Halaman

Jumat, 22 Juli 2011

Mencari Sebuah Arti(6)


            “kenapa dia?’ Tanya Mai pada Tika.
            “aku tidak tahu, setahuku sih…,dia tak betah ketika berbaris. Tapi tadi wajahnya tak ditekuk begitu.”
            “dari pada nebak – nebak mending nanya aja.” Timpal Nilam yang kemudian berlari menghampiri. Diikuti oleh Mai dan Tika.
            “Nisha…,Nisha…,kenapa sih?” Tanya Nilam.
            “Nisha…,kamu marah padaku?” Tika menimpali. Namun mulut Yuuki masih terkunci.
            “cemberut itu ga baik lho…, selain nanti bisa menyebabkan cepat tua,tapi islam juga mengajarkan kita untuk tersenyum.” Tambah Mai kemudian.
            “ah…,iya…,iya…aku tahu itu semua. Dan juga aku tak marah padamu Tika.” Yuuki akhirnya mau berbicara.
            “terus kenapa dong?” Tanya Tika kemudian.
            “kamu tahu tadi peraturan – peraturan yang dibacakan?” Tanya Yuuki.
            “Iya…,dong. Seru kan?” Timpal Nilam.
            “Seru? Dari mananya? Yang ada menyiksa kali. Aku harus bangun pukul 03.00 pagi? Aduh..,aku saja bangun paling cepat jam 06.00 pagi. Shalat di masjid? Aku saja masih bolong – bolong. Wajib mengikuti pelajaran agama terus menerus? Bias gila aku. Dan…,tak ada televisi? Astagfirullah hal azhim!” Seru Yuuki.
            “Yee…,kukira apa. Lebay deh kamu gitu aja.” Timpal Mai.
            “ah…,iya Nisha. Kamu berlebihan tau.” Tambah Tika.
            “ih…,kalian ga ngerti sih.” Sesal Yuuki.
            “ngerti apa?” Nilam bertanya – tanya.
            “susahnya hidup jadi aku.” Gumam Yuuki pendek.
            “hush…,kamu ada – ada aja. Setiap manusia sudah di beri kehidupannya masing – masing oleh ALLAH. Dan wajib kita syukuri. Kamu, nga boleh menyesalinya.” Timpal Mai.
            “iya…,iya…,bu Ustadzah.” Sambung Tika.
            “ah…,Tika. Kau meledekku lagi.”
            “Nisha, memang apa susahnya bangun pukul tiga pagi?” Tika bertanya.
            “aku tidak bisa. Bangun saja paling cepat aku pukul enam. Gimana pukul tiga.” Yuuki menjawab dengan wajah merengut.
            “tunggu…,berarti kamu tidak shalat shubuh?” sambung Mai.
            “he…,he…,he…,jarang – jarang sih. Aku untuk urusan bangun pagi itu sulit sekali.”
            “Sesulit apapun, shalat jangan kamu tinggalkan dong. Kita ini kan sudah bukan anak kecil lagi. Masa kamu mau selamanya menjadi anak kecil yang susah untuk bangun pagi?” Jelas Mai.
            “kalau aku, dan dan Mai memang jarang tidur. Kami begadang sampai pagi menjelang. Jadi, kami tidur pada pagi hari. Ha…ha…ha.” Ujar Tika.
            “Kalian sih enak. Sekolah tidak pagi – pagi banget.” Timpal Yuuki.
            “Yee…,biarpun begitu kami tak lupa untuk melaksanakan shalat shubuh.” Balas Tika tak mau kalah.
            “Nis…,Nisha. Lihat kan? Apa kamu tidak malu jika jarang melaksanakan shalat.” Bisik Nilam.
            Yuuki pun melamjutkan langkahnya untuk kembali ke kamarnya. Disusul oleh Mia, Tika, dan Nilam di belakangnya. Hati Yuuki campur aduk. Ia sadar, selama ini berbagai hal yang kurang baiklah yang ia lakukan. Dalam hatinya terasa sedikit rasa malu yang menghinggap. Malu, karena hanya dirinya yang seperti itu. Dengan pandai ia menyembunyikannya.            Namun, terbaca jua oleh Mai.
            “Yuuk…,Yuuk…,Nisha?kau kenapa lagi? Pasti ada sesuatu nih.” Pertanyaan beruntun dari Mai bagaikan sebuah interogasi.
            “Tidak…,Tidak…,Tidak apa –apa.” Yuuki terbuyar dari lamunannya.
            “ah…,masa. Melamun itu tidak boleh lho?” selidik Mai.
            “apa?” Yuuki kebingungan sendiri.
            “benar…,melamun itu tidak boleh.” Jelas Mai.
            “Mai…,Mai…,Mai…” Tanya Yuuki sesudahnya.
            “apa?” Mai menoleh.
            “benar kata adikmu.”
            “memang dia berkata apa?”
            “Kau berbakat menjadi Ustadzah.” Tambah Yuuki.
            “huu…,dasar kau. Tapi biarin deh. Jadi Ustadzah juga asyik.”
            “Asyik?” sambung Nilam tiba – tiba. Yuuki tersentak dengan kehadiran Nilam.
            “iya dong. Kaya Mamah Dedeh. Di acara Mamah dan AA.” Sahut Mai dengan bangga. Disambut tawa ketiga temannya.
            Yuuki, Nilam, Mai, dan Tika tertawa bersama kembali. Gelak tawa mereka renyah dan sungguh…tak berarti. Namun, Yuuki senang sekali. Ia mendapat sahabat baru yang asyik.
            Segala peraturan telah dibacakan. Dan untuk memperjelas seluruh santri dibagikan buku panduan untuk masa dua minggu di Pesantren itu. Yuuki membacanya, raut wajahnya menjadi merah padam. Ia sangat keberatan dengan isi di dalam buku itu, namun apa mau dikata…, ia harus menjalaninya.

*****
            Sore ini, langit terlihat gelap. Mendung menggantung, namun tak terlihat adanya rintikkan air langit. Terlihat santri yang sedang berada di luar. Mereka berdiam di kamarnya masing – masing. Entah mengobrol ataukah bermain sesuatu. Waktu sudah menjelang senja. Azan maghrib berkumandang. Menyerukan panggilan untuk melaksanakan kewajiban bagi umat islam.
            Namun, ketika semua menyiapkan alat – alat untuk shalat. Yuuki justru sedang mandi. Tadi sore, ia tiada henti membolak – balikkan lembaran buku panduan. Ketika teman – temanya menyuruhnya mandi, ia justru termenung sendiri. Apakah yang direnungkannya? Segala kesalahannya?ataukah yang lain? Mungkin hal itu yang menjadi pertanyaan teman – teman sekamarnya.
            “Nisha…,bisa cepat sedikit?” Tanya Nilam selepas memakai mukenahnya.
            “iya…,nanti kami bisa terlambat.” Timpal Tika yang sedang merapikan mukenah yang ia pakai.
            “ih…,memang terlambat sedikit kenapa sih?” Tanya Yuuki dari dalam kamar mandi.
            Ketika, mulai terdengar panggilan bahwa shalat akan segera dilaksanakan. Mai, Tika, dan Nilam segera beranjak. Mereka meninggalkan Yuuki yang masih di dalam kamar mandi. Mereka berjalan dengan cepat menuju masjid. Langkah mereka begitu terdengar. Setelah sampai di masjid, mereka segera melepas alas kaki. Dan segera menempatkan diri di shaf yang masih kosong. Untungnya, belum rakaat partama.
            Yuuki selesai mandi. Ia melihat ke sekitar, ruangan nya begitu sepi. Ia merasa kesal karena teman – temannya meninggalkan dia. Yuuki pun segera memakai Mukenahnya, dan bergegas menuju Masjid. Sepanjang jalan, ia teus menggerutu sendiri.
            “huh…,memangnya kenapa kalau menungguku sebentar. Mereka ini, katanya setia kawan, eh ini malah kawannya ditinggalin.” Gerutu Yuuki.
            Yuuki terus saja mengerutu, hinggan ia tak melihat jalan. Ia pun menabrak seorang wanita. Wanita itu masih muda. Sangat muda, namun lebih tua darinya. Ia memakai jilbab dan baju panjang berwarna Merah muda. Ditangannya tergenggam buku – buku. Kelihatan sekali ia terburu – buru.
            “Maaf…,maaf. Tadi saya tak melihat jalan.” Ucapnya seraya membereskan buku miliknya.
            Yuuki membantunya, perhatiannya tertuju pada tumpukan buku itu. Selurunya adalah buku – buku tentang agama? Siapakah dia? Yuuki bertanya – tanya. Setelah buku –buku itu telh ditumpuk kembali Yuuki segera meminta maaf,
            “Maaf…,tadi itu saya yang salah.” Yuuki meminta maaf. Lalu melanjutkan langkahnya. Ia meninggalkan Wanita tadi yang kelihatan sekali, diliput kebingungan.
            “Pasti anak Program itu. Dia mau melaksanakan shalat maghrib namun terlambat. Ah…, tingkah lakunya mengingatkanku sewaktu dulu.” Lalu wanita yang ternyata termasuk salah satu guru iu berjalan pergi. Ia mau mengantarkan buku itu ke perpustakaan. Kebetulan sekali, dia sedang halangan sehingga ia tak melaksanakan shalat.
            “Assalamualaikum…”
            “Waalaikumsalam…,ada apa Fatimah?”
“Ibu…,ini saya mengantar buku yang tadi baru saja diantarkan oleh pos.”
            “oh…,iya. Terima kasih ya Fatimah. Kemarin benar ibu memesan beberapa buku untuk tambahan.
            “iya bu…,sama – sama.”
            “kamu tidak shalat?”
            “saya sedang halangan bu. He…,he…,he.”
            “Ah…,kau masih seperti dulu. Senang bercanda.”
            Sesampainya di Masjid, ternyata sdah sampai rakaat terakhir. Yuuki segera bergegas memasuki shaf dan bergabung. Ketika semua telah mengucapkan salam, Yuuki masih berdiri. Ia tertinggal dua rakaat. Setelah berdoa, Yuuki bergegas meninggalkan Masjid. Langkahnya cepat. Teman – temannya melihatnya dari belakang dengan wajah keheranan. Lalu mereka semua berlari menyusulnya.
            “Hei…, sendiri aja sih?” goda Nilam yang disambut dengan wajah kesal Yuuki.
            “dih…,tampang apa itu?” Tika ikut meledek.
            “kenapa sih?” Mai kemudian bertanya.
            “jangan pura – pura tak tahu deh…” Sindir Yuuki.
            “memang tak tahu? Mau diapain coba?” Timpal nilam kemudian.
            “kalian enak yah…,tadi meninggalkan aku.”
            “oh…,itu toh masalahnya.” Hela Mai.
            “makanya, kubilang jangan pura – pura. Kayak kura – kura dalam perahu tau kalian.”
            “Yee…,siapa yang pura – pura. Orang benar tidak tahu.” Balas Tika.
            “ya…,sudah. Kami minta maaf deh. Lain kali akan kami tungguin, tapi kamu jangan lama dong?nanti kami malah jadi terlambat juga.” Ujar Mai.
            “Benar ya…?”
            “tentu dong…” Balas Mai.
            “Yuk…,cepat kita kembali ke kamar. Waktunya tadarus nih.” Sela Nilam.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar