aku balik lagi!!!! hehehehehehe....
ceritanya lagi mau nostalgia nih... cerpen lama ku ku posting disini...
cerpen apa ff tau namanya...
pokoknya ini kubuat pas kelas 8. ^^v
jadi... harap dimaklumi yaa!! kalau TYPO dan cerita gak nyambung bertebaran dimana - mana...hehehehhe
ini tugas sekolah juga :)
okokokok!!!
**********************************
Desiran angin
terasa sekali. Diiringi irama sunyinya. Senja, langit kemerahan menghiasi
pesona angkasa. Sepi jalanan, senyap merayap. Suasana gelap terang. Seorang
gadis kecil tertunduk lesu dibawah sebuah pohon besar ditepian jalan.
Wajahnya memerah terkena pancaran senja. Masam air mukanya,
begitu terlihat. Ia sendiri. Jarang sekali ada bising kendaraan. Lama
dilakukannya, berdiri membatu sendiri. Sesaat, air matanya jatuh. Dan ia terisak
memandang kakinya yang kemerahan seperti senja namun lebih merah lagi.
Seorang ibu, menghampirinya. Yang sungguh terlihat mengasihinya.
Dengan lembut, dibelainya rambut halus si gadis kecil. Lalu menenangkannya.
Sesaat ia terdiam, membatin dalam hatinya, “sungguh kasihan kau.” Namun hanya
bisikan hatinya. Ia berucap lembut yang sesungguhnya.
“Ji Eun…, sudah…, sudahlah. Ibumu memang seperti itu. Bibi sudah
begitu mengenal bagaimana peranggainya”
“Bibi…, hiks…, hiks…, hiks” isaknya penuh duka.
“Sudahlah”
“Bi…,apa salah jika aku hanya meminta ibu menjemput ku ke sekolah?”
tanya gadis itu polos.
“Tidak…, tentu tidak. Sudahlah hapus air matamu. Yuk…, bibi
obati lukamu ini” ujar bibi itu lembut seraya melihat darah yang mengalir di
kaki Ji Eun.
“Baiklah Bi” Ji Eun mencoba berdiri namun, ia jatuh. Lukanya
terlalu sakit untuk ia tahan.
“Ayo…, bibi bantu, pelan – pelan Ji Eun” ujar Bibi itu lembut.
Kedua orang itu berjalan pergi diiringi langit kemerahan senja,
dan isak tangis gadis kecil itu yang berjalan tertatih – tatih.
Gadis yang menangis itu ialah Han Ji Eun. Ia selalu terluka,
karena selalu dipukuli oleh ibunya yang seorang pelacur. Wajahnya manis, namun
selalu diliputi awan gelap. Hatinya selalu gundah. Tak ada yang peduli
terhadapnya. Kecuali satu, Bibi Mi Ja. Pembantu dirumahnya.
Sesampainya di rumahnya, Bibi Mi Ja mengobati lukanya. Ia
terlihat sangat kasihan akan nasib Han Ji Eun. Namun, tak ada yang lain yang
dapat ia perbuat, ia hanya seorang pembantu.
“Gomawo…, Bi.”
“Cheonmaneyo…, Ji Eun agasshi”
Sesaat suasana hening sejenak. Gadis berumur enam tahun itu
kemudian bergerak. Ia ingin mengucapkan sesuatu,
“Bi…, apa aku salah kalau aku ingin sekali Omma menjemputku di
sekolah?”
“Tidak…, sama sekali agasshi. Memangnya kenapa agasshi tiba – tiba
bertanya seperti itu?”
“Tidak Bi. Tadi aku bertanya pada omma. Tapi omma marah padaku.”
Bibi Mi ja terlihat sangat mengasihani gadis kecil itu. Kini ia
tahu apa penyebab Ji Eun sampai di pukuli tadi. Hatinya sangat mengasihani Ji
Eun dan ia pun bingung, mengapa sampai ada ibu yang tega seperti itu.
Ji Eun berusaha berdiri kembali. Meskipun dengan tertatih –
tatih ia berjalan. Darah sudah tak mengalir lagi. Namun, luka masih membekas.
Di luar maupun dihati Ji Eun. Ji Eun menghampiri ibunya yang sedang merias
diri.
“Omma…, bisakah besok kau menjemputku? Sekali saja? Aku ingin seperti
teman – teman yang lain” pinta Ji Eun dengan memelas.
“Apa katamu? Aku sibuk. Tidak bisa” jawab ibunya ketus.
“Ayolah omma…, sekali saja”
“Kubilang tidak ya tidak!” Ibu Ji Eun berdiri dan kemudian
mendorong Ji Eun hingga kepalanya membentur meja dan menangis. Dengan tak ada
rasa kasihan ibunya berjalan melewatinya. Bibi Mi Ja pun dengan cepat datang
dan menolong Ji Eun.
“Agasshi…, tidak apa – apa? Ayo agasshi…, bangunlah. Bibi obati
lagi” Ucapnya penuh kasihan. Mata Bibi Mi Ja berkaca – kaca, seperti hampir
menangis.
“Bibi…, aku benci Omma, aku benci!” seru Ji Eun. Tangisnya
meledak setelahnya.
“Agasshi tak boleh berkata seperti itu…, jangan agasshi”
“Tidak…, Bi. Dia bukan omma ku. Aku membencinya!”
“Jangan berkata seperti itu agasshi” Bibi Mi ja pun akhirnya
menagis juga.
“Bi…, maukah bibi berjanji untuk tak meninggalkan aku sendiri?”
tanya Ji eun seraya menyeka air matanya.
“Iya…, Bibi janji” ucap Bibi Mi Ja kemudian.
Entah takdir atau apa seiring di ucapkannya janji itu, Bibi Mi
Ja tiba – tiba pergi meninggalkan Ji Eun. Ibunya pun kemudian menikah dengan
seorang duda beranak satu. Anaknya berumur satu tahun lebih tua dari Ji eun
ialah, Kim Jae Joong. Ibunya menghentikan pekerjaaannya sebagai pelacur karena
ia telah menyadari perbuatan yang ia lakukan selama ini salah.
Hal ini membuat Ji Eun terluka, sangat terluka. Kejadian
terlewati. Ia merasa, Bibi Mi Ja telah menghianati janjinya. Menghianati dirinya.
Ia pun menjadi gadis yang penuh kebencian dan tak percaya siapapun lagi.
*****
10
tahun kemudian
Siang ini, di
Seoul langit terlihat sangat cerah. Tak diselimuti kegelapan. Angin pun
berhembus sepoi – sepoi. Terlihat sekumpulan namja yang bermain basket di lapangan
suatu SMA. Sedangkan, terlihat beberapa yeoja yang sedang menyemangati mereka
dengan sorak – sorai gembira. Memanggil para idolanya. Semua terlihat gembira.
Namun ada hal yang tak biasa.
Terlihat
seorang yeoja yang menyendiri di bawah sebuah pohon yang rindang dengan buku
tebal yang ia baca. Sungguh hal yang tak biasa diantara yang lainnya yang
bergembira. Wajah gadis itu suram, sangat suram. Tak ada senyum yang
menghiasinya.
Sekelompok
namja berjalan melewatinya. Beberapa melihat padanya. Beberapa tak berani
memandang. Entah takut atau tak perduli.
“Hei…, lihat
itu si yeoja bermuka kuburan. Dia sedang apa itu?” tanya salah satunya.
“Hi…, dia itu
manusia atau bukan sih? Wajahnya seperti hantu yang di film – film” tambah
salah satunya.
“Memang siapa
sih dia?” tanya salah satunya kembali.
“Iya…, sudah
mau setahun kita disini kita tak tahu namanya” timpal salah satunya.
“Mmm…, kalau
aku tak salah ingat ya…, waktu itu aku pernah bertanya dengan salah satu senior
kita.”
“Siapa Min
Hyuk? Yoo Na eonni?” ujar salah satunya.
“He… He… He.
Iya dia kan
kekasihku.”
“Wah hebat kau!
Belum juga setahun disini sudah bisa memacari senior!!” seru salah satunya.
“Ha…, ha…, ha…,
aku. Kalau aku tak salah mengingat ya. Namanya adalah…, Han Ji Eun.” Min Hyuk
menencoba mengingat kembali lalu ia berseru,
“Iya…, benar
namanya Han Ji Eun!” serunya kembali. Namun karena begitu keras Ji Eun menoleh
kearah sekelompok anak itu.
“Ada apa?” Ji
Eun menjawab pendek. Sekelompok anak itu menjadi takut. Kemudian mereka berlari
dengan tergesa – gesa.
“Huh…, mengganggu
saja. Mereka fikir aku hantu” hela Ji Eun kemudian melanjutkan membaca.
Sekelompok anak
itu berlari sampai ke lapangan. Mereka sangat takut. Terutama Kang Min Hyuk
yang tadi menyerukan nama Ji Eun. Ia sangat ketakutan. Mereka berheti di dekat
sebuah bangku di areal taman sekolah. Disana terdapat murid – murid wanita yang
sedang duduk – duduk.
Mereka bingung,
ada apakah yang terjadi. Salah satunya bertanya,
“Hei…, Whee Sung.
Kenapa kau dan teman – teman mu ini?”
“Hufh…, Seo hyun.
Kamu tau senior kita yang wajahnya seram itu?”
“Emm…, Ji Eun
eonni?”
“Ya…, ya… ya
itu. Dia seram sekali. Jantungku rasanya mau copot saja. Ketika matanya melihat
kearahku” sambung Min Hyuk.
“Memangnya
kalian ada urusan apa dengannya?” tanya salah satu dari murid – murid wanita
itu.
“Tidak…, sama
sekali Seo Hyun. Tadi Min Hyuk hanya menyebutkan namanya, kemudian di menoleh
seram sekali” lanjut Whee Sung.
“Ah…, kalian
ini” hela Seo hyun pendek. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya,
“Tapi, dia itu
sangat pandai lho?”
“Pandai?” Whee
Sung bingung.
“Iya…, dia
terkenal sangat pandai. Ia sering ikut dalam berbagai kompetisi Matematika,
Sains, Karya tulis, dan lainnya. Namun, ya dia memang seperti itu. Tapi, secara
pribadi aku kagum juga takut padanya”
*****
Langit New York
tak secermerlang mentari. Awan gelap menyelimutinya. Namun tiada suara gemuruh.
Ataupun rintikkan air hujan hanya, kumpulan awan bergerumul menutupi sang raja
siang.
Terlihat seorang remaja laki – laki. Terlihat bahwa ia bukanlah
orang Barat. Namun ia berkumpul bersama orang – orang barat yang lain. Badannya
tinggi dan jangkung namun tidak kurus. Parasnya, menunjukkan bahwa ia orang asia.
Ia sangat berbeda diantara yang lain.
“Yun Ho, kau akan pergi nanti sore kan ?”
tanya salah satu laki – laki yang berada di sana .
“Ya…, akhirnya aku akan kembali ke rumah lamaku di Seoul.” jawabnya
pendek.
“Yun Ho…, apa tak sebaiknya kau menunggu sampai Sulli mengatakan
jawabannya padamu?”
“Ah…, Max. tak usah lah, aku sudah tau jawabannya apa. Yang
penting dia sudah tau perasaan ku padanya.”
“Ya…, terserah padamu lah. Ini lah Yun Ho yang ku kenal. Cuek
namun bijak” ujar remaja laki – laki yang oleh Yun Ho dipangil Max. Lalu
disertai tawa teman – teman yang lain.
Hari ini, tepatnya sore nanti. Jung Yun Ho akan kembali ke Seoul setelah ia tinggal cukup lama di New York . Hal ini tentu berat. Namun, tak
seberat kerinduannya akan suasana Seoul .
Pemuda enam belas tahun itu, akan meninggalkan berbagai kenangan yang telah ia
ukir dalam tiga tahun belakangan ini di New
York . Termasuk Cinta pertamanya kepada gadis Korea yang juga bersekolah di sana , Sulli. Yang belum mendapatkan sambutan.
Sore ini, langit menjadi cerah. Menyertai kepergian Yun Ho dari
New York. Sahabat – sahabatnya, mengantarnya sampai di bandara. Mayoritas ialah
para remaja laki – laki. Ada
pula yang bersedih, namun ada pula yang ikut berbahagia.
“Hey…, Yun Ho. Jangan lupakan kami ya. Teman – teman mu di sini”
“Tentu…, tentu! Tenang saja David. Aku takkan menghapus kenangan
kita semua” ujar Yun Ho seraya mengacungkan jempolnya dan mengedipkan sebelah
matanya.
“Yun Ho, apa kau sudah bilang akan kepergianmu pada Sulli?”
“Ah…, ah…, sudah…, sudah!” jawab Yun Ho gugup.
“Ya…, sudah. Selamat jalan Yun Ho” ujar anak laki – laki yang
bernama David. Di ikuti oleh seluruh teman – teman yang lain.
“Good Bye, Yun Ho!!” seru
mereka serempak.
“Bye All! Thanks Very much”
jawab Yun Ho seraya melambaikan tangan dan kemudian Chek In pesawat terbang. Rombongan
itu segera bubar, tak nampak lagi keributan. Sepi…, dan sepi.
*****
Pesawat terbang
dengan cepat diangkasa. Bagai sang raksasa langit yang sedang terbang.
Pemandangan nan elok kan
kita jumpai dari sini. Menjadi penghibur pandangan yang sempat jenuh. Atau sebagai
lambang dari hati yang di tinggalkan. Siapa tahu?
Dalam waktu tak
sampai sehari, pesawat itu mendarat di Seoul
International Airport. Ramai keadaan mengiringi kedatangan Yun Ho. Segala
lalu lalang manusia, dengan berbagi kesibukannya. Dirasa tak asing oleh Yun Ho.
Ya…, benar inilah Seoul. Ia hampir lupa, bagaimana wujud negara asalnya. Walau
tak lama ia meninggalkannya. Kini ia kembali. Kembali untuk menjalani kehidupan
baru.
Pemuda itu
berjalan santai, headphone tak lepas dari tubuhnya. Sesekali ia melihat ke
sekitar. Seakan mencari sesuatu. Seorang wanita melambaikan tangan padanya.
Wanita itu sangat cantik walau tak nampak lagi ia muda. Wajahnya terlihat
senang.
“Omma!!” seru
Yun Ho yang kemudian segera mempercepat langkahnya.
“Yun Ho anakku,
selamat datang di Seoul
kembali!” jawab wanita itu singkat.
“Omma, kau
masih seperti beberapa tahun yang lalu. Namun sekarang kau nampak mempesona”
“Ah…, kau
selalu menggodaku”
Mereka berdua
berjalan. Kedua ibu dan anak itu berjalan berdampingan. Kerinduan yang sangat
mengiringi perjalanan mereka. Kemudian mereka berdua menuju area parkir dan
memasuki mobil. Dalam perjalanan, senyum dan tawa tak henti – hentinya lepas
dari raut wajah keduanya.
“Yun Ho-ya,
Omma telah mendaftarkan mu di Namyeong
School”
“Secepat itukah
omma?”
“Tentu, omma
tak ingin pelajaranmu tertinggal. Maka sepulang dari NY kau harus langsung melanjutkan studi mu”
“Ya…, sudah.
Terserah Omma saja” jawab Yun Ho pasrah.
*****
Pagi ini begitu dingin.
Dingin sekali. Salju menyapa dari langit sedikit demi sedikit. Langit mendung
menggantung. Namun, aktivitas kesibukan kota
tak dapat dihindarkan.
“Omma…, haruskah aku berangkat?” Yun Ho bertanya kepada Ommanya.
“Ya…, karena ini hari pertamamu maka omma akan mengantarmu. Jangan
lupa lapisi seragammu dengan baju hangat yang Omma siapkan”
“Ne, omma” jawab Yun Ho menurut.
SMA Namyeong penuh dengan warna – warni baju hangat para siswa.
Namun, tak nampak lagi segala murid – murid yang bermain basket ataupun yang
lain. Semua hanya terduduk di kelas masing – masing. Termasuk murid tingkat dua
di kelas A.
Terlihat gadis disudut kelas sedang duduk dengan tenang bersama
buku yang setia menemaninya. Ia
sendirian diantara selompok murid – murid yang lain ialah Ji Eun. Kemudian,
pintu berderit. Pertanda akan ada yang memasuki kelas.
“Annyeong Haseyo…, anak – anak!” kemudian masuk seorang wanita
berkaca mata, memakai baju hangat dan mengenggam buku – buku.
“Annyeong Haseyo…, Seonsaeng!” seru murid – murid serempak.
“Hari ini saya membawa kabar yang sangat baik untuk kalian?”
“Apa Seonsaengnim?” tanya salah satu murid yang terlihat
penasaran.
“Kalian akan mendapat anggota baru. Hari ini ada murid pindahan
yang akan mau ke kelas ini”
“Siapa Seonsaeng?”
“Jung Yun Ho, ayo cepat masuk dan beri salam”
Yun Ho memasuki kelas. Langkahnya santai namun pasti. Beberapa
murid wanita memandangnya tanpa mengedipkan mata. Gayanya sangat keren dan
modis. Ia terlihat begitu tampan.
“AAAAA!!!” seru seluruh murid wanita. Namun hanya Ji Eun yang
sama sekali tak tertarik untuk melihat.
“Perkenalkan, namaku Jung Yun Ho. Aku pindahan dari SMA yang
terletak di New York .
Namun aku asli Korea .
Mohon bantuannya” ujar Yun Ho dengan sopan seraya mebungkukkan badannya 90 derajat.
“Kalian sudah tahu namanya bukan? Sekarang saya harap kita semua
bisa bekerja sama bersama Yun Ho dan dapat menerimanya. Baik Yun Ho, kau duduk
di sana ” Guru
itu menunjuk ke bangku yang kosong yang letaknya tidak jauh dari tempat Ji Eun
duduk.
Sesaat kemudian suasana hening. “Teng…, Teng…, Teng!” bel
sekolah berbunyi. Pertanda waktu istirahat. Sebagian murid ada yang keluar dari
kelas. Namun, ada pula yang pergi ke dekat Yun Ho untuk menanyakan berbagai
macam pertanyaan.
“Berapa lama kamu tinggal di NY?” tanya seseorang diantaranya.
“Mmm…, lima tahunan lah. Kan
aku mulai sekolah disana umur 11 tahun”
“Bahasa inggris mu pasti fasih? Benar kan?”
“Ha…, ha…, tidak juga. Disana mungkin karena terbiasa. Tapi aku
tak mungkin melupakan bahasa asalku dong” Yun Ho tertawa. Di ikuti oleh tawa
teman yang lainnya.
Ji Eun bangkit dari tempatnya duduk. Ia menutup bukunya kemudian
melangkahkan kaki kearah perpustakaan. Ia ingin meminjam buku kembali. Ji Eun
berjalan melewati sekelompok anak yang sedang berkerumun. Semuanya melihat
kearahnya. Termasuk Yun Ho. Rasa penasaran menghinggapinya.
“Siapa sih dia?”
“Dia itu Han Ji Eun. Si cewek hantu”
“Cewek hantu?”
“Ya…, dia itu sangat misterius dan menyeramkan. Kami saja tak
pernah mengobrol dengannya”
“Memang benar begitu?”
“Benar…, dia itu tak pernah sedikitpun tersenyum. Tadinya ku
pikir dia bukan manusia”
Karena ucapan dari teman – temannya, Yun Ho menjadi penasaran.
Ia ingin mengetahui siapa dia sebenarnya. Yun Ho pun mengikuti Ji Eun diam –
diam. Ia ingin tahu, seperti apa gadis yang disebut oleh anak – anak “gadis
hantu” itu. Teman – temannya hanya melihat dengan penuh rasa heran.
Kemudian, sampailah ia di sebuah perpustakaan. Ia melihat gadis
itu masuk. Kemudian mencari – cari buku. Yun Ho menduga, “gadis ini mungkin
kutu buku”
Sesaat
kemudian, seorang pemuda berkacamata masuk ke dalam ruangan. Dan ia duduk di
tempat pinjaman. Kemudian, pandangannya tertuju pada Min Hwan. Yang terlihat
sedang mengintip. Ia pun penasaran, apakah yang dilihatnya? Kemudian ia bangkit
dari tempatnya, dan melihat dari arah sebaliknya. Ia melihat seorang gadis yang ia kenali sedang membaca buku.
Ji Eun menyadari kehadiran orang lain. Ia pun menoleh kearah
pemuda yang baru masuk itu. Ji Eun mengenali wajahnya. Namun ia hanya diam dan
berpindah dari tempatnya. Pemuda itu menegur,
“Ji Eun adikku, apa kau sedang mencari buku baru?”
“Ya…, JaeJoong oppa. Aku pinjam buku ini” jawab Ji Eun pendek.
Lalu menyerahkan kartunya dan kemudian berjalan pergi tanpa mengucap sepatah
kata pun. Jaejoong hanya melihatnya. Lalu tersenyum.
“Itulah gadis yang kusukai” gumamnya perlahan.
Yun Ho terus mengikuti. Hingga ia sampai di atap sekolah. Ia
berfikir Ji Eun merupakan gadis gila yang mau bunuh diri melompat dari gedung.
Namun, fikirannya salah. Ji Eun duduk bersandar di tembok. Lalu membaca buku
yang ia genggam. Yun Ho terus mengamati.
“Benar – benar misterius. Aku jadi semakin penasaran” gumamnya
perlahan.
Ia terus mengamati, sampai ketika Hand Phone yang ia pegang
bergetar. Pertanda ada pesan masuk. Ia pun membukanya,
TO :Yun Ho
From :Omma
Hari ini omma akan
menjemputmu…, kamu tunggu saja.
Yun Ho membacanya, kemudian ia menghela nafas.
“Ah…, omma. Kukira siapa”. Lalu ia pun kembali menoleh ia
melihat Ji Eun sedang meletakkan tangannya di dadanya. Sepertinya ia kesakitan.
Namun, tak nampak dari wajah Ji Eun.
“Kenapa dia?” Yun Ho bertanya – Tanya. Lalu ia pergi
meninggalkan tempat itu dan menuju kelasnya. Ia termenung, lalu bergumam
sendiri.
“Aku yakin…, dia bukanlah seorang gadis yang tanpa ekspresi” gumam
Yun Ho perlahan. Lalu melanjutkan,
“Aku yakin pasti, ada setitik senyuman di balik wajah dinginnya.
Akan kubuat ia menunjukkan itu” gumam Yun Ho kembali dengan penuh kepastian.
*****
SMA Namyeong hari ini,
sangat ramai. Dikarenakan hari ini ialah hari besar untuk Negara Korea .
Maka, untuk memperingatinya, sekolah mengadakan Festival. Di dukung dengan kondisi
cuaca yang cerah. Awan gelap tak lagi menggantungi langit.
Sebagian besar siswa berjalan – jalan di area festival itu
bersama kekasihnya. Namun, Ji Eun tak tertarik sama sekali untuk melihatnya. Ia
hanya membaca buku di atap sekolah. Kebiasaanya sehari – hari.
Yun Ho penasaran, hari ini ia tak melihat Ji Eun. Namun, ia
menduga, Ji Eun mungkin berada di atap. Ia membawa dua batang permen lollipop.
Dan kemudian bergegas naik. Di atap ia melihat Ji Eun dengan kebiasaannya. Yun
Ho pun mencoba menghampiri.
“Hey…” sapanya ramah.
Ji Eun menoleh. Ia melihat sesosok laki – laki. Lalu ia kembali
meneruskan bacaanya. Yun Ho kesal. Lalu ia kembali menyapa, namun dengan suara
agak keras.
“Hey…, kau tuli ya!”
“Bisakah kau tenang? Ini tempatku” Ji Eun menoleh dan kemudian
melanjutkan membaca.
Yun Ho kesal sekali. Baru kali ini ia menjumpai gadis yang
sangat dingin. Hampir seperti es, fikirnya. Lau terfikir sesaat untuk menjahili
Ji Eun. Yun Ho mendekat lalu mengambil buku yang sedang dibaca oleh Ji Eun.
“Ha…, buku apa sih ini!” serunya.
“Kembalikan! Kembalikan padaku!” Ji Eun akhirnya bereaksi.
“Ah.., ini kan bukan buku milikmu. Boleh dong aku melihatnya” goda
Yun Ho. Lalu ia berlari. Ji Eun mengejarnya.
“Kembalikan! Dasar kau pengganggu!” Ji Eun mengejarnya dengan
kesal. Mereka berdua berkejar – kejaran di atap.
Jaejoong mencari Ji Eun. Ditangannya tergenggam sebuah buku.
Sampulnya masih baru. Ia ingin memberikannya pada Ji Eun. Ia mencari – cari,
hingga ia sampai di atap sekolah. Ia melihat Ji Eun sedang berkejaran dengan
pemuda yang ia lihat di perpustakaan kemarin. Dalam hatinya ia merasa sedikit
cemburu. Lalu ia berbalik pergi.
Ji Eun mengejar Yun Ho terus. Namun Yun Ho menghentikan
langkahnya dan menggoda Ji Eun dengan memberikan bukunya. Namun itu hanya
tipuan. Ia menarik tangan Ji Eun dan kemudian memeluknya.
Ji Eun sangat kaget. Ia sangat malu. Dengan cepat ia melepaskan
diri, mengambil bukunya lalu pergi dengan wajah memerah. Yun Ho hanya tertawa
melihatnya.
*****
Langit nampak cerah, sangat
pas sekali untuk bermain di taman sekolah ketika istirahat. Namun hal itu tak
mengusik ketenangan Ji Eun. Ia hanya duduk diam di perpustakaan. Di sana hanya ada Jaejoong
yang memperhatikan Ji Eun dari tempatnya duduk. Ya…, Jaejoong ialah murid yang
di percaya sebagai penanggung jawab perpustakaan.
Lama dalam keheningan itu, Jaejoong hanya memandangi dengan senyuman
yang menghiasi wajahnya. Sesekali ia melihat Ji Eun memegang dadanya, seakan
merasakan sakit. Ia ingin menghampiri, namun tak dilakukannya. Namun, tiba –
tiba Yun Ho datang. Dia menghampiri Ji Eun. Jaejoong terlihat sangat kesal.
“Ayo ikut aku”
“Tidak”
“Ayolah…” pinta Yun Ho memelas.
“Tidak..” jawab Ji Eun pendek.
Jaejoong yang melihat itu datang menghampiri.
“Jangan memaksanya” ujar Jaejoong. Namun Yun Ho sama sekali tak
memperdulikannya.
“Ayolah…,” pintanya kembali.
“Jangan memaksanya!” Jaejoong memperjelas suaranya. Kali ini Yun
Ho menoleh.
“Bukan urusanmu” Lalu Yun Ho menarik tangan Ji Eun.
Jaejoong hanya terdiam, terpaku. Ia kesal sekali dengan Yun Ho.
Namun ia tak dapat berbuat apapun.
“Lepaskan aku!” seru Ji Eun dengan kesal. Yun Ho pun
melepaskannya. Lalu ia berkata,
“Ya…, aku lepaskan. Tapi ikut aku ayo..., Aku mau mengajakmu ke
suatu tempat”
“Kau gila? Ini jam pelajaran! Sudah kau jangan mengada – ada.
Bye!” Ji Eun berbalik dan pergi.
Yun Ho
memandangnya. Lalu ia mengejar Ji Eun dan menggendongnya sambil berlari. Ji Eun
berontak. Namun Min Hwan tak perduli.
“Hei! Turunkan aku anak baru!”
“Kan tadi sudah kubilang aku mau mengajakmu ke suatu tempat.
Kita bolos saja di jam ini”
“Tidak…, tidak. Turunkan aku!”
“Aku tak perduli” Yun Ho mempercepat larinya. Beruntungnya, pagar
sekolah tak terkunci. Yun Ho terus berlari. Ia berhenti di suatu pantai
berpasir putih. Lalu ia menurunkan Ji Eun.
“Dimana ini?” Ji Eun bertanya.
“Ini, tempat favorit ku”
“Bagaimana kau bisa tahu tempat ini? Bukannya kau orang New York ?” Ji Eun
kembali bertanya.
“Masa kecilku kan di Seoul . Hanya tempat ini
yang kutahu. Aku ingin menunjukkan padamu tempat dimana kau dapat melepas sedih
dan penatmu”
“Semakin bingung aku denganmu Jung”
“Waw…, baru kali ini, ada seseorang yang memanggilku dengan nama
depanku. Gomawo” Yun Ho tersenyum.
Wajah Ji Eun memerah. Ia mencoba menutupinya.
Ji Eun merasa ada yang aneh dalam dirinya, kini ia tak merasa
sendirian. Kehadiran Jung Yun Ho dalam kehidupan sehari – harinya memberikan
perasaan nyaman. Ia pun merasa, bahwa ia jatuh cinta pada Yun Ho.
*****
“Sulli-ya, kau yakin akan
menyusul Yun Ho?”
“Yakin…, sangat yakin. Aku akan menjawab pernyataan cintanya
padaku”
“kau… sih…, terlalu lama memberi jawaban”
“Kalian…, tak memberitahu ku tentang kepergiannya.”
Pesawat dari New York tiba di Seoul. Sulli tiba di SEOUL INTERNATIONAL AIRPORT sebelum
kepulangannya, ia menghubungi ibunya. Karena ia akan bersekolah sementara waktu
di Seoul.
Sulli, gadis cantik berambut panjang. Langkahnya bagaikan
seorang model. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ia melihat Ommanya
melambaikan tangan. Sulli melangkah dengan anggun. Ommanya sangat takjub
melihatnya.
“Kau sudah banyak berubah anakku”
“Tentu Bu. Ibu sendiri tak banyak berubah, masih seperti dulu.
Selalu awet muda”
“Ha…, ha…, ha. Bisa saja kau menggoda ku. Oh.. ya, ibu sudah
mendaftarkanmu ke SMA disini. Memang kenapa kau ingin pindah untuk sementara?”
“Rahasia dong Bu. Apa namanya bu?”
“Namyeong. SMA Namyeong. Ibu rasa itu SMA terbaik di kota ini”
“Baiklah Bu”
Keesokan harinya, Sulli telah berangkat ke sekolah barunya. Ia
sangat berharap dapat bertemu dengan Yun Ho. Ternyata, ia mendapat kelas yang
sama. Ketika jam istirahat,
“Sulli-ya? Benarkah kau Sulli?” Yun Ho bertanya seakan tidak
percaya.
“Benar…,aku Sulli, Jung Yun Ho”
“Arasseo?” Yun Ho masih tak percaya.
“Aku kesini untuk mengatakan jawabanku?”
“Jawaban untuk
apa?” Yun Ho masih kebingungan.
“Tentang pernyataan cintamu dulu”
“Ya?”
“Aku juga menyukaimu. Sarangheyo… Yun Ho-ah”
“Benarkah?!”
“Tentu”
“Oh…, aku senang sekali!” Yun Ho segera memeluk Sulli.
Yun Ho sangat senang, cintanya terbalas. Ia tak peduli akan apapun
lagi. Ji Eun melihat dari kejauhan. Ia sedih lalu berlari. Jaejoong melihatnya
lalu mengejarnya. Ji Eun naik ke atap. Lalu ia menangis di sana . Jae Joong menghampirinya.
“Ku mohon, jangan menangisinya.”
Ji Eun masih terus menangis. Kemudian, tiba – tiba nafasnya
menjadi sesak. Ia kesulitan untuk bernafas. Jaejoong yang melihatnya pun panik.
Ia segera membawa Ji Eun ke rumah sakit. Ji Eun di vonis menderita paru – paru
basah yang akut. Jaejoong tak menyangka, sama sekali tak menyangka. ia pun
menemui Ji Eun yang sudah sadar dan tenang dan ia pun sedang duduk.
“Appa dan omma tau?”
Ji Eun tak menjawab, ia hanya diam. Jaejoong mengeraskan
suaranya,
“Kumohon…, jangan seperti ini terhadapku. Aku ini…, Kakakmu.”
Jaejoong mengucapkan dengan berat. Ji eun pun bereaksi.
“Tidak…, jangan beritahu mereka. Kumohon kak” Ji Eun memjawab
dengan nada sedih. Ia merasa sudah ditinggalkan oleh orang yang sangat berharga
baginya untuk kedua kali. Jaejoong pun memeluknya, erat sekali. Ia harus
menelan perasaan cintanya pada Ji Eun
*****
Jaejoong menjadi dekat
dengan Ji Eun. Ia sering menghibur Ji Eun, menemani Ji Eun, namun hanya sebagai
peranan kakak yang baik. Tetapi, Ji Eun menjadi seperti dulu kembali. Selalu
diam dan diam.
Yun Ho menjalani hubungannya dengan Sulli dengan kebahagiaan.
Namun, entah mengapa…, ia merasa ada yang berbeda. Ia selalu membayangkan wajah
Ji Eun ketika bersama Sulli. Ia sangat merindukan saat – saat menganggu Ji Eun,
entah mengapa.
Hari ini hari kematian. Hari dimana semua orang mengunjungi
makam – makam orang yang mereka sayang. Tidak biasanya, omma Ji Eun mengajak Ji
Eun pergi. Namun, Ji Eun hanya menurut.
Ternyata ommanya mengajaknya ke Pemakaman. Di sana ommanya menangis, sedih sekali. Namun Ji
Eun hanya melihatnya. Ia bingung dan sama sekali tak mengerti apa maksud ommanya
membawanya ke Pemakaman.
Tiba – tiba, Ommanya meminta maaf kepada makam itu. Ji Eun
bingung tak mengerti.
“Han Seung Min, maafkan aku. Selama ini aku telah menyiksa
anakmu”
“Omma kenapa?”
“Ji Eun…, Maafkan aku”
“Aku tak mengerti, Omma?”
“Aku…, bukan ibu kandungmu…” ujar Ibunya. Kemudian air matanya
jatuh.
Bagai tersambar petir, bagai terhunus pisau tajam. Ji Eun
kemudian merintikkan air matanya. Ia tak menyangka…, perusak masa kecilnya
ternyata bukan siapa – siapa. Ia pun melangkah mundur…, semakin mundur, lalu
berlari.
Ji Eun berlari hatinya begitu terluka. Jaejoong yang bediri di
depan mobilnya segera mengejarnya. Ji Eun berlari kearah pantai. Ia ingin
menenggelamkan dirinya. Namun, berhasil di cegah oleh Jaejoong.
“Kau mau apa!”
“Tidak…, ka. Biarkan aku mengakhiri segala penderitaan ku”
“Kau ini bodoh! Mana mungkin aku membiarkan orang yang sangat
kucintai”
Akhirnya Jaejoong mengucapkan kata itu. Ji Eun terdiam. Ia duduk
dan merunduk sendiri. Jaejoong melepaskan tangannya. Ia tahu, bahwa yang
dibutuhkan Ji Eun saat ini adalah Yun Ho. Pemuda yang membuat Ji Eun sangat
bahagia.
Yun Ho menyadari, cintanya hanya untuk Ji Eun. Sulli yang tahu
itu kemudian memutuskan untuk kembali ke New
York . Yun Ho mencari Ji Eun, dalam perjalanan ia bertemu
Jaejoong.
“Dimana Ji Eun?” ia bertanya.
“Ayo ikut…” Jaejoong mengantar Yun Ho kepantai itu.
Yun Ho yang melihat Ji Eun segera berlari ke arah nya. Ia
mendekat lalu mengatakan,
“Ji Eun…, aku sadar. Selama ini aku salah. Aku mencintaimu,
Sarangheyo” Ucap Yun Ho seraya tersenyum pada lautan.
Ji Eun tak bergerak. Ia tetap diam pada posisinya. Yun Ho
kemudian memegang tangannya. Dingin…, Dingin sekali seperti es. Diangkatnya
wajah Ji Eun. Pucat…, sangat pucat. Dan tak ada nafas lagi. Ya…, Ji Eun
meninggal. Ia meninggal dalam hati yang dingin dan kesepian.
Yun Ho menangis, lalu memeluknya. Ia berkata sendiri, “Ini…,
salahku. Aku terlambat”
Jaejoong melihat dari kejauhan. Air matanya jatuh. Namun ia
tersenyum, dalam benaknya,
“Kan kubiarkan kau terbaring dalam pelukan orang yang telah
membuatmu merasakan apa itu cinta. Selamat jalan Adikku…, Selamat jalan cintaku”
END
Keterangan :
Gomawo : ucapan Terima Kasih dalam bahasa korea .
Cheonmaneyo : ucapan yang berarti “sama – sama” dalam bahasa korea.
Seonsaeng : Guru
Seonsaeng nim : ucapan bertanya kepada guru
Sarangheyo :
ucapan “Aku mencintaimu”
Omma : Ibu
Eonni : ucapan “kakak” kepada wanita yang lebih tua
Oppa : ucapan “kakak” kepada laki – laki yang lebih tua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar