Halaman

Senin, 25 Juli 2011

Letter To DBSK


Untuk   : DB5K kami.
Dari      : Dita(Cassiopeia from Indonesia)


Untuk oppadeul ku… yang berada nun jauh di sana.
Annyeong oppadeul,
Bagaimana kabar kalian??semoga selalu sehat dan tetap dilimpahi kebahagian.
Aku adalah seorang Cassiopeia yang berasal dari Indonesia. Umurku 15 tahun pada tahun ini. Tapi aku telah memutuskan untuk menjadi Cassiopeia dari umurku 10 tahun. Tepatnya saat album “O Jung Ban Hap” kalian. Waktu itu aku benar – benar terkesima dengan penampilan kalian. Sampai sekarang pun tetap dan akan selalu terkesima.walau kini kalian tidak lagi seperti dulu.
Oppadeul, aku serta Cassiopeia lainnya di dunia ini paham betul seberapa menderitanya kalian selama ini. Sehingga kalian memutuskan untuk berpisah. Aku serta Cassiopeia lainnya tidak menyalahkan apa yang telah terjadi. karena kami yakin bahwa ini merupakan keputusan yang terbaik dari lubuk hati kalian. Tapi,walaupun begitu kami selalu berharap. Berharap dari lubuk hati yang terdalam bahwa suatu saat nanti. Kalian akan bersatu kembali. Ya.. itulah satu – satunya harapan kami. Harapan yang bertumpu pada Janji kalian “ALWAYS KEEP THE FAITH” ya..kami akan selalu yakin akan hal itu.
Oppadeul, meski kini kalian dilain sisi. Kami sangat bersyukur. Cassiopeia tetap Casssiopeia. Tidak berganti nama. Terima kasih oppadeul. Meski kalian di lain sisi pula, kami yakin… segala kenangan itu tidaklah hilang begitu saja. Kenangan manis selama di dalam 5member.
Oppadeul, kami Cassiopeia selalu mendukungmu. Kami tidak terpecah karena hal ini. Karena kami tetap “FAITH” kalian dapat bersatu kembali di saat yang lain.
Oppadeul, yang berada nun jauh disana. Yang tak mungkin dapat kulihat secara langsung. Dalam jauh ini, aku serta Cassiopeia yang lainnya. Selalu berdoa. Agar segala musibah yang menimpa kalian, cepat selesai. Kami gundah, tiap kalian ditimpa masalah. Kami bahagia bila kalian mendapat kesuksesan.
Tetap tersenyum oppadeul… walau kin kalian berada dilain sisi. Kami tetap selalu mendukungmu. Dan mencintaimu dengan segenap hati kami. Kami pegang kepercayaan kami.”ALWAYS KEEP THE FAITH”

_

Jumat, 22 Juli 2011

Mencari Sebuah Arti(13)final


Hari ini penutupan program mereka. Diadakan acara perpisahan. Namun, bagi Yuuki, pesantren ini memberi banyak makna baginya. Ia menemukan artinya pertemanan, pengetahuan, dan yang paling berharga ia dapat yakin 100% terhadap agamanya.
            Seluruh barang telah siap di bawa, Yuuki dan Nilam menunggu Kakek Fathir dan Nenek Ida datang menjemputnya,
            “Nisha…,jangan lupakan kami ya!” Seru Mai.
            “Kau juga Nilam!” Seru Tika.
            “Tentu!” Seru Yuuki dan Nilam bersamaan.
            Kakek Fathir menjemput mereka bersama Abi dan Ayah Nilam. Nilam pun berbisik,
            “Hei Yuuki, kita pasti akan sering Chatt .“ bisiknya lembut kemudian pergi. Yuuki hanya tersenyum.
            “Abi…,besok Nisha sudah sekolah biasa kan?”
            “iya.”
            Di sekolah, suasana masih agak sepi karena liburan baru saja usai. Namun, Yuuki yang kini mencoba menjadi seseorang yang baru berjalan menuju ruang guru. Namun, tiba – tiba Tio dan Ramlan menghentikannya,
            “het…,mau kemana nih?”
            “sudah minggir.”
            “ga boleh…ga boleh.” Ledek Tio dan Ramlan.
            Yuuki pun menarik nafas sejenak lalu ia mengucapkan,
            “Maaf yah…,selama ini aku sering menjewer telinga kalian.” Yuuki tersenyum manis sekali. Tio dan Ramlan tak bergerak. Mereka heran dengan perubahan sikap Yuuki.
            Di ruang guru, Yuuki meminta maaf kepada seluruh guru yang sering sekali dibuat kesal olenya. Terutama Pak Mahmud,
            “Bapak, saya minta maaf pak.”
            “benar kamu tak menulangi lagi?”
            “benar pak…,lihat pak.” Yuuki membuka tasnya. Ia mengeluarkan AL –Quran besar,
            “pak…,sekarang saya bawa setiap hari pak. Malah yang ada terjemahnya pak.”
            “iya…,iya bapak maafkan.”
            Yuuki mencium tangan Pak Mahmud lalu keluar. Teman – temannya melihat dengan heran. Lalu menanyakan,
            “eh…,ada angina apa Yuuk?”
            “sekarang namaku Nisha Al – Fadira.”
            “he…,he…,he…yang ank pesantren nih.” Goda Lian.
            “sekarang aku mengerti.”
            “Apa?” Fuad, Lian, dan Kiana bertanya.
            “Islam merupaka karunia teindah dalam hidupku. Aku beruntung sekali lahir dan tumbuh dalam Islam. Aku bangga menjadi orang Islam.”
            “Ada bu Uztadzah ni?” Goda Fuad.
            “ah…,biarkan.” Yuuki menjawab dengan santai. Di sertai riuh tawa teman – temannya.
            Dirumah pun, Yuuki meminta maaf kepada Umminya, jikalau ia sering membuat Umminya kesal, atau apa. Umminya memaafkannya. Lalu Yuuki dengan pasti berucap,
            “Ummi, SMA nanti aku mau di Pesantren!” Ujarnya Pasti tanpa keraguan. Yang disertai senyuman Umminya.

END

Mencari Sebuah Arti(12)


            Tak terasa, hari di pesantren tinggal tiga hari lagi. Kesibukan seperti biasa, namun kali ini, langit mendung menggantung dilangit. Cahaya mentari hanya setitik. Seluruh santri telah berada di ruang kelas. Namun ada yang berbeda,
            Yuuki masih terus tenggelam dalam buku – bukunya. Ia mulai tertarik dengan segala apapun tentang islam. Kini ia mulai mengerti, islam itu sungguh agama yang paling baik. Kini ia mulai bangga dengan para nabi dan rasul islam. Kisah – kisah mereka telah ia hafalkan. Segala tentang ilmu hukum Islam, ilmu aqidah, dan lainnya. Ia baca dan ia pelajari. Hal itu sangat menarik baginya.
            Bel kelas berbunyi, Teng…Teng…Teng..!!. Yuuki menutup buku yang ia baca. Tebal sakali, pada Covernya bertuliskan, “Perang Uhud” salah satu dari buku kumpulan perang perjuangan Islam. Ka Fatimah memasuki kelas,
            “Assalamualaikum!” Sapanya ramah.
            “Waalaikum salam kakak!!” Jawab para santri serempak.
            “sebentar lagi kita akan berpisah bukan?”
            “Iya…,kak.” Jawab para Santri serempak.
            “baiklah…,materi kakak hari ini adalah, “ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN”.”
            Seluruh kelas hening. Ka Fatimah lalu menulis di papan tulis judul materinya, ia pun bertanya,
            “adakah yang mengetahuinya?”
            Tak ada yang menjawab. Kelas hening. Namun, kali I I Yuuki sangat menyimakya.
            “Islam Rahmat bagi seluruh alam. Itulah artinya.”
            “oh… itu kak.” Santri – santri menjawab dengan serempak. Yuuki terus memperhatikan, apakah makna kata itu? Dalam hatinya mengusik tanya.
            “Nah…,selama pelajaran ini…kakak harap kalian semua memikirkannya, besok kakak akan bertanya kembali.”
            Santri – santri hanya terdiam. Yuuki masih terus berusaha berfikir dengan pengetahuan yang ia punya. Ia merasa pastilah ada hubungannya.
            Hingga pelajaran berakhir. Ka Fatimah menjadikan itu PR bagi para santri. Setelah itu ia keluar kelas,
            “Assalamualaikum.”
            “Waalaikumsalam.” Santri – santri menjawab. Pelajaran usai. Yuuki mengejar Ka Fatimah.
            “Kak…,ada yang mau aku tanyakan!”
            “Nanti sore temui kakak kembali. Kakak merasa kau sudah sedikit menemukan arti.”
            “iya kak!”
            Sore menjelang, Yuuki telah siap untuk menemui Ka Fatimah. Kali ini ia tampak berbeda, ia tak nampak ketakutan. Bahkan ia senang sekali. Yuuki memakai baju gamis berwarna merah tua dengan kerudung putih.
            “mau kemana lagi Nisha?” Mai bertanya.
            “he…,he…,ada lah.”
            “maen rahasiaan ni? Kamu senang sekali.”
            “enggak…,biasa aja koq.”
            “huu…”
            “kamu mau berangkat sekarang? Sebentar lagi Ashar lho?” Mai bertanya.
            “ya enggak lah. Aku mau shalat dulu. Pahalanya 27 gitu.”
            “asyik…nie yang udah mengerti.” Sambung Tika tiba – tiba.
            “Yee…biasa dong.” Yuuki menyeru.
            “eh…,ayo cepat bereskan alat shalat. Nilam mana?”
            “Nilam tuh lagi menyisir rambut. Kerudungnya belum di pakai.” Tika menunjuk Nilam yang sedang asyik dengan sisirnya.
            “Nilam! ayo…dong!” Seru Yuuki. Mengagetkan Nilam hingga sisirnya terjatuh ke lantai.
            “het dah…ni orang…semangat 45 amat sih.”
            “ayolah…” Yuuki meminta agar Nilam cepat.
            “ya…ya…ya…ustadzah kedua.” Nilam Menggoda Yuuki.
            Mereka berempat pun melaksanakan shalat berjamaah di Masjid. Setelah itu, Yuuki segera pergi ke pematang sawah tempat waktu itu. Ia melihat Ka Fatimah sudah di sana.
            “Ka, lama ya?”
            “enggak koq.”
            “kak…,dari beberapa buku yang saya baca, Islam itu ternyata hebat loh kak. Sejarahnya, benar – benar membuatku terkesima. Tak ada cerita yang se asli ini. Kemudian aku baru tahu, Nabi Muhammad SAW itu benar – benar pantuan yang hebat kak! Segala tingkahnya perbuatannya baik semua! Aku sangat kagum kak.” Cerita Yuuki dengan sangat berapi – api.
            “Nah…,sekarang kakak mau tanya tentang materi yang tadi kakak tanyakan di kelas.Menurutmu apakah arti islam rahmat bagi seluruh alam semesta?”
            Yuuki bingung, namun ia terus mencoba berfikir.
            “Clue nya, kamu perhatikan seperti apa sifat – sifat nabi Muhammad.”
            “Jujur kak salah satunya, yang membuatnya begitu di percaya.”
            “nah, menurutmu apakah kejujuran itu hanya Nabi Muhammad lakukan kepada sesama muslim saja?”
            “Tidak kak.”
            “itulah yang kakak maksud, Islam mengajarkan kita bagaiman berperilaku baik kepada siapa saja. Seperti saling menghormati. Nah, kita semua harus saling menghormati sesame makhluk allah. Bukan Cuma kepada orang Islam saja. Islam mengajarkan kita untuk saling menyayangi. Kita dilarang untuk saling bermusuhan antar sesama makhluk. Hal itu menguntungkan bagi semua kan?. Kemudian, Islam melarang kita untuk memakan beberapa binatang karena suatu hal. Taukah kamu?”
            “Babi dan Anjing yan kak?”
            “Iya…,hal itu dikarenakan kita akan lebih mendapat banyak mudharat jikalau memakannya. Meskipun banyak orana – orang non muslim yang melakukannya kita masih tetap teguh bukan?”
            “iya kak.” Yuuki sangat kagum.
            “segala yang terkandung dalam islam itu baik. Dan selalu benar. Islam mengajarkan agar kita Cinta damai. Semua itu berlaku untuk semua. Jadi, tak ada alasan lagi kan bagimu untuk ragu?”
            “tentu kak!aku yakin Islam adalah yang terbaik.” Timbul keyakinan Dalam hati Yuuki. Ia tak ragu sama sekali.
            Mereka berdua menatap langit yang hampir senja, lalu berjalan pulang. Di dalam hati Yuuki terpatri keyakinan yang dalam. Ia sangat bangga terlahir sebagai orang Islam. Senja itu menjadi saksi…,saksi hilangnya segala Ragu dalam hatinya.

*****

Mencari Sebuah Arti(11)


“Waw…,enak sekali di sini..” seru Tika.
            “Mai…” ujar Yuuki perlahan.
            “apa?” Mai menjawab dengan nada perlahan pula.
            “bisa tolong bilang adikmu agar jangan menjadi Miss. Lebay?”
            “Meledek…,meledek…” Tika memandang Yuuki dengan raut wajah sinis yang di sambut dengan tawa oleh Yuuki.
            “Bercanda…,bercanda…,eh..udah yuk nyari buku!”
            Mereka berempat berpisah untuk mencari buku yang dibutuhkan. Yuuki mencari buku kisah sejarah nabi dan rasul. Ia dulu sama sekali tak tertarik untuk membacanya dan mengerti akan isi dan maknanya, namu saat ini ia heran mengapa ia menjadi sangat tertarik. Ketika ia ingin mengambil sebuah buku tebal di deretan buku – buku lama, ternyata ada seorang santri perempuan yang mengamatinya. ia terlihat bingung akan sikap Yuuki,
            “Sedang apa?” Tegurnya sopan.
            “Eh…,sedang mengambil buku.”
            “Tertarik dengan hukum dagang islam yah?”
            “eh…?” Yuuki menjadi bingung.
            “jarang lho, ada santri yang menyukai itu, apa kau santri lama?”
            “bu…bukan.” Yuuki menjawab dengan gugup. Ia masih bingung.
            “lantas? Kamu anak SMA ya?”
            “bu…bukan juga.”
            “wah…,hebat. Anak SMP sudah menyukai hal begini.”
            “bu…bukan itu maksudku.”
            “oh…,aku tahu. Kamu ingin mempelajari lebih lanjut kan?”
            “eh…?” Yuuki terdiam ia bingung mau menjawab apa.
            “Nama saya Latipah. Saya murid SMA kelas satu di sini. Tetapi sedang tidak liburan. Kamu bisa panggil saya Kak Latipah.”
            “eh…iya kak.”
            “namamu siapa?”
            “Ni…Nisha Al- Fadira. Murid kelas dua SMP yang mengikuti program.”Yuuki menjawab dengan gugup. Mulutnya tak mampu berkata apapun.
            “baiklah…,saya yakin kamu ini murid yang cerdas. Karena kamu masih sekecil ini sudah tertarik akan hukum dagang Islam. Saya akan mengajarimu sedikit yang saya tahu. Saya juga tertarik akan hal itu.” Jelas Ka Latipah. Ia tersenyum sesudahnya. Senyumnya menciutkan nyali Yuuki untuk berbicara.
            Ka Latipah menjelaskan sedikit tentang Bagaimana Nabi Muhammad SAW dulu menjalani kehidupannya. Tentang caranya berdagang, dan segalanya. Untuk ukuran anak SMA biasa, Ka Latipah memang murid yamg cerdas. Yuuki pun mulai tertarik. Ia mulai mengagumi sosok Rasulullah. Segala budi pekertinya. Yang dulu pelajaran sejarah seperti itu sangat ia benci kini perlahan mulai membuatnya tertarik.
            Waktu semakin berlalu, teman – teman Yuuki telah selesai mengambil dan memilah buku mana yang mau mereka pinjam. Mereka mencari Yuuki. Ternyata Yuuki sedang membaca sebuah buku tentang sejarah Islam yang cukup tebal. Nilam pun terkejut,
            “ada angin apa dia?”
            “tau…,jadi tobat kayaknya.” Timpal Tika.
            “Alhamdulillah.”
            “iya bu…,alhamdulillah.”
            Mereka menghampiri Yuuki. Yuuk yang sedang serius membaca dan sedang tenggelam dalam Fantasy nya tak menyadari kehadiran ketiga orang itu. Namun, Tika yang usil mengagetkannya,
            “ea…!”
            “astaghfirullahal adzim!” Bukannya Yuuki yang terkejut, malah Mai yang terkejut. Yuuki hanya menoleh,
            “sudah mau balik ya? Yasudah ayo.” Yuuki melipat lembar yang ia baca. Lalu membawanya dan berkata, “aku mau pinjam ini”
            Nilam dan Tika hanya terheran – heran. Namun mereka masih tertawa dengan tingkah Mai. Yang menurut mereka sangat aneh.
            “Ayo…,tadi kalian yang buru – buru in.”
            “ayo…” Ujar ketiganya bersamaan.
            Sepanjang Jalan, mereka bertiga masih saja heran dengan sikap Yuuki. Sedikit kalem. Menurut mereka. Ada apakah gerangan? Tanya yang tak ada jawabannya.
            Langit senja pun tiba jua, kali ini Yuuki sudah siap. Ia tak mau terlambat lagi. Ada apakah gerangan?
            “ayo…dong. Kemarin kalian yang buru – buru.”
            “koq kamu semangat banget sih?” Tika bertanya dengan nada heran.
            “ha…ha…ha. Dari buku yang ku baca, Pahala seseorang yang shalat berjamaah itu 27 lho??”
            “memang…,iya.” Timpal Mai.
            “Maka itu, rugi banget aku sia – sia kan.”
            Teman – temannya hanya melihat dengan heran perubahan Yuuki. Ia lebih sering tersenyum. Sejak dari perpustakaan itu.  Kebiasaanya bengong, termenung, menggerutu, kini berkurang. Teman – temannya hanya berucap
            “Alhamdulillah.”

*****

Mencari Sebuah Arti(10)


Waktu tak terasa selalu berjalan. Menghabiskan hari yang penuh dengan kesibukan. Tak terasa, sudah seminggu Yuuki di sini. Namun, ia masih belum dapat menjawab pertanyaan Ka Fatimah. Dan Ka Fatimah tak pernah meminta Yuuki untuk memberikan jawaban dengan cepat dari hal yang ia tanyakan itu.
            Pagi ini, cerah sekali. Tepatnya hari minggu di mana materi di liburkan. Sketsa pagi yang indah tergambar di langit. Ini hari bahagia. Serentakan tawa riuh terdengar dari seluruh penjuru Pesantren.
            “Nisha…,jadi kan kita mau ke perpus?” Tanya Nilam.
            “Jadi…,koq. Sekalian aku mau mencari sesuatu bacaan.”
            “Kamu berminat baca? Buku apa?”
            “Buku tentang sejarah nabi. Aku sedang ingin membacanya.”
            “ada angin apa nih?”
            “angin sepoi – sepoi. Udah ayo.”
            “sebentar…,kita harus menunggu Mai sama Tika dulu.”
            “Memang mereka kemana?”
            “tau deh…,mereka si dari tadi di panggil ke ruang guru.”
            “mereka membuat kelakuan apa?”
            “kurang tau deh…mungkin sebentar lagi kembali. Tadi si Mai SMS katanya dia mau ke perpus juga.”
            “oh…,ya sudah. Tungguin deh.”
            Lama waktu semakin terasa. Yuuki mengambil hand phone dari kantong baju muslimnya, ia melihat ada lima pesan masuk. Lalu ia membukanya,
            From   : Fuad Zul..
            To        : Yuuki_Nisha
            Hei…! Gimana nih kabar temanku ini?
            Yuuki membuka yang kedua, ternyata dari Lian sahabatnya,
            From   : Liaan
            To        : Yuuki_Nisha
            Ass…
            Gimana pesantren? Ga buruk – buruk amat kan?
            Yang ketiga pun ia buka,
            From   : Kiana sii Zul
            To        : Yuuki_Nisha
            Hallo…hallo…Gimana kbr????
            Yang keempat ia buka ternyata dari nomor asing,
            From   : +62856771233
            To        : Yuuki_Nisha
            Hallo bebek…
            Yuuki penasaran, namun ia memutuskan untuk melihat pesan ke lima, kali ini nomor asing pula. Namun berbeda dari yang tadi,
            From   :+62813456211
            To        : Yuuki_Nisha
            Ass…
Nisha…,ini nomor baru Ummi…
            Gimana kabar di sana? Ummi yakin kamu pasti betah, Ummi harap akan ada suatu perubahan dari sikapmu setelah selesi liburan nanti.
            Yuuki pun menyimpan nomor baru Umminya, lalu ia mengetik SMS balasan,
           
To        : Fuad Zul,Liian,Kiana sii Zul
From   : Yuuki_Nisha
            TOO BAD..
            Kata yang singkat namun bermakna, ia pun mengetik kembali.
To        : Ummi baru
From   : Yuuki_Nisha
Ya…Ummi.
Ia pun memblas nomor asing itu,
To        : +62856771233
From   : Yuuki_Nisha
Siapa kau?
            Setelah membalasnya, Mai dan Tika yang sedari tadi ditunggunya pun datang juga. Wajah mereka keelihatan senang sekali. Hal ini menjadikan pertanyyan di dalam hati Yuuki. Kenapa nih orang? Dateng – dateng tawa?
            “kenapa kalian?” Yuuki bertanya dengan nada keheranan.
            “ Iya…,dateng – dateng tawa ga jelas gitu?” Sambung Nilam.
            “Eh…,kalian tahu kabar apa yang baru kami dapat?” Timpal Tika kemudian.
            “Ya…,enggak lah. Kau kan baru datang mana mungkin kami tahu?” Tambah Yuuki.
            “he…,he…,he…, kakakku di minta untuk mengisi sedikit ceramah untuk saat penutupan nanti lho?” Ujar Tika dengan bangganya.
            “wess…,hebat lho. Mai, ternyata bakatmu benar – benar menjadi ustadzah!” Seru Yuuki.
            “iya lho…,Mai kau hebat! Tapi ngomong – ngomong…” Timpal Nilam.
            “Apa?” Tanya meledak dari mulut ketiganya.
            “apa hubungannya denganmu Tika?” Nilam melanjutkan perkataanya.
            “Oh…, kalian belum ku kasih tau ya?”
            “orang kamu dari tadi membanggakan kakakmu saja.” Sambung Yuuki.
            “he…,he…,he…,maklum…,maklum. Aku terpilih juga…,untuk jadi pengisi acara penutupan.”
            “apa?” Tambah Yuuki kembali.
            “Itu lho…,Story telling tentang kisah nabi dan rasul.
            “wess…,hebat amat kau! Memang bisa?” Timpal Yuuki yang disambung oleh Nilam,
            “Bisa?”
            “jangan salah…,adikku ini jago lho Bahasa Inggris lho…” Timpal Mai kemudian.
            “wah…Nilam…” Yuuki melihat kearah Nilam.
            “ck..ck..ck..ck..” Sambung Nilam seraya menggelengkan kepala.
            “kenapa?” Mai dan Tika menjadi bingung.
            “Kita terjebak diantara Kisah kakak beradik ni…” Sambung Yuuki.
            “betul…betul…betul…”
            “kayak upin ipin…” Sindir Tika.
            “ha..ha..ha…udah…udah. jadi ga nih kita ke perpus?” Lerai Mai.
            “Jadi…,jadi…oke..oke…” Sambung Nilam.
            “ayo..dah kita cepat berangkat.” Sahut Yuuki.
            Mreka berempat berjalan bersama menuju perpustakaan. Langit yang cerah cemerlang, hawa yang sepoi – sepoi. Menenangkan hati siapapun. Langkah kaki mereka terus sja berderit. Hingga sampailah mereka di sebuah bangunan besar yang dinamakan Perpustakaan. Mereka pun memasukinya, di muka perpustakaan sepi sekali. Mereka pun masuk ke ruang tengah perpustakaan. Ada satu orang yang menjadi penjaga perpustakaan bernama Bu Mifta dan beberapa anak yang masih tenggelam dalam fantasy bacaannya.
*****

Mencari Sebuah Arti(9)


Langit siang telah berlalu, kini menjelang sore. Yuuki telah bersiap untuk nanti menemui Ka Fatimah. Hatinya campur aduk. Akan dimarahi kah ia? Ia memakai baju muslim gamis paanjang dengan warna biru langit. tak terlalu mewah, karena hanya baju biasa.
            Ia hanya mondar – mandir di depan pintu kamarnya. Tika yang melihatnya pun bertanya,
            “Khawatir banget sih?”
            “iya…lah…,namanya mau dimarahin.”
            “kan belum tentu.”
“coba…,kamu di posisiku sekarang?”
            “ah…,maaf deh.”
            “kau sudah shalat Ashar?”
            “Sudah…,tadi.
            “oh…,kukira belum.”
“gawat…”
            “kenapa?” sambung Mai tiba – tiba.
            “ya…gawat lah.”
            “lagian kamu koq tadi malam tidak tidur?”
            “banyak pikiran neh…,aku.”
            “apa aja tuh?” lanjut Tika.
            “pokoknya banyak deh.”
            “eh…,udah sore tuh.”
            “ya sudah deh…,aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”
            “Waalaikum salam.” Jawab Tika dan Mai serempak.
            Tiba – tiba, Nilam masuk. Mereka berdua kage dengan kedatangannya. Terlihat sekali Nilam habis berlari.
            “Nisha mana?”
            “udah jalan dia.” Jawab Mai dan Tika bersamaan.
            “oh…,tadi aku habis jalan – jalan. Eh…,aku ngeliat Perpus gitu. Ke sana yuk?”
            “ayo!” Jawab Tika semangat.
            “Tunggu…, apa ga keterlaluan?” Mai berkata.
            “loh?” Tika dan Nilam terkejut.
            “nanti masa kita senang – senang diatas penderitaan Nisha?”
            “ah…,bahasamu berlebihan mba.” Ujar Nilam.
            “memang benar nanti kan?”
            “kan belum tentu. Menurutku Ka Fatimah bukan tipe – tipe orang pemarah tau.” Jawab Tika.
            Sepanjang perjalanan Yuuki terus berfikir. Seperti apakah hukumannya nanti. Ia hanya berharap, Ka Fatimah tak menjadi segalak Pak Mahmud,guru agamanya. Tak terasa perjalananya telah sampai di depan ruang guru. Ia menyiapkan diri. Yuuki sudah siap jika ia akan di semprot dengan hukuman – hukuman.
            “satu…,dua…,tiga…” Saat ia mau membuka pintu ruang guru, ada suara yang memanggilnya,
            “Nisha!!” Serunya. Panggilan itu membuat Nisha menoleh,
            “Ka Fatimah?”
            “iya…,ayo…,ke sini!”
            Nisha berjalan menghampiri. Ka Fatimah mengajaknya ke pagar belakang. Di sana terdapat sawah yang membentang luas. Di dekat sebuah pohon Ka Fatimah berhenti, Yuuki bingung, dengan apa yang di lakukan Ka Fatimah.
            “nah…,Sudah sampai.”
            “Kak…, saya tak mengerti. Mengapa kakak mengajak saya ke sini.”
            “kakak yakin, kamu tidak begitu menyukai pelajaran agama bukan?”
            “he…he…he…iya kak..”
            “sekarang kamu lihat hamparan pemandangan ini.”
            Yuuki melihat dengan seksama. Ia di kejutkan dengan pertanyaan Ka Fatimah,
            “Siapakah yang menciptakan ini?”
            “Allah kak.”
            “yakin?”
            “iya lah kak.”
            “Agamamu apa?”
            “Islam…,kak.”
            “Banggakah kamu?”
            “Iya dong kak.”
            “menurutmu…,apakah arti agamamu?”
            Yuuki terdiam, ia bingung mau menjawab apa. Ia tak menjawab namun hanya menyengir sendiri. Tak ada yang pernah menanyakan hal ini padanya. Untuk sejenak mereka terdiam. Lama sekali
            “PR bagimu, selama kamu di sini kamu harus menemukan jawaban atas pertanyaan kakak.”
            “i…ya kak.”
            “ayo…,kita kembali.”
            Mereka berdua berjalan di tengah pemandangan yang indah. Dan kebimbangan hati Yuuki. Ia bingung,Dengan apa ia harus menjawab pertanyaan Ka Fatimah tadi. Ia sama sekali tak tahu mengenai hal itu. Selama ini, ia hanya mengerti Islam Agamanya. Namun, untuk arti ia tak tahu sama sekali. Mungkin, ini aneh tetapi memang begini adanya.
            Waktu menjelang senja, Langit petang membayangi sore ini. Menjadikan waktu terasa begitu cepat malam. Azan maghrib mulai di kumandangkan. Gelap kemerahan, indah sekali. Suasana mulai ramai, penuh dengan langkah – langkah menuju masjid tuk menjalankan kewajiban sebagai umat muslim.
            “Nisha…,ayo cepat rapikan alat shalat mu, kita kan mau ke masjid.” Ujar Mai.
            “Ayo…,Nisha…,kamu kan nga mau ditinggal seperti waktu itu kan?” Panggil Nilam.
            “ya…,kalian duluan saja. Aku masih mau berfikir.”
            “kamu ini kenapa? Koq jadi aneh gini, habis dimarahi sama Ka Fatimah ya? Kami minta maaf deh Nis.” Pinta Mai yang merasa bersalah.
            “nga…,bukan karena itu koq. Kalian duluan saja…,aku pasti menyusul sebentar lagi.”
            “Hei…,cepat!! Keburu iqamah ni..” Seru Tika dari luar. Suaranya mengagetkan ketiga orang itu. Dan kemudian mereka menoleh,
            “Sabar…,kami lagi bicara sama Nisha ni…” Jawab Nilam kemudian.
            “Iya…,si…maaf.”
            “Sudah…,kubilang duluan saja…si Tika udah ngomel – ngomel tu.”
            “Bener ya…,tapi kau jangan marah lagi?” Tanya Mai menyelidik. Matanya seakan tidak percaya akan ucapannya.
            “Ya…,takutan amat sih. Udah sana.”
            “oke…,Assalamualaikum.” Seru Nilam dan Mai bersamaan.
            “waalaikum salam.”
            Kedua orang itu berjalan pergi meninggalkan Yuuki yang masih merenung sendiri. Cahaya senja yang semakin menghilang. Lalu beranjak gelap…dan mulai gelap. Sesaat, hening menghampiri. Yuuki semakin tenggelam dalam lamunan panjang yang tiada takkan terhabiskan. Namun, suara Iqamah mulai dikumandangkan…yang membuyarkan ia dari lamunannya,
            “Allahhuakbar…allahhuakbar…allahhuakbar…asshadu allaila ha illallah…waashadu anna muhammadarrasulullah. Hayya alassalah…hayya alalfalah…qodqo matissalah..qodqo matissalah. Allahuakbar..allahuakbar. laaila ha illallah…”
            “Aduh! Benar – benar sudah iqamah ni… cepat…,cepat…” Yuuki dengan tergesa – gesa memakai alat shalatnya. Ia berlari menuju masjid dengan tergesa – gesa. Beruntungnya, belum sampai rakaat pertama. Ia segera menempatkan diri pada shaf yang masih kosong. Lalu mengikuti shalat maghrib berjamaah.

*****

Mencari Sebuah Arti(8)


Ka Fatimah melihat kea rah belakang, Ka Fatimah melihat Yuuki dengan pulasnya tertidur. Ia tak marah, tetapi hanya tersenyum simpul penuh makna. Ia bebalik seakan tak melihat apa – apa.
            Waktu terus belalu, waktu untuk materi telah selesai. Seluruh santri telah beranjak untuk keluar kelas. Namun Mai, Tika, dan Nilam masih berkumpul didekat Yuuki yang masih tertidur.
            “gimana nih? Nisha masih tidur?” Ujar Mai.
            “Iya…,tadi pagi kan di yang bangunin kita. Apa dia gak tidur ya?” Tanya Nilam.
            “iya kali…,kasihan…,aku gak tega ngebanguninnya.” Ujar Tika.
            Ka Fatimah yang melihat itu, segera menghampiri mereka,
            “Ada apa?”
            “Ini kak…,Nisha masih tidur…,kami tak tega untuk membangunkannya.” Jelas Mai.
            “Baiklah…,kakak kan masih di sini. Sudah…,biar kakak saja yang menunggunya sampai terbangun nanti.”
            “Benarkah kak?” Tanya Nilam yang di sambut dengan senyuman oleh Ka Fatimah.
            Ketiganya segera mencium tangan Ka Fatimah lalu berjalan keluar. Mereka segera meuju kamar mereka untuk membereskan barang – barang. Ka Fatimah yang masih di dalam  pun kembali duduk di meja depan. Ia kembali tersenyum seperti tadi, penuh makna. Dan ia kembali membolak – balikkan halaman bukunya.
            Sesaat kemudian. Yuuki terbangun. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Ternyata sudah sepi. Ia bingung, kemana orang – orang? Kemudian matanya matanya tertuju ke depan ruangan, Ka Fatimah masih ada di sana? Apakah gerangan yang ia lakukan? Menunggunya?
            “Kau sudah bangun?”
            “i…,ya…” Yuuki menjawab dengan gugup. Ia menjadi salah tingkah.
            “Tidur mu…,pulas sekali. Tadi teman – teman mu tak tega untuk membangunkanmu.” Ka Fatimah kembali tersenyum.
            “I…ya.” Yuuki pun kembali menjawab dengan gugup. Lalu ia dengan segera membereskan barang – barangnya dan beranjak untuk keluar kelas. Ia pun mencium tangan Ka Fatimah. “Assalamualaikum.” Ujar Yuuki perlahan.
            “Waalaikum salam. Tunggu dulu Nisha!”
            Yuuki menoleh, Ia terkejut dengan panggilan Ka Fatimah.
            “Nanti sore kamu temui kakak diruang guru. Ada beberapa hal yang mau kakak bicarakan denganmu.”
            Yuuki terkejut, ia bingung. Apakah gerangan yang mau Ka Fatimah bicarakan dengan anak baru macam ia?
            “I…,ya kak.” Yuuki menjawab dengan nada berat. Lalu ke luar dari kelas.
            “hufht…,benar – benar seperti aku dulu.” Ujar Ka Fatimah dengan nada panjang.
            Yuuki berjalan ke luar dengan tergesa – gesa. Ia menuju kamarnya. Di sana sepi sekali. Tak ada teman temannya. Yuuki hanya meletakkan tas nya. Ia pun kembali ke luar dan mencari teman – temannya. Di perjalanannya, matanya tertuju kea rah bangunan besar bertulisskan “ LIBRARY”. Yuuki tertarik sekali namun, ia mengurungkan niatnya. Ia ingin mencari teman – temannya.
            Di perjalanan, ia terus berfikir,
            “aduh…,mati aja. Pasti nanti aku mau di marahi habis – habisan sama Ka Fatimah.”
            Saking asyiknya berfikr ia tak melihat jalan. Lalu ia menabrak santi yang sedang berjalan dengan tergesa – gesa.
            “maaf…,ya…,maaf.” Pinta Yuuki.
            “Ah…,ga papa. Aku saja yang salah karena tadi aku terburu – buru.”
            “Itu apa?” Mata Yuuki tertuju pada bungkusan yang di pegang oleh anak itu.
            “oh…,aku mau memberinya pada kucing yang di luar pagar itu.”
            “oh…” Yuuki terus melihatnya, ia penasaran,
            “Apakah isi bungkusan itu?”
            “Aku duluan ya…?” Lalu anak itu berjalan dengan tergesa – gesa. Yuuki yang penasaran, mengikutinya.
            Sampailah ia di tempat kucing itu. Yuuki melihat dengan jelas sekali, itu makanan sisa tadi pagi. Dalam hati Yuuki tertimbun tanya, mengapa ia melakukan hal itu?
Anak itu menyadari kehadiran Yuuki. Ia pun menoleh,
            “Sudah…,kau mau melihat?”
            “he…he…he…,aku penasaran tadi.”
            “nah…,sekarang sudah tidak lagi kan?”
            “Kamu koq melakukahn hal itu?”
            “kucing kecil ini kasihan…,sepertinya tidak makan beberapa hari. Lihat? Makannya banyak sekali.”
            “Kan dia hanya hewan? Koq kamu baik sekali padanya?”
            “memang tidak boleh? Hewan kan juga makhluk ALLAH.”
            “tidak…,aku heran saja.”
            “sesama makhluk allah kita harus saling tolong menolong.”
            “tapi bukannya itu hanya dengan manusia saja?”
            “makhluk ciptaan ALLAH bukan hanya manusia saja kan?”
            Yuuki terdiam. Selama ini ia tak tahu tentang tolong menolong bukan hanya kepada sesama manusia saja. Ia selama ini malas untuk belajar tentang Agama Islam. Kemudian ia berdiri dan berbalik untuk pergi.
            “Namaku…,Zahro!! Ingat yah!”
            “Tentu!” Yuuki kemudian melanjutkan langkahnya.
Sepanjang jalan ia terus berfikir. Salahkah selama ini ia tak mahu bahkan malas untuk mempelajari Agamanya sendiri?hingga kini ia tak tahu apa – apa? Hatinya campur aduk dengan berbagai pertanyaan yang tak tahu siapakah yang apat menjawabnya. Hingga sampailah ia di sebuah Kantin. Ia melihat teman – temannya. Dengan raut kesal ia menghampiri teman – temannya.
            “enak ya…” Ujarnya sinis.
            “Eh…,Putri tidur sudah bangun.” Goda Nilam.
            “jangan meledek kau Nilam.” jawab Yuuki kesal.
            “Maaf deh…, memang kenapa Nisha?” Tanya Nilam.
            “Pura – pura tak tahu ya…” Sindir Yuuki kembali.
            “maaf deh…,tadi tuh kami ga niat ninggalin kamu.” Jawab Nilam.
            “iya…,ga niat. Cuma mau kan?”
            “eh…,bener deh. Tadi tuh kami mau ngebangunin kamu. Tapi, ya kami ga tega lah Nisha.” Jelas Mai.
            “Ga tega? Karena kegategaan kalian, aku nanti sore di panggil.”
            “koq bisa?” tanya Tika.
            “ya bisa lah…,pasti nih aku mau di marahin.”
            “sama Ka Fatimah?”
            “ya lah…,memang sama siapa lagi?”
            “tadi tuh yang menawarkan mau menungguimu tuh Ka Fatimah. Lagi pula muka seperti Ka Fatimah bukan wajah orang pemarah?” Jelas Mai kembali.
            “tau deh…,nasib ku gimana.”
            “benar koq…,ia tadi tak nampak marah.” Timpal Nilam.
            “Mudah – mudahan aku tak di semprot nanti sore.”
            “Nanti sore?” tanya Tika.
            “iya…,aku di panggil nanti sore.”
            “Maaf…,ya Nisha. Maaf banget.”

*****

Mencari Sebuah Arti(7)


Mereka berempat segera bergegas ke kamarnya untuk tadarus. Yuuki malu sekali, diantara teman – temannya hanya ia yang belum lancar membaca Al – Quran. Dan belum pernah sekali pun Khatam. Hal ini dikarenakan, ia selau malas – malasan ketika belajar mengenai ini.
            Setelah tadarusan, seluruh santri makan malam. Mereka makan bersama di sebuah ruangan yang sangat besar dan luas. Mcara makan di pesantren ini ialah Prasmanan. Yuuki bingung, mengapa makan saja harus seperti ini? Tetapi ia merasa senang. Ia dapat makan bersama dengan rasa kekeluargaan yang kental.
            “ternyata…,makan seperti ini, nikmat sekali….” Gumamnya.
            “Ya…,memang nikmat. Kita semua makan bersama, semua disini sama. Dan suasana kebersamaan lebih terasa.” Jawab Nilam.
            “Ah…,Nilam. Gayamu pera seperti nasi kering.”
            “hu…,memang benar koq.”
            Esok hari, pelajaran – pelajaran agama akan mulai diberikan. Yuuki hanya bisa terbengong – bengong untuk membayangkan bagaimana keadaan dirinya esok? Mungkinkah ia akan mengenaskan?ataukah…, sebaliknya?Ia sampai pusing memikirkan hal itu.
            Selepas shalat isya, Yuuki terus saja memandangi langit. Teman – temannya telah menuju tempat tidur dan tenggelam dalam mimpi masing – masing, nanti, pukul tiga, mereka akan dibangunkan kembali. Yuuki melihat kearah langit seakan ia akan dapat menggapainya. Namun apa daya, tangan tak sampai.
            Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Yuuki masih tenggelam dalam lamunannya yang tak berujung. Ia dikejutkan dengan ketukan pintu. Segera ia membukanya, ternyata seorang guru wanita berjilbab panjang.
            “Assalamuaalaikum”
            “waalaikum salam. Ada apa bu, kenapa pagi – pagi sekali?”
            “kan menurut jadwal sekarang kita semua akan melaksanakan tahajud bersama.”
            “oh…,iya bu. He..,he…,he. Saya bangunkan teman – teman dulu bu.”
            “ya…,sudah, nanti cepat ke masjid. Ibu mau bangunkan yang lain.”
            Dalam hati Yuuki Timbul suatu maksud untuk menjahili teman – temannya. Ia pun mengambil selimut dari dalam kopernya. Lalu ia memakainya dan membentuk dirinya seperti hantu. Lalu ia membangunkan teman – temannya dengan suara dering upin ipin di  Hand Phone nya.
            “Assalamualikum…ato…to..atok!!”
            Teman – temannya masih belum terbangun. Ia pun menggantinya dengan suara dering hantu. Alhasil teman – temannya kaget dan terbangun. Lalu mereka terkejut dengan sosok Yuuki. Namun, semua tak sesuai harapan Yuuki. Bukannya takut atau apa, teman – temannya justru mengambil bantal mereka dan melempari Yuuki dengan bantal.
            “Aduh…,aduh!!”
            “Rasakan kau hantu, rasain.” Ujar Mai yang masih terus melempar dengan bantal.
            “hei…,sudah!!...,ini aku Nisha.”
            “Nisha?” Nilam menghentikan lemparannya.
            “iya…iya…ini aku Nisha. Ah..kalian ini gimana, masa tak bisa membedakan mana hantu beneran dan mana yang bukan.” Nisha membuka selimutnya.
            “ha…ha…ha…, maaf deh…,lagi ngapain sih bangunin pagi – pagi banget?” Tanya tika kemudian.
            “amnesia ya? Kan kita ada jam shalat tahajud. Padahal tadinya kau yang bilang bangun pagi tak masalah.”
            “yee…,biasa aja kali.” Tika melihat jam yang ada di dinding.
            “wah…,benar. Sudah mau jam tiga!...,ayo cepat.” Serunya kemudian.
            “iya…,nih udah mau jam tiga. Mandinya pulang shalat saja!” Seru Nilam.
            Mereka pun bergegas mengambil air wudhu dan menyiapkan alat shalat mereka. Setelah itu mereka berempat segera beranjak ke masjid. Langit pagi itu begitu gelap. Namun, tak mengusik keramaian di pesantren itu. Ketika mereka sampai masjid sudah dipadati oleh santri – santri yang lain. Akhirnya, mereka menempati shaf  belakang.
            “Ah…,terlambat ne kita.” Ujar Mai pendek.
            “iya…,betul..betul..betul…” tambah Tika.
            “tunggu…,kayanya aku pernah dengar kata – kata itu deh?” Tanya Nilam.
            “Itu…,Upin Ipin. Kamu tau filmnya yang di TPI?”
            “oh…,yang Malaysia itu ya?”
            “Iya…,si Nur…,udah gede juga, nonton gituan mulu.”
            “Aku sih…,tidak pernah nonton. Tapi kalau Tika nih, nonton mulu.” Lanjut Mai.
            “Ha…ha…ha…Tau aja kakak ku nih.”
            “Ssst!...udah iqamah nih. Dah mau mulai. Diam.” Yuuki memberi Isyarat.
            Seluruh santri melaksanakan shalat tahajud berjamaah. Setelah itu, mereka berdoa bersama, dan kemudian mereka kembali ke kamar masing – masing untuk menyiapkan barang – barang yang harus dibawa untuk memulai hari pertama pemberian materi.
            Pagi pun tiba, untuk sarapan mereka makan bersama kembali. Lalu setelah itu mereka memulai untuk menerima materi. Para santri yang mengikuti program sementara itu pun segera mencari kelas yang di pintunya tertera nama – nama mereka. Yuuki sekelas dengan ke tiga temannya.
            “Asyik!” kita sekelas nih.” Seru Mai.
            “ya…,begitulah.” Jawab Yuuki pendek.
            Bel masuk kelas pun berbunyi. Seluruh santri segera menyiapkan diri. Yuuki sebangku  dengan Mai. Sedangkan Nilam sebangku dengan Tika. Tiba – tiba datanglah Wanita berjilbab panjang memasuki kelas. Yuuki mengenali wajahnya.
            “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
            “Waalaikum salam warah matullahi wabarakatuh.” Jawab paara santri serempak.
            “beberapa mungkin merupakan murid baru. Nah, untuk awal…, perkenalkan nama saya Fatimah.”
            “Iya…bu…eh..ka.”
            “Ha…ha…,mungkin kalian bingung mau memanggil saya siapa. Umur saya baru 19 tahun. Saya lulusan pesantren ini. Namun, saya memilih untuk mengajar dan mengabdi di sini. Jadi, kalian panggil saya kakak saja.”
            “iya…,ka Fatimah!” Seru santri – santri serempak.
            Yuuki teringat,  dia pernah menabrak seorang wanita muda. Ternyata dia itu guru. Yuuki termenung, ia memikirkan betapa anehnya ka Fatimah. Jarang sekali ada orang yang seperti dia. Terutama generasi muda jaman sekarang  yang rata – rata malas sekali untuk belajar tentang agamanya, termasuk Yuuki sendiri.
            “eh…Mai…, kamu tahu? Aku kan sudah pernah bertemu dengan ka Fatimah sebelumnya?”
            “masa? Ketemu dimana?”
            “beneran…, masa boong sih aku.”
            “dimana emang? Bukannya kau bersama aku, Nilam, dan Tika aja?”
            “Ga selalu kali. Kan waktu mau shalat magrib kalian ninggalin aku tuh.”
            “he…,he…,he..jangan di ungkit lagi ah. Jadi malu nih.”
            “huu.....”
            “he…,he…,he. Terus?”
            “Nah, pas aku lagi buru – buru ke Masjid aku nabrak seorang wanita. Tadinya aku kira dia santri juga. Eh…,taunya guru.”
            “ha..,ha…,ha…,parah banget kau.”
            “beneran! Serius deh. Tadi aja pada bingung mau manggil ka Fatimah siapa.”
            “iya si…,betul..betul..betul..”
            “Dia ngikut adenya juga.”
            “biarin,.”
            Setelah perkenalan itu, Ka Fatimah menjelaskan materinya, yaitu tentang Ketauhidan. Seluruh santri mendengarkan dengan penuh perhatian. Namun, dibarisan belakang, Yuuki dengan pulasnya tertidur. Ya…,karena malam itu ia tak tidur sama sekali. Ia terus memikirkan apa yang kan ia alami esok hari. Ternyata inilah keadaannya, ia tertidur pulas sekali. Padahal, dari cara mengajar Kak Fatimah termasuk pengajar yang menyenangkan. Ia komunikatif dan materi yang ia ajarkan takkan menjadi sebuah materi yang bisa dikatakan “basi”. Bagi Yukki hal ini seperti dongeng pengantar tidur Maybe .
*****