My Second
Family
Dita Hyun Rin
Aku. Diriku. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Entah mengapa dan
bagaimana bisa aku kehilangan diri dan jiwaku di sini. Di tempat dimana pertama
aku memilih serta menjalani. Mungkin bisa dikatakan aku, diriku, seperti
manusia bodoh yang dengan mudahnya mengikuti orang begitu saja. Sesal yang
kuhadapi selanjutnya, rasanya seperti imbalan yang pantas kuterima.
Kekecewaan beruntun yang menyambutku. Teman – teman yang pergi meninggalkanku.
Saling berikatan bersama kelompoknya masing – masing. Meninggalkan ragaku
sendirian. Ah! Buat apa kuratapi lagi, dari awal aku memang sendiri bukan?
Bertahan untuk waktu yang selama ini. Menjalankan janji untuk setia
bersama komitmen yang diucapkan. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Untuk
waktu yang kurasa cukup, ini terlampau mengesalkan. Bertahan dalam diam.
Mencoba tertawa sekenanya, hal itu membuatku lelah. Dan mencoba cara lain untuk
beralih.
Di sebuah tempat yang lain. Di mana tempat yag dikenal sebagai tempat
yang tersisih. Aku masuk kedalamnya. Seperti orang bodoh yang terlampau tak tau
arti pentingnya pendirian. Aku masuk ke dalamnya. Mengikuti segala
rutinitasnya, yang kurasa baru dan menyenangkan. Menemukan senyum yang baru, tertawa
dalam ketulusan yang ada, menemukan arti apa itu keluarga, dan mencapai
berbagai kesenangan yang sempat kupikir tiada mungkin akan kudapatkan. Dimana
itu? di PRAMUKA GAYA TIGA BELAS. Keluargaku, sahabatku, senyumanku.
Bertemu dengan manusia – manusia baru yang menurutku cukup aneh. Membuka
tangan untuk menyambutku dengan hangat. Menerima hatiku yang kecewa di sisi
lain. Tersenyum, Tertawa. Hal yang tak kuterima sebelumnya. Dan disini aku
menemukannya. Bersama manusia – manusia yang baru kutemui. Dengan pribadi serta
rupa yang berbeda. Dan entah mengapa hal itu membuatku merasa nyaman berada
dalam lingkungan ini. Bersama manusia – manusia ini. Membuatku merasa
disayangi. Hehe.
Ka Bakro. Orang ini, entah kenapa aku mellihat sosok ‘ayah’ darinya. Mungkin
karena wajahnya sedikit menyerupai ayahku sendiri. Orang ini, tingkahnya yang
tiada dapat diterka, apa yang diucapkannya memberikan pengaruh yang tidak
terduga. Sedikit licik, namun baik. Itulah yang kusimpulkan darinya.
Kak Chandra Hermawan. Orang ini seperti memiliki kepribadian yang
berbeda – beda. Terkadang dia terlihat sangat menyebalkan. Namun, terkadang
pula terlihat sangat kasihan. Sejujurnya, aku sendiri melihat jiwa kesepian
pada orang ini. Sifatnya yang selalu dibuat – buat, perilakunya yang aneh namun
luar biasa, semakin memperkuat persepsiku akan orang ini. Pertama kali aku
melihat orang ini, aku seperti melihat kepala sekolah SMP ku yang menceramahiku
selama dua jam tanpa henti.
Haha.. itulah dua orang alumni yang paling sering kulihat. Yang mungkin
lebih lama bersamaku dibanding yang lain. Bukan aku membandingkan. Namun,
inilah yang kusaksikan. Dari kacamata awamku yang tidak melihat dari awal.
Kak Fajar Syahreza. Orang ini, sejujurnya aku tak membencinya sejak awal
pertama. Dia baik, ramah, namun lama kelamaan semakin menakutkan. Dan tentunya
menyebalkan. Ketika karakter aslinya terbuka, semakin menambah kekesalanku
padanya. Pelupa, tidak mau disalahkan, melampiaskan kekesalan pada orang yang
dibawah tingkatannya, berucap seenaknya, menghina orang tanpa berfikir. Ya…,
walau dirimu ‘senior’ bukan berarti bisa menindas kami sesuka hatimu bukan?
Sebenarnya dia baik. Tapi kelakuannya seperti membunuh budi baiknya. Yang dapat
kusimpulkan dari orang ini “dia menyebalkan”.
Yah.. itulah yang dapat kulihat dari kakak kelas tiga. Kenapa hanya kak
fajar? Karena sesungguhnya dial ah yang paling sering kusaksikan secara
langsung. Sekali lagi kuterangkan. Kaca mata awamku yang tidak berjalan dari
awal. Hehe. Oke lanjut,
Kak Dicky. Kakak DA yang pertama kali kukenal. Ramah, jayus, baik,
itulah yang dapat kusimpulkan darinya. Dia kakak kelas sebelas yang selalu
menyapaku setiap kali bertemu. Menyapa dengan ceria walau terlihat aneh. Haha. Walau
sedikit ngambekan tapi tetap berkesan dimataku. Kak, saya dan angkatan
saya mohon jangan tinggalkan kami sendiri. Berjuang sendiri sungguh melelahkan.
Saya dan yang lain menyayangi kakak. Maka itu kami mohon jangan menjauh.
Kak Dina. Kakak DA pacarnya kak Dicky. Sama baiknya. Dan hampir sama
sifatnya ! hehe. Dia ini care banget. Hal inilah yang membuatku
menyayanginya. Membuatku melihat sosok kakak perempuan darinya. Kak Dina, tetap
bersama kami ya kak. Kami semua sayang kakak.
Kak Taufik. Kakak yang paling kusayangi. Ahaha, lebay ya? Tapi
iya. Berawal dari kerjaannya orang ini yang melihat – lihat catatan facebook
ku. Tiba – tiba chat. Dan selanjutnya, memegang rahasiaku. Awalnya, aku
sedikit merasa kesal dengannya. Bukan karena apa, kesal saja. Tapi, ketika
WLS(Wisata Liburan Sekolah) disaat aku harus pergi oleh karena sesuatu yang
mendadak. Ucapannya membuatku melihat seperti apa dirinya yang sesungguhnya.
Orang yang baik, namun terlihat kasar. Jiwa yang lembut namun terpaksa acuh.
Itulaah yang kulihat. Pribadi yang menyenangkan namun terlihat membosankan.
Dari beberapa acara yang ada, yang sungguh membuatku merasa menyayanginya ialah
ketika Bantara Susulan dan Acara di Cibodas. Entah mengapa. Aku melihat dia
sebagai sosok kakak laki – lakiku yang sesungguhnya. Meledekku, menjagaku,
Haha. Aku memang terobsesi memiliki kakak. Lelah untuk berdiri sendiri dan
menjadi dewasa. Biarlah, dia menganggapku atau tidak. Yang terpenting aku
sangat menyayanginya. Hehe. Namun, dirinya yang kini berada dirumah yang
berbeda. Membuat aku dan yang lain merasa sepi. Dialah yang paling memerhatikan
kami. Pesan dari ku sendiri, kak tetap jadi ‘kakak’ dita ya. Hehehe. Dan juga
‘kakak’ anak PRAGALAS yang lain. Kami semua menyayangimu.
Kak Arfai. Kakak yang ‘aneh’ menurutku. Yang lain mungkin saja
berpendapat hal yang sama. perilaku anehnya justru membuat kesan’cool’ di
dirinya. Entah mengapa. Seperti tokoh komik di manga “Kin Iro No Corda” Keiichi Shimizu aneh, tapi keren.
Pribadinya yang seperti memiliki dunia sendiri(menurutku) susah untuk ditebak.
Walau dia tak mengakui kami sebagai adiknya. Kami hanya ingin dia tau. Bahwa
kami sangat menyayanginya. Maka itu,tolong jangan acuh terhadap kami.
Kak Sheby. Kakak yang aneh pula. Senang melakukan hal
yang tidak biasa dilakukan. Pribadinya sejujurnya membuatku penasaran. Dia
orang yang baik namun terlihat jahat. Sehingga orang memberikan label”jahat”
kepadanya. Dan dia senang akan hal itu? hidupnya seperti tanpa beban. Bebas,
lepas, bahagia. Seperti bulu yang melayang diudara. Aku iri pada kakakku yang
satu ini. Dia selalu membuat orang yang ada didekatnya bahagia dengan tertawa.
Memberikan kesan yang tidak terlupakan darinya. Haha. Saya dan angkatan saya
menyayangi kakak. Sangat sayang. Untuk waktu yang kakak habiskan untuk kami.
Begitu berarti untuk kami. Kak, mohon jangan pergi. Sesungguhnya kami butuh
kehadiran kakak. Jangan menjauh. Membuat kami merasa kehilangan.
Kak Rhavy.
Kakak ini, keren sekali. Dia baik. Sangat baik. Yang tiada pernah aku lupakan,
ketika ia mengajariku “kimia” aku merasa sangat mengerti! Dan membuat persepsi,
kakak ini sangat baik dan murah hati. Namun, semakin lama. Entah mengapa aku
tiada melihat kakak? Kakak kemana? Dimana sosok kakak yang peduli itu? kemudian
kakak muncul dengan sosok yang lain disuatu kesempatan. Bukan aku menyalahkan
keadaan. Hanya, salahkan bila adik menginginkan sedikit kepedulian? Saya dan
angkatan saya merindukan sosok ka Rhavy yang dulu. Yang paling semangat membantu
adik – adiknya, yang hangat dan terbuka. Kak saya dan angkatan saya menyayangi
kakak. Maka itu jangan menjauh kak.
Sekiranya,
hanya ini yang dapat kutulis dari kakak kakak Dewan Ambalan. Bukan aku tak
menganggap yang lain. Sekali lagi ku terangkan. Aku melihat dari kaca mata
awamku yang tiada berjalan dari awal. Inilah yang kutulis, inilah yang
kusaksikan.
Nadya. Teman
satu kelasku, teman yang menjerumuskanku ke dalam oraganisasi ini. Aku
berterima kasih padanya. Dia membuatku masuk kesini. Mengenal kebahagiaan dan
kenyamanan yang tiada aku temukan. Dia orang yang berpendirian teguh. Serta
berhati keras. Sosok kakak yang baik. Kuat, tidak mudah menangis dan jatuh. Hal
itulah yang membuatku nyaman dengannya. Sifatnya yang tiada bisa diterka. Jalan
pikirannya yang entah kemana. Membuatku semakin penasaran dengannya.
Dea. Orang
yang membuatku hampir keluar serta tetap bertahan di sini. Orang yang sangat “care”
walau sedikit menyebalkan terkadang. Tetapi, semua itu tertutupi oleh sikapnya
yang dapat dengan mudah menyayangi orang lain. Menganggapku seperti sosok
adiknya. Hahaha. Membuatku melihat sisi lain dari dirinya. Pemikirannya yang
dewasa. Membuatku kagum padanya.
Probo. Orang
yang ramah dan terbuka. Pendengar yang baik, walau sedikit ‘ngambekan’ ciri
melankolis. Untuk beberapa kesempatan yang kulewatkan dengannya, aku melihat
pemikirannya yang dewasa. Jauh daripada aku. Namun, tidak dibarengi dengan
perilakunya yang tidak seharusnya. Sesaat dia bisa menjadi orang yang
diandalkan, sesaat kemudian menjadi pribadi yang menyenangkan. Dirinya itu
sangat unik. Sering mengingatkan aku laksana seorang kakak yang baik. Sering
memanggilku”penulis” hahaha. Aku merindukan sosoknya yang hangat seperti itu.
kemana dirimu saat ini? Kami tiada melupakanmu. Ayolah.. kami butuh dirimu. Jangan
pergi. Kita keluarga bukan?? Kembalilah. Jangan bersembunyi terlalu lama. Kami
sangat menyayangimu.
Della. Orang
yang selalu hebat dimataku. Pengalamannya sungguh luar biasa. Sangat berbanding
terbalik dengan aku yang seperti ini saja. Orang yang ternyata teman sekolah
dasarku serta pernah satu kelas. Hahahaha. Kumohon, tetap peduli ya. Tetap ada
disini. Kita keluarga kan?
Lintang. Orang
yang unik. Dia selalu terlihat bahagia. Selalu bersinar seperti bunga matahari.
Menurutku. Tidak pernah berpikir akan sesuatu yang aneh. Sangat keren! Walau
terkadang dia seperti yang paling jauh denganku.
Anis. Orang
terhebat yang pernah kutemui. Aku mengakuinya bukan sebagai sosok ‘kakak’ entah
mengapa. Tidak pernah bisa. Dia hebat, tapi untuk dewasa. Menurutku dia tidak
dewasa. Menangis ketika kelaparan atau kesakitan. Hahaha. Seolah memudarkan
pesonanya ketika memiliki peran. Terkadang aku iri padanya. Dunianya begitu
bebas. Bisa memilih apa yang dia inginkan. Bisa terlepas dari ikatan ini.
Memiliki pendukung yang tiada terkira. Berbanding jauh denganku. Namun, aku
tidak menginginkan menjadi sepertimu. Aku, ya hanya seorang Dita. Gadis biasa
yang berpikiran sederhana. Tidak terlampau tinggi sepertimu. Hehe.
Ai.
Sesungguhnya aku bingung ingin menulis apa tentang dia. Perannya yang hanya
sementara, membuatku ragu padanya. Komitmennya yang tiada terjaga, membuatku
kecewa padanya. Keegoisannya yang besar serta rasa tidak mau untuk berkorban
setidaknya cukup menyakinkanku bahwa baginya oraganisasi ini bukanlah apa –
apa. Sejujurnya aku bingung.
Sepertinya ini
akhir dari tulisanku. Aku bukan orang yang pandai merangkai kata menjadi
kalimat. Ataupun merangkai makna menjadi kata. Aku hanya gadis biasa yang hanya
bisa berbicara melalui tulisannya. Berkata melalui apa yang ia torehkan. Dan
sesungguhnya itulah ungkap terjujur dari dirinya. Dan seperti yang selalu kusebutkan.
Tulisan ini kubuat berdasarkan kacamata awamku yang tidak berjalan dari awal.
Maka itu kumohon maafkan aku bilamana kurang berkenan. Sekali lagi aku hanya
menuliskan apa yang aku rasakan.
Dan orang –
orang yang tiada kusebutkan disini. Bukan berarti aku membenci kalian. Aku
hanya kurang mengenal kalian. Aku ini tidak berjalan dari awal. Maka itu
kumohon maafkan aku. Datang di saat yang tidak tepat.
Dita selalu
menyayangi kalian semua…..
PRAMUKA GAYA
TIGA BELAS. My Second Family.
***
Selesai deh… heheheheheh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar