Halaman

Minggu, 01 Juli 2012

Kak Fiki


 Kak Fiki
Dita Hyun Rin
“Lihat saja! Akan kutunjukan padamu bahwa yang kupikirkan itu bukanlah angin sesaat yang gampang berlalu begitu saja.” tuturku pada seorang gadis berseragam dan berkerudung yang kini berdiri dihadapanku seraya membawa alat menulis miliknya.
“Ah, aku tetap tak percaya. Lebih baik kamu itu berhenti berkhayal yang TIDAK PERLU ! kerjakan yang nyata! Yang kini berada dihadapanmu. Seperti pekerjaan itu !” balasnya seraya mengarahkan telunjuknya tepat dihadapan buku yang berada tepat dimejaku. Buku tugas milik temanku yang tengah kusalin.
“Ah! Capek ngomong sama orang yang ga punya daya imajinasi! Bilang saja ga mau ngasih liat kan? ngaku! Ini bukan bukumu tau!”sudutku.
“Ih! Apaan si? Kok malah meremehkan aku? Aku punya! Tapi aku bisa membedakan mana yang penting kukerjakan dan mana yang tidak!” Jawabnya ketus. Dengan wajah bersungut – sungut gadis itu berjalan meninggalkanaku yang tengah menatapnya sinis. “Dasar cewek bawel. Marah – marah terus kerjaannya.”keluhku sendiri.
***
Siang ini benar – benar mempesona. Sang surya tengah duduk di singgasana tertingginya di istana carawala. Angin terik yang menyapu wajahku. Seolah semakin membakar diriku yang tengah tersulut amarah. Peluhku berlinangan bak mata air ditengah kekeringan yang terjadi.

Kutata jam di dindig kamarku. Tepat pukul dua. Kuhempaskan tubuhku dikasur yang terdapat dikamarku. Sejenak kutatap langit – langit kamarku. Mendadak mood ku berubah! Membayangkan bagaimana bila langit – langit itu bisa terbuka? dan didalamnya aku punya laboratorium rahasia. Aku membuat berbagai penemuan. Menciptakan bom peledak yang luar biasa hebatnya. Pasti akan sangat keren. Dengan segera aku bangkit dari posisiku.  Kuraih kertas gambar  dan pensil yang berada di meja yang tak jauh dariku. Aku berjalan ketempat dimana aku biasa terpekur sendiri.  Disisi jendela kamarku. Kugambarkan segala yang terpikirkan olehku tadi.

“Keren kalau memang ada yang seperti ini!” gumamku sendiri. Namun, seketika mood ku kembali. Aku teringat pertengkaranku dengan Najwa di kelas tadi. Kulepaskan hasil gambarku dan kubiarkan kertas itu terjatuh entah kemana. Selepas pertengkaranku dengan Najwa, entah mengapa aku merasa sangat kesal. Lagi dan lagi ia menjelekkan apa yang kusuka? Siapa dia, mamaku? Menyebalkan. Bilang saja langsung kalau dia itu tak suka orang yang menyontek. Tapi aku kan tidak menyontek? Aku hanya melihat soalnya! Kemarin itu aku sakit. Apa dia tidak sadar?

“Ish! Mengesalkan!” Gerutuku. Aku berbalik untuk kembali kekamarku. Menyalakan Laptop milikku yang sedari tadi membisu sendiri diatas meja belajarku. Kutatap layar Laptop itu. Disana terpampang jelas tokoh animasi yang kusuka. ‘ASTRO BOY’ yang tengah membidikkan senjatanya. Wallpaper yang masih sama dari semenjak laptop ini diberikan kepadaku oleh almarhum kak Fiki. Masih tergambar jelas saat ia mengenalkan si ‘ASTRO BOY’ itu kepadaku. Kakak ku tersayang yang kini telah tenang di sisi-Nya.

“Kak Fiki….” Ucapku. Tanpa sadar air mataku mengalir. Kutundukkan kepalaku. Wajah Kak Fiki yang dulu selalu memberikan senyum tulusnya kepadaku semakin jelas. Senyum hangatnya yang mengenalkanku pada dunia ini. Kutegakkan kepalaku. Kutatap pigura yang berada disisi Laptop milikku. Seorang anak laki – laki tengah tersenyum bersama seorang pria berseragam SMA dan berkacamata di depan boneka serupa robot yang sangat besar. Tidak terasa sudah dua tahun kau pergi. Dan dua tahun sudah aku berhenti untuk berlatih membuat Animasi.

