Hari ini penutupan program mereka. Diadakan acara perpisahan. Namun, bagi Yuuki, pesantren ini memberi banyak makna baginya. Ia menemukan artinya pertemanan, pengetahuan, dan yang paling berharga ia dapat yakin 100% terhadap agamanya.
Seluruh barang telah siap di bawa, Yuuki dan Nilam menunggu Kakek Fathir dan Nenek Ida datang menjemputnya,
“Nisha…,jangan lupakan kami ya!” Seru Mai.
“Kau juga Nilam!” Seru Tika.
“Tentu!” Seru Yuuki dan Nilam bersamaan.
Kakek Fathir menjemput mereka bersama Abi dan Ayah Nilam. Nilam pun berbisik,
“Hei Yuuki, kita pasti akan sering Chatt .“ bisiknya lembut kemudian pergi. Yuuki hanya tersenyum.
“Abi…,besok Nisha sudah sekolah biasa kan?”
“iya.”
Di sekolah, suasana masih agak sepi karena liburan baru saja usai. Namun, Yuuki yang kini mencoba menjadi seseorang yang baru berjalan menuju ruang guru. Namun, tiba – tiba Tio dan Ramlan menghentikannya,
“het…,mau kemana nih?”
“sudah minggir.”
“ga boleh…ga boleh.” Ledek Tio dan Ramlan.
Yuuki pun menarik nafas sejenak lalu ia mengucapkan,
“Maaf yah…,selama ini aku sering menjewer telinga kalian.” Yuuki tersenyum manis sekali. Tio dan Ramlan tak bergerak. Mereka heran dengan perubahan sikap Yuuki.
Di ruang guru, Yuuki meminta maaf kepada seluruh guru yang sering sekali dibuat kesal olenya. Terutama Pak Mahmud,
“Bapak, saya minta maaf pak.”
“benar kamu tak menulangi lagi?”
“benar pak…,lihat pak.” Yuuki membuka tasnya. Ia mengeluarkan AL –Quran besar,
“pak…,sekarang saya bawa setiap hari pak. Malah yang ada terjemahnya pak.”
“iya…,iya bapak maafkan.”
Yuuki mencium tangan Pak Mahmud lalu keluar. Teman – temannya melihat dengan heran. Lalu menanyakan,
“eh…,ada angina apa Yuuk?”
“sekarang namaku Nisha Al – Fadira.”
“he…,he…,he…yang ank pesantren nih.” Goda Lian.
“sekarang aku mengerti.”
“Apa?” Fuad, Lian, dan Kiana bertanya.
“Islam merupaka karunia teindah dalam hidupku. Aku beruntung sekali lahir dan tumbuh dalam Islam. Aku bangga menjadi orang Islam.”
“Ada bu Uztadzah ni?” Goda Fuad.
“ah…,biarkan.” Yuuki menjawab dengan santai. Di sertai riuh tawa teman – temannya.
Dirumah pun, Yuuki meminta maaf kepada Umminya, jikalau ia sering membuat Umminya kesal, atau apa. Umminya memaafkannya. Lalu Yuuki dengan pasti berucap,
“Ummi, SMA nanti aku mau di Pesantren!” Ujarnya Pasti tanpa keraguan. Yang disertai senyuman Umminya.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar