Langit siang telah berlalu, kini menjelang sore. Yuuki telah bersiap untuk nanti menemui Ka Fatimah. Hatinya campur aduk. Akan dimarahi kah ia? Ia memakai baju muslim gamis paanjang dengan warna biru langit. tak terlalu mewah, karena hanya baju biasa.
Ia hanya mondar – mandir di depan pintu kamarnya. Tika yang melihatnya pun bertanya,
“Khawatir banget sih?”
“iya…lah…,namanya mau dimarahin.”
“kan belum tentu.”
“coba…,kamu di posisiku sekarang?”
“ah…,maaf deh.”
“kau sudah shalat Ashar?”
“Sudah…,tadi.
“oh…,kukira belum.”
“gawat…”
“kenapa?” sambung Mai tiba – tiba.
“ya…gawat lah.”
“lagian kamu koq tadi malam tidak tidur?”
“banyak pikiran neh…,aku.”
“apa aja tuh?” lanjut Tika.
“pokoknya banyak deh.”
“eh…,udah sore tuh.”
“ya sudah deh…,aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.” Jawab Tika dan Mai serempak.
Tiba – tiba, Nilam masuk. Mereka berdua kage dengan kedatangannya. Terlihat sekali Nilam habis berlari.
“Nisha mana?”
“udah jalan dia.” Jawab Mai dan Tika bersamaan.
“oh…,tadi aku habis jalan – jalan. Eh…,aku ngeliat Perpus gitu. Ke sana yuk?”
“ayo!” Jawab Tika semangat.
“Tunggu…, apa ga keterlaluan?” Mai berkata.
“loh?” Tika dan Nilam terkejut.
“nanti masa kita senang – senang diatas penderitaan Nisha?”
“ah…,bahasamu berlebihan mba.” Ujar Nilam.
“memang benar nanti kan?”
“kan belum tentu. Menurutku Ka Fatimah bukan tipe – tipe orang pemarah tau.” Jawab Tika.
Sepanjang perjalanan Yuuki terus berfikir. Seperti apakah hukumannya nanti. Ia hanya berharap, Ka Fatimah tak menjadi segalak Pak Mahmud,guru agamanya. Tak terasa perjalananya telah sampai di depan ruang guru. Ia menyiapkan diri. Yuuki sudah siap jika ia akan di semprot dengan hukuman – hukuman.
“satu…,dua…,tiga…” Saat ia mau membuka pintu ruang guru, ada suara yang memanggilnya,
“Nisha!!” Serunya. Panggilan itu membuat Nisha menoleh,
“Ka Fatimah?”
“iya…,ayo…,ke sini!”
Nisha berjalan menghampiri. Ka Fatimah mengajaknya ke pagar belakang. Di sana terdapat sawah yang membentang luas. Di dekat sebuah pohon Ka Fatimah berhenti, Yuuki bingung, dengan apa yang di lakukan Ka Fatimah.
“nah…,Sudah sampai.”
“Kak…, saya tak mengerti. Mengapa kakak mengajak saya ke sini.”
“kakak yakin, kamu tidak begitu menyukai pelajaran agama bukan?”
“he…he…he…iya kak..”
“sekarang kamu lihat hamparan pemandangan ini.”
Yuuki melihat dengan seksama. Ia di kejutkan dengan pertanyaan Ka Fatimah,
“Siapakah yang menciptakan ini?”
“Allah kak.”
“yakin?”
“iya lah kak.”
“Agamamu apa?”
“Islam…,kak.”
“Banggakah kamu?”
“Iya dong kak.”
“menurutmu…,apakah arti agamamu?”
Yuuki terdiam, ia bingung mau menjawab apa. Ia tak menjawab namun hanya menyengir sendiri. Tak ada yang pernah menanyakan hal ini padanya. Untuk sejenak mereka terdiam. Lama sekali
“PR bagimu, selama kamu di sini kamu harus menemukan jawaban atas pertanyaan kakak.”
“i…ya kak.”
“ayo…,kita kembali.”
Mereka berdua berjalan di tengah pemandangan yang indah. Dan kebimbangan hati Yuuki. Ia bingung,Dengan apa ia harus menjawab pertanyaan Ka Fatimah tadi. Ia sama sekali tak tahu mengenai hal itu. Selama ini, ia hanya mengerti Islam Agamanya. Namun, untuk arti ia tak tahu sama sekali. Mungkin, ini aneh tetapi memang begini adanya.
Waktu menjelang senja, Langit petang membayangi sore ini. Menjadikan waktu terasa begitu cepat malam. Azan maghrib mulai di kumandangkan. Gelap kemerahan, indah sekali. Suasana mulai ramai, penuh dengan langkah – langkah menuju masjid tuk menjalankan kewajiban sebagai umat muslim.
“Nisha…,ayo cepat rapikan alat shalat mu, kita kan mau ke masjid.” Ujar Mai.
“Ayo…,Nisha…,kamu kan nga mau ditinggal seperti waktu itu kan?” Panggil Nilam.
“ya…,kalian duluan saja. Aku masih mau berfikir.”
“kamu ini kenapa? Koq jadi aneh gini, habis dimarahi sama Ka Fatimah ya? Kami minta maaf deh Nis.” Pinta Mai yang merasa bersalah.
“nga…,bukan karena itu koq. Kalian duluan saja…,aku pasti menyusul sebentar lagi.”
“Hei…,cepat!! Keburu iqamah ni..” Seru Tika dari luar. Suaranya mengagetkan ketiga orang itu. Dan kemudian mereka menoleh,
“Sabar…,kami lagi bicara sama Nisha ni…” Jawab Nilam kemudian.
“Iya…,si…maaf.”
“Sudah…,kubilang duluan saja…si Tika udah ngomel – ngomel tu.”
“Bener ya…,tapi kau jangan marah lagi?” Tanya Mai menyelidik. Matanya seakan tidak percaya akan ucapannya.
“Ya…,takutan amat sih. Udah sana.”
“oke…,Assalamualaikum.” Seru Nilam dan Mai bersamaan.
“waalaikum salam.”
Kedua orang itu berjalan pergi meninggalkan Yuuki yang masih merenung sendiri. Cahaya senja yang semakin menghilang. Lalu beranjak gelap…dan mulai gelap. Sesaat, hening menghampiri. Yuuki semakin tenggelam dalam lamunan panjang yang tiada takkan terhabiskan. Namun, suara Iqamah mulai dikumandangkan…yang membuyarkan ia dari lamunannya,
“Allahhuakbar…allahhuakbar…allahhuakbar…asshadu allaila ha illallah…waashadu anna muhammadarrasulullah. Hayya alassalah…hayya alalfalah…qodqo matissalah..qodqo matissalah. Allahuakbar..allahuakbar. laaila ha illallah…”
“Aduh! Benar – benar sudah iqamah ni… cepat…,cepat…” Yuuki dengan tergesa – gesa memakai alat shalatnya. Ia berlari menuju masjid dengan tergesa – gesa. Beruntungnya, belum sampai rakaat pertama. Ia segera menempatkan diri pada shaf yang masih kosong. Lalu mengikuti shalat maghrib berjamaah.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar