Halaman

Jumat, 22 Juli 2011

Mencari Sebuah Arti(11)


“Waw…,enak sekali di sini..” seru Tika.
            “Mai…” ujar Yuuki perlahan.
            “apa?” Mai menjawab dengan nada perlahan pula.
            “bisa tolong bilang adikmu agar jangan menjadi Miss. Lebay?”
            “Meledek…,meledek…” Tika memandang Yuuki dengan raut wajah sinis yang di sambut dengan tawa oleh Yuuki.
            “Bercanda…,bercanda…,eh..udah yuk nyari buku!”
            Mereka berempat berpisah untuk mencari buku yang dibutuhkan. Yuuki mencari buku kisah sejarah nabi dan rasul. Ia dulu sama sekali tak tertarik untuk membacanya dan mengerti akan isi dan maknanya, namu saat ini ia heran mengapa ia menjadi sangat tertarik. Ketika ia ingin mengambil sebuah buku tebal di deretan buku – buku lama, ternyata ada seorang santri perempuan yang mengamatinya. ia terlihat bingung akan sikap Yuuki,
            “Sedang apa?” Tegurnya sopan.
            “Eh…,sedang mengambil buku.”
            “Tertarik dengan hukum dagang islam yah?”
            “eh…?” Yuuki menjadi bingung.
            “jarang lho, ada santri yang menyukai itu, apa kau santri lama?”
            “bu…bukan.” Yuuki menjawab dengan gugup. Ia masih bingung.
            “lantas? Kamu anak SMA ya?”
            “bu…bukan juga.”
            “wah…,hebat. Anak SMP sudah menyukai hal begini.”
            “bu…bukan itu maksudku.”
            “oh…,aku tahu. Kamu ingin mempelajari lebih lanjut kan?”
            “eh…?” Yuuki terdiam ia bingung mau menjawab apa.
            “Nama saya Latipah. Saya murid SMA kelas satu di sini. Tetapi sedang tidak liburan. Kamu bisa panggil saya Kak Latipah.”
            “eh…iya kak.”
            “namamu siapa?”
            “Ni…Nisha Al- Fadira. Murid kelas dua SMP yang mengikuti program.”Yuuki menjawab dengan gugup. Mulutnya tak mampu berkata apapun.
            “baiklah…,saya yakin kamu ini murid yang cerdas. Karena kamu masih sekecil ini sudah tertarik akan hukum dagang Islam. Saya akan mengajarimu sedikit yang saya tahu. Saya juga tertarik akan hal itu.” Jelas Ka Latipah. Ia tersenyum sesudahnya. Senyumnya menciutkan nyali Yuuki untuk berbicara.
            Ka Latipah menjelaskan sedikit tentang Bagaimana Nabi Muhammad SAW dulu menjalani kehidupannya. Tentang caranya berdagang, dan segalanya. Untuk ukuran anak SMA biasa, Ka Latipah memang murid yamg cerdas. Yuuki pun mulai tertarik. Ia mulai mengagumi sosok Rasulullah. Segala budi pekertinya. Yang dulu pelajaran sejarah seperti itu sangat ia benci kini perlahan mulai membuatnya tertarik.
            Waktu semakin berlalu, teman – teman Yuuki telah selesai mengambil dan memilah buku mana yang mau mereka pinjam. Mereka mencari Yuuki. Ternyata Yuuki sedang membaca sebuah buku tentang sejarah Islam yang cukup tebal. Nilam pun terkejut,
            “ada angin apa dia?”
            “tau…,jadi tobat kayaknya.” Timpal Tika.
            “Alhamdulillah.”
            “iya bu…,alhamdulillah.”
            Mereka menghampiri Yuuki. Yuuk yang sedang serius membaca dan sedang tenggelam dalam Fantasy nya tak menyadari kehadiran ketiga orang itu. Namun, Tika yang usil mengagetkannya,
            “ea…!”
            “astaghfirullahal adzim!” Bukannya Yuuki yang terkejut, malah Mai yang terkejut. Yuuki hanya menoleh,
            “sudah mau balik ya? Yasudah ayo.” Yuuki melipat lembar yang ia baca. Lalu membawanya dan berkata, “aku mau pinjam ini”
            Nilam dan Tika hanya terheran – heran. Namun mereka masih tertawa dengan tingkah Mai. Yang menurut mereka sangat aneh.
            “Ayo…,tadi kalian yang buru – buru in.”
            “ayo…” Ujar ketiganya bersamaan.
            Sepanjang Jalan, mereka bertiga masih saja heran dengan sikap Yuuki. Sedikit kalem. Menurut mereka. Ada apakah gerangan? Tanya yang tak ada jawabannya.
            Langit senja pun tiba jua, kali ini Yuuki sudah siap. Ia tak mau terlambat lagi. Ada apakah gerangan?
            “ayo…dong. Kemarin kalian yang buru – buru.”
            “koq kamu semangat banget sih?” Tika bertanya dengan nada heran.
            “ha…ha…ha. Dari buku yang ku baca, Pahala seseorang yang shalat berjamaah itu 27 lho??”
            “memang…,iya.” Timpal Mai.
            “Maka itu, rugi banget aku sia – sia kan.”
            Teman – temannya hanya melihat dengan heran perubahan Yuuki. Ia lebih sering tersenyum. Sejak dari perpustakaan itu.  Kebiasaanya bengong, termenung, menggerutu, kini berkurang. Teman – temannya hanya berucap
            “Alhamdulillah.”

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar