Halaman

Jumat, 22 Juli 2011

Mencari Sebuah Arti(8)


Ka Fatimah melihat kea rah belakang, Ka Fatimah melihat Yuuki dengan pulasnya tertidur. Ia tak marah, tetapi hanya tersenyum simpul penuh makna. Ia bebalik seakan tak melihat apa – apa.
            Waktu terus belalu, waktu untuk materi telah selesai. Seluruh santri telah beranjak untuk keluar kelas. Namun Mai, Tika, dan Nilam masih berkumpul didekat Yuuki yang masih tertidur.
            “gimana nih? Nisha masih tidur?” Ujar Mai.
            “Iya…,tadi pagi kan di yang bangunin kita. Apa dia gak tidur ya?” Tanya Nilam.
            “iya kali…,kasihan…,aku gak tega ngebanguninnya.” Ujar Tika.
            Ka Fatimah yang melihat itu, segera menghampiri mereka,
            “Ada apa?”
            “Ini kak…,Nisha masih tidur…,kami tak tega untuk membangunkannya.” Jelas Mai.
            “Baiklah…,kakak kan masih di sini. Sudah…,biar kakak saja yang menunggunya sampai terbangun nanti.”
            “Benarkah kak?” Tanya Nilam yang di sambut dengan senyuman oleh Ka Fatimah.
            Ketiganya segera mencium tangan Ka Fatimah lalu berjalan keluar. Mereka segera meuju kamar mereka untuk membereskan barang – barang. Ka Fatimah yang masih di dalam  pun kembali duduk di meja depan. Ia kembali tersenyum seperti tadi, penuh makna. Dan ia kembali membolak – balikkan halaman bukunya.
            Sesaat kemudian. Yuuki terbangun. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Ternyata sudah sepi. Ia bingung, kemana orang – orang? Kemudian matanya matanya tertuju ke depan ruangan, Ka Fatimah masih ada di sana? Apakah gerangan yang ia lakukan? Menunggunya?
            “Kau sudah bangun?”
            “i…,ya…” Yuuki menjawab dengan gugup. Ia menjadi salah tingkah.
            “Tidur mu…,pulas sekali. Tadi teman – teman mu tak tega untuk membangunkanmu.” Ka Fatimah kembali tersenyum.
            “I…ya.” Yuuki pun kembali menjawab dengan gugup. Lalu ia dengan segera membereskan barang – barangnya dan beranjak untuk keluar kelas. Ia pun mencium tangan Ka Fatimah. “Assalamualaikum.” Ujar Yuuki perlahan.
            “Waalaikum salam. Tunggu dulu Nisha!”
            Yuuki menoleh, Ia terkejut dengan panggilan Ka Fatimah.
            “Nanti sore kamu temui kakak diruang guru. Ada beberapa hal yang mau kakak bicarakan denganmu.”
            Yuuki terkejut, ia bingung. Apakah gerangan yang mau Ka Fatimah bicarakan dengan anak baru macam ia?
            “I…,ya kak.” Yuuki menjawab dengan nada berat. Lalu ke luar dari kelas.
            “hufht…,benar – benar seperti aku dulu.” Ujar Ka Fatimah dengan nada panjang.
            Yuuki berjalan ke luar dengan tergesa – gesa. Ia menuju kamarnya. Di sana sepi sekali. Tak ada teman temannya. Yuuki hanya meletakkan tas nya. Ia pun kembali ke luar dan mencari teman – temannya. Di perjalanannya, matanya tertuju kea rah bangunan besar bertulisskan “ LIBRARY”. Yuuki tertarik sekali namun, ia mengurungkan niatnya. Ia ingin mencari teman – temannya.
            Di perjalanan, ia terus berfikir,
            “aduh…,mati aja. Pasti nanti aku mau di marahi habis – habisan sama Ka Fatimah.”
            Saking asyiknya berfikr ia tak melihat jalan. Lalu ia menabrak santi yang sedang berjalan dengan tergesa – gesa.
            “maaf…,ya…,maaf.” Pinta Yuuki.
            “Ah…,ga papa. Aku saja yang salah karena tadi aku terburu – buru.”
            “Itu apa?” Mata Yuuki tertuju pada bungkusan yang di pegang oleh anak itu.
            “oh…,aku mau memberinya pada kucing yang di luar pagar itu.”
            “oh…” Yuuki terus melihatnya, ia penasaran,
            “Apakah isi bungkusan itu?”
            “Aku duluan ya…?” Lalu anak itu berjalan dengan tergesa – gesa. Yuuki yang penasaran, mengikutinya.
            Sampailah ia di tempat kucing itu. Yuuki melihat dengan jelas sekali, itu makanan sisa tadi pagi. Dalam hati Yuuki tertimbun tanya, mengapa ia melakukan hal itu?
Anak itu menyadari kehadiran Yuuki. Ia pun menoleh,
            “Sudah…,kau mau melihat?”
            “he…he…he…,aku penasaran tadi.”
            “nah…,sekarang sudah tidak lagi kan?”
            “Kamu koq melakukahn hal itu?”
            “kucing kecil ini kasihan…,sepertinya tidak makan beberapa hari. Lihat? Makannya banyak sekali.”
            “Kan dia hanya hewan? Koq kamu baik sekali padanya?”
            “memang tidak boleh? Hewan kan juga makhluk ALLAH.”
            “tidak…,aku heran saja.”
            “sesama makhluk allah kita harus saling tolong menolong.”
            “tapi bukannya itu hanya dengan manusia saja?”
            “makhluk ciptaan ALLAH bukan hanya manusia saja kan?”
            Yuuki terdiam. Selama ini ia tak tahu tentang tolong menolong bukan hanya kepada sesama manusia saja. Ia selama ini malas untuk belajar tentang Agama Islam. Kemudian ia berdiri dan berbalik untuk pergi.
            “Namaku…,Zahro!! Ingat yah!”
            “Tentu!” Yuuki kemudian melanjutkan langkahnya.
Sepanjang jalan ia terus berfikir. Salahkah selama ini ia tak mahu bahkan malas untuk mempelajari Agamanya sendiri?hingga kini ia tak tahu apa – apa? Hatinya campur aduk dengan berbagai pertanyaan yang tak tahu siapakah yang apat menjawabnya. Hingga sampailah ia di sebuah Kantin. Ia melihat teman – temannya. Dengan raut kesal ia menghampiri teman – temannya.
            “enak ya…” Ujarnya sinis.
            “Eh…,Putri tidur sudah bangun.” Goda Nilam.
            “jangan meledek kau Nilam.” jawab Yuuki kesal.
            “Maaf deh…, memang kenapa Nisha?” Tanya Nilam.
            “Pura – pura tak tahu ya…” Sindir Yuuki kembali.
            “maaf deh…,tadi tuh kami ga niat ninggalin kamu.” Jawab Nilam.
            “iya…,ga niat. Cuma mau kan?”
            “eh…,bener deh. Tadi tuh kami mau ngebangunin kamu. Tapi, ya kami ga tega lah Nisha.” Jelas Mai.
            “Ga tega? Karena kegategaan kalian, aku nanti sore di panggil.”
            “koq bisa?” tanya Tika.
            “ya bisa lah…,pasti nih aku mau di marahin.”
            “sama Ka Fatimah?”
            “ya lah…,memang sama siapa lagi?”
            “tadi tuh yang menawarkan mau menungguimu tuh Ka Fatimah. Lagi pula muka seperti Ka Fatimah bukan wajah orang pemarah?” Jelas Mai kembali.
            “tau deh…,nasib ku gimana.”
            “benar koq…,ia tadi tak nampak marah.” Timpal Nilam.
            “Mudah – mudahan aku tak di semprot nanti sore.”
            “Nanti sore?” tanya Tika.
            “iya…,aku di panggil nanti sore.”
            “Maaf…,ya Nisha. Maaf banget.”

*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar