Halaman

Minggu, 01 Juli 2012

どうして…君を好きになってしまったんだろう? (Why Did I Fallin Love With You?)


Why Did I Fallin Love With You?
(どうしてきになってしまったんだろう?)
Author : @DitaHyunRin
Genre : SongFic
Length : OneShoot
Rating : G
Cast :
-Park Hyun Rin as Nishizaki Aya
-Cho Kyu Hyun as Yamashita Kaito
-Jung Yong Hwa as Matsumoto Keinichi
-Other Cast
Fanfict ini berdasarkan MV “Doushite Kimi Wo Tsuki ni natte Shimattandarou” TVXQ. Namun, ada sedikit perubahan cerita.  Hehehe. (tapi mirip mirip lah sama kisah ane sama seseorang di kelas samping wc cewek itu)
Disarankan saat membaca sambil dengerin lagunyaa. Biar nge-feel aja gitu ^^v hehe. Maaf banyak typo~
Happy Reading ^^v
Kaito POV
Malam ini, langit terasa berbeda. Gelap menyeruak dan bintang tiada nampak walau satu pun. Kabut yang tebal namun tiada terlihat. Menjadi pertanda bahwa kegelapan malam ini benar – benar sangat.
Dingin menelisik ke dalam sekujur tubuhku. Ku eratkan baju hangatku untuk mencoba melawan rasa yang menusuk ini. Membekukan tulang – tulangku yang tiada berbentuk ini. Namun, mengapa hatiku terasa gamang?
Kutatap wajah jalanan. Dari atas apartemen tempat ku bersemayam saat ini. Gemerlap lampu Ibukota mewarnai kegelapan ini. Merah, kuning, dan beratus warna lainnya. Ditambah deru pasukan Ibukota yang seolah tiada matinya berlalu lalang. Kumainkan jari jemariku. Menghitung tiap satuan si pasukan jalanan itu. Namun, kegamanganku belum juga sirna. Masih membekas dan tinggal. Entah? Bila kau tanyakan pun aku tak tahu mengapa. Apa ini firasat? Bukan… semoga.
Kurasakan getaran ponsel dari sakuku. Sepertinya ada pesan masuk,
To        : Kaito-san
From    : Aya-chan
Temui aku di tempat biasa…..
Ada yang mau aku bicarakan denganmu..
Aya? Ada apa? tidak biasanya dia mengajakku bertemu malam – malam begini? Apa ada sesuatu yang tidak baik dengannya? Atau dia merindukan aku?haha.
To        : Aya-chan
From    : Kaito-san
Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi padamu? L
Aku akan kesana secepatnya. Tunggu aku ya!!..^^
Dan kemudian kutekan tombol ‘send’ dan kupercepat langkahku untuk bergegas menemuinya.
“Aya-chan! Tunggu aku!” Gumamku sendiri. Membayangkan wajah cerianya menyambutku tentu akan sangat menyenangkan.
***
Kulayangkan pandanganku kearah gemerlap lampu kota yang nampak berkelap – kelip dalam kegelapan malam. Dari sini, dari atas jembatan layang yang menggantung diujung badan sungai. Semua terlihat mengagumkan. Walau dibalik badanku berlalu lalang si tokoh jalanan. Tidak salah, tempat ini menjadi tempat favoritku. Serta tempat pertama kali hatiku terpaut dengan sesosok gadis yang sampai kini tinggal disisiku.
=Flashback=
“Aaa!!!” Jeritku memakan keheningan malam.
Bagaimana tidak? Saat ini sudah tengah malam. Seluruh penghuni jalanan mungkin sudah tersimpan baik di tempat – tempat yang aman. Bersama si empunya. Paling – paling yang masih tetap tinggal ialah gemerlap lampu yang membisu itu. Yang walau kuteriakan hingga pita suaraku terlepas pun, cahaya warna – warni itu tidak akan membalas walau satu kata sekalipun padaku.
Kuberitahu, hari ini sangat menyebalkan! Untuk yang ke ratusan kalinya aku melakukan hal bodoh yang menindas diriku sendiri. Aku disuruh mengerjakan tugas teman – teman, dan aku sama sekali tidak punya keberanian untuk menolak. Bodoh!! bodoh!!
Meskipun hal tersebut bukan hal yang rumit untukku. Karena, aku mendapatkan poin tertinggi di mata pelajaran itu. Tapi tetap saja! Kenapa aku dan otakku selalu mau untuk ditindas. Padahal, hatiku jelas menolak penindasan itu.
“Aaa!! Bodoh!!kau Mr. Kaito!!!” Jeritku kembali. Tepat sekali, ditempat ini tidak terlihat satupun jiwa manusia yang hidup. Oleh karena itu, pastinya tidak akan ada yang mungkin mendengarkan rutukanku sekarang. Apalagi teman – teman yang menindasku. Mereka tidak akan mungkin ada atau muncul disini.
“Kesal!!” dengan cepat kuambil batu kerikil yang tidak jauh dari tempat dimana kuberpijak sekarang. Dan kulemparkan ke sungai dibawah jalanan jembatan layang tempatku saat ini.
PLUK!!!
Bunyi riakan air yang ditimbulkan oleh lemparanku terdengar menyentakkanku. Sedikit membuat kacamataku bercorak basah oleh rintikan kecil cipratan air.
“HEI!!!!” seru seseorang.
“Hah?! Siapa itu??” aku tersentak. Mataku menelisik kesekitarku. Mencari asal suara itu.
“Ya!!! Mr. Tidak Sopan!!!” seru suara itu kembali.  Aaa!! Itu suara dari mana? Masa iya hantu memanggil – manggil namaku? Jembatan ini memang punya legenda menyeramkan. Tapi masa iya? Hantu penunggunya memarahiku?aduh!
“Aku dibawah bodoh!!”  serunya kembali. Aku melihat kebawah jembatan. Tepatnya ditepian sungai yang berada dibawah jembatan ini. Sepertinya ada sesosok manusia yang tengah berdiri? Segera kulepas kacamata yang memayungi mataku. Dan kubersihkan dari corak rintikan air yang mengenainya. Agar pengelihatanku bisa lebih jelas.
“Apakah kau manusia???!” Tanyaku takut – takut. Jangan sampai kalau aku berurusan dengan bangsa yang selain manusia. hii… dengan segera kupejamkan mataku. Dan kucubit pipiku dua kali. Siapa tau ini hanya mimpi.
“AW!!” Jeritku.
“HEH?!” Seru seseorang di sebelahku. Aku membuka mata. Kini dihadapanku sudah nampak seorang gadis yang terbalut baju yang kuyup. menatap tajam kearahku. Segara kulihat kakinya.
“Huft…Syukurlah, kau manusia…” Ucapku.
PLETAK!!
Ia menjitak kepalaku. Aduh,,, sakit. Galak sekali gadis ini.
“HEI!! MR. TIDAK SOPAN!! SETELAH KAU MEMBUAT BAJUKU BASAH KUYUP BEGINI KAU MASIH MENGATAIKU BUKAN MANUSIA??!!” Jeritnya. Aku menutup telingaku. Suaranya melenking sekali. Ini jangan – jangan benar dia bukan manusia?
“Iya.. Iya. Maaf. Maaf. Aku engga tau kalo ada kamu dibawah. Maaf. Maaf.” Ucapku perlahan. Takut suara melengking itu akan keluar lagi. Rasanya seperti Bom Hiroshima dan Nagasaki yang akan meledakan telingaku.
“Begitu dong! Dari tadi. Pake ngatain aku makhluk halus lagi.” Jawabnya.
“I…Iya..” Jawabku terbata – bata. Aku masih ragu, dia ini manusia atau bukan.
TUK..TUK..TUK..
Kucolek tangannya perlahan. Memastikan bahwa ia benar – benar manusia.
“Yaaa!!! Kau!” Jeritnya. Kali ini dengan volume yang cukup membuatku terpental jatuh. Bukan berlebihan. Tapi memang suara gadis ini. Mungkin masuk dalam kategori bunyi Ultrasonik ya.
“Iya. Iya maaf. A..aku hanya memastikan saja kok. Lagian kamu ngapain malam – malam dibawah jembatan? Bertapa?” Tanyaku polos.
“Kau sudah sinting ya? Ngapain coba bertapa di bawah jembatan. Aku mencari sapu tanganku yang hilang.” Jelasnya. Apa? Hanya sapu tangan?? Untuk resiko besar yang ia hadapi? Sudah gila apa dia? Dia yang gila, mengataiku sinting.
“Hanya untuk sehelai sapu tangan? Untuk resiko sebesar ini?” Tanyaku berterus terang. Aku tak habis pikir. Ia nekat sekali.
“Iya. Tapi bukan sapu tangan biasa. Itu sapu tangan peninggalan mamaku.” Jelasnya. Kemudian ia tersenyum ramah padaku. Gadis ini bisa tersenyum juga rupanya?
“Memang mama mu kemana?” Tanyaku polos.
“Sudah tenang di surga. Hehe.” Jawabnya seraya tertawa kecil. Angin dingin menerpa wajahku. Tentunya menerpa wajah gadis itu juga. Tak bisa kubayangkan seberapa dinginnya ia saat ini. Maaf. Bukan maksudku mengungkit masalahnya.
“Maafkan aku… ya..” Ucapku penuh rasa bersalah. Segera kulepas baju hangat yang kukenakan. Dan kuserahkan padanya.
“Pakai ini. Aku akan membantumu mencarinya.” Tuturku. Ia hanya tersenyum. Baru kusadari, itu senyum tertulus yang pernah kuterima.
“Oh iya, namaku Kaito.” Tambahku.
“Aya. Nishizaki Aya.” Lanjutnya
=FLASHBACK END=
“Ah, Aya-chan.. tidak terasa sudah tahun ke lima dari waktu itu. Membayangkan wajahmu saat pertama, membuatku semakin merindukanmu.” Gumamku sendiri. Seraya menatap kebawah jembatan. Tempat dimana Aya meneriakiku untuk pertama kali. Haha. Nostalgia masa lalu.
“Kaito…” Tegur seseorang dari sebelahku. Aku menoleh, ternyata dia yang kutunggu – tunggu.
“Akhirnya kau datang juga!” seruku gembira. Ia hanya menatapku datar, tanpa ekspressi. Apakah ada sesuatu yang buruk?
“Aya-chan.. ada apa denganmu? Apa kau sakit? Beritahu aku apa yang menganggumu..” Ucapku. Tanganku menggenggam kedua pundaknya. Ia masih dalam kebisuannya. Menunduk tanpa alasan.
Aku memeluknya…
“Tolong.. jangan diam seperti ini. Kumohon bicaralah!” ia melepaskan pelukanku. Menatapku nanar. Ada apa ini?
“Aya-chan, ada apa?!” seru ku.
“Kaito-san.. maafkan aku.” Ucapnya tiba – tiba. Hah? Maaf? Untuk apa??
“Kenapa? Kenapa kau minta maaf?” tanyaku.
“Dua hari lagi aku akan menikah. Aku mohon, lepaskan aku.” Ucapnya. Seketika mulutku terkunci. Apa ini?
“A.. APA?” tanyaku tidak percaya. “Tentunya kau bercanda bukan?haha. Aya-chaan ini tidak lucu. Sama sekali tidak lucu.” Lanjutku.
“Aku serius. Aku minta hubungan kita berakhir sampai disini saja. Tolong lepaskan aku.” Jelasnya.
“Tapi kenapa??? Kenapa tiba – tiba begini?! Aya–chan! Jelaskan padaku semuanya!! Kenapa kau berlaku secara sepihak begini!!” Erangku tidak percaya. Ini apa? Kenapa begini?
“Aku akan menikah dengan Keinichi. Sudah dua tahun ini aku kembali menjalani hubungan dengannya. Maaf Kaito-san, Maaf. Dia cinta pertamaku. Jujur, kuakui aku masih sangat mencintainya. Makanya, ketika ia menyatakan masih menyukaiku. Aku.. aku menerimanya.” Jelasnya.
Aku membisu. Jadi… selama ini ia menjalani hubungan dibelakangku? Saat aku sedang melanjutkan study ku diluar kota ini? Tapi kenapa? Kenapa harus dengan Keinichi?
“Oh iya, ini undangan pernikahan kami. Kalau sempat dan kalau tidak keberatan. Aku mohon kamu datang ya.” Ucapnya. Ia memberiku sebuah Amplop berwarna putih. Bertuliskan “Keinichi dan Aya”. Memberiku yang masih membisu mendengar kenyataan yang terpampang jelas dihadapanku.
“Aku pulang dulu, sudah malam. Sebaiknya kau juga pulang. Udara sangat dingin. Jaga dirimu.” Tuturnya. Lalu berlalu meninggalkan aku yang masih berdiri tanpa kejelasan.
BRUK!!
Pertahananku runtuh seketika. Apa ini? “dia” yang kutunggu. Dia yang selalu kulihat. Ternyata, menghianatiku secara sepihak??? Kenapa??
“Kamu….. kenapa harus dengan Keinichi…? Si sempurna itu..”
***

(belum selesai ~~~)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar