Halaman

Jumat, 22 Juli 2011

Mencari Sebuah Arti(4)


Ia kesal sekali. Di sepanjang perjalanan Yuuki teru saja bertanya dalam hati. ”mengapa hal ini harus ia sendiri yang mengalami?dan mengapa Nur Yang harusnya bersamanya untuk menanggung ini, harus sakit?” Pertanyaan – pertanyaan semu yang tak ada jawabannya. Ia pun membayangkan hal – hal yang mungki akan terjadi padanya. Seperti mendengar ceramah membosankan seperti yang biasa dilakukan oleh Pak Mahmud dan Bu Anita, dicekoki tulisan – tulisan yang ia sendiri tak mengerti, mendengarkan penjelasan – penjelasan yang baginya sia – sia, dan berbagai hal lainnya yang dalam fikirannya ia akan mengantuk. Abinya hanya melihat Yuuki dengan tersenyum. Ia tau anaknya mungkin sedang memikirkan suatu hal.
Ketika sampai di depan rumah kakek Fathir, ada seorang wanita tua berjilbab coklat, seperti yang Yuuki kenakan. Wajahnya berseri merona memandang Yuuki dan ayahnya. Lalu keluarlah pria tua yang memakai pakaian Koko putih dan sarung bermotif kotak – kotak. Ia terlihat segar walau sudah berumur. Yuuki dan Abinya segera Sungkem kepada keduanya.
“Nisha...?” Tanya lelaki tua itu.
“Ya…, kek. Ini Nisha.”
Kemudian tanpa diduga, seorang anak permpuan berjilbab merah muda yang seumuran dengan Yuuki keluar dari dalam rumah. Yang ternyata anak itu adalah sepupu Yuuki, Nilam. Ia tersenyum cerah sekali memandang Yuuki. Kelihatan sekali, ia begitu senang dengan kedatangan Yuuki. Karena dapat menjadi temannya ketika liburan.
“Hai…,Nisha..!” sapanya dengan ramah dan penuh semangat.
“Hai…,Kamu siapa ya?” Yuuki heran melihat Nilam.
“Ah…,sombong nih ya, gara – gara sudah lama tak bertemu masa tak kenal aku.”
“Maa…f. aku benar – benar lupa deh.”
“Aku ini Nilam. Kau ingat? Nilam Sari lho.”
“Oh…,Nilam. Maaf deh aku baru inget. Kamu sudah lama disini?
“Baru kemarin aku diantar oleh Abi. Masa gara – gara lama tak bertemu, kamu lupa dengan ku. Terlalu deh.”
“iya…,iya maaf deh.” Yuuki menggaruk – garuk kepalaya seraya tersenyum. Dalam hatinya berkata “ Asyik…,bukan Cuma aku yang akan menderita. Dan kuharap Nilam juga tak setuju dengan usul pesantren Abi.” Lalu ia menyeringai.
Abi yang setelah berbicara sesuatu dengan kakek Fathir pun berpamitan. Lalu kembali ke Jakarta. Sebelum itu Abi berpesan,
“Nisha…, Abi harap setelah pulang nanti, akan ada prubahan dalam dirimu. Abi yakin kamu pasti betah liburan di sini. Baik – baik ya. Abi pulang dulu, segala tentang pendaftaran mu sudah Abi serahkan  pada kakek. Abi mau menemani Ummi mu yang sedang menjaga Nur.”
Yuuki tercengang. Berfikir dengan adanya Nilam Abinya tidak jadi memasukkannya ke sana. Eh…, Abinya malah menyerahkan pada kakeknya. Harapan terakhir Yuuki hanya Nilam sepupunya akan menolak usul itu.
Tak ada kata lain  yang dapat ia ucapkan selain “Ya” kepada Abinya.
Kakek Fathir pun segera menyuruh Yuuki dan Nilam untuk masuk kedalam rumah. Dan secara kebetulan, sudah masuk waktu Ashar. Kakek Fathir pum menyuruh Yuuki dan Nilam untuk segera melaksanakan Shalat Ashar bejamaah bersama diirinya dan Nenek Minah. Setelah itu, kakek Fathir diam sejenak lalu ia menyampaikan suatu hal,
“Cucu – cuku ku, di dekat sini ada pesantren yang mengadakan suatu program. Tentunya kau sudah tahu kan Yuuki?”
“Iya kek…” jawab Yuuki pasrah. Ia sudah menduga kakeknya akan mengatakan hal ini juga pada akhirnya.
“proram apa? Aku tidak tahu?” Tanya Nilam dengan penasaran.
“Program liburan” Jawab Yuuki pendek.
“memangnya ada hububgan apa liburan dengan pesatren?setahuku, kita hanya akan liburan di pedesaan?”
“Program yang hanya meliburkan saat libur lebaran. Tetapi kalau liburan seperti ini mereka tidak libur. Kan tidak semua, santri pesantren pulang kerumahnya saat liburan. Jadi mereka mengadakan program yang hanya khusus membahas bidang agama saja, dan mereka mau menerima santri sementara.” Jelas Kakek Fathir.
“Tapi kek.., berarti kita harus pindah sekolah dong?” Tanya Nilam yang masih bingung dengan penjelasan kakeknya.
“Maksud kakek begini…, kalian berdua aakan sementara saja disana. Ya…,hanya selama liburan ini.”
“oh…,begitu kek aku mengerti. Tapi, memangnya harus ya kek?” Tanya Nilam kembali.
“Harus dan penting. Karena agar liburan kalian lebih bermakna. Setuju tidak?”
Yuuki deg – degan menanti jawaban sepupunya. Ia berharap sekali Nilam akan menjawab tidak untuk pertanyaaan kakeknya itu. Karena tinggal ucapan Nilam lah harapan satu – satunya.
“Setuju…! Kek…, tentu pasti aku setuju.” Nilam menjawab tantanpa ragu – ragu. ia kelihatan semangat sekali untuk menjawb pertanyaan kakeknya itu. Kemudian ia menoleh kearah Yuuki.
Tak ada yang dapat Yuuki perbuat. Lisannya terasa beku setelah mendengar ucapan Nilam. Ia tak menyangka, hal itu terjadi di luar dugaannya. Tak ada kata lain yang mungkin kan ia ucapkan selain kata “Ya” setelah semua harapannya pupus begitu saja. Nilam pun mengucapkan kata yang ia bayangkan,
“How about you Nisha?” ia tersenyum memandang Yuuki yang kelihatan sekali begitu terpojok.
“aku…, se…,tu…,ju…” jawab Yuuki terbata – bata.
“sebuah keputusan yang sangat bagus cucu – cucu ku.” Ujar kakek Fathir yang terlihat senang sekali.
“Yeah…, Nisha. We say a good answer…!” Seru Nilam senang.
“Yeah…, I hope it.” Jawab Yuuki dengan pasrahnya.
Pupus sudah segala harapan Yuuki. Ia termanggu sembari berjalan dengan gontai untuk mengambil kopernya dan meletakkannya di kamar. Dengan pandangan kecewa, sebuah nada pendek keluar “ Hufh…” tanpa arti apapun. Hanya sebuah helaaan nafas panjang tanpa maksud.
           
Lalu setelah itu Nilam dan Yuuki melangkah kearah kamar tempat dimana koper yang tadi diletakkan oleh Abinya Yuuki. Nilam melangkah dengan penuh keceriaan sedangkan Yuuki? Melangkah dengan gontai. Namu kali ini ia berusaha sekali, agar Nilam tak melihatnya. Karena ia malu sampai Nilam membaca isi hatinya saat ini. Dengan rasa kesal yang mulai merayap, Yuuki berjalan hingga ia tak melihat ada kursi di depannya, alhasil ia menubruk kursi itu. Nilam dan neneknya tertawa terpingkal – pingkal. Yuuki malu sendiri. Ia hanya bisa menyengir kesakitan.
Di dalam kamar, Nilam terlihat heran dengan sikap Yuuki. Masa sih, kursi sebesar itu ia tak melihat? Sebenarnya sedari tadi ia sudah menyembunyikan kecurigaannya dengan sikap Yuuki. Namun ia pura – pura tidak memperhatikannya. Dengan polos ia bertanya,
“hei…,hei…,Nisha?”
Yuuki masih termenung. Ia tak mendengar apa yang di katakana oleh Nilam tadi. Tangannya di naikkan kedagu, dan ia menopanginya. Nilam pun menyeru kembali,
“hei…,hei…, Nisha?kau mendengar aku tidak sih?” Nilam sudah mulai kesal.
“eh…,apa – apa…, tadi sampai mana ya?” Yuuki tersentak dengan seruan Nilam. Buyar sudah lamunan penyesalannya.
“sampai terminal semarang.” Ujar Nilam sinis.
“maaf deh…, beneran tadi aku tidak tahu sama sekali?” Yuuki kebingungan sendiri.
“ha…,ha…,ha…, jangan dibawa serius dong. Santai saja.”
Nilam tertawa melihat sikap si Yuuki. Lalu ia melanjutkan kalimatnya.
“tadi aku cuma memanggilmu…”
“ada apa?”
“tadi aku hanya mau menanyakan kenapa wajahmu dari tadi kuperhatikan tuh, mu terus saja ditekuk. Ga bagus lo?”
“ah…,aku tidak murung koq…, lihat ni.” Yuuki menarik kedua pipinya lalu tersenyum. Anak kecil pun tahu, hal seperti itu Terlihat sekali hal itu hanya dibuat – buat saja.
Nilam pun mengetahuinya. Tapi ia berpura – pura tidak mengetahuinya. Padahal berbagai tanya masih menyelimuti dirinya. Ada apakah gerangan dengan saudaranya ini? Namun ia tak berani untuk mengungkapnya.
“iya…,iya…,tau deh aku. Eh udah yuk…shalat ashar.” Ajak nilam.
“iya…, ayo.” Jawab Yuuki walau setengah hati.
Selama ini Yuuki malas sekali untuk melaksanakan kewajibannya sebagai orang islam, yaitu shalat. Untuk itu ia harus di udag – udag oleh Umminya baru ia mau melaksanakan. Ciri khas remaja. Umminya pun heran dengan perilaku anak gadisnya ini.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar