Halaman

Jumat, 22 Juli 2011

Mencari Sebuah Arti(1)


           Gadis itu tak terlalu tinggi,ia memakai jilbab putih yang seragam dengan bajunya. Namun,nampak sekali ia berjalan dengan santai seperti tak ada sesuatu yang berat. Ringan langkahnya seirama dengan senandung kehidupan. Seketika ada seruan yang memanggilnya tuk menoleh kebelakang. Seorang gadis yang berpakaian sama sepertinya berlari menghampirinya. Dan sepertinya gadis itu akan mengatakan sesuatu yang sangat, bahkan penting kepadanya.
            “Yuuki!...,Yuuki!” gadis itu berseru dengan semangat sekali.
            “Ada apaan sih,Lian?”
            “Hari ini kan pelajarannya Pak Mahmud, kau tak lupa membawa Al-Quran kan?”
            “Apa…?” gadis yang dipanggil Yuuki itu terkejut. Matanya membelalak seakan ia tak tahu sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu. Atau mungkin ia tak begitu yakin,temannya itu berkata apa.
            “Duh…,duh…Yuuki…,Yuuki sudah kuterka pasti kau tak membawa?iya kan? Kau kan sering kena omelan dan cubitan Pak Mahmud. Aku heran kau masih saja bandel yah.” Ujar temannya yang olehnya dipanggil dengan nama Lian itu heran. Lalu menggelengkan kepala.
            “Ah…,Lian birin aja lah. Lagi aku juga tak suka gitu sama pelajarannya. Ga ngerti sama sekali dia tuh ngomong apa. Apalagi ketika dia menjelaskan…, mau tidur aja aku”. Ujar Yuuki santai.
            “Hush…,dasar kau. Biar gimana juga beliau itu guru kita. Kita wajib menghormatinya. Dan juga kita itu butuh pelajaran darinya sebagai pedoman agar kita mengerti tentang bagaimana cara membaca Al-Quran dengan baik dan benar, tentang kisah-kisah nabi dan rasul sebelum kita, tentang perilaku baik dan buruk, dan lainnya. Penting itu, kamu ini sembarang saja berbicara.” Jelas Lian.
            “Tau…,tau…,Bu Ustdzah kita ini.Ia…,ia.” Tanggap Yuuki Santai, lalu ia berjalan pergi meninggalkan Lian yang semakin diliputi rasa heran akan sikap sahabatnya yang satu ini.
            Nisha Al Fadira, atau biasa dikenal dengan nama “Yuuki” ialah seorang siswi tingkat dua di SMP IT Al-Madinah. Ia seorang siswi yang sedikit…,atau bisa dikatakan sembarangan dan suka asal saja berbicara. Teman-temannya memanggilnya Yuuki karena ia sangat lucu ketika dihukum. Dan ia memang sering kena hukum dan berurusan dengan guru. Terutama Pak Mahmud. Entah karena ia tak memperhatikan pelajaran, tidak membawa Al-Quran, dan mungkin saja karena nia sering tidak mencatat dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Mahmud.
            Nisha sangat tidak menyenangi pelajaran Agama Islam,Entah mengapa. Bukan hanya dikarenakan oleh gurunya, ialah Pak Mahmud. Lelaki tua yang jika menjelaskan…,Lamanya minta ampun. Tetapi juga ketidak mengertian ia tentang apa arti islam yang sebenarnya. Tak ada orang yang dapat menjelaskan hal ini padanya dengan jelas dan lengkap disertai pembuktiannya. Penjelasan dan pengertian dari guru-gurunya, tak cukup untuk memuaskan rasa penasaran dan ingin tahunya itu. Malah membuatnya semakin jengkel dan tak mengerti. Ciri khas remaja.

*****
            “Assalamualaikum…!!” Seru Yuuki membuka pagar rumahnya,kemudian masuk dengan langkah santai.
            “Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, bagaimana pelajaranmu hari ini Nisha?” Jawab seorang wanita berjilbab yang baru saja keluar dari dalam rumah. Yang ternyata adalah ibu Nisha.
            “Biasa…,Ummi. Ya tak ada yang menarik atau spesial gitu.” Ujar Yuuki santai selepas mencium tangan Umminya itu.
            “Kalau Ummi tak salah ingat, hari ini pelajarannya Pak Mahmud bukan? Kamu tidak kena masalah lagi dengan beliau kan Nisha?” Tanya Ummi Salma,Ibu Yuuki menyelidik.
            “he…he…he…he…, kalau masalah omelan sih sudah biasa Ummi. Hari ini Nisha lupa tidak membawa Al-Quran lagi.”
            “Nisha…,Nisha…, Pak Mahmud itu sudah tua. Beliau jangan kau buat stress terus dengan setiap pelajarannya beliau harus selalu memarahi mu. Ummi juga tahu, hal itu berat baginya.”  Jelas Ummi.
            “Iya…,Ummi hal itu Nisha tahu. Tetapi yah…,Ummi kan tahu Nisha tak begitu suka dengan pelajarannya. Membosankan Ummi.” Jawab Yuuki. Seraya meletakkan sepatunya di rak sepatu lalu berjalan masuk kedalam rumah.”
            Yuuki terkejut melihat sudah ada tas besar di depan kamarnya. Ia penasaran untuk apakah gerangan tas besar itu? Apa isinya? Dan mengapa ada di depan kamarnya? Yuuki diselimuti pertanyaan-pertanyaan saat ia memandang tas besar itu. Lalu Umminya berjalan dari luar dan berkata,
            “Kamu akan berlibur dirumah kakek Fathir minggu depan. Minggu depan kamu kan liburan menjelang pembagian rapor mid semester bukan?”
            “i…,ya sih Ummi.ada Liburan semingguan lebih. Tapi,mengapa Nisha harus berada disana Ummi.” Ujar Yuuki setengah terbata-bata. Dalam fikirannya terbersit,
            “aduh…, kerumah kakek Fathir?yang berada di dekat pesantren itu? Aduh…, apakah mungkin Ummi akan memasukkan ku kesana?” tanyanya dalam hati lalu ia termenung lagi dan menjawab sendiri,
            “tidak…,tidak…, mana ada pesantrn yang tidak libur saat liburan?” lalu Yuuki tersenyun sendiri saat jawaban itu terlintas dalam fikirannya.
            Namu apa yang di fikirkan Yuuki bertentangan dengan ucapan Umminya, bahkan apa yang ia fikirkan pertama menjadi kenyataan,
            “Ummi berniat mau memasukkan mu ke pesantren di dekat rumah kakekmu.” Ujar Ummi singkat.
            “ta…,ta…,pi Ummi. ma…,na…,ada pe…,san…,tren yang tidak libur saat liburan se…,se…,kolah be…,be…,gini?” tanya Yuuki terbata-bata.
            “ada dong? Disana itu kalau liburan sekolah, meliburkan para siswanya. Tapi belum tentu semua siswa pulang kerumahnya. Jadi menurut informasi dari kakekmu itu, pesantren itu hanya meliburkan pelajaran-pelajaran umum untuk siswa yang tidak pulang. Tetapi, untuk pelajaran agama tidak. Jadi, Ummi berfikir untu memasukkan mu sementara untuk mengisi liburan mu, dari pada terbuang sia – sia lebih baik untuk disana. Dapat menambah ilmu.” Jelas Ummi lalu ia tersenyum melihat raut gelisah yang nampak dari wajah anaknya itu sesudah mendengar penjelasannya.lalu ia melanjutkan,
            “sepertinya tak ada halangan bagimu. Kalau begitu baiklah, kamu akan disana bersama dengan adikmu Nur. Ia juga liburannya sama denganmu.” Ujar Ummi lalu berjalan ke dapur. Sebelumnya ia berkata,
            “kamu belum shalat ashar kan? Sudah sana shalat dulu. Nanti hal ini akan Ummi sampaikan dulu kepada Abi mu. Ummi yakin Abi pasti setuju dengan niat baik Ummi ini.” Lalu Ummi menghentikan penjelasannya dan berjalan pergi meninggalkan Yuuki yang masih dengan raut wajah gelisah sedari tadi.
            Rumah kakek Fathir terletak di sebuah desa di Semarang,Jawa Tengah. Tepatnya di dekat sebuah pesantren. Setiap libur Lebaran Nisha sekeluarga selalu kesana. Namun Lebaran kemarin ia tidak kesana. Dikarenakan pekerjaan Abinya tidak memberikan waktu cuti.
            Yuuki tahu betul, disana itu seperti apa. Tetapi, ia belum tahu tentang pesantren itu. Dan kini harapannya adalah Abinya tak mengizinkannya untuk pergi. Namun nasib berkata lain dari yang ia harapkan, Abinya justru sangat mendukug usul Umminya itu. Dan bahkan Abinya berkata,kalau bisa Yuuki lebih lama disana. Duh…,duh…,betapa jengkelnya batin Yuuki.

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar