Halaman

Selasa, 23 Juli 2013

Renungan Senja [Cerpen]

Cerita ini kaya hidup gue sekarang wkwkwkwk.


Renungan Senja
(Dita Hyun Rin)


………
Take Me Back To The Start..
When You Captured My Heart…
You Became My Closest Friend..
Said You’ll Be There Till The End…
And I Know That I Was Wrong..
When I Told You Everything..
……….(“North – Picture Of You”)
You Leave Me Alone….
****
Kulepas earphone ungu yang bertengger di telingaku dan terkoneksi dengan MP3 PLAYER ku. Sepertinya aku tak mampu untuk melanjutkan lagu yang terputar secara otomatis di MP3 PLAYER ku itu. Sungguh terlalu serupa dengan kisahku. Kisahku dengan seseorang.

Kutatap lekat langit kemerahan itu. Dari balik sudut jendela kamarku yang telapisi kaca dengan sempurna. Nampak wajah jalanan dengan persawahan kecil ditepinya. Diwajah jalanan itu terlukis bayangan bergerak dari si penguasa angkasa yang tengah membenamkan diri. Walau kutahu hal itu hanya ilusi. Karena matahari tidaklah bergerak memutari bumi. Tidak ada satupun jiwa manusia yang terlihat tengah melakukan aktivitasnya. Sepi. Tepat sekali.

Kubuka jendela kamarku yang tertutup itu. Dapat kulihat suasana sepi yang makin menguat. Gradasi warna yang makin jelas antara hitam, orange, dan kuning. Makin jelas. Setitik angin malam menerpa wajahku tepat. Membuat jilbab ungu muda yang kupakai berayun – ayun dengan sendirinya. Layaknya ombak di tengah lautan.

Bumi memang selalu berotasi. Berputar pada porosnya. Oleh karena itu waktu selalu berganti dengan cepat. Ada siang, dan adapula malam. Semua berjalan dengan biasa. Seiring dengan itu berbagai pergantian dan perubahan bergerak naik dan turun. Yang diatas turun kebawah. Yang dipuncak jatuh kebawah sedikit – demi sedikit ataupun terpelanting secara langsung. Dia yang baik dan sopan mendadak jahat dan tidak mengerti akan sopan santun. Semua berubah dengan sendirinya. Itulah hidup. Berputar, berotasi, berganti.
Begitupun sikap dan perkataan seseorang. Dia yang semula membuat janji setia. Berubah menjadi pembohong yang sempurna. Dia yang membanggakan diri dengan kejujuran. Mendadak seperti penipu yang kehilangan urat malu di tubuhnya.

“Kesendirian ini cukup menyadarkanku…,” desahku sendiri.

Kutundukkan kepalaku. Senja ini membuatku berpikir. Tentang kebodohanku, tentang dia yang meninggalkanku, dan tentang segala yang menjauh dariku. Aku sendiri. Seharusnya aku mengingat itu. Dan mengukir jelas di relung hatiku sendiri. Aku sendiri. Untuk apa berharap mereka akan bersamaku. Tentunya aku tidak mencari jarum diantara tumpukan jerami bukan? Atau membandarkan air kebukit. Melakukan segala yang sia – sia. Hingga aku memboroskan diriku sendiri. Perputaran ini, pergantian ini. Menghabisi perasaanku dengan sempurna.

Memang tidak boleh untuk menaruh dendam atau kebencian kepada makhluk lain ciptaan-Nya. Maka itu, aku hanya merutuki keadaanku sendiri. Yang dengan bodohnya menaruh kepercayaan dengan berkata segalanya. Yang pada akhirnya aku berteman dengan kesendirianku kembali. Perubahan yang begitu cepat.

Kuambil buku diary ku yang tersimpan rapi di lemari bajuku. Tersembunyi. Agar tidak ada seorangpun yang tahu keberadaan isi hatiku. Dan bagaimana kabarnya. Biarlah hanya kusipan sendiri dan Allah yang tahu.

Kutatap halaman depan buku itu. Kali ini benar, tidak dapat kubendung cairan bening ini. Beberapa sosok manusia tersenyum bersama. Kebahagiaan seperti milik mereka. Indah. Namun, tak kusangka akhirnya jadi begini. Sekali lagi kutekankan. Perputaran ini begitu cepat. Perubahan ini sama sekali tidak terduga.

Mungkin aku terlampau melankolis. Terlampau membawa segalanya ke dalam perasaanku sendiri. Terlampau berlebih untuk menaruh harap. Sehingga, ketika semua melupakanku. Sedihku seolah tiada berakhir. Berkepanjangan dan tentunya berlebihan. Namun percayalah. Bukan aku. Bukan aku yang menginginkan untuk hidup seperti ini. Tapi jika ingin menyalahkanku, silahkan saja. Walau aku tidak tahu ada dimana salahku. Biarkan semua menjadi tanggung jawabku.

Senja ini semakin menuju titik sirkum akhirnya. Gelap meremang datang menyelimuti langit kemerahan ini. Gradasi yang sedari tadi nampak juga sudah tinggal di ingatanku saja. Tidak ada lagi terpaan angin yang mengayunkan kerudungku dan menerpa wajahku. Yang ada hanya dingin malam yang mulai sedikit demi sedikit merasuk dan menguasai penjuru kamarku.

Ternyata sudah cukup lama. Kuseka air mataku. Kudengar kumandang adzan pertanda Allah telah menyerukan untuk segera menunaikan ibadah shalat. Segera kututup jendela kamarku. Malam hampir tiba. Bukti nyata bahwasanya rotasi itu benar adanya. Kebesaran Allah, Tuhan Penguasa Alam.

Ku dekap erat buku yang sempat membuatku menangis itu. Sejatinya, walau aku sendiri. Aku tetap menyayangi dia atau mereka yang tergambar jelas di ingatanku. Terpampang nyata di buku itu. Dia atau Mereka yang sempat mengisi buku bahagiaku. Walau hanya sekejap dan kemudian membanting jatuh hatiku. Dengan pergi meninggalkanku. Tenang saja. Kamu atau Kalian tidaklah salah. Aku yang salah karena sempat menaruh harap yang lebih. Harapan bahwa kita akan berjuang bersama. Walau aku tahu Kamu atau Kalian hanya menginginkan sedikit manfaat dariku. Ah. Lagi – lagi aku terlalu melankolis.

Setidaknya kesendirian ini membuatku mengerti. Bahwa tidak seharusnya aku mempercayai siapapun. Karena bumi itu selalu berotasi. Berputar. Dan tentunya akan terjadi pergantian serta perubahan baik yang kecil hingga besar sekalipun. Begitupun sifat manusia. dapat berubah dengan sendirinya. Maupun ikatan persahabatan.

Yang awalnya didasari oleh rasa saling menyayangi dan mencintai. Berubah menjadi saling memanfaatkan dan kebohongan. Aku tidak tahu ada apa. Apa mungkin sejak awal hanya aku yang dianggap seperti demikian? Ah. Biarlah. Setidaknya hatiku tidak ikut berotasi. Aku masih dan akan selalu menyayangi.

Kugerakkan gagang pintu untuk berjalan keluar serta melangkah untuk mengambil air wudhu. Ditanganku telah tergenggem alat shalat yang akan kugunakan. Semoga setelah ini hatiku sedikit tenang. Terhapus segala sesalku. Karena hal ini terlalu memboroskan perasaanku. Lagi dan lagi aku kembali melankolis.

CEKLEK!

“Kakak! Ayo ke Mushola kak!” seru seorang gadis kecil yang terbalut mukena kuning di hadapanku. Melati, adikku. Ia menyambutku dengan senyum polosnya. Mengobati hatiku.

Aku tersenyum padanya.

“Ayo!” sahutku. Lalu ia mengamit lenganku.

Setidaknya aku harus menyadarinya. Mengoreksi sedikit kata yang terukir itu. Aku tidak sendiri. Ada Allah dan Keluargaku yang selalu bersamaku. Yang akan selalu hadir dan tidak terpengaruh oleh pergantian apapun. Akan selalu menyayangiku. Lalu untuk apa kupikirkan Dia atau Mereka yang telah menyakitiku?haha.

Selepas itu langit menjadi benar – benar gelap. Malam sudah tiba. Tidak lagi hampir. Begitupun hatiku yang telah tenang. Renungan senja itu. Cukup memboroskan hatiku. Hal yang sia – sia kembali. Hal yang tidak seharusnya kupertanyakan. Perubahan dan pergantian. Semua itu wajar. Semua itu biasa. Layaknya bumi yang berotasi ini.

***

Selesai


Jelek ya ? Maapin yaaa wkwkwk masih pemula :) 

Family is something that you can be there as always. They not ever leave you alone and sad. so, don't be too Far from them. because they're Everything for you.
(Dita)
terinspirasi dari sahabat gue :")


Biodata Narasi :

Dita Hyun Rin. Seorang penulis pemula yang tengah berusaha memupuk kembali semangatnya di dunia tulis menulis ini. Hanya gadis biasa. Yang melankolis dan sedikit plegmatis. Sedikit misterius, namun tidak jahat. Berbicara melalui apa yang ia tulis. Saat ini tengah berusaha di tingkat pertama di suatu SMA yang berada di Utara Jakarta. Untuk menjalain pertemanan dengannya, dapat meng-add akun FB nya “Aya Nishizaki” dan Twitternya “@DitaHyunR"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar