ini nih... FF yang Alhamdulillah membuatku menang di page SJFF... hehehehehe....
share share... ^^v...
Maaf Kalo ga nyambung ceritanya :(
****************************************************
Everlasting Love
Author’s: Dita (Park Hyun
Rin)
Cast :
-Cho Kyu Hyun
-Mita a.ka Im Yoo
Eun (Indonesian ELF)
-Super Junior
Member’s
-ELF
Genre :
Sad
Length :
Oneshoot
Rating :
General
Disclaimer :
I making this
fanfiction is for ELF and Super Junior’s member of course. The story I make
from my imagination but some part I think it is the fact. So don’t bash me
after you read it and you feel my story is bad…L.hehehe Gomawo.:)
“Hyung!! Tidakkah
kau lihat luka di tanganku ini?!” Seruku dengan berapi – api. Seraya menunjukan
goresan kuku yang kini terukir di tanganku dihadapan para Hyung ku.
“Kyuhyun-ah…,sudahlah.
Kau ini terlalu membesar – besarkan.” Ujar Kangin Hyung menyepelekan.
“ne, Kyu-ah kau
ini.” Sahut Eunhyuk Hyung sambil merebahkan diri di atas sofa di dorm kami.
“Mwo? Ya!! Hyung,
aku tahu ini memang terlihat berlebihan.
Tapi apa kau sadar? fans kita sekarang semakin keterlaluan!” Seruku. Mereka
hanya menatapku dengan tatapan hambar. Seolah mereka hanya berbicara pada anak
kecil yang sedang merajuk.
“Kyu-ah? Mungkin
kamu terlalu lelah, ayo istirahat saja yah? Nanti akan Hyung buatkan bubur
kesukaanmu.” rayu teuki hyung menghampiriku perlahan. Ia menanggapiku seolah ia
berhadapan dengan anaknya sendiri. Aishh…aku tak habis pikir dengannya.
“Ah!! Sesuka
kalian lah!!” Seruku dengan gusar. Lalu aku melangkahkan kaki ke kamarku.
BRAK !!
Ku banting pintu
kamarku dengan dentuman yang cukup menyentakkan telinga. Ku rebahkan tubuhku di
atas tempat tidurku. Lalu menatap ke dunia luar. Cukup lama aku menatap dan
kemudian kulepaskan napas panjangku.
“aku…,aku…,semakin
takut dengan diriku sekarang.” Gumamku. Lalu aku menatap luka yang kini
tertoreh di tanganku.”aku takut diriku akan dilukai.” Gumamku kembali.
Aku bangkit dari
tempatku merebah. Menatapi wajahku yang terpampang di lemari kamarku. Wajahku
dikelilingi ratusan, bahkan ribuan balon berwarna biru bertuliskan ‘ELF’ cukup
lama aku menatapi benda itu. Diantara rasa takutku yang kian menjadi, dan
kebingungan yang menyelimuti diriku. Sayup – sayup kudengar suara Hyungku dari
luar kamar,
“Teuki Hyung? Ada apa dengan Kyuhyun?
Apa ia sakit?” Tanya Yesung Hyung.
“entahlah. Mungkin
ia sedikit merasa trauma.” Jawab Teuki Hyung.
“aigoo, ada apa
lagi dengannya. Ia sungguh anak manja. Bukankah ini resiko kita sebagai artis
yang dikenal?” Timpal Siwon Hyung dengan ringannya.
“Siwon-ah, mungkin
ia benar trauma. Aku juga sungguh merasa trauma atas kejadian ini tapi ya mau
diapakan lagi. Ini resiko.” Sahut Shindong Hyung.
“tapi bagaimanapun
mereka itu ELF. Fans kita. Tanpa mereka kita bukan apa – apa.” Timpal Ryeowook.
ELF. Aku mendengar
kata itu lagi. Dan sekali lagi aku merasa diselimuti ketakutan yang luar biasa.
Mungkin ini aneh. Atau bahkan sangat aneh. Tiba – tiba aku merasa takut pada
fans yang sudah lama mengikuti perjalanan karirku bersama Super Junior. Namun
ini benar. Aku sungguh merasa takut.
“Aku harus pergi.”
Ucapku sendiri.
***
Entah dimana aku,
ataupun bagaimana keadaanku nanti. Yang kuingat aku pergi dari dorm.
Meninggalkan Super Junior dan ELF tentunya. Aku mengembara. Mencari tempat
dimana tidak satupun ELF akan menemukanku.
“Desa Chuongnam”
aku membaca peta jalur – jalur yang akan kulalui di dalam bis yang membawaku.
Entah sampai mana. Namun akhirnya aku menjatuhkan pilihan di desa ini. Kelihatannya
cukup terpencil dan kuharap tiada ELF di sana .
“TUJUAN DESA
CHUONGNAM”. Seru kondektur bis. Aku segera bangkit lalu memperbaiki
penyamaranku. Aku menyerahkan kartu dan uang kepada kondektur bis. Lalu
melangkahkan kakiku untuk menapaki halte bis yang tidak pernah ku jamahi
sebelumnya.
“ah!! Segarnya
suasana di sini!! Benar – benar bebas!!” Aku berlari ke arah padang rumput yang menguning tepat di
belakang halte pemberhentian tadi.
Aku bebas!
Itulah yang
kurasakan sekarang. Tidak ada keributan,kerusuhan,dan hal yang membuatku muak.
Dugaanku tepat desa ini benar – benar sepi.
“ya!! kau yang di sana !!” aku mendengar
seruan seorang yeoja. Serentak, jantungku serasa ingin melompat keluar dari
tubuhku.
Aku
tidak salah dengar?! itu suara seorang yeoja!! jangan – jangan dia ELF!!
Aku berlari ke
arah semak- semak di depanku.
“aigoo.. jangan – jangan
dia ELF. ” Gumamku dengan gelisah. Keringatku mengucur deras. Padahal disini
angin semilir membelai dengan lembutnya.
Terlihat semak
lebat tak jauh dari hadapanku. Dengan segera aku mencari perlindungan
kepadanya. Berharap agar yeoja itu tidak dapat menemukanku.
“Ya…kau yang di sana ! keluar kau! kau
sudah terlanjur tertangkap! Ayo ikut ke kantor polisi.” Ujarnya yang cukup
membuatku merutuki diriku sendiri.
Kantor Polisi?
memangnya aku penjahat? aigoo jangan – jangan dia salah paham. Aku harus
memberitahunya bagaimana pun caranya. Aku bangkit dengan ragu – ragu. Keringat
masih terus mengalir. Satu,dua,tiga…
“mi…mianhae.
A..aku buk..an Pen..pencuri.” Jawabku terbata – bata seraya menundukan
kepalaku.
“gotjimal. Ya!!kau
ini babo mana ada pencuri yang mau mengaku hah?! Di sini sudah banyak yang
sepertimu mengaku – ngaku orang baik. Kau rentenir yang ingin merebut tanah ini
kan ?!”
Tuduhnya.
“sungguh…aku baru
sa..ja tiba…” Jawabku terbata – bata kembali. Namun, aku menegakkan sedikit
kepalaku.
“HAH?!” Seru yeoja
itu.
“w..a..e?”
tanyaku.
“kau Cho KyuHyun kan ?”
DEG!
Dia tahu namaku?!
“n..e.” Jawabku
takut. Aku sungguh takut kalau yeoja dihadapanku ini benar seorang ELF.
“kau sedang apa di
desa seperti ini?liburan? dimana yang lain?” tanyanya beruntun. Yang membuatku
bingung harus menjawab yang mana dulu. Tapi, kenapa dia tidak menyerangku?
“ya…, ternyata
artis sombong sekali, ditanya saja tidak menjawab. Ya sudah.” Gumamnya lalu
berjalan melangkahkan kakinya.
“Ya!” seruku
memberanikan diri.
“hmm…” Ujarnya
seraya menoleh.
“apa kau ELF?”
tanyaku perlahan.
“Bukan”. Jawabnya
singkat.
“Jeongmal?”
tanyaku dengan dengan mata pengharapanku.
“buat apa berbohong.
Aku memang bukan ELF.” Jawabnya dengan pasti. Aku masih terdiam dalam
kebimbangan.
“mau ikut tidak?
Apa mau selamanya sendirian di tempat ini?” tawarnya.
“benar kau bukan
ELF?? Iya aku mau ikut.” Jawabku pendek. Aku mengikutinya dengan langkah panjangku
yang terasa berat.
***
Aku menatap
lingkungan tempatku menapaki kakiku saat ini. Mataku menelisik tajam penuh hawa
curiga. Aku takut. Takut yeoja yang kuhadapi ini berdusta padaku. Membohongiku
untuk menculikku. Aku sungguh takut. Kenapa aku harus seperti ini?
“kau membawaku
kemana ini?” tanyaku. Gadis itu tidak menjawab tanyaku. Ia melangkahkan kakinya
untuk masuk kedalam rumah.
“ya…,kau
membohongiku kah? Tolong jawab pertanyaanku.” Tanyaku. Untuk sekali lagi ia
tetap tak menjawab.
Aku semakin dihinggapi
rasa takut. Entah apa yang akan terjadi padaku? Apa mungkin aku akan di culik
lalu ditawan. OMO… aku tak dapat membayangkan hal itu. Aku harus apa sekarang?
Mungkin yeoja itu sedang memanggil teman – temannya saat ini. Habislah aku.
“ya!!kau…” Seruku.
Namun sebelum aku menyelesaikan kalimatku, tiba – tiba ia keluar. Ia sedang
mendorong kursi roda yang diatasnya terduduk seorang yeoja kecil yang menatapku
kosong.
“tara !!Yul…,ada
KyuHyun oppa dihadapanmu sekarang. Ayo beri salam pada oppa.” Ujarnya ramah
pada yeoja kecil itu. Namun yeoja kecil itu tetap tak bergeming. Menatapku
dengan tatapan kosong. Wajahnya yang putih pucat membuatnya tampak seperti
mayat hidup. Aku merasa sedikit takut.
“di..dia siapa?”
Tanyaku kemudian. Mataku masih tak dapat lepas dari tatapan kosong yeoja itu.
Aku pun menjadi sedikit salah tingkah.
“ini? Ini Min Yul.
Dia seorang ELF…,fans mu.” Jawab yeoja di hadapanku seraya tersenyum. Aku hanya
terdiam tanpa berkata sepatah katapun. Selain aku terkejut dengan kata ELF aku
juga merasa iba dengan yeoja kecil dengan tatapan hampa yang ada di hadapanku
saat ini.
“ya..,kau merasa
kasihan padanya ya? Umurnya baru 14 tahun. Dia sangatlah tertekan. Kau tahukah
penyebabnya?” Tanya yeoja itu kembali.
“ani…wae?” Tanyaku
kembali. Namun masih dalam posisi yang tadi. Menatap wajah yeoja kecil itu.
“dia mengetahui
kenyataan bahwa gurunya di sekolah adalah orang yang menyebabkan appa dan
eommanya meninggal hingga mengharuskan Yul untuk tinggal di Panti ini seorang
diri.” Jelasnya.
“benarkah itu?”
tanyaku. Aku merasa semakin iba dengannya. Ia masih kecil. Kenapa harus seperti
itu?
“tentu saja. Ia
sangat menyukai kau dan teman - temanmu. Ya…,terutama kau. Sebelum kejadian
ini, saat dia tidak dapat memejamkan mata,tak dapat menahan perasaannya. Ia
selalu mendengarkan lagu – lagu kalian. Ia bahkan sangat hafal liriknya.” Jelas
yeoja itu. Aku hanya terpana mendengarnya. Hingga tak mampu menggerakkan otot –
otot suaraku.
“ia sangat
mencintaimu. Mencintai kalian. Lebih dari yang kalian bayangkan.” Ujarnya
sendiri.
“mwo? Cinta…,ya.”
Gumamku perlahan. Dan kemudian hatiku perlahan tergerak.
***
Aku mengamati
sekitarku. Sudah dua hari aku ditempat yang asing bagiku. Kakiku kini menapaki
sebuah panti asuhan yang terpencil. Dengan anak – anak sakit, dua orang ahjumma
yang telah berumur pengurus panti, dan seorang yeoja bukan ELF yang tak
kuketahui nama dan darimana ia berasal.
“kau tinggal di
sini?” tanyaku seraya mengamati yeoja itu yang sedang menyuapi seorang namja
kecil yang duduk di ranjangnya sedang ia menyelimuti kakinya.
“bisa dibilang
iya?bisa juga tidak.” Jawabnya penuh rahasia. Kemudian ia melanjutkan kata –
katanya,”kau mau Bantu menyuapi Yon Ju?”
“mwo?” Tanyaku.
“ne, kau mau
membantu menyuapinya? Aku mau menyuapi Song Hee.” Ujarnya. aku pun meraih
tempat makan itu. Menyendokkan bubur sedikit demi sedikit. Ya…,aku yakin aku
pasti bisa. Dan.. Hap!ia melahapnya. Lalu tersenyum padaku.
“wah, kau
tersenyum rupanya. Apa kau mengenalku? Aku Cho Kyu Hyun.” Sapaku ramah.
“ne…Ky..u..Hy..u..n
Hyu..ng.” Jawabnya terbata – bata. Lalu kembali tersenyum. Tiba – tiba,
“A..Apa aku tak
salah dengar?! Yon Ju bicara?!” Seru ahjumma – ahjumma pengurus panti dengan
serentak.
“n..e. wae
ahjumma? apa dia memang belum bisa bicara?” tanyaku bingung.
“dia hanya diam
selama dua tahun belakangan ini. Sejak kecelakaan yang menghabisi satu
kakinya.” Ucap satu orang ahjumma dengan sedih. Aku terlonjak,”hah?
Menghabisi?!”
“ini,” ahjumma itu
membuka sedikit selimut yang menutupi kaki namja kecil bernama Yon Ju itu. Aku
sungguh tak percaya. Kakinya benar hanya sebelah. Aku tak dapat membayangkan
bagaimana hidupku bila aku menjadi sepertinya.
“kasihan sekali
umurnya baru 10 tahun. Ia tidak punya orang tua.” Gumam salah seorang ahjumma
dengan sedih.
Aku menatap hambar
ke arah Yon Ju. Kasihan. Yah aku sangat kasihan padanya. Begitu pula anak –
anak di sini. Tiba – tiba aku melihat Yon Ju menggerakkan tangannya untuk
mengambil sesuatu.
“sini,Hyung
ambilkan. Kamu mau mengambil kertas ini?” aku menunjuk tumpukan kertas di atas
meja. Dia mengangguk perlahan. Lalu menunjuk lagi ke arah pensil warna di
sebelahnya.
“oh. Kamu mau
menggambar ya?wah…,daebak.” Ujarku memujinya. Lalu aku mengambilkan pensil
warna dan kertas dan menyerahkan kedua benda itu padanya. Dan untuk yang kedua,ia
kembali tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan tulus.
“Song Hee, ayo
buka mulutmu…” aku mendengar suara yeoja yang tak asing bagiku. Aku menoleh
keluar jendela. Ternyata yeoja itu.
“Song Hee,kau
harus makan nanti kalau tidak perutmu akan sakit lagi.” Ujarnya kembali. Namun
yeoja kecil dihadapannya tetap tak bergeming. Aku pun menoleh kembali pada Yon
Ju. Yon Ju juga ternyata sedang melihat keluar.
“apa kau mau
menggambar di luar?” tanyaku. Ia hanya mengangguk. Aku menaikkannya diatas
kursi roda. Lalu membawanya keluar.
“Song Hee, ayo
buka mulutmu…,pesawat sudah dataaang!” rayu yeoja itu. Yeoja kecil di
hadapannya tetap tak bergeming. Ia memandang jemu ke langit biru.
“kau ingin aku
menyanyi?” Tawarku tiba – tiba. Entah dari mana aku terfikir ucapan seperti
ini. Dan yeoja kecil itu mengangguk perlahan.
“benarkah? Kau mau
menyanyi untuknya?” tanya yeoja di sebelahku dengan mata membelalak. Aku
mengangguk, dan mulai menyanyi..
….Nuhneun
neomu nuni busyeo
(Kau begitu menyilaukan)
Ni ga isseo nae shimjangi
ddwi-uh
(Jantungku berdebar-debar)
Ojik nuhmani na-egen number
one nuhl saranghae
(Kau satu-satunya bagi ku dan selalu menjadi nomor 1 yang aku cintai)
Jogeumman duh na dagawajwuh
(Datang sedikit lebih
dekat dengan ku)
Neoui soneul kkok jabgo
shipuh
(Aku ingin memegang erat tangan mu)
Ee noraeneun only for you
youngwuhnhi saranghae
(Lagu ini hanya
untuk mu, Aku
mencintaimu selamanya)
…...(Super Junior – Angle)
PROK!!PROK!! mereka semua bertepuk tangan untukku. Aku
tersenyum puas. Song Hee kemudian melahap makannya. Yeoja itu tersenyum tulus
penuh arti padaku. Ahjumma – ahjumma tiada henti memujiku. Ahh… dunia ini
nyaman sekali. Tiba – tiba Yon Ju memberikan sebuah kertas padaku seraya
tersenyum.
“apa ini?” tanyaku. ia menyuruhku melihatnya. Ada seorang namja yang
tengah tersenyum dibawah hamparan langit biru. Biru. Ya…,biru yang kutakutkan.
“ELF…” Gumamnya dengan sedikit jelas. Lalu tersenyum. Aku tak
tahu harus berbuat apa.
***
Aku
menatap seraya tersenyum ke langit. Ku hirup udara yang segar dan tenang ini.
lalu kuhempaskan perlahan. Sudah hampir dua minggu aku di sini. Merawat,
mengasuh,bermain,bernyanyi,bersama anak – anak panti dan seorang yeoja yang
seakan menjadi pengobat tekananku. Aku merasa damai ,aku tak ingin kembali ,aku
ingin damai di sini.
Kurebahkan
tubuhku diatas hamparan rumput. Aku merasa ada sesuatu yang mengusikku, entah
apa.
“ahh!!!”
seruku.
“ya
oppa!!kenapa kau bergerak.” Seru seorang yeoja dari sisi sebelahku.
“hah?!
Sejak kapan disitu? Dan mau apa kau?!” selidikku. Aku melihatnya memegang
kertas dan pensil. Mungkin ia melukisku. Tapi untuk apa?
“sejak
tadi, aku melihatmu memandangi langit.” Jawabnya.
“oh..”
jawabku pendek. ia berbaring di sebelah tempatku berbaring tadi. Dan ikut
memandangi langit.
Aku
kini dapat dengan jelas melihat wajahnya. Selama hampir dua minggu di sini, aku
terlalu sibuk dengan aktifitas ku hingga tak sempat menatap wajah yeoja yang
membawaku ke saat ini. Ia memiliki Kulit yang putih, namun berbeda dari kulit
orang korea
pada umumnya. Mata yang bulat dan besar lagi indah. Mata yang meyakinkanku
bahwa ia benar bukan orang korea .
Tapi? Apa hasil operasi plastik?
“ya..,kau
operasi plastik dimana?” tanyaku.
“hah?
Operasi?” Jawabnya dengan heran.
“iya,
kau operasi dimana sehingga bisa mendapatkan mata seindah itu?” tanyaku
kembali. Namun, di sambut dengan tawa darinya.
“ya…,kenapa
kau tertawa?” tanyaku bingung.
“ini
mata asliku. Seumur hidup aku belum pernah operasi.” Ujarnya.
“apa
kau bukan orang Korea ?”
tanyaku kembali. Aku masih penasaran.
“ne…,aku
bukan orang Korea aku dari Indonesia .”
Jawabnya.
“In..Indonesia ?
Lalu kenapa kau di sini?” tanyaku kembali.
“aku
ingin mengabdikan diriku pada anak – anak di sini. Mereka terlantar. Aku ingin
menghabiskan penghujung hidupku di sini.” Jawabnya lalu kembali tersenyum
manis. Senyum termanis yang pernah ku lihat.
“lalu
kau sendiri oppa? Kenapa ke sini? Bukankah kau member Super Junior?” tanyanya
kembali.
“entahlah…,aku
rasanya tidak ingin kembali.” Jawabku pendek.
“HAH?!
WAE???!” tanyanya tiba – tiba. Membuatku sedikit terkejut.
“aku
takut aku akan terluka.” Ujarku. Tiba – tiba ia memukulku.
PLETAK!”aigoo!!
kenapa aku dipukul?!” Seruku.
“oppa,
jeongmal pabo-ya!!” Serunya.
“hah?”
“oppa,
kau kesal pada ELF bukan? Membuatmu takut dan terluka.” Ujarnya. lalu ia melanjutkan,:tapi
sesungguhnya merekalah yang paling lebih mencintaimu.” Jelasnya.
“mwo?
Cinta? Cinta apa yang melukai?! Kau tidak tahu apa – apa!!” Seruku membalas
ucapannya.
“tentu
saja aku tahu! Aku mengerti oppa!! Mereka, ELF… EverLasting Friends Super Junior.
Mereka membiarkan diri mereka kehujanan untuk melihatmu melihat kalian! Meraka
ialah ELF yang membelamu membela kalian saat kalian dihina dicaci!! Mereka
ialah ELF yang mencintai jauh lebih besar dari cinta kau!!kalian pada mereka!
Meraka ialah ELF yang menyediakan air matanya untuk bersedih bersama
kau!!kalian!!! dan…Mereka ialah ELF yang akan tertawa bahagia bila ia melihat
kalian meskipun tidak lama lagi ia akan mati!!!!” Serunya seraya menangis.
Mataku terbelalak. Hatiku bergemuruh. Aku bingung…
“oppa,
kau harus kembali. Kembali untuk mereka!!tersenyumlah seperti saat kau
tersenyum di sini. Kembali untuk Super Junior.” Isaknya. Aku mematung di
hadapannya. Emosiku bercampur. Aku tak kuat lagi menahan airmataku.
BRESS!!hujan
turun bersamaan jatuhnya air mataku ke pelipisku. Mengguyur hatiku yang
diliputi kecemasan. Aku menatap kosong. Yeoja dihadapanku masih menangis. Aku
heran, ia bukan ELF…,tapi kenapa ia seperti ini sekarang?
Aku
menatap langit biru yang kini telah sembab. Dan telah merintikkan derai air
matanya. Aku bingung. Aku bingung dengan diriku. Aku tetap diam dalam posisiku.
Kemudian aku melihat setitik awan yang belum sembab. Cukup setitik. Ia masih
tertahan dalam posisinya, meski kini terlihat ia mulai rapuh. Biru…,ya biru
yang ku lihat. Kemudian hatiku bergemuruh kencang. Aku merasakan kedamaian. Aku
menemukan diriku lagi.
“ya,
kau benar…aku harus kembali.” Gumamku sendiri.
***
“semuanya…aku
minta maaf bila selama aku tinggal di sini aku menyusahkan kalian.” Ucapku lalu
membungkuk. Memberi penghormatan terakhirku.
“gwenchanayo
oppa!!” Jawab mereka semua serempak. Senyum mereka cukup membuat mataku menatap
nanar.
“Yon
Ju, kau harus sembuh ne?” Ucapku ramah.
“n..e
Hyung –ah” Jawabnya yang cukup membuatku dan dua ahjumma penjaga panti ini
tersentak. Lalu aku tersenyum menatapnya.
“Song
Hee kau harus banyak makan ne? jika kau sudah sembuh oppa yakin kau akan dapat
menyanyi lebih indah dari oppa.” Ujarku pada yeoja kecil yang kini telah
tersenyum menatapku. Matanya seolah berkata ‘gomawo oppa’ padaku. Dengan segera
aku membalasnya “cheonmaneyo”.
Aku
berpamitan pada dua orang ahjumma penjaga panti. Mereka sangat berterima kasih
padaku. Karena, menurut mereka kedatanganku di sini membawa dampak yang baik
bagi anak – anak. Syukurlah jika seperti itu, aku juga berterima kasih sekali
kepada semua yang di sini. Yang telah menyambutku dengan ramah.
Mataku
berkeliling, mencari sosok yeoja yang membuka hatiku. Menyadarkan aku untuk
kembali. Tapi kenapa ia sekarang tidak ada?
“mianhae,Ahjumma
dimana yeoja itu?” tanyaku. tiba – tiba seorang yeoja berlari ke arahku
tersenyum berteriak – teriak menyerukan namaku. Lalu ia tiba dihadapanku.
Napasnya masih tersengal – sengal. Namun??ada apa dengan wajahnya?
“oppa!!
Mi..ian aku telat ne. oppa go..ma..wo kau sudah mau kembali. Jeongmal mianhaeyo
kemarin aku memarahimu.” Sesalnya beruntun. Aku hanya tertawa.
“seharusnya
aku yang berterima kasih padamu. Kau telah menyadarkanku.” Ucapku.
“oppa…,jangan
seperti ini lagi ya. Ini permintaan terakhirku sebelum aku benar – benar tidak
dapat melihatmu lagi.” Ucapnya yang membuatku tersentak.
“mwo?
Aniya…kau kan
dapat melihatku di televisi – televisi. Kau ini, ucapanmu itu seolah hidupmu
akan berakhir sekarang saja. Oh ne…,kau sakit? Wajahmu pucat?” tanyaku
beruntun. Sebelum ia menjawabnya tiba – tiba aku meliha darah mengalir dari
hidungnya. Mataku terbelalak.
“i…itu…da..rah.
apa kau tidak apa – apa?” tanyaku. ia hanya tersenyum dan menghapus darah itu
lalu mulutnya bergerak seperti ingin mengucapkan sesuatu. Namun sebelum suaranya
terdengar. Ia. .
“ya!!!ya!!kau
kenapa!!” seruku panik. Begitu pula ahjumma – ahjumma penjaga panti. Aku
berlari membawanya ke rumah sakit terdekat. Ya tuhan…,ada apa dengan yeoja ini.
***
Aku sungguh cemas. Ada apa dengan yeoja ini kenapa tiba – tiba.
Tidak hentinya aku menatapi wajah yeoja yang menyadarkanku ini. yang kini putih
pucat persis seperti mayat.
“apa
anda keluarganya?” tanya dokter di belakangku.
“aniya…dok.
Aku temannya. Ia kenapa dok? Tiba – tiba pingsan seperti ini?” tanyaku cemas.
“mianhae…,saya
harus mengatakan ini. pasien ini telah me..ning…gal.” Ujarnya yang membuatku
tersentak.”MWO?!!!”
Air
mataku mengalir. Aku tak bergeming lagi. Aku serasa mati rasa.
Kenapa?kenapa?bukannya ia tadi masih sehat?kenapa sekarang?ADA APA INI,TOLONG
JELASKAN PADAKU. Aku terus menangis.
Kemudian
sesosok namja kecil datang menghampiriku. Ia berusaha dengan kursi rodanya.
Lalu ia menatapku dan kemudian menyerahkan sebuah surat untukku. Aku membukanya lalu
membacanya…
Annyeong KyuHyun oppa…
Mita atau Im Yoo Eun imnida. Hehehe…oppa
aku berbohong padamu dengan bilang aku bukan ELF. Aku seorang ELF.hehehe. Oppa
kau tidak marah lagi kan
pada ELF?jangan pernah marah lagi yah… :(
Oppa kau tahukah?aku sangat bahagia
oppa. Aku tidak menyangka aku dapat menghabiskan penghujung hidupku bersamamu
yang selama ini selalu menjadi mimpiku. Melihatmu dengan jelas. Menatap wajahmu
saat tersenyum. Seolah ini hanya mimpi yang membuatku tak ingin bangun kembali. Serta..membuatku merasa bahwa rasanya tak apa bila aku mati saat ini
juga.
Oppa,kau tahukah?setiap tetes darah yang
mengalir dari hidungku…yang memaksaku untuk berbaring. Setiap rasa sesak didadaku, yang memaksaku untuk menangis. Aku dapat melawannya
oppa!!! ya…apalagi kalau bukan karena kau. Aku tidak ingin tidur. Aku tidak ingin
saat aku tidur aku tiada akan bisa melihatmu kembali. Hehe..aku jahat ya?masa
ingin melawan takdir. Oppa sekali lagi aku mengucapkan terima kasih untukkmu.
Karena telah ada di sisa hidupku ini.
Mita
Nb:oppa!jika kau sempat kunjungi ELF
Indonesia ya.hehehe maaf karena telah memarahimu..
Aku
mengakhiri surat
yang dihiasi bercak tetesan darah ini. Aku menangis. Tangisan yang mengakhiri segala
egoku. Aku menangis
***
1 tahun kemudian…
“ya!!sekarang
kami akan mempersembahkan lagu terakhir dari kami!!” Seruku bersama para hyung
ku. Ya…benar saat ini kami sedang menggelar konser di Indonesia .
“lagu
ini teruntuk ELF yang kucintai. Maafkan aku ya?aku pernah kesal pada kalian.
Namun aku sadar ucapan seseorang. Dan kini aku yakin, AKU CINTA KALIAN ELF!!”
seruku lalu mulai menyanyi bersama para hyungku dan ELF tentunya. Aku bahagia.
Kami berdua di atas awan
Tangan kita terkunci dalam janji
Oh, aku cinta kamu
Rasa sakit begitu banyak,
Mengetahui sendiri
Dalam dunia yang luas
Aku senang bahkan hanya dengan melihat
Dengan hati yang tidak bisa anda tinggalkan
Terjaga sepanjang malam, menangis tersedu-sedu
Aku ingin mengakui
Aku hanya ingin dicintai…
Tangan kita terkunci dalam janji
Oh, aku cinta kamu
Rasa sakit begitu banyak,
Mengetahui sendiri
Dalam dunia yang luas
Aku senang bahkan hanya dengan melihat
Dengan hati yang tidak bisa anda tinggalkan
Terjaga sepanjang malam, menangis tersedu-sedu
Aku ingin mengakui
Aku hanya ingin dicintai…
Sekali
lagi aku berucap pada diriku sendiri. Betapa bodohnya aku bila aku takut
terhadap ini semua. Terhadap birunya cinta yang mengelilingiku. Sungguh,
sekarang aku merasa benar – benar bodoh. Bila aku sempat berfikir untuk pergi.
Dan meninggalkan separuh hatiku.
‘Mianhae…ELF, you’re my EVERLASTING LOVE’
TAMAT