“Kak Fiki, kalau saja kecelakaan itu tidak pernah terjadi.” Sesalku. Kembali kutundukkan kepalaku. Dan aku pun tak menyadari kalau kini aku tengah terlelap sendiri.
***
“Fatih!! Fatih!!” Aku mendengar seseorang menyerukan namaku. Aku bangkit dari posisiku. Kutatap lekat orang yang tengah menyerukan namaku. Siapa dia? Kenapa dia seperti teman Astro boy ? aku menatap kesekitarku. Mataku membelalak. Ini seperti kelas di Anime Astro Boy?!
“Hei?? Fatih? Hari ini kita semua main kerumahmu ya! Kami ingin bertemu dengan Prof. Tenma!” Serunya.
“Hah?” ucapku. Itu bukannya pencipta Astro? Kutatap lekat diriku. Aku.. Aku Robot! Aku Astro Boy!
“Boleh tidak?” tanyanya meminta kepastian.
“Ten..Tentu saja boleh!” jawabku terbata – bata. Aku masih bingung dengan ini semua. Kenapa aku menjadi Astro Boy?
***
Kulayangkan pandanganku mengitari penjuru kota yang asing ini. Sebenarnya tidak. Karena aku sering melihatnya di Anime Astro boy. Tapi? Menjadi Astro? Hal yang tidak pernah terpikirkan olehku!
Saat  ini aku tengah berada di lantai atas gedung sekolahku. Seorang diri. terdiam, mencari tau apa yang terjadi.
“Hei Robot! Sedang apa kau? Merenungi nasib karena berbeda dengan kami? Hahahaha.” Tutur seseorang dari belakangku. Aku menoleh. Seorang murid perempuan tengah berjalan seraya menertawaiku.  Aku seperti tak asing dengan wajahnya. Najwa?
“Najwa?” panggilku.
“Apa?”  Ia menghentikan langkahnya dan menoleh kearahkuseraya menjawab dengan ketus. Aku ingat! Dia ini salah satu teman Astro yang membenci robot! “Ah.. apa kabar?” tanyaku.
“Kau sudah gila. Berani menyapaku.” Balasnya lalu berlalu. Dia jahat sekali.
“Kalau aku ini benar Astro, pasti aku bisa terbang dong? Astro kan punya roket di kakinya.” Gumamku. Lalu kupraktekkan gerakan yang dilakukan Astro sebelum ia terbang dan…
WUSSHH!!
Aku terbang!
Aku berputar – putar diangkasa seraya tertawa lepas. Aku Astro!!!
Sesaat aku terdiam. Aku melihat sosok seseorang seperti Kak Fiki dibawah sana. Benarkah itu ia? Didekat gerbang sekolah. Aku tersenyum dan segera terbang ke arahnya. Kak Fiki! Kuharap itu benar dirimu!
“Kenapa jaraknya sangat jauh? Rasanya aku tidak terbang terlalu tinggi. Kenapa tidak sampai – sampai?” keluhku. Orang serupa kak Fiki itu berjalan pergi. Orang itu menoleh. Rasanya seperti melihat kearahku. Benar!! Itu kak Fatih! Ia tersenyum ke arahku seraya melambai. Tidak! Kak! Tunggu Aku!! Aku akan kesana! Tunggu Fatih!!!
***
“Tunggu Fatih Kak!!” seruku. Dan kemudian aku terbangun dari tidurku. Kudengar mama tengah mengetuk – ngetuk pintu kamarku seraya memanggil namaku. “Fatih!! Ada temanmu!”

“Iya Ma!” Jawabku. Kulihat jam dinding telah menunjukkan pukul lima sore. Rupanya aku tertidur cukup lama. Dan yang lebih gila, aku bermimpi menjadi Astro dan melihat Kak Fiki. Dengan segera kupanggil tombol shutdown untuk mematikan laptop dihadapanku. Dan kututup pigura yang dimana fotoku terpampang jelas bersama Kak Fiki. Mengingatnya membuatku sangat sedih. Tadi sepertinya ia benar mengucapkan salam perpisahan untukku. Aku berlalu keluar kamar.

Kulihat diruang tamu tengah berdiri seorang gadis berkerudung yang tengah tersenyum menatapku. Wajahnya tidak asing. “Najwa? Ada apa?” tanyaku.

“Ini. Buku tugas yang tadi mau kau salin. Maaf ya, kalau kata – kataku sedikit keterlaluan tadi di kelas. Aku hanya tidak suka dengan sifatmu yang malas itu. Setelah ku ingat – ingat, hari sebelumnya kau ga masuk kan? Maaf ya, telah menjelekan hobimu.” Tuturnya seraya memberikan buku kepadaku.

“Iya. Aku juga minta maaf telah meremehkanmu. Tidak usah. Aku sudah menyalin soal dari buku milik Ami tadi pagi. Aku bisa mengerjakannya sendiri kok. Makasih ya.” Terangku.

“Yaudah deh kalo gitu. Aku pulang dulu ya. Assalamualaykum.” Ucapnya lalu berbalik dan berjalan keluar lalu menutup pintu. Sesaat pintu terbuka kembali. Gadis itu tersenyum kepadaku. Dan berkata,

“Bye Fatih Astro!”

“HA?” ucapku sendiri. Jadi, mimpi tadi? Ia juga memimpikannya? Aku berlari mengejarnya. Gadis itu sudah pergi entah kemana. Cepat sekali ia berlari?

“Kak Fiki, mimpi ini membuatku sadar. Kalau kau.. sudah benar – benar pergi.” Ucapku. Lalu kembali masuk kedalam rumah. Mataku tertuju pada surat yang berada di meja ruang tamu itu. Sejak kapan? Aku membukanya, air mataku berlinang kembali.

Fatih… maaf tidak memberitahumu sebelumnya. Aku, Najwa sebenarnya telah mengenal Kak Fiki sebelumnya. Ia teman kakak ku. Ia selalu bercerita tentangmu dan mimpimu untuk menjadi seorang animator. Karena ia sadar akan kemamuanmu dalam membayangkan sesuatu. Maaf. Aku baru memberitahumu sekarang. Tolong, jangan hentikan impianmu itu. Kupikir Kakakmu itu akan sedih juga bila tahu, adiknya hancur karena dirinya. Ingat… Kak Fiki pergi, bukan berarti mimpimu akan pergi juga. Kuharap kamu sadar akan hal itu.
Najwa

TAMAT

################
maaf jelek banget yaaa =====emang======= TT

1 komentar: