Halaman

Minggu, 24 Juni 2012

Everlasting Love - Dita Hyun Rin

Assalamualaykum...!!! :)
ini nih... FF yang Alhamdulillah membuatku menang di page SJFF... hehehehehe....
share share... ^^v...
Maaf Kalo ga nyambung ceritanya :(
****************************************************


Everlasting Love
Author’s: Dita (Park Hyun Rin)
Cast                :
-Cho Kyu Hyun       
-Mita a.ka Im Yoo Eun (Indonesian ELF)
-Super Junior Member’s
-ELF
Genre             :
Sad
Length            :
Oneshoot
Rating             :
General
Disclaimer      :
I making this fanfiction is for ELF and Super Junior’s member of course. The story I make from my imagination but some part I think it is the fact. So don’t bash me after you read it and you feel my story is bad…L.hehehe Gomawo.:)

“Hyung!! Tidakkah kau lihat luka di tanganku ini?!” Seruku dengan berapi – api. Seraya menunjukan goresan kuku yang kini terukir di tanganku dihadapan para Hyung ku.

“Kyuhyun-ah…,sudahlah. Kau ini terlalu membesar – besarkan.” Ujar Kangin Hyung menyepelekan.

“ne, Kyu-ah kau ini.” Sahut Eunhyuk Hyung sambil merebahkan diri di atas sofa di dorm kami.

“Mwo? Ya!! Hyung, aku tahu ini memang terlihat  berlebihan. Tapi apa kau sadar? fans kita sekarang semakin keterlaluan!” Seruku. Mereka hanya menatapku dengan tatapan hambar. Seolah mereka hanya berbicara pada anak kecil yang sedang merajuk.

“Kyu-ah? Mungkin kamu terlalu lelah, ayo istirahat saja yah? Nanti akan Hyung buatkan bubur kesukaanmu.” rayu teuki hyung menghampiriku perlahan. Ia menanggapiku seolah ia berhadapan dengan anaknya sendiri. Aishh…aku tak habis pikir dengannya.

“Ah!! Sesuka kalian lah!!” Seruku dengan gusar. Lalu aku melangkahkan kaki ke kamarku.

BRAK !!

Ku banting pintu kamarku dengan dentuman yang cukup menyentakkan telinga. Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidurku. Lalu menatap ke dunia luar. Cukup lama aku menatap dan kemudian kulepaskan napas panjangku.

“aku…,aku…,semakin takut dengan diriku sekarang.” Gumamku. Lalu aku menatap luka yang kini tertoreh di tanganku.”aku takut diriku akan dilukai.” Gumamku kembali.

Aku bangkit dari tempatku merebah. Menatapi wajahku yang terpampang di lemari kamarku. Wajahku dikelilingi ratusan, bahkan ribuan balon berwarna biru bertuliskan ‘ELF’ cukup lama aku menatapi benda itu. Diantara rasa takutku yang kian menjadi, dan kebingungan yang menyelimuti diriku. Sayup – sayup kudengar suara Hyungku dari luar kamar,

“Teuki Hyung? Ada apa dengan Kyuhyun? Apa ia sakit?” Tanya Yesung Hyung.

“entahlah. Mungkin ia sedikit merasa trauma.” Jawab Teuki Hyung.

“aigoo, ada apa lagi dengannya. Ia sungguh anak manja. Bukankah ini resiko kita sebagai artis yang dikenal?” Timpal Siwon Hyung dengan ringannya.

“Siwon-ah, mungkin ia benar trauma. Aku juga sungguh merasa trauma atas kejadian ini tapi ya mau diapakan lagi. Ini resiko.” Sahut Shindong Hyung.

“tapi bagaimanapun mereka itu ELF. Fans kita. Tanpa mereka kita bukan apa – apa.” Timpal Ryeowook.

ELF. Aku mendengar kata itu lagi. Dan sekali lagi aku merasa diselimuti ketakutan yang luar biasa. Mungkin ini aneh. Atau bahkan sangat aneh. Tiba – tiba aku merasa takut pada fans yang sudah lama mengikuti perjalanan karirku bersama Super Junior. Namun ini benar. Aku sungguh merasa takut.

“Aku harus pergi.” Ucapku sendiri.
***
Entah dimana aku, ataupun bagaimana keadaanku nanti. Yang kuingat aku pergi dari dorm. Meninggalkan Super Junior dan ELF tentunya. Aku mengembara. Mencari tempat dimana tidak satupun ELF akan menemukanku.

“Desa Chuongnam” aku membaca peta jalur – jalur yang akan kulalui di dalam bis yang membawaku. Entah sampai mana. Namun akhirnya aku menjatuhkan pilihan di desa ini. Kelihatannya cukup terpencil dan kuharap tiada ELF di sana.

“TUJUAN DESA CHUONGNAM”. Seru kondektur bis. Aku segera bangkit lalu memperbaiki penyamaranku. Aku menyerahkan kartu dan uang kepada kondektur bis. Lalu melangkahkan kakiku untuk menapaki halte bis yang tidak pernah ku jamahi sebelumnya.

“ah!! Segarnya suasana di sini!! Benar – benar bebas!!” Aku berlari ke arah padang rumput yang menguning tepat di belakang halte pemberhentian tadi.

Aku bebas!
Itulah yang kurasakan sekarang. Tidak ada keributan,kerusuhan,dan hal yang membuatku muak. Dugaanku tepat desa ini benar – benar sepi.

“ya!! kau yang di sana!!” aku mendengar seruan seorang yeoja. Serentak, jantungku serasa ingin melompat keluar dari tubuhku.

 Aku tidak salah dengar?! itu suara seorang yeoja!! jangan – jangan dia ELF!!
Aku berlari ke arah semak- semak di depanku.

“aigoo.. jangan – jangan dia ELF. ” Gumamku dengan gelisah. Keringatku mengucur deras. Padahal disini angin semilir membelai dengan lembutnya.

Terlihat semak lebat tak jauh dari hadapanku. Dengan segera aku mencari perlindungan kepadanya. Berharap agar yeoja itu tidak dapat menemukanku.

“Ya…kau yang di sana! keluar kau! kau sudah terlanjur tertangkap! Ayo ikut ke kantor polisi.” Ujarnya yang cukup membuatku merutuki diriku sendiri.

Kantor Polisi? memangnya aku penjahat? aigoo jangan – jangan dia salah paham. Aku harus memberitahunya bagaimana pun caranya. Aku bangkit dengan ragu – ragu. Keringat masih terus mengalir. Satu,dua,tiga…

“mi…mianhae. A..aku buk..an Pen..pencuri.” Jawabku terbata – bata seraya menundukan kepalaku.

“gotjimal. Ya!!kau ini babo mana ada pencuri yang mau mengaku hah?! Di sini sudah banyak yang sepertimu mengaku – ngaku orang baik. Kau rentenir yang ingin merebut tanah ini kan?!” Tuduhnya.

“sungguh…aku baru sa..ja tiba…” Jawabku terbata – bata kembali. Namun, aku menegakkan sedikit kepalaku.

“HAH?!” Seru yeoja itu.

“w..a..e?” tanyaku.

“kau Cho KyuHyun kan?”

DEG!

Dia tahu namaku?!

“n..e.” Jawabku takut. Aku sungguh takut kalau yeoja dihadapanku ini benar seorang ELF.

“kau sedang apa di desa seperti ini?liburan? dimana yang lain?” tanyanya beruntun. Yang membuatku bingung harus menjawab yang mana dulu. Tapi, kenapa dia tidak menyerangku?

“ya…, ternyata artis sombong sekali, ditanya saja tidak menjawab. Ya sudah.” Gumamnya lalu berjalan melangkahkan kakinya.

“Ya!” seruku memberanikan diri.

“hmm…” Ujarnya seraya menoleh.

“apa kau ELF?” tanyaku perlahan.

“Bukan”. Jawabnya singkat.

“Jeongmal?” tanyaku dengan dengan mata pengharapanku.

“buat apa berbohong. Aku memang bukan ELF.” Jawabnya dengan pasti. Aku masih terdiam dalam kebimbangan.

“mau ikut tidak? Apa mau selamanya sendirian di tempat ini?” tawarnya.

“benar kau bukan ELF?? Iya aku mau ikut.” Jawabku pendek. Aku mengikutinya dengan langkah panjangku yang terasa berat.
***
Aku menatap lingkungan tempatku menapaki kakiku saat ini. Mataku menelisik tajam penuh hawa curiga. Aku takut. Takut yeoja yang kuhadapi ini berdusta padaku. Membohongiku untuk menculikku. Aku sungguh takut. Kenapa aku harus seperti ini?

“kau membawaku kemana ini?” tanyaku. Gadis itu tidak menjawab tanyaku. Ia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah.

“ya…,kau membohongiku kah? Tolong jawab pertanyaanku.” Tanyaku. Untuk sekali lagi ia tetap tak menjawab.

Aku semakin dihinggapi rasa takut. Entah apa yang akan terjadi padaku? Apa mungkin aku akan di culik lalu ditawan. OMO… aku tak dapat membayangkan hal itu. Aku harus apa sekarang? Mungkin yeoja itu sedang memanggil teman – temannya saat ini. Habislah aku.

“ya!!kau…” Seruku. Namun sebelum aku menyelesaikan kalimatku, tiba – tiba ia keluar. Ia sedang mendorong kursi roda yang diatasnya terduduk seorang yeoja kecil yang menatapku kosong.

tara!!Yul…,ada KyuHyun oppa dihadapanmu sekarang. Ayo beri salam pada oppa.” Ujarnya ramah pada yeoja kecil itu. Namun yeoja kecil itu tetap tak bergeming. Menatapku dengan tatapan kosong. Wajahnya yang putih pucat membuatnya tampak seperti mayat hidup. Aku merasa sedikit takut.

“di..dia siapa?” Tanyaku kemudian. Mataku masih tak dapat lepas dari tatapan kosong yeoja itu. Aku pun menjadi sedikit salah tingkah.

“ini? Ini Min Yul. Dia seorang ELF…,fans mu.” Jawab yeoja di hadapanku seraya tersenyum. Aku hanya terdiam tanpa berkata sepatah katapun. Selain aku terkejut dengan kata ELF aku juga merasa iba dengan yeoja kecil dengan tatapan hampa yang ada di hadapanku saat ini.

“ya..,kau merasa kasihan padanya ya? Umurnya baru 14 tahun. Dia sangatlah tertekan. Kau tahukah penyebabnya?” Tanya yeoja itu kembali.

“ani…wae?” Tanyaku kembali. Namun masih dalam posisi yang tadi. Menatap wajah yeoja kecil itu.

“dia mengetahui kenyataan bahwa gurunya di sekolah adalah orang yang menyebabkan appa dan eommanya meninggal hingga mengharuskan Yul untuk tinggal di Panti ini seorang diri.” Jelasnya.

“benarkah itu?” tanyaku. Aku merasa semakin iba dengannya. Ia masih kecil. Kenapa harus seperti itu?

“tentu saja. Ia sangat menyukai kau dan teman - temanmu. Ya…,terutama kau. Sebelum kejadian ini, saat dia tidak dapat memejamkan mata,tak dapat menahan perasaannya. Ia selalu mendengarkan lagu – lagu kalian. Ia bahkan sangat hafal liriknya.” Jelas yeoja itu. Aku hanya terpana mendengarnya. Hingga tak mampu menggerakkan otot – otot suaraku.

“ia sangat mencintaimu. Mencintai kalian. Lebih dari yang kalian bayangkan.” Ujarnya sendiri.
“mwo? Cinta…,ya.” Gumamku perlahan. Dan kemudian hatiku perlahan tergerak.
***
Aku mengamati sekitarku. Sudah dua hari aku ditempat yang asing bagiku. Kakiku kini menapaki sebuah panti asuhan yang terpencil. Dengan anak – anak sakit, dua orang ahjumma yang telah berumur pengurus panti, dan seorang yeoja bukan ELF yang tak kuketahui nama dan darimana ia berasal.

“kau tinggal di sini?” tanyaku seraya mengamati yeoja itu yang sedang menyuapi seorang namja kecil yang duduk di ranjangnya sedang ia menyelimuti kakinya.

“bisa dibilang iya?bisa juga tidak.” Jawabnya penuh rahasia. Kemudian ia melanjutkan kata – katanya,”kau mau Bantu menyuapi Yon Ju?”

“mwo?” Tanyaku.

“ne, kau mau membantu menyuapinya? Aku mau menyuapi Song Hee.” Ujarnya. aku pun meraih tempat makan itu. Menyendokkan bubur sedikit demi sedikit. Ya…,aku yakin aku pasti bisa. Dan.. Hap!ia melahapnya. Lalu tersenyum padaku.

“wah, kau tersenyum rupanya. Apa kau mengenalku? Aku Cho Kyu Hyun.” Sapaku ramah.

“ne…Ky..u..Hy..u..n Hyu..ng.” Jawabnya terbata – bata. Lalu kembali tersenyum. Tiba – tiba,

“A..Apa aku tak salah dengar?! Yon Ju bicara?!” Seru ahjumma – ahjumma pengurus panti dengan serentak.

“n..e. wae ahjumma? apa dia memang belum bisa bicara?” tanyaku bingung.

“dia hanya diam selama dua tahun belakangan ini. Sejak kecelakaan yang menghabisi satu kakinya.” Ucap satu orang ahjumma dengan sedih. Aku terlonjak,”hah? Menghabisi?!”

“ini,” ahjumma itu membuka sedikit selimut yang menutupi kaki namja kecil bernama Yon Ju itu. Aku sungguh tak percaya. Kakinya benar hanya sebelah. Aku tak dapat membayangkan bagaimana hidupku bila aku menjadi sepertinya.

“kasihan sekali umurnya baru 10 tahun. Ia tidak punya orang tua.” Gumam salah seorang ahjumma dengan sedih.

Aku menatap hambar ke arah Yon Ju. Kasihan. Yah aku sangat kasihan padanya. Begitu pula anak – anak di sini. Tiba – tiba aku melihat Yon Ju menggerakkan tangannya untuk mengambil sesuatu.

“sini,Hyung ambilkan. Kamu mau mengambil kertas ini?” aku menunjuk tumpukan kertas di atas meja. Dia mengangguk perlahan. Lalu menunjuk lagi ke arah pensil warna di sebelahnya.

“oh. Kamu mau menggambar ya?wah…,daebak.” Ujarku memujinya. Lalu aku mengambilkan pensil warna dan kertas dan menyerahkan kedua benda itu padanya. Dan untuk yang kedua,ia kembali tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan tulus.

“Song Hee, ayo buka mulutmu…” aku mendengar suara yeoja yang tak asing bagiku. Aku menoleh keluar jendela. Ternyata yeoja itu.

“Song Hee,kau harus makan nanti kalau tidak perutmu akan sakit lagi.” Ujarnya kembali. Namun yeoja kecil dihadapannya tetap tak bergeming. Aku pun menoleh kembali pada Yon Ju. Yon Ju juga ternyata sedang melihat keluar.

“apa kau mau menggambar di luar?” tanyaku. Ia hanya mengangguk. Aku menaikkannya diatas kursi roda. Lalu membawanya keluar.

“Song Hee, ayo buka mulutmu…,pesawat sudah dataaang!” rayu yeoja itu. Yeoja kecil di hadapannya tetap tak bergeming. Ia memandang jemu ke langit biru.

“kau ingin aku menyanyi?” Tawarku tiba – tiba. Entah dari mana aku terfikir ucapan seperti ini. Dan yeoja kecil itu mengangguk perlahan.
“benarkah? Kau mau menyanyi untuknya?” tanya yeoja di sebelahku dengan mata membelalak. Aku mengangguk, dan mulai menyanyi..
….Nuhneun neomu nuni busyeo
(Kau begitu menyilaukan)
Ni ga isseo nae shimjangi ddwi-uh
(Jantungku berdebar-debar)
Ojik nuhmani na-egen number one nuhl saranghae
(Kau satu-satunya bagi ku dan selalu menjadi nomor 1 yang aku cintai)
Jogeumman duh na dagawajwuh
(Datang sedikit lebih dekat dengan ku)
Neoui soneul kkok jabgo shipuh
(Aku ingin memegang erat tangan mu)
Ee noraeneun only for you youngwuhnhi saranghae
(Lagu ini hanya untuk mu, Aku mencintaimu selamanya)
…...(Super Junior – Angle)
PROK!!PROK!! mereka semua bertepuk tangan untukku. Aku tersenyum puas. Song Hee kemudian melahap makannya. Yeoja itu tersenyum tulus penuh arti padaku. Ahjumma – ahjumma tiada henti memujiku. Ahh… dunia ini nyaman sekali. Tiba – tiba Yon Ju memberikan sebuah kertas padaku seraya tersenyum.
“apa ini?” tanyaku. ia menyuruhku melihatnya. Ada seorang namja yang tengah tersenyum dibawah hamparan langit biru. Biru. Ya…,biru yang kutakutkan.
“ELF…” Gumamnya dengan sedikit jelas. Lalu tersenyum. Aku tak tahu harus berbuat apa.
***
Aku menatap seraya tersenyum ke langit. Ku hirup udara yang segar dan tenang ini. lalu kuhempaskan perlahan. Sudah hampir dua minggu aku di sini. Merawat, mengasuh,bermain,bernyanyi,bersama anak – anak panti dan seorang yeoja yang seakan menjadi pengobat tekananku. Aku merasa damai ,aku tak ingin kembali ,aku ingin damai di sini.
Kurebahkan tubuhku diatas hamparan rumput. Aku merasa ada sesuatu yang mengusikku, entah apa.
“ahh!!!” seruku.
“ya oppa!!kenapa kau bergerak.” Seru seorang yeoja dari sisi sebelahku.
“hah?! Sejak kapan disitu? Dan mau apa kau?!” selidikku. Aku melihatnya memegang kertas dan pensil. Mungkin ia melukisku. Tapi untuk apa?
“sejak tadi, aku melihatmu memandangi langit.” Jawabnya.
“oh..” jawabku pendek. ia berbaring di sebelah tempatku berbaring tadi. Dan ikut memandangi langit.
Aku kini dapat dengan jelas melihat wajahnya. Selama hampir dua minggu di sini, aku terlalu sibuk dengan aktifitas ku hingga tak sempat menatap wajah yeoja yang membawaku ke saat ini. Ia memiliki Kulit yang putih, namun berbeda dari kulit orang korea pada umumnya. Mata yang bulat dan besar lagi indah. Mata yang meyakinkanku bahwa ia benar bukan orang korea. Tapi? Apa hasil operasi plastik?
“ya..,kau operasi plastik dimana?” tanyaku.
“hah? Operasi?” Jawabnya dengan heran.
“iya, kau operasi dimana sehingga bisa mendapatkan mata seindah itu?” tanyaku kembali. Namun, di sambut dengan tawa darinya.
“ya…,kenapa kau tertawa?” tanyaku bingung.
“ini mata asliku. Seumur hidup aku belum pernah operasi.” Ujarnya.
“apa kau bukan orang Korea?” tanyaku kembali. Aku masih penasaran.
“ne…,aku bukan orang Korea aku dari Indonesia.” Jawabnya.
“In..Indonesia? Lalu kenapa kau di sini?” tanyaku kembali.
“aku ingin mengabdikan diriku pada anak – anak di sini. Mereka terlantar. Aku ingin menghabiskan penghujung hidupku di sini.” Jawabnya lalu kembali tersenyum manis. Senyum termanis yang pernah ku lihat.
“lalu kau sendiri oppa? Kenapa ke sini? Bukankah kau member Super Junior?” tanyanya kembali.
“entahlah…,aku rasanya tidak ingin kembali.” Jawabku pendek.
“HAH?! WAE???!” tanyanya tiba – tiba. Membuatku sedikit terkejut.
“aku takut aku akan terluka.” Ujarku. Tiba – tiba ia memukulku.
PLETAK!”aigoo!! kenapa aku dipukul?!” Seruku.
“oppa, jeongmal pabo-ya!!” Serunya.
“hah?”
“oppa, kau kesal pada ELF bukan? Membuatmu takut dan terluka.” Ujarnya. lalu ia melanjutkan,:tapi sesungguhnya merekalah yang paling lebih mencintaimu.” Jelasnya.
“mwo? Cinta? Cinta apa yang melukai?! Kau tidak tahu apa – apa!!” Seruku membalas ucapannya.
“tentu saja aku tahu! Aku mengerti oppa!! Mereka, ELF… EverLasting Friends Super Junior. Mereka membiarkan diri mereka kehujanan untuk melihatmu melihat kalian! Meraka ialah ELF yang membelamu membela kalian saat kalian dihina dicaci!! Mereka ialah ELF yang mencintai jauh lebih besar dari cinta kau!!kalian pada mereka! Meraka ialah ELF yang menyediakan air matanya untuk bersedih bersama kau!!kalian!!! dan…Mereka ialah ELF yang akan tertawa bahagia bila ia melihat kalian meskipun tidak lama lagi ia akan mati!!!!” Serunya seraya menangis. Mataku terbelalak. Hatiku bergemuruh. Aku bingung…
“oppa, kau harus kembali. Kembali untuk mereka!!tersenyumlah seperti saat kau tersenyum di sini. Kembali untuk Super Junior.” Isaknya. Aku mematung di hadapannya. Emosiku bercampur. Aku tak kuat lagi menahan airmataku.
BRESS!!hujan turun bersamaan jatuhnya air mataku ke pelipisku. Mengguyur hatiku yang diliputi kecemasan. Aku menatap kosong. Yeoja dihadapanku masih menangis. Aku heran, ia bukan ELF…,tapi kenapa ia seperti ini sekarang?
Aku menatap langit biru yang kini telah sembab. Dan telah merintikkan derai air matanya. Aku bingung. Aku bingung dengan diriku. Aku tetap diam dalam posisiku. Kemudian aku melihat setitik awan yang belum sembab. Cukup setitik. Ia masih tertahan dalam posisinya, meski kini terlihat ia mulai rapuh. Biru…,ya biru yang ku lihat. Kemudian hatiku bergemuruh kencang. Aku merasakan kedamaian. Aku menemukan diriku lagi.
“ya, kau benar…aku harus kembali.” Gumamku sendiri.
***
“semuanya…aku minta maaf bila selama aku tinggal di sini aku menyusahkan kalian.” Ucapku lalu membungkuk. Memberi penghormatan terakhirku.
“gwenchanayo oppa!!” Jawab mereka semua serempak. Senyum mereka cukup membuat mataku menatap nanar.
“Yon Ju, kau harus sembuh ne?” Ucapku ramah.
“n..e Hyung –ah” Jawabnya yang cukup membuatku dan dua ahjumma penjaga panti ini tersentak. Lalu aku tersenyum menatapnya.
“Song Hee kau harus banyak makan ne? jika kau sudah sembuh oppa yakin kau akan dapat menyanyi lebih indah dari oppa.” Ujarku pada yeoja kecil yang kini telah tersenyum menatapku. Matanya seolah berkata ‘gomawo oppa’ padaku. Dengan segera aku membalasnya “cheonmaneyo”.
Aku berpamitan pada dua orang ahjumma penjaga panti. Mereka sangat berterima kasih padaku. Karena, menurut mereka kedatanganku di sini membawa dampak yang baik bagi anak – anak. Syukurlah jika seperti itu, aku juga berterima kasih sekali kepada semua yang di sini. Yang telah menyambutku dengan ramah.
Mataku berkeliling, mencari sosok yeoja yang membuka hatiku. Menyadarkan aku untuk kembali. Tapi kenapa ia sekarang tidak ada?
“mianhae,Ahjumma dimana yeoja itu?” tanyaku. tiba – tiba seorang yeoja berlari ke arahku tersenyum berteriak – teriak menyerukan namaku. Lalu ia tiba dihadapanku. Napasnya masih tersengal – sengal. Namun??ada apa dengan wajahnya?
“oppa!! Mi..ian aku telat ne. oppa go..ma..wo kau sudah mau kembali. Jeongmal mianhaeyo kemarin aku memarahimu.” Sesalnya beruntun. Aku hanya tertawa.
“seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Kau telah menyadarkanku.” Ucapku.
“oppa…,jangan seperti ini lagi ya. Ini permintaan terakhirku sebelum aku benar – benar tidak dapat melihatmu lagi.” Ucapnya yang membuatku tersentak.
“mwo? Aniya…kau kan dapat melihatku di televisi – televisi. Kau ini, ucapanmu itu seolah hidupmu akan berakhir sekarang saja. Oh ne…,kau sakit? Wajahmu pucat?” tanyaku beruntun. Sebelum ia menjawabnya tiba – tiba aku meliha darah mengalir dari hidungnya. Mataku terbelalak.
“i…itu…da..rah. apa kau tidak apa – apa?” tanyaku. ia hanya tersenyum dan menghapus darah itu lalu mulutnya bergerak seperti ingin mengucapkan sesuatu. Namun sebelum suaranya terdengar. Ia..
“ya!!!ya!!kau kenapa!!” seruku panik. Begitu pula ahjumma – ahjumma penjaga panti. Aku berlari membawanya ke rumah sakit terdekat. Ya tuhan…,ada apa dengan yeoja ini.
***
 Aku sungguh cemas. Ada apa dengan yeoja ini kenapa tiba – tiba. Tidak hentinya aku menatapi wajah yeoja yang menyadarkanku ini. yang kini putih pucat persis seperti mayat.
“apa anda keluarganya?” tanya dokter di belakangku.
“aniya…dok. Aku temannya. Ia kenapa dok? Tiba – tiba pingsan seperti ini?” tanyaku cemas.
“mianhae…,saya harus mengatakan ini. pasien ini telah me..ning…gal.” Ujarnya yang membuatku tersentak.”MWO?!!!”
Air mataku mengalir. Aku tak bergeming lagi. Aku serasa mati rasa. Kenapa?kenapa?bukannya ia tadi masih sehat?kenapa sekarang?ADA APA INI,TOLONG JELASKAN PADAKU. Aku terus menangis.
Kemudian sesosok namja kecil datang menghampiriku. Ia berusaha dengan kursi rodanya. Lalu ia menatapku dan kemudian menyerahkan sebuah surat untukku. Aku membukanya lalu membacanya…
Annyeong KyuHyun oppa…
Mita atau Im Yoo Eun imnida. Hehehe…oppa aku berbohong padamu dengan bilang aku bukan ELF. Aku seorang ELF.hehehe. Oppa kau tidak marah lagi kan pada ELF?jangan pernah marah lagi yah… :(
Oppa kau tahukah?aku sangat bahagia oppa. Aku tidak menyangka aku dapat menghabiskan penghujung hidupku bersamamu yang selama ini selalu menjadi mimpiku. Melihatmu dengan jelas. Menatap wajahmu saat tersenyum. Seolah ini hanya mimpi yang membuatku tak ingin bangun kembali. Serta..membuatku merasa bahwa rasanya tak apa bila aku mati saat ini juga.
Oppa,kau tahukah?setiap tetes darah yang mengalir dari hidungku…yang memaksaku untuk berbaring. Setiap rasa sesak didadaku, yang memaksaku untuk menangis.  Aku dapat melawannya oppa!!! ya…apalagi kalau bukan karena kau. Aku tidak ingin tidur. Aku tidak ingin saat aku tidur aku tiada akan bisa melihatmu kembali. Hehe..aku jahat ya?masa ingin melawan takdir. Oppa sekali lagi aku mengucapkan terima kasih untukkmu. Karena telah ada di sisa hidupku ini.
Mita
Nb:oppa!jika kau sempat kunjungi ELF Indonesia ya.hehehe maaf karena telah memarahimu..
Aku mengakhiri surat yang dihiasi bercak tetesan darah ini. Aku menangis. Tangisan yang mengakhiri segala egoku. Aku menangis
***
1 tahun kemudian…
“ya!!sekarang kami akan mempersembahkan lagu terakhir dari kami!!” Seruku bersama para hyung ku. Ya…benar saat ini kami sedang menggelar konser di Indonesia.
“lagu ini teruntuk ELF yang kucintai. Maafkan aku ya?aku pernah kesal pada kalian. Namun aku sadar ucapan seseorang. Dan kini aku yakin, AKU CINTA KALIAN ELF!!” seruku lalu mulai menyanyi bersama para hyungku dan ELF tentunya. Aku bahagia.
Kami berdua di atas awan 
Tangan kita terkunci dalam janji 
Oh, aku cinta kamu 
Rasa sakit begitu banyak,
Mengetahui sendiri 
Dalam dunia yang luas 
Aku senang bahkan hanya dengan melihat 
Dengan hati yang tidak bisa anda tinggalkan
Terjaga sepanjang malam, menangis tersedu-sedu 
Aku ingin mengakui 
Aku hanya ingin dicintai
Sekali lagi aku berucap pada diriku sendiri. Betapa bodohnya aku bila aku takut terhadap ini semua. Terhadap birunya cinta yang mengelilingiku. Sungguh, sekarang aku merasa benar – benar bodoh. Bila aku sempat berfikir untuk pergi. Dan meninggalkan separuh hatiku.
 ‘Mianhae…ELF, you’re my EVERLASTING LOVE’
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar