Halaman

Selasa, 13 Desember 2011

Malam Hujan Di Terminal

(Dita Hyun Rin)

Gelap itu,
Gelap itu,
Menjadi saksi bisu langkah setapak yang berlalu..
Menjadi saksi gegap gempitanya manusia..
Diantara perhelatan mobil - mobil nan besar dan banyak.
Genangan air..
Yang tersibak oleh landasan bulat tak berperi,
Yang terus saja meningkatkan volume yang ia miliki..
Dengan sahabat setianya, air langit..
Serupa macam laku manusia,
dengan berbagai rupa dan keadaan..
tentunya,
Tak sedikit yang telah lanjut,
Tak sedikit pula yang sepantaran jagung..
Klakson kendaraan tak berhenti bernyanyi..
Walau dengan notasi yang serupa kaleng rombeng..
Seiring dentuman yang mengisi perhelatan panjang ini..
Itu tak berhenti sampai disini..

Dari sini dapat kutatap..
Dengan samar bola mata seorang anak yang sayu..
duduk sendiri dengan baju kuyup tanpa celah..
Dan rokok yang bertengger di mulutnya..
Yang terus saja ia kepulkan..
bagai kereta uap yang melaju keras..
Bajunya koyak...
Entah sengajakah atau tidak..
Kuperhatikan lekat - lekat..
Ia sebaya adikku..
kupegang rok abu - abu yang melekat ditubuhku,
Basah,dingin..
Tak dapat kubayangkan seberapa menyesaknya ia dengan tubuh serupa itu..
Kemudian sekelut anak besar menjamahinya,
Menarik paksa dirinya hingga hilang entah kemana..
Dari dalam angkot yang mengangkutku au hanya membisu..
dan sekali lagi hanya penonton..

Alam fikirku menerka - nerka..
Entah apa yang kan terjadi selanjutnya..
Pada ada bocah yang mirip adikku itu..
kasihan..

Selanjutnya mobil pun melaju,
Melintasi ribuan wajah terminal yang membisu..
Dihujami gemuruh air langit yang serasa merutuk..
Aku...
Aku...
Tetap tak bergeming...
Anganku masih melekat pada kelanjutan nasib si bocah yang mirip adikku itu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar