Halaman

Minggu, 24 Juni 2012

Frozen Heart - Dita Hyun Rin

Assalamualaykum!! :)

aku balik lagi!!!! hehehehehehe....
ceritanya lagi mau nostalgia nih... cerpen lama ku ku posting disini...
cerpen apa ff tau namanya...
pokoknya ini kubuat pas kelas 8. ^^v
jadi... harap dimaklumi yaa!! kalau TYPO dan cerita gak nyambung bertebaran dimana - mana...hehehehhe
ini tugas sekolah juga :)

okokokok!!!
**********************************
Desiran angin terasa sekali. Diiringi irama sunyinya. Senja, langit kemerahan menghiasi pesona angkasa. Sepi jalanan, senyap merayap. Suasana gelap terang. Seorang gadis kecil tertunduk lesu dibawah sebuah pohon besar ditepian jalan.
     Wajahnya memerah terkena pancaran senja. Masam air mukanya, begitu terlihat. Ia sendiri. Jarang sekali ada bising kendaraan. Lama dilakukannya, berdiri membatu sendiri. Sesaat, air matanya jatuh. Dan ia terisak memandang kakinya yang kemerahan seperti senja namun lebih merah lagi.
     Seorang ibu, menghampirinya. Yang sungguh terlihat mengasihinya. Dengan lembut, dibelainya rambut halus si gadis kecil. Lalu menenangkannya. Sesaat ia terdiam, membatin dalam hatinya, “sungguh kasihan kau.” Namun hanya bisikan hatinya. Ia berucap lembut yang sesungguhnya.
     “Ji Eun…, sudah…, sudahlah. Ibumu memang seperti itu. Bibi sudah begitu mengenal bagaimana peranggainya”
     “Bibi…, hiks…, hiks…, hiks” isaknya penuh duka.
     “Sudahlah”
     “Bi…,apa salah jika aku hanya meminta ibu menjemput ku ke sekolah?” tanya gadis itu polos.
     “Tidak…, tentu tidak. Sudahlah hapus air matamu. Yuk…, bibi obati lukamu ini” ujar bibi itu lembut seraya melihat darah yang mengalir di kaki Ji Eun.
     “Baiklah Bi” Ji Eun mencoba berdiri namun, ia jatuh. Lukanya terlalu sakit untuk ia tahan.
     “Ayo…, bibi bantu, pelan – pelan Ji Eun” ujar Bibi itu lembut.
     Kedua orang itu berjalan pergi diiringi langit kemerahan senja, dan isak tangis gadis kecil itu yang berjalan tertatih – tatih.
     Gadis yang menangis itu ialah Han Ji Eun. Ia selalu terluka, karena selalu dipukuli oleh ibunya yang seorang pelacur. Wajahnya manis, namun selalu diliputi awan gelap. Hatinya selalu gundah. Tak ada yang peduli terhadapnya. Kecuali satu, Bibi Mi Ja. Pembantu dirumahnya.
     Sesampainya di rumahnya, Bibi Mi Ja mengobati lukanya. Ia terlihat sangat kasihan akan nasib Han Ji Eun. Namun, tak ada yang lain yang dapat ia perbuat, ia hanya seorang pembantu.
     “Gomawo…, Bi.”
     “Cheonmaneyo…, Ji Eun agasshi”
     Sesaat suasana hening sejenak. Gadis berumur enam tahun itu kemudian bergerak. Ia ingin mengucapkan sesuatu,
     “Bi…, apa aku salah kalau aku ingin sekali Omma menjemputku di sekolah?”
     “Tidak…, sama sekali agasshi. Memangnya kenapa agasshi tiba – tiba bertanya seperti itu?”
     “Tidak Bi. Tadi aku bertanya pada omma. Tapi omma marah padaku.”
     Bibi Mi ja terlihat sangat mengasihani gadis kecil itu. Kini ia tahu apa penyebab Ji Eun sampai di pukuli tadi. Hatinya sangat mengasihani Ji Eun dan ia pun bingung, mengapa sampai ada ibu yang tega seperti itu.
     Ji Eun berusaha berdiri kembali. Meskipun dengan tertatih – tatih ia berjalan. Darah sudah tak mengalir lagi. Namun, luka masih membekas. Di luar maupun dihati Ji Eun. Ji Eun menghampiri ibunya yang sedang merias diri.
     “Omma…, bisakah besok kau menjemputku? Sekali saja? Aku ingin seperti teman – teman yang lain” pinta Ji Eun dengan memelas.
     “Apa katamu? Aku sibuk. Tidak bisa” jawab ibunya ketus.
     “Ayolah omma…, sekali saja”
     “Kubilang tidak ya tidak!” Ibu Ji Eun berdiri dan kemudian mendorong Ji Eun hingga kepalanya membentur meja dan menangis. Dengan tak ada rasa kasihan ibunya berjalan melewatinya. Bibi Mi Ja pun dengan cepat datang dan menolong Ji Eun.
     “Agasshi…, tidak apa – apa? Ayo agasshi…, bangunlah. Bibi obati lagi” Ucapnya penuh kasihan. Mata Bibi Mi Ja berkaca – kaca, seperti hampir menangis.
     “Bibi…, aku benci Omma, aku benci!” seru Ji Eun. Tangisnya meledak setelahnya.
     “Agasshi tak boleh berkata seperti itu…, jangan agasshi”
     “Tidak…, Bi. Dia bukan omma ku. Aku membencinya!”
     “Jangan berkata seperti itu agasshi” Bibi Mi ja pun akhirnya menagis juga.
     “Bi…, maukah bibi berjanji untuk tak meninggalkan aku sendiri?” tanya Ji eun seraya menyeka air matanya.
     “Iya…, Bibi janji” ucap Bibi Mi Ja kemudian.
     Entah takdir atau apa seiring di ucapkannya janji itu, Bibi Mi Ja tiba – tiba pergi meninggalkan Ji Eun. Ibunya pun kemudian menikah dengan seorang duda beranak satu. Anaknya berumur satu tahun lebih tua dari Ji eun ialah, Kim Jae Joong. Ibunya menghentikan pekerjaaannya sebagai pelacur karena ia telah menyadari perbuatan yang ia lakukan selama ini salah.
     Hal ini membuat Ji Eun terluka, sangat terluka. Kejadian terlewati. Ia merasa, Bibi Mi Ja telah menghianati janjinya. Menghianati dirinya. Ia pun menjadi gadis yang penuh kebencian dan tak percaya siapapun lagi.

*****

10 tahun kemudian

Siang ini, di Seoul langit terlihat sangat cerah. Tak diselimuti kegelapan. Angin pun berhembus sepoi – sepoi. Terlihat sekumpulan namja yang bermain basket di lapangan suatu SMA. Sedangkan, terlihat beberapa yeoja yang sedang menyemangati mereka dengan sorak – sorai gembira. Memanggil para idolanya. Semua terlihat gembira. Namun ada hal yang tak biasa.
Terlihat seorang yeoja yang menyendiri di bawah sebuah pohon yang rindang dengan buku tebal yang ia baca. Sungguh hal yang tak biasa diantara yang lainnya yang bergembira. Wajah gadis itu suram, sangat suram. Tak ada senyum yang menghiasinya.
Sekelompok namja berjalan melewatinya. Beberapa melihat padanya. Beberapa tak berani memandang. Entah takut atau tak perduli.
“Hei…, lihat itu si yeoja bermuka kuburan. Dia sedang apa itu?” tanya salah satunya.
“Hi…, dia itu manusia atau bukan sih? Wajahnya seperti hantu yang di film – film” tambah salah satunya.
“Memang siapa sih dia?” tanya salah satunya kembali.
“Iya…, sudah mau setahun kita disini kita tak tahu namanya” timpal salah satunya.
“Mmm…, kalau aku tak salah ingat ya…, waktu itu aku pernah bertanya dengan salah satu senior kita.”
“Siapa Min Hyuk? Yoo Na eonni?” ujar salah satunya.
“He… He… He. Iya dia kan kekasihku.”
“Wah hebat kau! Belum juga setahun disini sudah bisa memacari senior!!” seru salah satunya.
“Ha…, ha…, ha…, aku. Kalau aku tak salah mengingat ya. Namanya adalah…, Han Ji Eun.” Min Hyuk menencoba mengingat kembali lalu ia berseru,
“Iya…, benar namanya Han Ji Eun!” serunya kembali. Namun karena begitu keras Ji Eun menoleh kearah sekelompok anak itu.
“Ada apa?” Ji Eun menjawab pendek. Sekelompok anak itu menjadi takut. Kemudian mereka berlari dengan tergesa – gesa.
“Huh…, mengganggu saja. Mereka fikir aku hantu” hela Ji Eun kemudian melanjutkan membaca.
Sekelompok anak itu berlari sampai ke lapangan. Mereka sangat takut. Terutama Kang Min Hyuk yang tadi menyerukan nama Ji Eun. Ia sangat ketakutan. Mereka berheti di dekat sebuah bangku di areal taman sekolah. Disana terdapat murid – murid wanita yang sedang duduk – duduk.
Mereka bingung, ada apakah yang terjadi. Salah satunya bertanya,
“Hei…, Whee Sung. Kenapa kau dan teman – teman mu ini?”
“Hufh…, Seo hyun. Kamu tau senior kita yang wajahnya seram itu?”
“Emm…, Ji Eun eonni?”
“Ya…, ya… ya itu. Dia seram sekali. Jantungku rasanya mau copot saja. Ketika matanya melihat kearahku” sambung Min Hyuk.
“Memangnya kalian ada urusan apa dengannya?” tanya salah satu dari murid – murid wanita itu.
“Tidak…, sama sekali Seo Hyun. Tadi Min Hyuk hanya menyebutkan namanya, kemudian di menoleh seram sekali” lanjut Whee Sung.
“Ah…, kalian ini” hela Seo hyun pendek. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya,
“Tapi, dia itu sangat pandai lho?”
“Pandai?” Whee Sung bingung.
“Iya…, dia terkenal sangat pandai. Ia sering ikut dalam berbagai kompetisi Matematika, Sains, Karya tulis, dan lainnya. Namun, ya dia memang seperti itu. Tapi, secara pribadi aku kagum juga takut padanya”

*****

     Langit New York tak secermerlang mentari. Awan gelap menyelimutinya. Namun tiada suara gemuruh. Ataupun rintikkan air hujan hanya, kumpulan awan bergerumul menutupi sang raja siang.
     Terlihat seorang remaja laki – laki. Terlihat bahwa ia bukanlah orang Barat. Namun ia berkumpul bersama orang – orang barat yang lain. Badannya tinggi dan jangkung namun tidak kurus. Parasnya, menunjukkan bahwa ia orang asia. Ia sangat berbeda diantara yang lain.
     “Yun Ho, kau akan pergi nanti sore kan?” tanya salah satu laki – laki yang berada di sana.
     “Ya…, akhirnya aku akan kembali ke rumah lamaku di Seoul.” jawabnya  pendek.
     “Yun Ho…, apa tak sebaiknya kau menunggu sampai Sulli mengatakan jawabannya padamu?”
     “Ah…, Max. tak usah lah, aku sudah tau jawabannya apa. Yang penting dia sudah tau perasaan ku padanya.”
     “Ya…, terserah padamu lah. Ini lah Yun Ho yang ku kenal. Cuek namun bijak” ujar remaja laki – laki yang oleh Yun Ho dipangil Max. Lalu disertai tawa teman – teman yang lain.
     Hari ini, tepatnya sore nanti. Jung Yun Ho akan kembali ke Seoul setelah ia tinggal cukup lama di New York. Hal ini tentu berat. Namun, tak seberat kerinduannya akan suasana Seoul. Pemuda enam belas tahun itu, akan meninggalkan berbagai kenangan yang telah ia ukir dalam tiga tahun belakangan ini di New York. Termasuk Cinta pertamanya kepada gadis Korea yang juga bersekolah di sana, Sulli. Yang belum mendapatkan sambutan.
     Sore ini, langit menjadi cerah. Menyertai kepergian Yun Ho dari New York. Sahabat – sahabatnya, mengantarnya sampai di bandara. Mayoritas ialah para remaja laki – laki. Ada pula yang bersedih, namun ada pula yang ikut berbahagia.
     “Hey…, Yun Ho. Jangan lupakan kami ya. Teman – teman mu di sini”
     “Tentu…, tentu! Tenang saja David. Aku takkan menghapus kenangan kita semua” ujar Yun Ho seraya mengacungkan jempolnya dan mengedipkan sebelah matanya.
     “Yun Ho, apa kau sudah bilang akan kepergianmu pada Sulli?”
     “Ah…, ah…, sudah…, sudah!” jawab Yun Ho gugup.
     “Ya…, sudah. Selamat jalan Yun Ho” ujar anak laki – laki yang bernama David. Di ikuti oleh seluruh teman – teman yang lain.
     “Good Bye, Yun Ho!!” seru mereka serempak.
     “Bye All! Thanks Very much” jawab Yun Ho seraya melambaikan tangan dan kemudian Chek In pesawat terbang. Rombongan itu segera bubar, tak nampak lagi keributan. Sepi…, dan sepi.

*****
Pesawat terbang dengan cepat diangkasa. Bagai sang raksasa langit yang sedang terbang. Pemandangan nan elok kan kita jumpai dari sini. Menjadi penghibur pandangan yang sempat jenuh. Atau sebagai lambang dari hati yang di tinggalkan. Siapa tahu?
Dalam waktu tak sampai sehari, pesawat itu mendarat di Seoul International Airport. Ramai keadaan mengiringi kedatangan Yun Ho. Segala lalu lalang manusia, dengan berbagi kesibukannya. Dirasa tak asing oleh Yun Ho. Ya…, benar inilah Seoul. Ia hampir lupa, bagaimana wujud negara asalnya. Walau tak lama ia meninggalkannya. Kini ia kembali. Kembali untuk menjalani kehidupan baru.
Pemuda itu berjalan santai, headphone tak lepas dari tubuhnya. Sesekali ia melihat ke sekitar. Seakan mencari sesuatu. Seorang wanita melambaikan tangan padanya. Wanita itu sangat cantik walau tak nampak lagi ia muda. Wajahnya terlihat senang.
“Omma!!” seru Yun Ho yang kemudian segera mempercepat langkahnya.
“Yun Ho anakku, selamat datang di Seoul kembali!” jawab wanita itu singkat.
“Omma, kau masih seperti beberapa tahun yang lalu. Namun sekarang kau nampak mempesona”
“Ah…, kau selalu menggodaku”
Mereka berdua berjalan. Kedua ibu dan anak itu berjalan berdampingan. Kerinduan yang sangat mengiringi perjalanan mereka. Kemudian mereka berdua menuju area parkir dan memasuki mobil. Dalam perjalanan, senyum dan tawa tak henti – hentinya lepas dari raut wajah keduanya.
“Yun Ho-ya, Omma telah mendaftarkan mu di Namyeong School
“Secepat itukah omma?”
“Tentu, omma tak ingin pelajaranmu tertinggal. Maka sepulang dari NY kau harus langsung melanjutkan studi mu”
“Ya…, sudah. Terserah Omma saja” jawab Yun Ho pasrah.

*****

            Pagi ini begitu dingin. Dingin sekali. Salju menyapa dari langit sedikit demi sedikit. Langit mendung menggantung. Namun, aktivitas kesibukan kota tak dapat dihindarkan.
     “Omma…, haruskah aku berangkat?” Yun Ho bertanya kepada Ommanya.
     “Ya…, karena ini hari pertamamu maka omma akan mengantarmu. Jangan lupa lapisi seragammu dengan baju hangat yang Omma siapkan”
     “Ne, omma” jawab Yun Ho menurut.
     SMA Namyeong penuh dengan warna – warni baju hangat para siswa. Namun, tak nampak lagi segala murid – murid yang bermain basket ataupun yang lain. Semua hanya terduduk di kelas masing – masing. Termasuk murid tingkat dua di kelas A.
     Terlihat gadis disudut kelas sedang duduk dengan tenang bersama buku  yang setia menemaninya. Ia sendirian diantara selompok murid – murid yang lain ialah Ji Eun. Kemudian, pintu berderit. Pertanda akan ada yang memasuki kelas.
     “Annyeong Haseyo…, anak – anak!” kemudian masuk seorang wanita berkaca mata, memakai baju hangat dan mengenggam buku – buku.
     “Annyeong Haseyo…, Seonsaeng!” seru murid – murid serempak.
     “Hari ini saya membawa kabar yang sangat baik untuk kalian?”
     “Apa Seonsaengnim?” tanya salah satu murid yang terlihat penasaran.
     “Kalian akan mendapat anggota baru. Hari ini ada murid pindahan yang akan mau ke kelas ini”
     “Siapa Seonsaeng?”
     “Jung Yun Ho, ayo cepat masuk dan beri salam”
     Yun Ho memasuki kelas. Langkahnya santai namun pasti. Beberapa murid wanita memandangnya tanpa mengedipkan mata. Gayanya sangat keren dan modis. Ia terlihat begitu tampan.
     “AAAAA!!!” seru seluruh murid wanita. Namun hanya Ji Eun yang sama sekali tak tertarik untuk melihat.
     “Perkenalkan, namaku Jung Yun Ho. Aku pindahan dari SMA yang terletak di New York. Namun aku asli Korea. Mohon bantuannya” ujar Yun Ho dengan sopan seraya mebungkukkan badannya 90 derajat.
     “Kalian sudah tahu namanya bukan? Sekarang saya harap kita semua bisa bekerja sama bersama Yun Ho dan dapat menerimanya. Baik Yun Ho, kau duduk di sana” Guru itu menunjuk ke bangku yang kosong yang letaknya tidak jauh dari tempat Ji Eun duduk.
     Sesaat kemudian suasana hening. “Teng…, Teng…, Teng!” bel sekolah berbunyi. Pertanda waktu istirahat. Sebagian murid ada yang keluar dari kelas. Namun, ada pula yang pergi ke dekat Yun Ho untuk menanyakan berbagai macam pertanyaan.
     “Berapa lama kamu tinggal di NY?” tanya seseorang diantaranya.
     “Mmm…, lima tahunan lah. Kan aku mulai sekolah disana umur 11 tahun”
     “Bahasa inggris mu pasti fasih? Benar kan?”
     “Ha…, ha…, tidak juga. Disana mungkin karena terbiasa. Tapi aku tak mungkin melupakan bahasa asalku dong” Yun Ho tertawa. Di ikuti oleh tawa teman yang lainnya.
     Ji Eun bangkit dari tempatnya duduk. Ia menutup bukunya kemudian melangkahkan kaki kearah perpustakaan. Ia ingin meminjam buku kembali. Ji Eun berjalan melewati sekelompok anak yang sedang berkerumun. Semuanya melihat kearahnya. Termasuk Yun Ho. Rasa penasaran menghinggapinya.
     “Siapa sih dia?”
     “Dia itu Han Ji Eun. Si cewek hantu”
     “Cewek hantu?”
     “Ya…, dia itu sangat misterius dan menyeramkan. Kami saja tak pernah mengobrol dengannya”
     “Memang benar begitu?”
     “Benar…, dia itu tak pernah sedikitpun tersenyum. Tadinya ku pikir dia bukan manusia”
     Karena ucapan dari teman – temannya, Yun Ho menjadi penasaran. Ia ingin mengetahui siapa dia sebenarnya. Yun Ho pun mengikuti Ji Eun diam – diam. Ia ingin tahu, seperti apa gadis yang disebut oleh anak – anak “gadis hantu” itu. Teman – temannya hanya melihat dengan penuh rasa heran.
     Kemudian, sampailah ia di sebuah perpustakaan. Ia melihat gadis itu masuk. Kemudian mencari – cari buku. Yun Ho menduga, “gadis ini mungkin kutu buku”
Sesaat kemudian, seorang pemuda berkacamata masuk ke dalam ruangan. Dan ia duduk di tempat pinjaman. Kemudian, pandangannya tertuju pada Min Hwan. Yang terlihat sedang mengintip. Ia pun penasaran, apakah yang dilihatnya? Kemudian ia bangkit dari tempatnya, dan melihat dari arah sebaliknya. Ia melihat seorang gadis yang  ia kenali sedang membaca buku.
     Ji Eun menyadari kehadiran orang lain. Ia pun menoleh kearah pemuda yang baru masuk itu. Ji Eun mengenali wajahnya. Namun ia hanya diam dan berpindah dari tempatnya. Pemuda itu menegur,
     “Ji Eun adikku, apa kau sedang mencari buku baru?”
     “Ya…, JaeJoong oppa. Aku pinjam buku ini” jawab Ji Eun pendek. Lalu menyerahkan kartunya dan kemudian berjalan pergi tanpa mengucap sepatah kata pun. Jaejoong hanya melihatnya. Lalu tersenyum.
     “Itulah gadis yang kusukai” gumamnya perlahan.
     Yun Ho terus mengikuti. Hingga ia sampai di atap sekolah. Ia berfikir Ji Eun merupakan gadis gila yang mau bunuh diri melompat dari gedung. Namun, fikirannya salah. Ji Eun duduk bersandar di tembok. Lalu membaca buku yang ia genggam. Yun Ho terus mengamati.
     “Benar – benar misterius. Aku jadi semakin penasaran” gumamnya perlahan.
     Ia terus mengamati, sampai ketika Hand Phone yang ia pegang bergetar. Pertanda ada pesan masuk. Ia pun membukanya,
TO   :Yun Ho
From  :Omma
Hari ini omma akan menjemputmu…, kamu tunggu saja.
     Yun Ho membacanya, kemudian ia menghela nafas.
     “Ah…, omma. Kukira siapa”. Lalu ia pun kembali menoleh ia melihat Ji Eun sedang meletakkan tangannya di dadanya. Sepertinya ia kesakitan. Namun, tak nampak dari wajah Ji Eun.
     “Kenapa dia?” Yun Ho bertanya – Tanya. Lalu ia pergi meninggalkan tempat itu dan menuju kelasnya. Ia termenung, lalu bergumam sendiri.
     “Aku yakin…, dia bukanlah seorang gadis yang tanpa ekspresi” gumam Yun Ho perlahan. Lalu melanjutkan,
     “Aku yakin pasti, ada setitik senyuman di balik wajah dinginnya. Akan kubuat ia menunjukkan itu” gumam Yun Ho kembali dengan penuh kepastian.

*****

            SMA Namyeong hari ini, sangat ramai. Dikarenakan hari ini ialah hari besar untuk Negara Korea. Maka, untuk memperingatinya, sekolah mengadakan Festival. Di dukung dengan kondisi cuaca yang cerah. Awan gelap tak lagi menggantungi langit.
     Sebagian besar siswa berjalan – jalan di area festival itu bersama kekasihnya. Namun, Ji Eun tak tertarik sama sekali untuk melihatnya. Ia hanya membaca buku di atap sekolah. Kebiasaanya sehari – hari.
     Yun Ho penasaran, hari ini ia tak melihat Ji Eun. Namun, ia menduga, Ji Eun mungkin berada di atap. Ia membawa dua batang permen lollipop. Dan kemudian bergegas naik. Di atap ia melihat Ji Eun dengan kebiasaannya. Yun Ho pun mencoba menghampiri.
     “Hey…” sapanya ramah.
     Ji Eun menoleh. Ia melihat sesosok laki – laki. Lalu ia kembali meneruskan bacaanya. Yun Ho kesal. Lalu ia kembali menyapa, namun dengan suara agak keras.
     “Hey…, kau tuli ya!”
     “Bisakah kau tenang? Ini tempatku” Ji Eun menoleh dan kemudian melanjutkan membaca.
     Yun Ho kesal sekali. Baru kali ini ia menjumpai gadis yang sangat dingin. Hampir seperti es, fikirnya. Lau terfikir sesaat untuk menjahili Ji Eun. Yun Ho mendekat lalu mengambil buku yang sedang dibaca oleh Ji Eun.
     “Ha…, buku apa sih ini!” serunya.
     “Kembalikan! Kembalikan padaku!” Ji Eun akhirnya bereaksi.
     “Ah.., ini kan bukan buku milikmu. Boleh dong aku melihatnya” goda Yun Ho. Lalu ia berlari. Ji Eun mengejarnya.
     “Kembalikan! Dasar kau pengganggu!” Ji Eun mengejarnya dengan kesal. Mereka berdua berkejar – kejaran di atap.
     Jaejoong mencari Ji Eun. Ditangannya tergenggam sebuah buku. Sampulnya masih baru. Ia ingin memberikannya pada Ji Eun. Ia mencari – cari, hingga ia sampai di atap sekolah. Ia melihat Ji Eun sedang berkejaran dengan pemuda yang ia lihat di perpustakaan kemarin. Dalam hatinya ia merasa sedikit cemburu. Lalu ia berbalik pergi.
     Ji Eun mengejar Yun Ho terus. Namun Yun Ho menghentikan langkahnya dan menggoda Ji Eun dengan memberikan bukunya. Namun itu hanya tipuan. Ia menarik tangan Ji Eun dan kemudian memeluknya.
     Ji Eun sangat kaget. Ia sangat malu. Dengan cepat ia melepaskan diri, mengambil bukunya lalu pergi dengan wajah memerah. Yun Ho hanya tertawa melihatnya.

*****

            Langit nampak cerah, sangat pas sekali untuk bermain di taman sekolah ketika istirahat. Namun hal itu tak mengusik ketenangan Ji Eun. Ia hanya duduk diam di perpustakaan. Di sana hanya ada Jaejoong yang memperhatikan Ji Eun dari tempatnya duduk. Ya…, Jaejoong ialah murid yang di percaya sebagai penanggung jawab perpustakaan.
     Lama dalam keheningan itu, Jaejoong hanya memandangi dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Sesekali ia melihat Ji Eun memegang dadanya, seakan merasakan sakit. Ia ingin menghampiri, namun tak dilakukannya. Namun, tiba – tiba Yun Ho datang. Dia menghampiri Ji Eun. Jaejoong terlihat sangat kesal.
     “Ayo ikut aku”
     “Tidak”
     “Ayolah…” pinta Yun Ho memelas.
     “Tidak..” jawab Ji Eun pendek.
     Jaejoong yang melihat itu datang menghampiri.
     “Jangan memaksanya” ujar Jaejoong. Namun Yun Ho sama sekali tak memperdulikannya.
     “Ayolah…,” pintanya kembali.
     “Jangan memaksanya!” Jaejoong memperjelas suaranya. Kali ini Yun Ho menoleh.
     “Bukan urusanmu” Lalu Yun Ho menarik tangan Ji Eun.
     Jaejoong hanya terdiam, terpaku. Ia kesal sekali dengan Yun Ho. Namun ia tak dapat berbuat apapun.
     “Lepaskan aku!” seru Ji Eun dengan kesal. Yun Ho pun melepaskannya. Lalu ia berkata,
     “Ya…, aku lepaskan. Tapi ikut aku ayo..., Aku mau mengajakmu ke suatu tempat”
     “Kau gila? Ini jam pelajaran! Sudah kau jangan mengada – ada. Bye!” Ji Eun berbalik dan pergi.
Yun Ho memandangnya. Lalu ia mengejar Ji Eun dan menggendongnya sambil berlari. Ji Eun berontak. Namun Min Hwan tak perduli.
     “Hei! Turunkan aku anak baru!”
     “Kan tadi sudah kubilang aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Kita bolos saja di jam ini”
     “Tidak…, tidak. Turunkan aku!”
     “Aku tak perduli” Yun Ho mempercepat larinya. Beruntungnya, pagar sekolah tak terkunci. Yun Ho terus berlari. Ia berhenti di suatu pantai berpasir putih. Lalu ia menurunkan Ji Eun.
     “Dimana ini?” Ji Eun bertanya.
     “Ini, tempat favorit ku”
     “Bagaimana kau bisa tahu tempat ini? Bukannya kau orang New York?” Ji Eun kembali bertanya.
     “Masa kecilku kan di Seoul. Hanya tempat ini yang kutahu. Aku ingin menunjukkan padamu tempat dimana kau dapat melepas sedih dan penatmu”
     “Semakin bingung aku denganmu Jung”
     “Waw…, baru kali ini, ada seseorang yang memanggilku dengan nama depanku. Gomawo” Yun Ho tersenyum. Wajah Ji Eun memerah. Ia mencoba menutupinya.
     Ji Eun merasa ada yang aneh dalam dirinya, kini ia tak merasa sendirian. Kehadiran Jung Yun Ho dalam kehidupan sehari – harinya memberikan perasaan nyaman. Ia pun merasa, bahwa ia jatuh cinta pada Yun Ho.

*****

            “Sulli-ya, kau yakin akan menyusul Yun Ho?”
     “Yakin…, sangat yakin. Aku akan menjawab pernyataan cintanya padaku”
     “kau… sih…, terlalu lama memberi jawaban”
     “Kalian…, tak memberitahu ku tentang kepergiannya.”
     Pesawat dari New York tiba di Seoul. Sulli tiba di SEOUL INTERNATIONAL AIRPORT sebelum kepulangannya, ia menghubungi ibunya. Karena ia akan bersekolah sementara waktu di Seoul.
     Sulli, gadis cantik berambut panjang. Langkahnya bagaikan seorang model. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ia melihat Ommanya melambaikan tangan. Sulli melangkah dengan anggun. Ommanya sangat takjub melihatnya.
     “Kau sudah banyak berubah anakku”
     “Tentu Bu. Ibu sendiri tak banyak berubah, masih seperti dulu. Selalu awet muda”
     “Ha…, ha…, ha. Bisa saja kau menggoda ku. Oh.. ya, ibu sudah mendaftarkanmu ke SMA disini. Memang kenapa kau ingin pindah untuk sementara?”
     “Rahasia dong Bu. Apa namanya bu?”
     “Namyeong. SMA Namyeong. Ibu rasa itu SMA terbaik di kota ini”
     “Baiklah Bu”
     Keesokan harinya, Sulli telah berangkat ke sekolah barunya. Ia sangat berharap dapat bertemu dengan Yun Ho. Ternyata, ia mendapat kelas yang sama. Ketika jam istirahat,
     “Sulli-ya? Benarkah kau Sulli?” Yun Ho bertanya seakan tidak percaya.
     “Benar…,aku Sulli, Jung Yun Ho”
     “Arasseo?” Yun Ho masih tak percaya.
     “Aku kesini untuk mengatakan jawabanku?”
“Jawaban untuk apa?” Yun Ho masih kebingungan.
     “Tentang pernyataan cintamu dulu”
     “Ya?”
     “Aku juga menyukaimu. Sarangheyo… Yun Ho-ah”
     “Benarkah?!”
     “Tentu”
     “Oh…, aku senang sekali!” Yun Ho segera memeluk Sulli.
     Yun Ho sangat senang, cintanya terbalas. Ia tak peduli akan apapun lagi. Ji Eun melihat dari kejauhan. Ia sedih lalu berlari. Jaejoong melihatnya lalu mengejarnya. Ji Eun naik ke atap. Lalu ia menangis di sana. Jae Joong menghampirinya.
     “Ku mohon, jangan menangisinya.”
     Ji Eun masih terus menangis. Kemudian, tiba – tiba nafasnya menjadi sesak. Ia kesulitan untuk bernafas. Jaejoong yang melihatnya pun panik. Ia segera membawa Ji Eun ke rumah sakit. Ji Eun di vonis menderita paru – paru basah yang akut. Jaejoong tak menyangka, sama sekali tak menyangka. ia pun menemui Ji Eun yang sudah sadar dan tenang dan ia pun sedang duduk.
     “Appa dan omma tau?”
     Ji Eun tak menjawab, ia hanya diam. Jaejoong mengeraskan suaranya,
     “Kumohon…, jangan seperti ini terhadapku. Aku ini…, Kakakmu.” Jaejoong mengucapkan dengan berat. Ji eun pun bereaksi.
     “Tidak…, jangan beritahu mereka. Kumohon kak” Ji Eun memjawab dengan nada sedih. Ia merasa sudah ditinggalkan oleh orang yang sangat berharga baginya untuk kedua kali. Jaejoong pun memeluknya, erat sekali. Ia harus menelan perasaan cintanya pada Ji Eun

*****

            Jaejoong menjadi dekat dengan Ji Eun. Ia sering menghibur Ji Eun, menemani Ji Eun, namun hanya sebagai peranan kakak yang baik. Tetapi, Ji Eun menjadi seperti dulu kembali. Selalu diam dan diam.
     Yun Ho menjalani hubungannya dengan Sulli dengan kebahagiaan. Namun, entah mengapa…, ia merasa ada yang berbeda. Ia selalu membayangkan wajah Ji Eun ketika bersama Sulli. Ia sangat merindukan saat – saat menganggu Ji Eun, entah mengapa.
     Hari ini hari kematian. Hari dimana semua orang mengunjungi makam – makam orang yang mereka sayang. Tidak biasanya, omma Ji Eun mengajak Ji Eun pergi. Namun, Ji Eun hanya menurut.
     Ternyata ommanya mengajaknya ke Pemakaman. Di sana ommanya menangis, sedih sekali. Namun Ji Eun hanya melihatnya. Ia bingung dan sama sekali tak mengerti apa maksud ommanya membawanya ke Pemakaman.
     Tiba – tiba, Ommanya meminta maaf kepada makam itu. Ji Eun bingung tak mengerti.
     “Han Seung Min, maafkan aku. Selama ini aku telah menyiksa anakmu”
     “Omma kenapa?”
     “Ji Eun…, Maafkan aku”
     “Aku tak mengerti, Omma?”
     “Aku…, bukan ibu kandungmu…” ujar Ibunya. Kemudian air matanya jatuh.
     Bagai tersambar petir, bagai terhunus pisau tajam. Ji Eun kemudian merintikkan air matanya. Ia tak menyangka…, perusak masa kecilnya ternyata bukan siapa – siapa. Ia pun melangkah mundur…, semakin mundur, lalu berlari.
     Ji Eun berlari hatinya begitu terluka. Jaejoong yang bediri di depan mobilnya segera mengejarnya. Ji Eun berlari kearah pantai. Ia ingin menenggelamkan dirinya. Namun, berhasil di cegah oleh Jaejoong.
     “Kau mau apa!”
     “Tidak…, ka. Biarkan aku mengakhiri segala penderitaan ku”
     “Kau ini bodoh! Mana mungkin aku membiarkan orang yang sangat kucintai”
     Akhirnya Jaejoong mengucapkan kata itu. Ji Eun terdiam. Ia duduk dan merunduk sendiri. Jaejoong melepaskan tangannya. Ia tahu, bahwa yang dibutuhkan Ji Eun saat ini adalah Yun Ho. Pemuda yang membuat Ji Eun sangat bahagia.
     Yun Ho menyadari, cintanya hanya untuk Ji Eun. Sulli yang tahu itu kemudian memutuskan untuk kembali ke New York. Yun Ho mencari Ji Eun, dalam perjalanan ia bertemu Jaejoong.
     “Dimana Ji Eun?” ia bertanya.
     “Ayo ikut…” Jaejoong mengantar Yun Ho kepantai itu.
     Yun Ho yang melihat Ji Eun segera berlari ke arah nya. Ia mendekat lalu mengatakan,
     “Ji Eun…, aku sadar. Selama ini aku salah. Aku mencintaimu, Sarangheyo” Ucap Yun Ho seraya tersenyum pada lautan.
     Ji Eun tak bergerak. Ia tetap diam pada posisinya. Yun Ho kemudian memegang tangannya. Dingin…, Dingin sekali seperti es. Diangkatnya wajah Ji Eun. Pucat…, sangat pucat. Dan tak ada nafas lagi. Ya…, Ji Eun meninggal. Ia meninggal dalam hati yang dingin dan kesepian.
     Yun Ho menangis, lalu memeluknya. Ia berkata sendiri, “Ini…, salahku. Aku terlambat”
     Jaejoong melihat dari kejauhan. Air matanya jatuh. Namun ia tersenyum, dalam benaknya,
     “Kan kubiarkan kau terbaring dalam pelukan orang yang telah membuatmu merasakan apa itu cinta. Selamat jalan Adikku…, Selamat jalan cintaku”

END



Keterangan :
Gomawo       : ucapan Terima Kasih dalam bahasa korea.
Cheonmaneyo  : ucapan yang berarti “sama – sama” dalam  bahasa korea.
Seonsaeng     : Guru
Seonsaeng nim : ucapan bertanya kepada guru
Sarangheyo        : ucapan “Aku mencintaimu”
Omma        : Ibu
Eonni         : ucapan “kakak” kepada wanita yang lebih tua
Oppa         : ucapan “kakak” kepada laki – laki yang lebih tua


Tidak ada komentar:

Posting Komentar