Mereka berempat segera bergegas ke kamarnya untuk tadarus. Yuuki malu sekali, diantara teman – temannya hanya ia yang belum lancar membaca Al – Quran. Dan belum pernah sekali pun Khatam. Hal ini dikarenakan, ia selau malas – malasan ketika belajar mengenai ini.
Setelah tadarusan, seluruh santri makan malam. Mereka makan bersama di sebuah ruangan yang sangat besar dan luas. Mcara makan di pesantren ini ialah Prasmanan. Yuuki bingung, mengapa makan saja harus seperti ini? Tetapi ia merasa senang. Ia dapat makan bersama dengan rasa kekeluargaan yang kental.
“ternyata…,makan seperti ini, nikmat sekali….” Gumamnya.
“Ya…,memang nikmat. Kita semua makan bersama, semua disini sama. Dan suasana kebersamaan lebih terasa.” Jawab Nilam.
“Ah…,Nilam. Gayamu pera seperti nasi kering.”
“hu…,memang benar koq.”
Esok hari, pelajaran – pelajaran agama akan mulai diberikan. Yuuki hanya bisa terbengong – bengong untuk membayangkan bagaimana keadaan dirinya esok? Mungkinkah ia akan mengenaskan?ataukah…, sebaliknya?Ia sampai pusing memikirkan hal itu.
Selepas shalat isya, Yuuki terus saja memandangi langit. Teman – temannya telah menuju tempat tidur dan tenggelam dalam mimpi masing – masing, nanti, pukul tiga, mereka akan dibangunkan kembali. Yuuki melihat kearah langit seakan ia akan dapat menggapainya. Namun apa daya, tangan tak sampai.
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Yuuki masih tenggelam dalam lamunannya yang tak berujung. Ia dikejutkan dengan ketukan pintu. Segera ia membukanya, ternyata seorang guru wanita berjilbab panjang.
“Assalamuaalaikum”
“waalaikum salam. Ada apa bu, kenapa pagi – pagi sekali?”
“kan menurut jadwal sekarang kita semua akan melaksanakan tahajud bersama.”
“oh…,iya bu. He..,he…,he. Saya bangunkan teman – teman dulu bu.”
“ya…,sudah, nanti cepat ke masjid. Ibu mau bangunkan yang lain.”
Dalam hati Yuuki Timbul suatu maksud untuk menjahili teman – temannya. Ia pun mengambil selimut dari dalam kopernya. Lalu ia memakainya dan membentuk dirinya seperti hantu. Lalu ia membangunkan teman – temannya dengan suara dering upin ipin di Hand Phone nya.
“Assalamualikum…ato…to..atok!!”
Teman – temannya masih belum terbangun. Ia pun menggantinya dengan suara dering hantu. Alhasil teman – temannya kaget dan terbangun. Lalu mereka terkejut dengan sosok Yuuki. Namun, semua tak sesuai harapan Yuuki. Bukannya takut atau apa, teman – temannya justru mengambil bantal mereka dan melempari Yuuki dengan bantal.
“Aduh…,aduh!!”
“Rasakan kau hantu, rasain.” Ujar Mai yang masih terus melempar dengan bantal.
“hei…,sudah!!...,ini aku Nisha.”
“Nisha?” Nilam menghentikan lemparannya.
“iya…iya…ini aku Nisha. Ah..kalian ini gimana, masa tak bisa membedakan mana hantu beneran dan mana yang bukan.” Nisha membuka selimutnya.
“ha…ha…ha…, maaf deh…,lagi ngapain sih bangunin pagi – pagi banget?” Tanya tika kemudian.
“amnesia ya? Kan kita ada jam shalat tahajud. Padahal tadinya kau yang bilang bangun pagi tak masalah.”
“yee…,biasa aja kali.” Tika melihat jam yang ada di dinding.
“wah…,benar. Sudah mau jam tiga!...,ayo cepat.” Serunya kemudian.
“iya…,nih udah mau jam tiga. Mandinya pulang shalat saja!” Seru Nilam.
Mereka pun bergegas mengambil air wudhu dan menyiapkan alat shalat mereka. Setelah itu mereka berempat segera beranjak ke masjid. Langit pagi itu begitu gelap. Namun, tak mengusik keramaian di pesantren itu. Ketika mereka sampai masjid sudah dipadati oleh santri – santri yang lain. Akhirnya, mereka menempati shaf belakang.
“Ah…,terlambat ne kita.” Ujar Mai pendek.
“iya…,betul..betul..betul…” tambah Tika.
“tunggu…,kayanya aku pernah dengar kata – kata itu deh?” Tanya Nilam.
“Itu…,Upin Ipin. Kamu tau filmnya yang di TPI?”
“oh…,yang Malaysia itu ya?”
“Iya…,si Nur…,udah gede juga, nonton gituan mulu.”
“Aku sih…,tidak pernah nonton. Tapi kalau Tika nih, nonton mulu.” Lanjut Mai.
“Ha…ha…ha…Tau aja kakak ku nih.”
“Ssst!...udah iqamah nih. Dah mau mulai. Diam.” Yuuki memberi Isyarat.
Seluruh santri melaksanakan shalat tahajud berjamaah. Setelah itu, mereka berdoa bersama, dan kemudian mereka kembali ke kamar masing – masing untuk menyiapkan barang – barang yang harus dibawa untuk memulai hari pertama pemberian materi.
Pagi pun tiba, untuk sarapan mereka makan bersama kembali. Lalu setelah itu mereka memulai untuk menerima materi. Para santri yang mengikuti program sementara itu pun segera mencari kelas yang di pintunya tertera nama – nama mereka. Yuuki sekelas dengan ke tiga temannya.
“Asyik!” kita sekelas nih.” Seru Mai.
“ya…,begitulah.” Jawab Yuuki pendek.
Bel masuk kelas pun berbunyi. Seluruh santri segera menyiapkan diri. Yuuki sebangku dengan Mai. Sedangkan Nilam sebangku dengan Tika. Tiba – tiba datanglah Wanita berjilbab panjang memasuki kelas. Yuuki mengenali wajahnya.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Waalaikum salam warah matullahi wabarakatuh.” Jawab paara santri serempak.
“beberapa mungkin merupakan murid baru. Nah, untuk awal…, perkenalkan nama saya Fatimah.”
“Iya…bu…eh..ka.”
“Ha…ha…,mungkin kalian bingung mau memanggil saya siapa. Umur saya baru 19 tahun. Saya lulusan pesantren ini. Namun, saya memilih untuk mengajar dan mengabdi di sini. Jadi, kalian panggil saya kakak saja.”
“iya…,ka Fatimah!” Seru santri – santri serempak.
Yuuki teringat, dia pernah menabrak seorang wanita muda. Ternyata dia itu guru. Yuuki termenung, ia memikirkan betapa anehnya ka Fatimah. Jarang sekali ada orang yang seperti dia. Terutama generasi muda jaman sekarang yang rata – rata malas sekali untuk belajar tentang agamanya, termasuk Yuuki sendiri.
“eh…Mai…, kamu tahu? Aku kan sudah pernah bertemu dengan ka Fatimah sebelumnya?”
“masa? Ketemu dimana?”
“beneran…, masa boong sih aku.”
“dimana emang? Bukannya kau bersama aku, Nilam, dan Tika aja?”
“Ga selalu kali. Kan waktu mau shalat magrib kalian ninggalin aku tuh.”
“he…,he…,he..jangan di ungkit lagi ah. Jadi malu nih.”
“huu.....”
“he…,he…,he. Terus?”
“Nah, pas aku lagi buru – buru ke Masjid aku nabrak seorang wanita. Tadinya aku kira dia santri juga. Eh…,taunya guru.”
“ha..,ha…,ha…,parah banget kau.”
“beneran! Serius deh. Tadi aja pada bingung mau manggil ka Fatimah siapa.”
“iya si…,betul..betul..betul..”
“Dia ngikut adenya juga.”
“biarin,.”
Setelah perkenalan itu, Ka Fatimah menjelaskan materinya, yaitu tentang Ketauhidan. Seluruh santri mendengarkan dengan penuh perhatian. Namun, dibarisan belakang, Yuuki dengan pulasnya tertidur. Ya…,karena malam itu ia tak tidur sama sekali. Ia terus memikirkan apa yang kan ia alami esok hari. Ternyata inilah keadaannya, ia tertidur pulas sekali. Padahal, dari cara mengajar Kak Fatimah termasuk pengajar yang menyenangkan. Ia komunikatif dan materi yang ia ajarkan takkan menjadi sebuah materi yang bisa dikatakan “basi”. Bagi Yukki hal ini seperti dongeng pengantar tidur Maybe .
*****