Hari yang dinanti menjelang datang. Yuuki dan Nilam harus masuk ke pesantren selama liburan mereka. Masing – masing membawa barang – barang sendiri. Kakek Fathir pun sudah mendaftarkannya, sesuai dengan amanat Abi Yukki.
Nilam sih…senang saja. Tetapi Yuuki? Dengan wajah kesal ia melangkah. Ia mengambil hand phone dari saku baju panjangnya. Ia pun mencari nomor teman –temannya dan menulis SMS.” Detik – detik menuju hari – hari kesengsaraan.” Lalu ia mencari kata SEND dan menekannya. Hand phonenya merupakan model terbaru yaitu Touch screen. Lalu ia menaruhnya kembali di saku.
Nilam yang penasaran kamudian berbalik. Ia melihat Yuuki beraln lama… sekali. Kemudian ia menghentikan langkahnya. Kakek Fathir dan nenek Ida sudah duluan berjalan.
“kenapa sih..?jalannya lama sekali?” Tanya Nilam polos.
“engga koq..ngga ada apa – apa.” Yuuki tersenyum. Jelas sekali, hanya dibuat buat,Lalu ia mempercepat langkahnya.
Nilam yang semakin penasaran akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri bertanya pada saudaranya ini. Ia pun berlari menyusul. Baju gamis yang I kenakakan semakin bersinar seiring dengan teriknya matahari.
“eh…,Nisha. Aku mau tanya…,tapi kamu jawab jujur ya?”
“apa dulu?” Yuuki menyelidik.
“kamu itu kenapa sih? Jujur deh, aku lihat dari kemaren tuh kamu kerjaannya murung…terus. Dan aku juga tahu, senyummu pun kau buat – buat. Ayo dong…, cerita sama aku?” pinta Nilam.
“Nanti…,kamu juga akan tahu. Yuk…,lari kakek dan nenek sudah hampir sampai tuh.” Ajak Yuuki untuk mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya mereka sampai. Kakek segera mendaftarkan di bagian administrasi dengan data – data cucunya yang beliau bawa. Beruntunglah, Yuuki dan Nilam dapat masuk.
Yuuki melihat ke sekitar. Pemandangan begitu mempesonanya. Ia baru menyadarinya. Karena sepanjang jalan tadi ia hanya menggerutu. Yuuki pun menghirup nafas panjang.”Hufh….” tanpa arti. Lalu ia melanjutkan.
“ah…,baru kusadari. Indah sekali disini. Nyaman, hatiku terasa tanpa beban. Baru pertama kurasakan suasana sedamai ini. Namun hal itu tak juga merubah kesal dalam hatinya. Tapi ia mencoba berpikir positive.
“ah…,kurasa tak begitu buruk lah. Nyaman disini suasananya. Kuanggap sebagai wisata saja.”
Tanpa ia sadari saudaranya Nilam mendekat. Nilam tersenyum melihat Yuuki tersenyum. Yuuki kemudian menyadari kehadiran Nilam. Ia pun menoleh,
“lagi nagapain?”
“harusnya aku yang bertanya, kamu sedang ngapain sih? Tadi kulihat merentangkan tangan? Latihan Yoga?” goda Nilam.
“yee…,mana ada latihan Yoga make baju panjang begini.” Jawab Yuuki kesal.
“yee…,biasa aja kali. Emang lagi apa sih?”
“aku sedang memperhatikan tarian angin, nyanyian burung – burung, dan goyangan indah dedaunan. Asri sekali disini.” Yuuki pun tersenyum.
“oh…,begitu. Ya sudah, kita dipanggil kakek tuh.”
“cepat amat?”
“mungkin karena kakek sudah akrab dengan yang punya pesantren ini kali. Enakkan cepat lah, kan lebih cepat lebih baik.”
“huu…,ada – ada aja kau. Yaudah ayo ke kakek.”
Mereka berdua berlari bersama kearah kakeknya. Hentakkan kaki mereka berdua terasa sekali. Baju yang mereka kenakan, sama – sama baju gamis bermodel. Namun hanya berbeda warna saja. Nilam merah muda dengan putih. Yuuki biru tua dengan putih.
“ini kunci kamar kamar kalian. Dan nomor ini adalah nomor kamarnya. Kemungkinan satu kamar empat atau lima orang. Beruntunglah kalianberdua dapat sekamar.” Jelas kakek Fathir yang dilanjutkan dengan nasihat nenek Ida.
“Nisha, Nilam. Baik – baik ya kalian tinggal disini. Kakek dan nenek mau pulang dulu.” Ujar nenek Ida.
“iya kek, nek…pasti itu.” Nilam kemudian mecium tangan nenek dan kakeknya. Lalu mengedipkan sebelah matanya kearah Yukki yang terheran – heran penuh tanya. Lalu melanjutkan,
“iya…,kan Nisha?”
“te…n…tu.” Yuuki menyadari isyarat itu. Bahwa saudaranya tahu bahwa tiada kata lain yang dapat ia katakan. Lau ia menciun tangan nenek dan kakeknya.
Kemudian Nenek Ida dan Kakek Fathir berjalan berbalik untuk pulang. Yuuki dan Nilam berjalan mencari kamarnya. Yuuki kesal sekali dengan tingkah Nilam tadi, ia takut kakek Fathir ataupun Nenek Ida menyadarinya.
“dimana…dimana…ada asramaku. Aku mencarinya, tak dapat ku temukan.” Nilam menyanyi dengan nada lagu anak kambing saya.
“ih…,norak amat sih kamu Nilam. Pasti ketemu lah, orang kita punya nomor kamarnya.” Seru Yuuki ketus.
“yee…,biasa aja dong jawabnya. Jangan ketus gitu. Coba lihat nomornya?” Nilam melirik lalu ia menyeru.
“299…waw…,angka yang Funtastic!”
“ih…,kamu lebay deh.” Goda Yuuki lalu ia berlari dan Nilam mengejarnya melewati orang – orang lain yang sedang berjalan.
Kemudian Yuuki berhenti, ia melihat sebuah Tulisan besar tertapampang di bagian depan sebuah gedung besar yang kelihatannya seperti sebuah wisma.
“For The New Student” Nilam membacanya. Yuuki yang terdiam di depan sampai terkaget.
Lalu Yuuki dan Nilam masuk kedalam dan mulai mencari kamar mereka. Kamar pertama dimulai dari nomor 280. dan dalam satu lantai terdapat sepuluh kamar. Akhirnya Yuuki dan Nilam menemukannya. Kamar mereka tepat dilantai paling atas, yaitu lantai tiga. Nilam pum membuka kamar dengan kunci yang ia genggam.
Di dalam, terdapat dua tempat tidur susun. Berarti ada empat orang yang akan menempati kamar ini.. lalu terdapat Speaker kecil di dinding yang terletak diatas pintu. Terdapat empat lemari kecil. Sepertinya, diperuntukkan untuk meletakkan pakaian santri. Dan dua buah meja serbaguna. Dan di setiap meja terdapat satu Al – Qur’an besar lengkap dengan alasnya.
Yuuki memperhatikan sekeliling kamar tersebut. Bercat coklat muda dengan hiasan dinding berupa kaligrafi bertuliskan “ALLAH” di setiap sudut. Dan kaligrafi bertuliskan Ayat Kursi di dinding tengah. Yuuki tak begitu bisa untuk membacanya, tapi ia kagum dengan kaligrafi itu.
“subhanallah…,imut banget kamar ini. Lihat deh Nisha, ada empat tempat tidur berarti akan ada dua orang lagi disini. Asyik…! Dapat teman baru.” Seru Nilam dengan nada gembira. Sebaliknya Yuuki.
“engga sih…,enakan kamarku. Biasa aja kali, kamu mau jadi Ms. Lebay?” ujar Yuuki lalu ia tertawa sendiri.
“yee…,biarin Ms. Lebay. Dari pada kamu, Ms. Ga jelas.” Nilam balik tertawa.
“apa…sih…, fotocopy aja deh.” Ujar Yuuki sewot.
“ah…,sudah. Hilangkan sikap Egois. Yuk…,kita beres – beres barang dulu.” Jawab Nilam dengan sabar.
Beberapa saat kemudian, saat Yuuki dan Nilam sedang beres – beres. Ada dua orang remaja putri berpakaian muslim juga mengetuk pinu kamar. Yuuki tersetak kaget. Kepalanya terbentur dipan. Nilam tertawa terbahak – bahak. Lalu berjalan untuk melihat siapa itu.
“Assalamualaikum...,apa benar ini kamar nomor 299?” tanya salah satu anak perempuan itu.
“waalaikumsalam…iya ini memang kamar nomor 299. apakah kalian disini juga?” tanya Nilam ramah.
“iya…,kami disini juga.” Jawab salah satunya.
“wah…,perkenalkan namaku, Nilam Sari dan ini sepupuku Nisha Al Fadira. Kalian siapa?” tanya Nilam sesudah memperkenalkan dirinya dan Yuuki.
“oh…,Saya Maisarah. Kalian bisa panggil saya Mai. Dan ini saudara kembar saya, Kartika Devi. Panggil saja Tika.”
“Oke…,namamu Mai dan Tika. Tapi maaf yah…,katamu kalian kembar? Koq tidak mirip?” sela Yuuki tiba – tiba.
“hei Nisha, jangan suka menyela. Tidak sopan itu. Mai, Tika ayo kita bercakap – cakap didalam saja.” Nilam mengajak mereka berdua masuk kedalam kamar.
“huu…,birin sih Nilam,Kau ini. Ayo lanjutkan yang tadi.” Yuuki mendadak menjadi begitu bersemangat.
“he…he…he…,kalian pasti bingung yah? Kami ini tidak kembar identik. Jadi tidak sama persis lah.” Seru anak perempuan yang bernama Tika.
“kalian bersekolah SMP mana?” tanya Nilam tiba – tiba.
“kami bersekolah di SMP IT Muslimah Jakarta. Kami tingkat dua.”
“waw…,kita sebaya.” Ujar Nilam pendek.
Yuuki kemudian teringatsesuatu hal. Ia sangat ingin menyampaikannya. Sepertinya esuatu hal yang sangat berarti baginya.
“eh…,ngomong ngomong tadi namamu Mai kan?”
“iya…,itu nama panggilan. Memang kenapa Nisha?”
“namu keren juga, ada unsur Japanese gimana gitu.”
“iya…,dong. Aku.” Mai bangga.
“aku juga tidak kalah keren, namaku YUUKI.”
“bukannya Nisha?” Tika bingung mendengan ucapan Yuuki.
“itu nama asli ku. Tetapi, nama keren berbeda.” Ucap Yuuki bangga.
Namun, hal aneh terjadi pada Nilam setelah mendengar nama itu. Ia merasa tak asing dengan nama itu. Kemudian ia tersentak kaget setengah tidak percaya.
“ha…,YUUKI?” serunya sesaat.
“iya…, akulah Yuuki. Memang kenapa Lam?”
“masa..?”Nilam terkejut tidak percaya.
“Benar deh. Oh..iya aku tak pernah memberitahumu. Mungkin kau Shock mendengar namaku yang keren ini.” Ujar Yuuki dengan pedenya.
“bu…,bukan.”Sahut Nilam tergagap.
“terus?” Yuuki tidak mengerti.
“waktu itu, aku punya teman Chatting namanya Fuad. Anak SMP Al Madinah. Dia suka cerita, ada anak di sekolahnya yang bernama Yuuki yang suka membuat gara – gara sama guru agamanya dan suka membuat keonaran. Terus, dari waktu itu sampai dengan sekarang aku masih saja penasaran dengan anak bernama aneh itu. Aku tak menyangka, kalau itu kamu?” Jelas Nilam.
Tiba – tiba Mai dan Tika tertawa bersama setelah mendengar penjelasan Nilam. Yuuki malu sekali, ia terkenal dengan kejelekannya. Padahal ia sudah terlanjur percaya diri sekali tadi. Dan juga ia sangat kesal dengan Fuad. Sebagai teman, ia tak perlu dong menceritakan hal yang seperti itu.
“ih…,si Fuad itu. Awas…, dia.” Geram Yuuki. Lalu ia melanjutkan.
“dia cerita apalagi Lam?” dengan muka memerah karena malu.
“memang kau mengenal Fuad?” tanya Nilam.
“Pasti. Dia itu temanku, Fuad Zulkarnaen.” Jawab Yuuki kesal.
“oh…, kalau begitu, kamu juga mengenal Tio dan Ramlan?”
“oh…, Pastinya. Mereka musuhku. Senangnya jadi provokator mereka. Mereka cerita apa saja Lam?” geram Yuuki.
“eh…, kenapa kamu musuhi mereka?” Tanya Mai tiba – tiba.
“Tadi kan sudah kubilang, mereka sukanya jadi provokator teman – trman ku agar pada meledekku.”
“Musuhan itu dosa…, lho…” ingat Tika.
“Ah…, sudahlah. Ayo Lam.”
“Mereka nga cerita jelek tentang kamu koq. Mereka cuma bilang di sekolahnya ada anak, lucu banget. Namanya Yuuki.”
“lah…,bohong ya kamu Lam?” Selidik Yuuki yang setengah tidak percaya
dengan ucapan Nilam tadi.
“Beneran,masa kamu tidak percaya padaku sih Nisha.”
“habis…,mereka itu kan berdua tukang provokator dan yang suka membuatku kesal. Mana mungkin mereka tidak berbicara tentang kejelekanku?” Selidik Yuuki.
“benar deh…,ya kalau kamu tak percaya padaku sih…,terserah. Aku kan sudah jujur 100%. Bohong itu dosa lho…” Ucap Nilam.
“Nisha, siapa tau mereka itu sebenarnya ingun sekali berteman denganmu. Namun, tidak tahu caranya.” Jelas Mai.
“Ya sudah deh…,aku nga ngerti sama jalan pikiran dua orang itu. Eh…”
“Apa…?’ Tanya Mai, Tika, dan Nilam bersama.
“kalian jangan panggil aku Yuuki deh. Nisha aja.”
“tadi katamu keren...,tu nama.”
“ah…,ga jadi. Aku takut si Fuad cerita – cerita sama anak dari sekolah lain juga. Dan mungkin, ada beberapa nya disini.”
“ha…ha…ha…,ada – ada saja kau Yuk..Yuk.” Nilam tertawa setelah mendengar penjelasan Yuuki. Lalu ia teringat,
“Ups…,salah.”
“Nisha.” Ujar Mai.
Kemudian Mai dan Tika bergerak untuk merapikan barangnya. Dibantu Yuuki dan Nilam. kemudian mereka teringat sesuatu. Untuk sesaat, mereka diam sejenak. Lalu berseru bersama – sama,
“Untuk tempat tidur…,ayo kita gambreng!!” seru Mai dan Tika serempak.
“oke – oke, yang keluar pertama dan kedua mendapat tempat dibawah. Dan yang ketiga dan keempat diatas. Oke?” Tika memberi penawaran
“okelah kalo begitu. Ayo.” Ujar Yuuki pendek.
“Satu, dua, tiga. Hompimpa alaihum gambreng!!.” Seru mmereka berempat.
Yang pertama keluar ialah Mai. Dan yang kedua ialah Nilam. jadi, yang mendapat tempat tidur diatas ialah Yuuki dan Tika. Yuuki merengut sesaat. Kemudian ia tersenyum penuh kebanggaan.
“ha…,biasalah. Orang keren itu pasti selalu mengalah.” Ujarnya dengan penuh percaya diri.
“Emang yah…,baru tau saya.” Tika kebingungan.
“pasti dong…,contohnya kita berdua ini orang kerennya.”
“heleh…, Bukannya kebalik tuh.”
“Apanya…?” sesaay Yuuki bingung dengan ucapan Nilam.
“Yang kalah itu pecundang kali, bukannya keren.”
“Ha…ha…ha…ha.” Mai dan Tika tertawa. Yuuki cemberut sendiri. Lalu ia membalas ucapan Nilam,
“ah…,saya mah…, Legowo orangnya.”
“huu…u..u.” Seru Mai, Tika, dan Nilam bersama.
Mereka semua tertawa bersama – sama. Yuuki merasa bahwa tinggal untuk di pesantren ini tidak terlalu buruk. Ia mendapat teman baru yang asyik dan juga sepertinya ia takkan bosan dengan pelajaran – pelajaran yang nantinya akan ia terima. Ia pun mendesah perlahan,
“tidak…,terlalu buruk lah.” Desahnya pelan. Diantara gelak tawa teman – temannya. Ia tersenyum sendiri tanpa diketahui oleh teman – temannya.
Pagi itu begitu cerah, secerah semangat dan raut wajah gembira anak – anak yang sedang tenggelam dalam gelak tawa itu. Dan diantara ramainya anak – anak lain yang sedang sibuk mencari – cari kamar. semua sama.
Sesaat, ketika jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Terdengaran suara seruan dari speaker yang memanggil seluruh santri – santri baru untuk beranjak ke lapangan dengan segera untuk menerima berbagai wejangan dan amanat selama mengikuti program di pesantren itu.
Seruan itu membuyarkan gelak tawa Yuuki dan teman – temannya itu. Mereka pun segera beranjak. Merapikan penampilan, kemudian berlari ke lapangan. Jarak dari wisma ke lapangan tak begitu jauh. Empat sahabat itu berlari dengan tergesa – gesa, mereka kira mereka sudah terlambat. Tiba – tiba langkah Mai terhenti, ada sesuatu yang mau ia ucapkan. Hal itu membuat langkah ketiga temannya ikut terhenti.
“Eh…,selama Liburan ini kita bersahabat yah…?” Tanya Mai seraya tersenyum. Manis sekali, ditimpa kilauan mentari pagi.
“iya…,dan kuharap juga nantinya kalau liburan ini usai, kita takkan kehilangan komunikasi.” Tambah Tika.
“ya…,asalkan kalian tak jadi sombong saja nantinya.” Timpal Yuuki.
“Oke..siip dah.!!” Seru Mai, Tika, dan Nilam bersama – sama dismbut dengan senyuman Yuuki.
“Ayo…,cepat. Kau tak mau kan kita mendapat barisan paling belakang.” Lanjut Mai kembali.
“huu…,tadi yang berhenti duluan siapa.?” Tambah Yuuki seraya melihat kearah Mai.
‘Ayo..lah jangan bertengkar.. yuk…cepat.” Sambung Nilam dan Tika. Kaemudian mereka berempat berlari.
Sesampainya dilapangan mereka melihat santri – santri berpakaian muslim panjang sedang berbaris.kira – kira seratus orang jumlahnya, gabun gan antara Sekolah Menengah Atas, Pertama, dan sekolah dasar. Kemudian mereka melihat tulisan, “BERBARIS SESUAI NOMOR YANG KALIAN DAPATKAN DI KAMAR.” Yuuki membaca dengan suara agak keras.
Yuuki mendapat barisan yang sama dengan Tika. Sedangkan Nilam dengan Mai. Mereka berbaris untuk mendapat pengarahan kegiatan oleh ketua kegiatan, yaitu
Bapak KH. Mochtar.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi. Berarti sudah satu jam mereka berbaris. Para santri yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian berbagai penjelasan yang beruntun dituturkan oleh ketua kegiatan. Yang sebenarnya jika di dengarkan dengan sunguh – sungguh. Namun Yuuki sungguh tak bias menyembunyikan rasa penat yang mulai merayapi tubuhnya, fikirannya melayang kemana – mana. Tubuhnya mulai tak tahan berdiri mulai bergerak – gerak mencari kesibukan lain. Tak sengaja, tangan nya menyenggol tubuh Tika yang sedang serius mendengarkan. Tika kemudian menoleh dengan pertanyaan yang menghinggapinya. “sedang apa si Yuuki ini?”
Yuuki yang salah tingkah pun mencoba mencari alasan,
“eh…,Tika. Maaf…,tadi kakiku digigit semut nih.” Ujar Yuuki gugup.
Tika melihat kebawah, dilihatnya tak ada semut sama sekali. Dan juga, Yuuki pun memaki kaus kaki. Jadi mana mungkin digigit semut. Ia pun tersenyum, seakan dapat membaca isi hati Yuuki saat ini. Ia tahu bahwa Yuuki begitu tak betah untuk berdiri
lama – lama. Yuuki yang melihat itu menjadi bertanya – tanya.”ada hal apakah Tika tersenyum mencurigakan seperti itu?”
tika kemudian melihat kearah Yuuki, dan berkata,
“aku tahu, kamu sudah tidak betah kan?” Tanya Tika menyelidik.
“he..he..he. iya aku sudah tidak betah dan kesal juga nih di sini.” Yuuki nyengir seakan tak bersalah.
“ha…,aku sudah menduganya. Payah kamu baru berdiri saja sudah begini.” Ujar nilam kemudian kembali berbalik dan kembali mendengarkan.
Akhirnya, pokok kegiatan dibacakan juga. Seluruh santri di wajibkan bangun pukul tiga pagi untuk melaksanakan shalat tahajud, diwjibkan juga untuk shalat di masjid pesantren, diwajibkan untuk selalu mengikuti pelajaran,dan tidak ada acara untuk menonton televisi.
Setelah mendengar itu Yuuki kesal sendiri. Karena semua itu bertentangan dengan kebiasaannya sehari – hari.ia pun terus saja mennekuk wajahnya sampai berakhirnya pengarahan itu.
Wajahnya terus ditekuk, ia berjalan mendahului teman – temannya. Langkahnya di percepat karena kesal. Teman – temannya hanya memandangnya dengan wajah terheran – heran.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar