Why Did I Fallin Love With You?
(どうして…君を好きになってしまったんだろう?)
Author : @DitaHyunRin
Genre : SongFic
Length : OneShoot
Rating : G
Cast :
-Park Hyun Rin as Nishizaki Aya
-Cho Kyu Hyun as Yamashita Kaito
-Jung Yong Hwa as Matsumoto Keinichi
-Other Cast
Fanfict ini berdasarkan MV “Doushite Kimi Wo Tsuki ni
natte Shimattandarou” TVXQ. Namun, ada sedikit perubahan cerita. Hehehe. (tapi mirip mirip lah sama kisah ane sama seseorang di kelas samping wc cewek itu)
Disarankan saat membaca sambil dengerin lagunyaa. Biar
nge-feel aja gitu ^^v hehe. Maaf banyak typo~
Happy Reading ^^v
Kaito
POV
Malam
ini, langit terasa berbeda. Gelap menyeruak dan bintang tiada nampak walau satu
pun. Kabut yang tebal namun tiada terlihat. Menjadi pertanda bahwa kegelapan
malam ini benar – benar sangat.
Dingin
menelisik ke dalam sekujur tubuhku. Ku eratkan baju hangatku untuk mencoba
melawan rasa yang menusuk ini. Membekukan tulang – tulangku yang tiada
berbentuk ini. Namun, mengapa hatiku terasa gamang?
Kutatap
wajah jalanan. Dari atas apartemen tempat ku bersemayam saat ini. Gemerlap
lampu Ibukota mewarnai kegelapan ini. Merah, kuning, dan beratus warna lainnya.
Ditambah deru pasukan Ibukota yang seolah tiada matinya berlalu lalang.
Kumainkan jari jemariku. Menghitung tiap satuan si pasukan jalanan itu. Namun,
kegamanganku belum juga sirna. Masih membekas dan tinggal. Entah? Bila kau
tanyakan pun aku tak tahu mengapa. Apa ini firasat? Bukan… semoga.
Kurasakan
getaran ponsel dari sakuku. Sepertinya ada pesan masuk,
To :
Kaito-san
From : Aya-chan
Temui aku di tempat biasa…..
Ada yang mau aku bicarakan denganmu..
Aya? Ada apa?
tidak biasanya dia mengajakku bertemu malam – malam begini? Apa ada sesuatu
yang tidak baik dengannya? Atau dia merindukan aku?haha.
To :
Aya-chan
From :
Kaito-san
Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi padamu? L
Aku akan kesana secepatnya. Tunggu aku ya!!..^^
Dan kemudian kutekan tombol ‘send’ dan kupercepat
langkahku untuk bergegas menemuinya.
“Aya-chan! Tunggu aku!” Gumamku sendiri. Membayangkan
wajah cerianya menyambutku tentu akan sangat menyenangkan.
***
Kulayangkan pandanganku kearah gemerlap lampu kota
yang nampak berkelap – kelip dalam kegelapan malam. Dari sini, dari atas
jembatan layang yang menggantung diujung badan sungai. Semua terlihat
mengagumkan. Walau dibalik badanku berlalu lalang si tokoh jalanan. Tidak
salah, tempat ini menjadi tempat favoritku. Serta tempat pertama kali hatiku
terpaut dengan sesosok gadis yang sampai kini tinggal disisiku.
=Flashback=
“Aaa!!!” Jeritku memakan keheningan
malam.
Bagaimana tidak? Saat ini sudah
tengah malam. Seluruh penghuni jalanan mungkin sudah tersimpan baik di tempat –
tempat yang aman. Bersama si empunya. Paling – paling yang masih tetap tinggal
ialah gemerlap lampu yang membisu itu. Yang walau kuteriakan hingga pita
suaraku terlepas pun, cahaya warna – warni itu tidak akan membalas walau satu
kata sekalipun padaku.
Kuberitahu, hari ini sangat
menyebalkan! Untuk yang ke ratusan kalinya aku melakukan hal bodoh yang
menindas diriku sendiri. Aku disuruh mengerjakan tugas teman – teman, dan aku
sama sekali tidak punya keberanian untuk menolak. Bodoh!! bodoh!!
Meskipun hal tersebut bukan hal yang
rumit untukku. Karena, aku mendapatkan poin tertinggi di mata pelajaran itu.
Tapi tetap saja! Kenapa aku dan otakku selalu mau untuk ditindas. Padahal,
hatiku jelas menolak penindasan itu.
“Aaa!! Bodoh!!kau Mr. Kaito!!!”
Jeritku kembali. Tepat sekali, ditempat ini tidak terlihat satupun jiwa manusia
yang hidup. Oleh karena itu, pastinya tidak akan ada yang mungkin mendengarkan
rutukanku sekarang. Apalagi teman – teman yang menindasku. Mereka tidak akan
mungkin ada atau muncul disini.
“Kesal!!” dengan cepat kuambil batu
kerikil yang tidak jauh dari tempat dimana kuberpijak sekarang. Dan kulemparkan
ke sungai dibawah jalanan jembatan layang tempatku saat ini.
PLUK!!!
Bunyi riakan air yang ditimbulkan
oleh lemparanku terdengar menyentakkanku. Sedikit membuat kacamataku bercorak
basah oleh rintikan kecil cipratan air.
“HEI!!!!” seru seseorang.
“Hah?! Siapa itu??” aku tersentak.
Mataku menelisik kesekitarku. Mencari asal suara itu.
“Ya!!! Mr. Tidak Sopan!!!” seru suara
itu kembali. Aaa!! Itu suara dari mana?
Masa iya hantu memanggil – manggil namaku? Jembatan ini memang punya legenda
menyeramkan. Tapi masa iya? Hantu penunggunya memarahiku?aduh!
“Aku dibawah bodoh!!” serunya kembali. Aku melihat kebawah
jembatan. Tepatnya ditepian sungai yang berada dibawah jembatan ini. Sepertinya
ada sesosok manusia yang tengah berdiri? Segera kulepas kacamata yang memayungi
mataku. Dan kubersihkan dari corak rintikan air yang mengenainya. Agar
pengelihatanku bisa lebih jelas.
“Apakah kau manusia???!” Tanyaku
takut – takut. Jangan sampai kalau aku berurusan dengan bangsa yang selain
manusia. hii… dengan segera kupejamkan mataku. Dan kucubit pipiku dua kali.
Siapa tau ini hanya mimpi.
“AW!!” Jeritku.
“HEH?!” Seru seseorang di sebelahku.
Aku membuka mata. Kini dihadapanku sudah nampak seorang gadis yang terbalut
baju yang kuyup. menatap tajam kearahku. Segara kulihat kakinya.
“Huft…Syukurlah, kau manusia…”
Ucapku.
PLETAK!!
Ia menjitak kepalaku. Aduh,,, sakit.
Galak sekali gadis ini.
“HEI!! MR. TIDAK SOPAN!! SETELAH KAU
MEMBUAT BAJUKU BASAH KUYUP BEGINI KAU MASIH MENGATAIKU BUKAN MANUSIA??!!”
Jeritnya. Aku menutup telingaku. Suaranya melenking sekali. Ini jangan – jangan
benar dia bukan manusia?
“Iya.. Iya. Maaf. Maaf. Aku engga tau
kalo ada kamu dibawah. Maaf. Maaf.” Ucapku perlahan. Takut suara melengking itu
akan keluar lagi. Rasanya seperti Bom Hiroshima dan Nagasaki yang akan
meledakan telingaku.
“Begitu dong! Dari tadi. Pake ngatain
aku makhluk halus lagi.” Jawabnya.
“I…Iya..” Jawabku terbata – bata. Aku
masih ragu, dia ini manusia atau bukan.
TUK..TUK..TUK..
Kucolek tangannya perlahan.
Memastikan bahwa ia benar – benar manusia.
“Yaaa!!! Kau!” Jeritnya. Kali ini
dengan volume yang cukup membuatku terpental jatuh. Bukan berlebihan. Tapi
memang suara gadis ini. Mungkin masuk dalam kategori bunyi Ultrasonik ya.
“Iya. Iya maaf. A..aku hanya
memastikan saja kok. Lagian kamu ngapain malam – malam dibawah jembatan?
Bertapa?” Tanyaku polos.
“Kau sudah sinting ya? Ngapain coba
bertapa di bawah jembatan. Aku mencari sapu tanganku yang hilang.” Jelasnya.
Apa? Hanya sapu tangan?? Untuk resiko besar yang ia hadapi? Sudah gila apa dia?
Dia yang gila, mengataiku sinting.
“Hanya untuk sehelai sapu tangan?
Untuk resiko sebesar ini?” Tanyaku berterus terang. Aku tak habis pikir. Ia
nekat sekali.
“Iya. Tapi bukan sapu tangan biasa.
Itu sapu tangan peninggalan mamaku.” Jelasnya. Kemudian ia tersenyum ramah
padaku. Gadis ini bisa tersenyum juga rupanya?
“Memang mama mu kemana?” Tanyaku
polos.
“Sudah tenang di surga. Hehe.”
Jawabnya seraya tertawa kecil. Angin dingin menerpa wajahku. Tentunya menerpa
wajah gadis itu juga. Tak bisa kubayangkan seberapa dinginnya ia saat ini.
Maaf. Bukan maksudku mengungkit masalahnya.
“Maafkan aku… ya..” Ucapku penuh rasa
bersalah. Segera kulepas baju hangat yang kukenakan. Dan kuserahkan padanya.
“Pakai ini. Aku akan membantumu
mencarinya.” Tuturku. Ia hanya tersenyum. Baru kusadari, itu senyum tertulus
yang pernah kuterima.
“Oh iya, namaku Kaito.” Tambahku.
“Aya. Nishizaki Aya.” Lanjutnya
=FLASHBACK END=
“Ah, Aya-chan.. tidak terasa sudah tahun ke lima dari
waktu itu. Membayangkan wajahmu saat pertama, membuatku semakin merindukanmu.”
Gumamku sendiri. Seraya menatap kebawah jembatan. Tempat dimana Aya meneriakiku
untuk pertama kali. Haha. Nostalgia masa lalu.
“Kaito…” Tegur seseorang dari sebelahku. Aku menoleh,
ternyata dia yang kutunggu – tunggu.
“Akhirnya kau datang juga!” seruku gembira. Ia hanya
menatapku datar, tanpa ekspressi. Apakah ada sesuatu yang buruk?
“Aya-chan.. ada apa denganmu? Apa kau sakit? Beritahu
aku apa yang menganggumu..” Ucapku. Tanganku menggenggam kedua pundaknya. Ia
masih dalam kebisuannya. Menunduk tanpa alasan.
Aku memeluknya…
“Tolong.. jangan diam seperti ini. Kumohon bicaralah!”
ia melepaskan pelukanku. Menatapku nanar. Ada apa ini?
“Aya-chan, ada apa?!” seru ku.
“Kaito-san.. maafkan aku.” Ucapnya tiba – tiba. Hah?
Maaf? Untuk apa??
“Kenapa? Kenapa kau minta maaf?” tanyaku.
“Dua hari lagi aku akan menikah. Aku mohon, lepaskan
aku.” Ucapnya. Seketika mulutku terkunci. Apa ini?
“A.. APA?” tanyaku tidak percaya. “Tentunya kau
bercanda bukan?haha. Aya-chaan ini tidak lucu. Sama sekali tidak lucu.”
Lanjutku.
“Aku serius. Aku minta hubungan kita berakhir sampai
disini saja. Tolong lepaskan aku.” Jelasnya.
“Tapi kenapa??? Kenapa tiba – tiba begini?! Aya–chan!
Jelaskan padaku semuanya!! Kenapa kau berlaku secara sepihak begini!!” Erangku
tidak percaya. Ini apa? Kenapa begini?
“Aku akan menikah dengan Keinichi. Sudah dua tahun ini
aku kembali menjalani hubungan dengannya. Maaf Kaito-san, Maaf. Dia cinta
pertamaku. Jujur, kuakui aku masih sangat mencintainya. Makanya, ketika ia
menyatakan masih menyukaiku. Aku.. aku menerimanya.” Jelasnya.
Aku membisu. Jadi… selama ini ia menjalani hubungan
dibelakangku? Saat aku sedang melanjutkan study ku diluar kota ini? Tapi
kenapa? Kenapa harus dengan Keinichi?
“Oh iya, ini undangan pernikahan kami. Kalau sempat
dan kalau tidak keberatan. Aku mohon kamu datang ya.” Ucapnya. Ia memberiku
sebuah Amplop berwarna putih. Bertuliskan “Keinichi dan Aya”. Memberiku
yang masih membisu mendengar kenyataan yang terpampang jelas dihadapanku.
“Aku pulang dulu, sudah malam. Sebaiknya kau juga
pulang. Udara sangat dingin. Jaga dirimu.” Tuturnya. Lalu berlalu meninggalkan
aku yang masih berdiri tanpa kejelasan.
BRUK!!
Pertahananku runtuh seketika. Apa ini? “dia” yang
kutunggu. Dia yang selalu kulihat. Ternyata, menghianatiku secara sepihak???
Kenapa??
“Kamu….. kenapa harus dengan Keinichi…? Si sempurna
itu..”
***
(belum selesai ~~~)