Renungan Senja
(Dita Hyun Rin)
Take Me Back To The Start..
When You Captured My Heart…
You Became My Closest Friend..
Said You’ll Be There Till The End…
And I Know That I Was Wrong..
When I Told You Everything..
……….(“North – Picture Of You”)
You Leave Me Alone….
****
Kulepas earphone ungu yang bertengger di
telingaku dan terkoneksi dengan MP3 PLAYER ku. Sepertinya aku tak mampu
untuk melanjutkan lagu yang terputar secara otomatis di MP3 PLAYER ku
itu. Sungguh terlalu serupa dengan kisahku. Kisahku dengan seseorang.
Kutatap lekat langit kemerahan itu. Dari balik sudut
jendela kamarku yang telapisi kaca dengan sempurna. Nampak wajah jalanan dengan
persawahan kecil ditepinya. Diwajah jalanan itu terlukis bayangan bergerak dari
si penguasa angkasa yang tengah membenamkan diri. Walau kutahu hal itu hanya
ilusi. Karena matahari tidaklah bergerak memutari bumi. Tidak ada satupun jiwa
manusia yang terlihat tengah melakukan aktivitasnya. Sepi. Tepat sekali.
Kubuka jendela kamarku yang tertutup itu. Dapat
kulihat suasana sepi yang makin menguat. Gradasi warna yang makin jelas antara
hitam, orange, dan kuning. Makin jelas. Setitik angin malam menerpa wajahku
tepat. Membuat jilbab ungu muda yang kupakai berayun – ayun dengan sendirinya. Layaknya
ombak di tengah lautan.
Bumi memang selalu berotasi. Berputar pada porosnya.
Oleh karena itu waktu selalu berganti dengan cepat. Ada siang, dan adapula malam.
Semua berjalan dengan biasa. Seiring dengan itu berbagai pergantian dan
perubahan bergerak naik dan turun. Yang diatas turun kebawah. Yang dipuncak
jatuh kebawah sedikit – demi sedikit ataupun terpelanting secara langsung. Dia
yang baik dan sopan mendadak jahat dan tidak mengerti akan sopan santun. Semua
berubah dengan sendirinya. Itulah hidup. Berputar, berotasi, berganti.
Begitupun sikap dan perkataan seseorang. Dia yang
semula membuat janji setia. Berubah menjadi pembohong yang sempurna. Dia yang
membanggakan diri dengan kejujuran. Mendadak seperti penipu yang kehilangan
urat malu di tubuhnya.
“Kesendirian ini cukup menyadarkanku…,” desahku
sendiri.
Kutundukkan kepalaku. Senja ini membuatku berpikir.
Tentang kebodohanku, tentang dia yang meninggalkanku, dan tentang segala yang
menjauh dariku. Aku sendiri. Seharusnya aku mengingat itu. Dan mengukir jelas
di relung hatiku sendiri. Aku sendiri. Untuk apa berharap mereka akan
bersamaku. Tentunya aku tidak mencari jarum diantara tumpukan jerami bukan?
Atau membandarkan air kebukit. Melakukan segala yang sia – sia. Hingga aku
memboroskan diriku sendiri. Perputaran ini, pergantian ini. Menghabisi
perasaanku dengan sempurna.
Memang tidak boleh untuk menaruh dendam atau kebencian
kepada makhluk lain ciptaan-Nya. Maka itu, aku hanya merutuki keadaanku
sendiri. Yang dengan bodohnya menaruh kepercayaan dengan berkata segalanya.
Yang pada akhirnya aku berteman dengan kesendirianku kembali. Perubahan yang
begitu cepat.
Kuambil buku diary ku yang tersimpan rapi di
lemari bajuku. Tersembunyi. Agar tidak ada seorangpun yang tahu keberadaan isi
hatiku. Dan bagaimana kabarnya. Biarlah hanya kusipan sendiri dan Allah yang
tahu.
Kutatap halaman depan buku itu. Kali ini benar, tidak
dapat kubendung cairan bening ini. Beberapa sosok manusia tersenyum bersama.
Kebahagiaan seperti milik mereka. Indah. Namun, tak kusangka akhirnya jadi
begini. Sekali lagi kutekankan. Perputaran ini begitu cepat. Perubahan ini sama
sekali tidak terduga.
Mungkin aku terlampau melankolis. Terlampau membawa
segalanya ke dalam perasaanku sendiri. Terlampau berlebih untuk menaruh harap.
Sehingga, ketika semua melupakanku. Sedihku seolah tiada berakhir.
Berkepanjangan dan tentunya berlebihan. Namun percayalah. Bukan aku. Bukan aku
yang menginginkan untuk hidup seperti ini. Tapi jika ingin menyalahkanku,
silahkan saja. Walau aku tidak tahu ada dimana salahku. Biarkan semua menjadi
tanggung jawabku.
Senja ini semakin menuju titik sirkum akhirnya. Gelap
meremang datang menyelimuti langit kemerahan ini. Gradasi yang sedari tadi
nampak juga sudah tinggal di ingatanku saja. Tidak ada lagi terpaan angin yang
mengayunkan kerudungku dan menerpa wajahku. Yang ada hanya dingin malam yang
mulai sedikit demi sedikit merasuk dan menguasai penjuru kamarku.
Ternyata sudah cukup lama. Kuseka air mataku. Kudengar
kumandang adzan pertanda Allah telah menyerukan untuk segera menunaikan ibadah
shalat. Segera kututup jendela kamarku. Malam hampir tiba. Bukti nyata
bahwasanya rotasi itu benar adanya. Kebesaran Allah, Tuhan Penguasa Alam.
Ku dekap erat buku yang sempat membuatku menangis itu.
Sejatinya, walau aku sendiri. Aku tetap menyayangi dia atau mereka yang
tergambar jelas di ingatanku. Terpampang nyata di buku itu. Dia atau Mereka yang
sempat mengisi buku bahagiaku. Walau hanya sekejap dan kemudian membanting jatuh
hatiku. Dengan pergi meninggalkanku. Tenang saja. Kamu atau Kalian tidaklah salah.
Aku yang salah karena sempat menaruh harap yang lebih. Harapan bahwa kita akan
berjuang bersama. Walau aku tahu Kamu atau Kalian hanya menginginkan sedikit
manfaat dariku. Ah. Lagi – lagi aku terlalu melankolis.
Setidaknya kesendirian ini membuatku mengerti. Bahwa
tidak seharusnya aku mempercayai siapapun. Karena bumi itu selalu berotasi.
Berputar. Dan tentunya akan terjadi pergantian serta perubahan baik yang kecil
hingga besar sekalipun. Begitupun sifat manusia. dapat berubah dengan
sendirinya. Maupun ikatan persahabatan.
Yang awalnya didasari oleh rasa saling menyayangi dan
mencintai. Berubah menjadi saling memanfaatkan dan kebohongan. Aku tidak tahu
ada apa. Apa mungkin sejak awal hanya aku yang dianggap seperti demikian? Ah.
Biarlah. Setidaknya hatiku tidak ikut berotasi. Aku masih dan akan selalu
menyayangi.
Kugerakkan gagang pintu untuk berjalan keluar serta
melangkah untuk mengambil air wudhu. Ditanganku telah tergenggem alat shalat
yang akan kugunakan. Semoga setelah ini hatiku sedikit tenang. Terhapus segala
sesalku. Karena hal ini terlalu memboroskan perasaanku. Lagi dan lagi aku
kembali melankolis.
CEKLEK!
“Kakak! Ayo ke Mushola kak!” seru seorang gadis kecil
yang terbalut mukena kuning di hadapanku. Melati, adikku. Ia menyambutku dengan
senyum polosnya. Mengobati hatiku.
Aku tersenyum padanya.
“Ayo!” sahutku. Lalu ia mengamit lenganku.
Setidaknya aku harus menyadarinya. Mengoreksi sedikit
kata yang terukir itu. Aku tidak sendiri. Ada Allah dan Keluargaku yang selalu
bersamaku. Yang akan selalu hadir dan tidak terpengaruh oleh pergantian apapun.
Akan selalu menyayangiku. Lalu untuk apa kupikirkan Dia atau Mereka yang telah
menyakitiku?haha.
Selepas itu langit menjadi benar – benar gelap. Malam
sudah tiba. Tidak lagi hampir. Begitupun hatiku yang telah tenang. Renungan
senja itu. Cukup memboroskan hatiku. Hal yang sia – sia kembali. Hal yang tidak
seharusnya kupertanyakan. Perubahan dan pergantian. Semua itu wajar. Semua itu
biasa. Layaknya bumi yang berotasi ini.
***
Selesai
Jelek ya ? Maapin yaaa wkwkwk masih pemula :)
Family is something that you can be there as always. They not ever leave you alone and sad. so, don't be too Far from them. because they're Everything for you.
(Dita)
terinspirasi dari sahabat gue :")
Jelek ya ? Maapin yaaa wkwkwk masih pemula :)
Family is something that you can be there as always. They not ever leave you alone and sad. so, don't be too Far from them. because they're Everything for you.
(Dita)
terinspirasi dari sahabat gue :")
Biodata Narasi :
Dita Hyun Rin. Seorang penulis pemula yang tengah
berusaha memupuk kembali semangatnya di dunia tulis menulis ini. Hanya gadis
biasa. Yang melankolis dan sedikit plegmatis. Sedikit misterius, namun tidak
jahat. Berbicara melalui apa yang ia tulis. Saat ini tengah berusaha di tingkat
pertama di suatu SMA yang berada di Utara Jakarta. Untuk menjalain pertemanan
dengannya, dapat meng-add akun FB nya “Aya Nishizaki” dan Twitternya
“@DitaHyunR"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar