku. Kalau aku tak salah mengingat ya. Namanya adalah…, Han Ji Eun.” Min Hyuk menencoba mengingat kembali lalu ia berseru,
“Iya…, benar namanya Han Ji Eun!” serunya kembali. Namun karena begitu keras Ji Eun menoleh kearah sekelompok anak itu.
“Ada apa?” Ji Eun menjawab pendek. Sekelompok anak itu menjadi takut. Kemudian mereka berlari dengan tergesa – gesa.
“Huh…, mengganggu saja. Mereka fikir aku hantu” hela Ji Eun kemudian melanjutkan membaca.
Sekelompok anak itu berlari sampai ke lapangan. Mereka sangat takut. Terutama Kang Min Hyuk yang tadi menyerukan nama Ji Eun. Ia sangat ketakutan. Mereka berheti di dekat sebuah bangku di areal taman sekolah. Disana terdapat murid – murid wanita yang sedang duduk – duduk.
Mereka bingung, ada apakah yang terjadi. Salah satunya bertanya,
“Hei…, Whee Sung. Kenapa kau dan teman – teman mu ini?”
“Hufh…, Seo hyun. Kamu tau senior kita yang wajahnya seram itu?”
“Emm…, Ji Eun eonni?”
“Ya…, ya… ya itu. Dia seram sekali. Jantungku rasanya mau copot saja. Ketika matanya melihat kearahku” sambung Min Hyuk.
“Memangnya kalian ada urusan apa dengannya?” tanya salah satu dari murid – murid wanita itu.
“Tidak…, sama sekali Seo Hyun. Tadi Min Hyuk hanya menyebutkan namanya, kemudian di menoleh seram sekali” lanjut Whee Sung.
“Ah…, kalian ini” hela Seo hyun pendek. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya,
“Tapi, dia itu sangat pandai lho?”
“Pandai?” Whee Sung bingung.
“Iya…, dia terkenal sangat pandai. Ia sering ikut dalam berbagai kompetisi Matematika, Sains, Karya tulis, dan lainnya. Namun, ya dia memang seperti itu. Tapi, secara pribadi aku kagum juga takut padanya”

*****

     Langit New York tak secermerlang mentari. Awan gelap menyelimutinya. Namun tiada suara gemuruh. Ataupun rintikkan air hujan hanya, kumpulan awan bergerumul menutupi sang raja siang.
     Terlihat seorang remaja laki – laki. Terlihat bahwa ia bukanlah orang Barat. Namun ia berkumpul bersama orang – orang barat yang lain. Badannya tinggi dan jangkung namun tidak kurus. Parasnya, menunjukkan bahwa ia orang asia. Ia sangat berbeda diantara yang lain.
     “Yun Ho, kau akan pergi nanti sore kan?” tanya salah satu laki – laki yang berada di sana.
     “Ya…, akhirnya aku akan kembali ke rumah lamaku di Seoul.” jawabnya  pendek.
     “Yun Ho…, apa tak sebaiknya kau menunggu sampai Sulli mengatakan jawabannya padamu?”
     “Ah…, Max. tak usah lah, aku sudah tau jawabannya apa. Yang penting dia sudah tau perasaan ku padanya.”
     “Ya…, terserah padamu lah. Ini lah Yun Ho yang ku kenal. Cuek namun bijak” ujar remaja laki – laki yang oleh Yun Ho dipangil Max. Lalu disertai tawa teman – teman yang lain.
     Hari ini, tepatnya sore nanti. Jung Yun Ho akan kembali ke Seoul setelah ia tinggal cukup lama di New York. Hal ini tentu berat. Namun, tak seberat kerinduannya akan suasana Seoul. Pemuda enam belas tahun itu, akan meninggalkan berbagai kenangan yang telah ia ukir dalam tiga tahun belakangan ini di New York. Termasuk Cinta pertamanya kepada gadis Korea yang juga bersekolah di sana, Sulli. Yang belum mendapatkan sambutan.
     Sore ini, langit menjadi cerah. Menyertai kepergian Yun Ho dari New York. Sahabat – sahabatnya, mengantarnya sampai di bandara. Mayoritas ialah para remaja laki – laki. Ada pula yang bersedih, namun ada pula yang ikut berbahagia.
     “Hey…, Yun Ho. Jangan lupakan kami ya. Teman – teman mu di sini”
     “Tentu…, tentu! Tenang saja David. Aku takkan menghapus kenangan kita semua” ujar Yun Ho seraya mengacungkan jempolnya dan mengedipkan sebelah matanya.
     “Yun Ho, apa kau sudah bilang akan kepergianmu pada Sulli?”
     “Ah…, ah…, sudah…, sudah!” jawab Yun Ho gugup.
     “Ya…, sudah. Selamat jalan Yun Ho” ujar anak laki – laki yang bernama David. Di ikuti oleh seluruh teman – teman yang lain.
     “Good Bye, Yun Ho!!” seru mereka serempak.
     “Bye All! Thanks Very much” jawab Yun Ho seraya melambaikan tangan dan kemudian Chek In pesawat terbang. Rombongan itu segera bubar, tak nampak lagi keributan. Sepi…, dan sepi.

*****
Pesawat terbang dengan cepat diangkasa. Bagai sang raksasa langit yang sedang terbang. Pemandangan nan elok kan kita jumpai dari sini. Menjadi penghibur pandangan yang sempat jenuh. Atau sebagai lambang dari hati yang di tinggalkan. Siapa tahu?
Dalam waktu tak sampai sehari, pesawat itu mendarat di Seoul International Airport. Ramai keadaan mengiringi kedatangan Yun Ho. Segala lalu lalang manusia, dengan berbagi kesibukannya. Dirasa tak asing oleh Yun Ho. Ya…, benar inilah Seoul. Ia hampir lupa, bagaimana wujud negara asalnya. Walau tak lama ia meninggalkannya. Kini ia kembali. Kembali untuk menjalani kehidupan baru.
Pemuda itu berjalan santai, headphone tak lepas dari tubuhnya. Sesekali ia melihat ke sekitar. Seakan mencari sesuatu. Seorang wanita melambaikan tangan padanya. Wanita itu sangat cantik walau tak nampak lagi ia muda. Wajahnya terlihat senang.
“Omma!!” seru Yun Ho yang kemudian segera mempercepat langkahnya.
“Yun Ho anakku, selamat datang di Seoul kembali!” jawab wanita itu singkat.
“Omma, kau masih seperti beberapa tahun yang lalu. Namun sekarang kau nampak mempesona”
“Ah…, kau selalu menggodaku”
Mereka berdua berjalan. Kedua ibu dan anak itu berjalan berdampingan. Kerinduan yang sangat mengiringi perjalanan mereka. Kemudian mereka berdua menuju area parkir dan memasuki mobil. Dalam perjalanan, senyum dan tawa tak henti – hentinya lepas dari raut wajah keduanya.
“Yun Ho-ya, Omma telah mendaftarkan mu di Namyeong School
“Secepat itukah omma?”
“Tentu, omma tak ingin pelajaranmu tertinggal. Maka sepulang dari NY kau harus langsung melanjutkan studi mu”
“Ya…, sudah. Terserah Omma saja” jawab Yun Ho pasrah.

*****

            Pagi ini begitu dingin. Dingin sekali. Salju menyapa dari langit sedikit demi sedikit. Langit mendung menggantung. Namun, aktivitas kesibukan kota tak dapat dihindarkan.
     “Omma…, haruskah aku berangkat?” Yun Ho bertanya kepada Ommanya.
     “Ya…, karena ini hari pertamamu maka omma akan mengantarmu. Jangan lupa lapisi seragammu dengan baju hangat yang Omma siapkan”
     “Ne, omma” jawab Yun Ho menurut.
     SMA Namyeong penuh dengan warna – warni baju hangat para siswa. Namun, tak nampak lagi segala murid – murid yang bermain basket ataupun yang lain. Semua hanya terduduk di kelas masing – masing. Termasuk murid tingkat dua di kelas A.
     Terlihat gadis disudut kelas sedang duduk dengan tenang bersama buku  yang setia menemaninya. Ia sendirian diantara selompok murid – murid yang lain ialah Ji Eun. Kemudian, pintu berderit. Pertanda akan ada yang memasuki kelas.
     “Annyeong Haseyo…, anak – anak!” kemudian masuk seorang wanita berkaca mata, memakai baju hangat dan mengenggam buku – buku.
     “Annyeong Haseyo…, Seonsaeng!” seru murid – murid serempak.
     “Hari ini saya membawa kabar yang sangat baik untuk kalian?”
     “Apa Seonsaengnim?” tanya salah satu murid yang terlihat penasaran.
     “Kalian akan mendapat anggota baru. Hari ini ada murid pindahan yang akan mau ke kelas ini”
     “Siapa Seonsaeng?”
     “Jung Yun Ho, ayo cepat masuk dan beri salam”
     Yun Ho memasuki kelas. Langkahnya santai namun pasti. Beberapa murid wanita memandangnya tanpa mengedipkan mata. Gayanya sangat keren dan modis. Ia terlihat begitu tampan.
     “AAAAA!!!” seru seluruh murid wanita. Namun hanya Ji Eun yang sama sekali tak tertarik untuk melihat.
     “Perkenalkan, namaku Jung Yun Ho. Aku pindahan dari SMA yang terletak di New York. Namun aku asli Korea. Mohon bantuannya” ujar Yun Ho dengan sopan seraya mebungkukkan badannya 90 derajat.
     “Kalian sudah tahu namanya bukan? Sekarang saya harap kita semua bisa bekerja sama bersama Yun Ho dan dapat menerimanya. Baik Yun Ho, kau duduk di sana” Guru itu menunjuk ke bangku yang kosong yang letaknya tidak jauh dari tempat Ji Eun duduk.
     Sesaat kemudian suasana hening. “Teng…, Teng…, Teng!” bel sekolah berbunyi. Pertanda waktu istirahat. Sebagian murid ada yang keluar dari kelas. Namun, ada pula yang pergi ke dekat Yun Ho untuk menanyakan berbagai macam pertanyaan.
     “Berapa lama kamu tinggal di NY?” tanya seseorang diantaranya.
     “Mmm…, lima tahunan lah. Kan aku mulai sekolah disana umur 11 tahun”
     “Bahasa inggris mu pasti fasih? Benar kan?”
     “Ha…, ha…, tidak juga. Disana mungkin karena terbiasa. Tapi aku tak mungkin melupakan bahasa asalku dong” Yun Ho tertawa. Di ikuti oleh tawa teman yang lainnya.
     Ji Eun bangkit dari tempatnya duduk. Ia menutup bukunya kemudian melangkahkan kaki kearah perpustakaan. Ia ingin meminjam buku kembali. Ji Eun berjalan melewati sekelompok anak yang sedang berkerumun. Semuanya melihat kearahnya. Termasuk Yun Ho. Rasa penasaran menghinggapinya.
     “Siapa sih dia?”
     “Dia itu Han Ji Eun. Si cewek hantu”
     “Cewek hantu?”
     “Ya…, dia itu sangat misterius dan menyeramkan. Kami saja tak pernah mengobrol dengannya”
     “Memang benar begitu?”
     “Benar…, dia itu tak pernah sedikitpun tersenyum. Tadinya ku pikir dia bukan manusia”
     Karena ucapan dari teman – temannya, Yun Ho menjadi penasaran. Ia ingin mengetahui siapa dia sebenarnya. Yun Ho pun mengikuti Ji Eun diam – diam. Ia ingin tahu, seperti apa gadis yang disebut oleh anak – anak “gadis hantu” itu. Teman – temannya hanya melihat dengan penuh rasa heran.
     Kemudian, sampailah ia di sebuah perpustakaan. Ia melihat gadis itu masuk. Kemudian mencari – cari buku. Yun Ho menduga, “gadis ini mungkin kutu buku”
Sesaat kemudian, seorang pemuda berkacamata masuk ke dalam ruangan. Dan ia duduk di tempat pinjaman. Kemudian, pandangannya tertuju pada Min Hwan. Yang terlihat sedang mengintip. Ia pun penasaran, apakah yang dilihatnya? Kemudian ia bangkit dari tempatnya, dan melihat dari arah sebaliknya. Ia melihat seorang gadis yang  ia kenali sedang membaca buku.
     Ji Eun menyadari kehadiran orang lain. Ia pun menoleh kearah pemuda yang baru masuk itu. Ji Eun mengenali wajahnya. Namun ia hanya diam dan berpindah dari tempatnya. Pemuda itu menegur,
     “Ji Eun adikku, apa kau sedang mencari buku baru?”
     “Ya…, JaeJoong oppa. Aku pinjam buku ini” jawab Ji Eun pendek. Lalu menyerahkan kartunya dan kemudian berjalan pergi tanpa mengucap sepatah kata pun. Jaejoong hanya melihatnya. Lalu tersenyum.
     “Itulah gadis yang kusukai” gumamnya perlahan.
     Yun Ho terus mengikuti. Hingga ia sampai di atap sekolah. Ia berfikir Ji Eun merupakan gadis gila yang mau bunuh diri melompat dari gedung. Namun, fikirannya salah. Ji Eun duduk bersandar di tembok. Lalu membaca buku yang ia genggam. Yun Ho terus mengamati.
     “Benar – benar misterius. Aku jadi semakin penasaran” gumamnya perlahan.
     Ia terus mengamati, sampai ketika Hand Phone yang ia pegang bergetar. Pertanda ada pesan masuk. Ia pun membukanya,
TO   :Yun Ho
From  :Omma
Hari ini omma akan menjemputmu…, kamu tunggu saja.
     Yun Ho membacanya, kemudian ia menghela nafas.
     “Ah…, omma. Kukira siapa”. Lalu ia pun kembali menoleh ia melihat Ji Eun sedang meletakkan tangannya di dadanya. Sepertinya ia kesakitan. Namun, tak nampak dari wajah Ji Eun.
     “Kenapa dia?” Yun Ho bertanya – Tanya. Lalu ia pergi meninggalkan tempat itu dan menuju kelasnya. Ia termenung, lalu bergumam sendiri.
     “Aku yakin…, dia bukanlah seorang gadis yang tanpa ekspresi” gumam Yun Ho perlahan. Lalu melanjutkan,
     “Aku yakin pasti, ada setitik senyuman di balik wajah dinginnya. Akan kubuat ia menunjukkan itu” gumam Yun Ho kembali dengan penuh kepastian.

*****

            SMA Namyeong hari ini, sangat ramai. Dikarenakan hari ini ialah hari besar untuk Negara Korea. Maka, untuk memperingatinya, sekolah mengadakan Festival. Di dukung dengan kondisi cuaca yang cerah. Awan gelap tak lagi menggantungi langit.
     Sebagian besar siswa berjalan – jalan di area festival itu bersama kekasihnya. Namun, Ji Eun tak tertarik sama sekali untuk melihatnya. Ia hanya membaca buku di atap sekolah. Kebiasaanya sehari – hari.
     Yun Ho penasaran, hari ini ia tak melihat Ji Eun. Namun, ia menduga, Ji Eun mungkin berada di atap. Ia membawa dua batang permen lollipop. Dan kemudian bergegas naik. Di atap ia melihat Ji Eun dengan kebiasaannya. Yun Ho pun mencoba menghampiri.
     “Hey…” sapanya ramah.
     Ji Eun menoleh. Ia melihat sesosok laki – laki. Lalu ia kembali meneruskan bacaanya. Yun Ho kesal. Lalu ia kembali menyapa, namun dengan suara agak keras.
     “Hey…, kau tuli ya!”
     “Bisakah kau tenang? Ini tempatku” Ji Eun menoleh dan kemudian melanjutkan membaca.
     Yun Ho kesal sekali. Baru kali ini ia menjumpai gadis yang sangat dingin. Hampir seperti es, fikirnya. Lau terfikir sesaat untuk menjahili Ji Eun. Yun Ho mendekat lalu mengambil buku yang sedang dibaca oleh Ji Eun.
     “Ha…, buku apa sih ini!” serunya.
     “Kembalikan! Kembalikan padaku!” Ji Eun akhirnya bereaksi.
     “Ah.., ini kan bukan buku milikmu. Boleh dong aku melihatnya” goda Yun Ho. Lalu ia berlari. Ji Eun mengejarnya.
     “Kembalikan! Dasar kau pengganggu!” Ji Eun mengejarnya dengan kesal. Mereka berdua berkejar – kejaran di atap.
     Jaejoong mencari Ji Eun. Ditangannya tergenggam sebuah buku. Sampulnya masih baru. Ia ingin memberikannya pada Ji Eun. Ia mencari – cari, hingga ia sampai di atap sekolah. Ia melihat Ji Eun sedang berkejaran dengan pemuda yang ia lihat di perpustakaan kemarin. Dalam hatinya ia merasa sedikit cemburu. Lalu ia berbalik pergi.
     Ji Eun mengejar Yun Ho terus. Namun Yun Ho menghentikan langkahnya dan menggoda Ji Eun dengan memberikan bukunya. Namun itu hanya tipuan. Ia menarik tangan Ji Eun dan kemudian memeluknya.
     Ji Eun sangat kaget. Ia sangat malu. Dengan cepat ia melepaskan diri, mengambil bukunya lalu pergi dengan wajah memerah. Yun Ho hanya tertawa melihatnya.

*****

            Langit nampak cerah, sangat pas sekali untuk bermain di taman sekolah ketika istirahat. Namun hal itu tak mengusik ketenangan Ji Eun. Ia hanya duduk diam di perpustakaan. Di sana hanya ada Jaejoong yang memperhatikan Ji Eun dari tempatnya duduk. Ya…, Jaejoong ialah murid yang di percaya sebagai penanggung jawab perpustakaan.
     Lama dalam keheningan itu, Jaejoong hanya memandangi dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Sesekali ia melihat Ji Eun memegang dadanya, seakan merasakan sakit. Ia ingin menghampiri, namun tak dilakukannya. Namun, tiba – tiba Yun Ho datang. Dia menghampiri Ji Eun. Jaejoong terlihat sangat kesal.
     “Ayo ikut aku”
     “Tidak”
     “Ayolah…” pinta Yun Ho memelas.
     “Tidak..” jawab Ji Eun pendek.
     Jaejoong yang melihat itu datang menghampiri.
     “Jangan memaksanya” ujar Jaejoong. Namun Yun Ho sama sekali tak memperdulikannya.
     “Ayolah…,” pintanya kembali.
     “Jangan memaksanya!” Jaejoong memperjelas suaranya. Kali ini Yun Ho menoleh.
     “Bukan urusanmu” Lalu Yun Ho menarik tangan Ji Eun.
     Jaejoong hanya terdiam, terpaku. Ia kesal sekali dengan Yun Ho. Namun ia tak dapat berbuat apapun.
     “Lepaskan aku!” seru Ji Eun dengan kesal. Yun Ho pun melepaskannya. Lalu ia berkata,
     “Ya…, aku lepaskan. Tapi ikut aku ayo..., Aku mau mengajakmu ke suatu tempat”
     “Kau gila? Ini jam pelajaran! Sudah kau jangan mengada – ada. Bye!” Ji Eun berbalik dan pergi.
Yun Ho memandangnya. Lalu ia mengejar Ji Eun dan menggendongnya sambil berlari. Ji Eun berontak. Namun Min Hwan tak perduli.
     “Hei! Turunkan aku anak baru!”
     “Kan tadi sudah kubilang aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Kita bolos saja di jam ini”
     “Tidak…, tidak. Turunkan aku!”
     “Aku tak perduli” Yun Ho mempercepat larinya. Beruntungnya, pagar sekolah tak terkunci. Yun Ho terus berlari. Ia berhenti di suatu pantai berpasir putih. Lalu ia menurunkan Ji Eun.
     “Dimana ini?” Ji Eun bertanya.
     “Ini, tempat favorit ku”
     “Bagaimana kau bisa tahu tempat ini? Bukannya kau orang New York?” Ji Eun kembali bertanya.
     “Masa kecilku kan di Seoul. Hanya tempat ini yang kutahu. Aku ingin menunjukkan padamu tempat dimana kau dapat melepas sedih dan penatmu”
     “Semakin bingung aku denganmu Jung”
     “Waw…, baru kali ini, ada seseorang yang memanggilku dengan nama depanku. Gomawo” Yun Ho tersenyum. Wajah Ji Eun memerah. Ia mencoba menutupinya.
     Ji Eun merasa ada yang aneh dalam dirinya, kini ia tak merasa sendirian. Kehadiran Jung Yun Ho dalam kehidupan sehari – harinya memberikan perasaan nyaman. Ia pun merasa, bahwa ia jatuh cinta pada Yun Ho.

*****

            “Sulli-ya, kau yakin akan menyusul Yun Ho?”
     “Yakin…, sangat yakin. Aku akan menjawab pernyataan cintanya padaku”
     “kau… sih…, terlalu lama memberi jawaban”
     “Kalian…, tak memberitahu ku tentang kepergiannya.”
     Pesawat dari New York tiba di Seoul. Sulli tiba di SEOUL INTERNATIONAL AIRPORT sebelum kepulangannya, ia menghubungi ibunya. Karena ia akan bersekolah sementara waktu di Seoul.
     Sulli, gadis cantik berambut panjang. Langkahnya bagaikan seorang model. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ia melihat Ommanya melambaikan tangan. Sulli melangkah dengan anggun. Ommanya sangat takjub melihatnya.
     “Kau sudah banyak berubah anakku”
     “Tentu Bu. Ibu sendiri tak banyak berubah, masih seperti dulu. Selalu awet muda”
     “Ha…, ha…, ha. Bisa saja kau menggoda ku. Oh.. ya, ibu sudah mendaftarkanmu ke SMA disini. Memang kenapa kau ingin pindah untuk sementara?”
     “Rahasia dong Bu. Apa namanya bu?”
     “Namyeong. SMA Namyeong. Ibu rasa itu SMA terbaik di kota ini”
     “Baiklah Bu”
     Keesokan harinya, Sulli telah berangkat ke sekolah barunya. Ia sangat berharap dapat bertemu dengan Yun Ho. Ternyata, ia mendapat kelas yang sama. Ketika jam istirahat,
     “Sulli-ya? Benarkah kau Sulli?” Yun Ho bertanya seakan tidak percaya.
     “Benar…,aku Sulli, Jung Yun Ho”
     “Arasseo?” Yun Ho masih tak percaya.
     “Aku kesini untuk mengatakan jawabanku?”
“Jawaban untuk apa?” Yun Ho masih kebingungan.
     “Tentang pernyataan cintamu dulu”
     “Ya?”
     “Aku juga menyukaimu. Sarangheyo… Yun Ho-ah”
     “Benarkah?!”
     “Tentu”
     “Oh…, aku senang sekali!” Yun Ho segera memeluk Sulli.
     Yun Ho sangat senang, cintanya terbalas. Ia tak peduli akan apapun lagi. Ji Eun melihat dari kejauhan. Ia sedih lalu berlari. Jaejoong melihatnya lalu mengejarnya. Ji Eun naik ke atap. Lalu ia menangis di sana. Jae Joong menghampirinya.
     “Ku mohon, jangan menangisinya.”
     Ji Eun masih terus menangis. Kemudian, tiba – tiba nafasnya menjadi sesak. Ia kesulitan untuk bernafas. Jaejoong yang melihatnya pun panik. Ia segera membawa Ji Eun ke rumah sakit. Ji Eun di vonis menderita paru – paru basah yang akut. Jaejoong tak menyangka, sama sekali tak menyangka. ia pun menemui Ji Eun yang sudah sadar dan tenang dan ia pun sedang duduk.
     “Appa dan omma tau?”
     Ji Eun tak menjawab, ia hanya diam. Jaejoong mengeraskan suaranya,
     “Kumohon…, jangan seperti ini terhadapku. Aku ini…, Kakakmu.” Jaejoong mengucapkan dengan berat. Ji eun pun bereaksi.
     “Tidak…, jangan beritahu mereka. Kumohon kak” Ji Eun memjawab dengan nada sedih. Ia merasa sudah ditinggalkan oleh orang yang sangat berharga baginya untuk kedua kali. Jaejoong pun memeluknya, erat sekali. Ia harus menelan perasaan cintanya pada Ji Eun

*****

            Jaejoong menjadi dekat dengan Ji Eun. Ia sering menghibur Ji Eun, menemani Ji Eun, namun hanya sebagai peranan kakak yang baik. Tetapi, Ji Eun menjadi seperti dulu kembali. Selalu diam dan diam.
     Yun Ho menjalani hubungannya dengan Sulli dengan kebahagiaan. Namun, entah mengapa…, ia merasa ada yang berbeda. Ia selalu membayangkan wajah Ji Eun ketika bersama Sulli. Ia sangat merindukan saat – saat menganggu Ji Eun, entah mengapa.
     Hari ini hari kematian. Hari dimana semua orang mengunjungi makam – makam orang yang mereka sayang. Tidak biasanya, omma Ji Eun mengajak Ji Eun pergi. Namun, Ji Eun hanya menurut.
     Ternyata ommanya mengajaknya ke Pemakaman. Di sana ommanya menangis, sedih sekali. Namun Ji Eun hanya melihatnya. Ia bingung dan sama sekali tak mengerti apa maksud ommanya membawanya ke Pemakaman.
     Tiba – tiba, Ommanya meminta maaf kepada makam itu. Ji Eun bingung tak mengerti.
     “Han Seung Min, maafkan aku. Selama ini aku telah menyiksa anakmu”
     “Omma kenapa?”
     “Ji Eun…, Maafkan aku”
     “Aku tak mengerti, Omma?”
     “Aku…, bukan ibu kandungmu…” ujar Ibunya. Kemudian air matanya jatuh.
     Bagai tersambar petir, bagai terhunus pisau tajam. Ji Eun kemudian merintikkan air matanya. Ia tak menyangka…, perusak masa kecilnya ternyata bukan siapa – siapa. Ia pun melangkah mundur…, semakin mundur, lalu berlari.
     Ji Eun berlari hatinya begitu terluka. Jaejoong yang bediri di depan mobilnya segera mengejarnya. Ji Eun berlari kearah pantai. Ia ingin menenggelamkan dirinya. Namun, berhasil di cegah oleh Jaejoong.
     “Kau mau apa!”
     “Tidak…, ka. Biarkan aku mengakhiri segala penderitaan ku”
     “Kau ini bodoh! Mana mungkin aku membiarkan orang yang sangat kucintai”
     Akhirnya Jaejoong mengucapkan kata itu. Ji Eun terdiam. Ia duduk dan merunduk sendiri. Jaejoong melepaskan tangannya. Ia tahu, bahwa yang dibutuhkan Ji Eun saat ini adalah Yun Ho. Pemuda yang membuat Ji Eun sangat bahagia.
     Yun Ho menyadari, cintanya hanya untuk Ji Eun. Sulli yang tahu itu kemudian memutuskan untuk kembali ke New York. Yun Ho mencari Ji Eun, dalam perjalanan ia bertemu Jaejoong.
     “Dimana Ji Eun?” ia bertanya.
     “Ayo ikut…” Jaejoong mengantar Yun Ho kepantai itu.
     Yun Ho yang melihat Ji Eun segera berlari ke arah nya. Ia mendekat lalu mengatakan,
     “Ji Eun…, aku sadar. Selama ini aku salah. Aku mencintaimu, Sarangheyo” Ucap Yun Ho seraya tersenyum pada lautan.
     Ji Eun tak bergerak. Ia tetap diam pada posisinya. Yun Ho kemudian memegang tangannya. Dingin…, Dingin sekali seperti es. Diangkatnya wajah Ji Eun. Pucat…, sangat pucat. Dan tak ada nafas lagi. Ya…, Ji Eun meninggal. Ia meninggal dalam hati yang dingin dan kesepian.
     Yun Ho menangis, lalu memeluknya. Ia berkata sendiri, “Ini…, salahku. Aku terlambat”
     Jaejoong melihat dari kejauhan. Air matanya jatuh. Namun ia tersenyum, dalam benaknya,
     “Kan kubiarkan kau terbaring dalam pelukan orang yang telah membuatmu merasakan apa itu cinta. Selamat jalan Adikku…, Selamat jalan cintaku”

END



Keterangan :
Gomawo       : ucapan Terima Kasih dalam bahasa korea.
Cheonmaneyo  : ucapan yang berarti “sama – sama” dalam  bahasa korea.
Seonsaeng     : Guru
Seonsaeng nim : ucapan bertanya kepada guru
Sarangheyo        : ucapan “Aku mencintaimu”
Omma        : Ibu
Eonni         : ucapan “kakak” kepada wanita yang lebih tua
Oppa         : ucapan “kakak” kepada laki – laki yang lebih tua