“Mama!!” Seru seorang gadis kecil yang tengah melangkah mendekatiku. Rambutnya dikepang dua. Wajahnya terbalut debu yang menghitam karena seharian menjelajah gudang belakang rumah. Namun, mata mungilnya tetap berbinar – binar terang tertimpa cahaya matahari yang hampir redup di senja hari. Tidak salah lagi, itu Fany anakku.
“ada apa Fan? Kamu sudah menemukan buku musik mama yang ingin kamu pakai?” Balasku dengan senyuman geliku. Menahan tawaku saat melihat wajah malaikat kecilku yang kini tampak dekil sekali.
“belum Ma, tapi aku nemu sesuatu nih!” Timpalnya dengan semangat. Ia menyodorkan lengannya yang disana tergenggam buku berdebu yang terbalut oleh sampul merah. Aku meraih buku itu dari genggaman tangannya. Dan menatapnya penuh tanda tanya.
“di covernya ada nama Mama dan satu orang bernama Sean, makanya aku bawa ke sini.”
Mataku masih tak dapat lepas dari wajah buku usang itu. Ingatanku berpendar mencari. Akhirnya sampai juga pada ujungnya. Itu memang Album foto yang telah lama kucari.
“Mama,lihat dong.” Pinta malaikat kecilku dengan memelas. Aku tersenyum padanya dan berkata,”iya, ayo duduk disini kita lihat bersama – sama.” Usai itu aku duduk di kursi yang letaknya tak jauh dari tempatku berdiri tadi, putri kecilku ikut mengikutiku.
Aku membuka halaman pertama, ada sebuah foto laki – laki muda berwarna hitam putih yang tengah bermain piano.
“..Cause,you’re Everything To Me...” Ia mengakhiri lagunya seraya mendentingkan pianonya.
“PLOK!!PLOK!!PLOK!! Waa!! Ka Sean!” Tepuk tangan yang sangat meriah dan sorak sorai menyambutnya hangat. Ia tersenyum. Manis sekali. Setelah itu lagu kedua di persembahkannya.
“CKREK!!” Aku memfotonya dari balik panggung. Dan tersenyum memandangi foto itu. Lalu menyimpannya di album Fotoku yang masih baru. Kado dari papa untukku.
tahun pertama SMA ku.
“Buku ini waktu itu berarti masih baru ya Ma?” tanyanya. Aku hanya mengangguk ramah. Menggerakkan tanganku membuka halaman kedua. Foto sekelompok orang yang tengah menyanyi bersama diiringi seorang pianis laki – laki dan seorang wanita muda disebelahnya.
“Wa,nanti fotoin ya pas aku sama anak – anak PADUS lagi pada tampil.” Bisik ku pada Najwa temanku yang duduk dikursi penonton seraya menyeahkan kamera film milikku.
“iya..iya.” balasnya. Aku segera berlari ke arah panggung.
Naas, aku kehabisan tempat. Aku gelisah. Semua penonton yakni para orang tua murid sudah siap ditempatnya masing – masing. Aku berpikir keras. Padahal, waktu latihan tidak seperti ini? Aku masih berdiri di pinggir panggung. Menatap melas seperti orang bodoh. Tiba – tiba ada tangan yang menggengam tanganku. Menariknya menuju panggung.
“Ka Se..Sean?” Tanyaku dengan terbata – bata.
“memang kau pikir siapa? Sudah cepat naik panggung mau nyanyi apa mau jadi penjaga panggung heh?” Tegurnya. Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi apapun. Ka Sean bicara padaku?
Acara dimulai..
“..nobody can’t stop me to say... i love you...” kami mengahiri lagu kami. Disambut tepukan riang oleh para penonton. Kami semua anggota PADUS tersenyum.
“suaramu bagus Tari.” Puji seseorang dari sebelahku. Yang tidak lain ialah Ka Sean. Ia pun tersenyum padaku. Aku buru – buru menoleh cepat. Jangan sampai wajahku yang memerah tertangkap basah olehnya.
“Najwa, tadi kamu foto tidak?” Tanyaku usai acara pada temanku Najwa.
“iya. Eh, sumpah deh bagus banget tadi penampilan kalian.” Pujinya seraya menyerahkan kameraku kembali. Aku segara mencuci foto itu dan memasukkannya kembali ke album milikku itu.
Tahun kedua...
“Wah! Mama keren!” Puji anakku dengan riang. Aku melanjutkan ke halaman selanjutnya. Ada seorang Laki – laki yang terlihat dewasa dan seorang Wanita yang memakai baju Toga. Mereka tersenyum cerah.
“cepat,cepat, bang bisa ga sih ojeknya ngebut sedikit lagi? Aku mau wisuda nih.” Keluhku dengan kesal seraya menatap jam tangan yang melingkar ditanganku.
“neng. Ini udah maksimal. Namanya juga motor tua neng.” Balas tukang Ojek yang dari tadi kena omelanku.
“ah..tinggal dua menit lagi. Berhenti di sini aja bang.” Omelku. Segera kukeluarkan lembaran uang lima ribu dari dompetku. Lalu mengangkat rok kebayaku serta selop yang membalut kakiku. Usai itu aku segera berlari dengan kencang. Samar – samar dari kejauhan aku mendengar panggilan si Ojek lelet itu,”Neng!!uangnya kurang!!” aku tertawa sendiri.
“hosh..hosh.. akhirnya sampai.” Helaku. Acara sudah dimulai. Untung saja semua baru saja mau mengenakan baju Toga. Aku segera mengenakannya. Dan berkaca di kaca spion motor yang parkir di dekatku.
“sudah cantik itu.” Ucap seseorang di belakangku.
“Ka Sean? Kakak datang juga ke sini?” Tanyaku bingung. Namun, ia hanya tersenyum kepadaku seraya menjitak kepalaku dan kemudian ia bergumam,”tentu dong kan calon istriku mau diwisuda.”
“APA?!” Aku terhenyak. Mulutku menganga seperti orang tolol. Ia segera menutupnya dengan telapak tangannya.
“Rio!!tolong foto kami!” Serunya seraya melambai ke arah teman laki – lakinya. Ia menyerahkan kamera miliknya. Dan kami berdua berfoto bersama.
Tahun terakhir..
Aku membuka lembar selanjutnya. Anakku mengeluh,”Ma, kok kosong mana lagi?”
Aku berfikir panjang. Menghela napasku. Lalu tersenyum ramah pada putri kecilku. “itu, kelanjutannya.” Aku menunjuk sebuah pigura berisi foto pernikahan yang difotonya terukir nama ‘Tari dan Sandy’.
“Ka Sean itu papamu. Papa Sandy.” Jelasku. Putriku hanya terheran seraya membandingkan foto yang ada di album dengan di pigura. Aku menegurnya seraya tertawa.
“Nanti, saat papamu pulang kerja kita panggil dia dengan nama ‘Papa Sean’ ya.” Bisikku padanya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar