Teng…,Teng…,Teng!!” bel sekolah berbunyi pertanda waktu istirahat. Murid murid segera keluar dari ruang kelas. Ada yang menghabiskan waktu untuk makan dan bercakap – cakap di kantin, mengunjungi perpustakaan, dan lainnya. Namun Yuuki memilih untuk duduk melamun di bangku dekat kelasnya. Tiba – tiba ada dua rang anak laki – laki menghampirinya. Dan sepertinya mereka mau mencari masalah dengan Yuuki.
“hoi…,anak tomboy yang tak tahu aturan!” seru slah satu anak laki – laki itu. rupanya, mereka berdua adalah Tio dan Ramlan yang tadi di kelas pun mencari masalah dengan Yuuki.
“Aku sedang malas meladenimu Tio…,sudahlah jangan ganggu aku.” Sahut Yuuki tak bersemangat.
Kedua orang itu heran mengapa Yuuki yang biasanya ketika mereka meledeknya, pasti akan segera membalas. Kini diam saja dan tak bersemangat. Kedua orang itu saling berpandangan penuh rasa heran. Namun mereka tak kehabisan akal untuk membuat Yuuki marah pada mereka. Mereka pun mencoba kembali.
“Hei Tio…, apa kau pernah mendengar kisah tentang si bebek jelek?” tanya Ramlan dengan raut wajah sinis.
“ehm…, pernah. Siapa ya namanya aku lupa?”
“kalo tidak salah sih…, huruf depannya Y bukan?”
“sebentar…, kuingat – ingat dulu ya…” Tio segera menyentuhkan jari telunjuknya ke keningnya lalu melanjutkan.
“oh iya…, nama si bebek itu…” Tio bersiap – siap bersama Ramlan.
“YUUKI!!” seru mereka berdua. Mengagetkan Yuuki yang sedari tadi duduk tenang. Yuuki pun kesal dan akhirnya mengejar kedua orang itu yang berlari sambil tertawa – tawa. Dengan kekesalan Yuuki terus mengejar kedua orang itu ia mengangkat seragam panjangnya sedikit agar memudahkan ia berlari. Setelah kedua orang itu berhasil didapatkannya ia segera menarik telinga kedua orang itu yang masih terus tertawa – tawa.
*****
Hari demi hari telah berlalu. Tak terasa ini adalah hari terakhir Yuuki masuk sekolah. Karena esok hari adalah libur menjelang pembagian rapor dari Mid semester yang dilaksanakan seminggu yang lalu. Namun raut wajah Yuuki, tak nampak rasa senang dan bahagia menjelang liburan seperti murid – murid yang lain. Justru malah wajah bersungut – yang ia tampilkan untuk memulai harinya. Dengan langkah berat hati ia pun berjalan ke sekolah. Untuk melalui hari terakhirnya di sekolah dan mengucapkan “Selamat datang” pada liburan ini.
Sambil berjalan di taman sekolahnya, Yuuki terus menggerutu sendiri. Saat itu bel belum berbunyi dan hariini pun Yuuki tidak mendapat bagian untuk piket. Ia berjalan bolak – balik sendiri, seperti ia sedang gelisah dan memikirkan sesuatu yang sangat penting.
“duh…,duh…,mana besok berangkat lagi…” Yuuki gelisah sekali. Ia mondar – mandir memikirkan hal itu. Sampai akhirnya ia dikagetkan oleh bunyi bel tanda jam pelajaran akan dimulai.
Teng…,Teng…,Teng… bel berbunyi keras sekali. Hingga mengagetkan Yuuki dari kegelisahannya.
“Astagfirullah hal azhim…” Yuuki terkaget dengan suara itu. Lalu ia melanjutkan.
“ itu bel ga bersahabat banget. Orang lagi gelisah malah dikagetin.”
Yuuki lalu berjalan ke kelas dengan langkah tak bersemangat. Pelajaran pertama adalah matematika. Gurunya ialah wali kelasnya yaitu Bu Riqotul. Hari ini mungkin ia hanya memberi pengumuman – pengumuman dan nasihat saja, karena esok hari sudah memasuki waktu liburan. Yuuki pun juga menyukai pelajaran Bu Riqotul ini, hanya satu yang disayangkan. Seperti Bu Anita, Bu Riqotul pun keras dalam hal agama.
Di dalam kelas Yuuki terus termenung. Teman – teman di sekitarnya merasa aneh. Yuuki yang mereka kenal biasanya adalah seorang yang super ceria, kini termenung? Apakah yang ia pikirkan pagi – pagi begini? Sesaat kemudian ada seorang anak laki – laki yang menghampirinya.
“ Yuuk…,Yuuki…” panggil anak itu.
“ha?..,ada apa Dis?”
“kamu sudah mengerjakan belum, tugas halaman 143?”
“yang mana sih?”
“yang itu, yang tentang data statistik?”Tanya Yuuki. Lalu ia melanjutkan,
“oh…,itu. Sudah? Memang kenapa?”
“Lihat dong. Aku kurang 5 nomor lagi nih.” Pinta anak yang dipanggil Dis itu.
“enak saja. Tadi malem tuh, walau otak ku penat memikirkan Something tetapi aku masih ada upaya mengerjakan. Enak saja kau dengan mudahnya melihat punya saya.”
“ah…, ini kaya bukan Yuuki yang biasanya deh. Biasanya kan baik hati dan tidak sombong. Ayolah, Yuuk, aku lihat sedikit saja. Bolehkan? Tentu dong kan kau baik hati dan tidak sombong. Betul?” Dissa mengacungkan jempol tangannya dihadapan wajah Yuuki.
“rayuan seperti itu tidak berpengaruh. Jangan sok cute, Lebay deh. Aku memang jahat hati dan sombong. Makanya kamu harus hati – hati.” Ujar Yuuki dengan nada menyeramkan.
Dissa pun kembali ketempatnya, ia merasa ada yang aneh dengan Yuuki. Biasanya, Yuuki akan terpengaruh dengan pujiannya. Tapi, untuk hari ini tidak. Ia kecewa sekali, tak bisa mendapat contekan. Sesaat kemudian Bu Riqotul memasuki kelas.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam…” jawab anak – anak serempak.
“bagaimana kabar kalian hari ini?”
“Luar biasa bu…!” Sahut anak – anak serempak. Terkecuali Yuuki yang menjawab dengan nada malas.
“sudakah kalian siap untuk liburan?”
“Tentu bu…!” Sahut anak – anak kembali.
“Sudahkah kalian siap dengan tugas – tugas liburan ini?
“sudah bu.” Hanya Yuuki yang menjawab. Seluruh kelas hening tak ada suara.
“Inilah kebiasaan anak jaman sekarang. Maunya hanya lburan terus. Tapi tugasnya tak mau.”
“he…,he…,he…”seluruh anak – anak tertawa.
“Siapa yang sudah mengerjakan dengan lengkap tugas yang ibu berikan?”
“saya bu.” Yuuki menjawab dengan nada malas. Tetapi dari satu kelas hanya ia sendiri yang tunjuk jari. Ia melihat ke sekitar. Ternyata benar hanya ia sendiri.
“dari satu kelas, yang rajin hanyalah Nisha. Yang lain kemana? Coba ibu mau tanya, siapa lagi selain Nisha?”
Tidak ada yang tunjuk jari sama sekali. Kelas yang tadinya ramai menjadi hening. Tidak ada suara. Kemudian Bu Riqotul melanjutkan.
“Siapa yang mengerjakannya tidak jujur? Atau menyalin punya temannya? Jujur anak – anak.”
Hampir satu kelas tujuk jari. Bu Riqotul mengelus – ngelus dadanya. Lalu berkata. “ Sabar…,sabar…,sabar…” Bu Riqotul memang terkenal ketegasannya. Lalu kemudian ia melanjutkan ucapannya.
“Islam mengajarkan kita untuk selalu jujur dan jangan sampai kita berbuat curang. Dengan hal kamu menyontek, ada dua jiwa yang kamu tipu. Pertama Ibu dan yang kedua diri kamu sendiri. Kalian tahu itu kan? Kalian ini sudah kelas dua SMP, gerbang menuju Ujian Nasional semakin dekat. Hilangkanlah budaya mencontek kalian itu. Karena termasuk perilaku tidak baik yaitu berbohong. Agama kita sendiri pun mengajarkan untuk selalu dan selau hidup dalam kejujuran. Kenapa kita berani untuk menyalahinya? Apa Karena kalian sudah merasa hebat?” Jelas Bu Riqotul lalu ia kembali mengelus dadanya. Dan melanjutkan kata – katanya.
“Nak…,nak…, Ibu mohon kalian hilangkan itu sifat kalian yang seperti itu. Kali ini ibu maafkan. Karena besok kalian sudah liburan.”
“Terima kasih bu.”
“Tugas liburan untuk kalian adalah mengerjakan kembali soal – soal itu. Dan ditambah dengan merangkum bab selanjutnya, lalu mengerjakan latihan – latihannya. Dan untukmu Nisha, karena hanya kamu yang jujur, kamu hanya mengerjakan latihan bab selanjutnya saja. Mengerti anak – anak?”
“ Mengerti bu…” Jawab anak – anak serempak.
Tak terasa waktu terus berlalu. Hingga sampai bel istirahat berbunyi, Teng…,Teng…,Teng…, murid murid segera berhamburan keluar dari kelas dan melakukan berbagai kegiatan. Ada yang melaksanakan shalat Dhuha, ada yang mengaji di kelas, ada yang berlari – lari di lapangan, ada yang beristirahat di kantin, dan ada pula yang termenung sendiri. Ialah Yuuki. Ia taermenung sendiri dengan wajah gelisah dan cemberut sambil duduk di bangku di halaman sekolah. Tak lama kemudian ada seorang anak laki – laki dan perempuan datang menghampiri.
“Hei…,Cemberut aja sih…!” goda anak laki – laki itu.
“iya…,nih. Udah kayak mau menghadapi sesuatu yang berat gimana…,gitu.” Lanjut anak perempuan itu.
“Ah…, Fuad, Kiana. Kalian hanya bisa meledek ku saja. Aku lagi bad mood nih untuk bercanda.” Jawab Yuuki pendek.
“Iya…, minta maaf deh. Emang kamu kenapa sih?” tanya anak perempuan yang bernama Kiana.
“aku kesal karena esok hari kita sudah libur.”
“lah…, orang lain mah liburan senang gimana…, gitu. Ini malah ngedumel sendiri.”
“Ih…,kau tidak tau sih.”
“makanya…,kasih tau dong..!” seru kedua anak itu serempak.
“ih…, pokoknya kesal dah. Liburan a nada, aku akan dikirim ke pesantren.”
“dikirim…,emang paket apa. Lah…, kamu kan masih sekolah disini. Kamu mau pindah sekolah?”
“Apadah tau. Pesantrennya tuh Cuma selama liburan, a nada programnya. Masa suruh pindah sekolah. Aku sih ga mau itu.”
“Oh…,begitu. Tapi ada apakah dengan pesantren?” tanya Fuad heran.
“ lah…, itu memang ide siapa?”Tanya Kiana.
“Ide Umiku. Dan yang paling membuatku jengkel adalah Abi ku menyetujuinya.” Ujar Yuuki jengkel.
“Sabar…,sabar mba. Tapi coba deh lihat positifnya. Kamu enak bisa pergi. Lah…,aku dirumah saja karena menurut perkiraan dokter ibuku yang mengandung, akan melahirkan adik ke dua ku dalam waktu dekat ini.” Jelas Kiana.
“Iya…, lagi kamu kan enak tuh, kamu bisa dapet tambahan ilmu agama. Don’t see the Negative side, But you must try to see the Positive side.” Ujar Fuad.
“Ah…, Fuad. Berlaga orang barat, Matematika saja kau menyontek. Ha…ha…ha.” Ujar Yuuki yang sedikit terhibur oleh kedatangan kedua sahabatnya itu.
“Hey…, jangan salah. Kalau soal matematika mah itu beda lagi ceritanya.”
“Hu…, dasar Fuad. Bisa aja kau.” Seru Kiana.
“Ya…,iyalah. Fuad Zulkarnaen gitu.” Ujar Fuad seraya menepuk – nepukan tangannya sendiri.
“Ya…,sudahlah. Terserah kau saja. Thanks ya kalian dah bikin aku sedikit senang dan terhibur.”
“So…,pasti itu. Yuk…,kita ke kantin ada Lian di sana.” Ajak Kiana.
“Ayo…, Berang – berang bawa tongkat, Berangkat!” Seru Fuad dengan semangat 45 nya.
“Eits…, Tunggu dulu.. Kali ini kau yang traktir ya?” Ujar Yuuki menyeringai.
“Iya…, Iya…, takutan amat sih. Aku baru dapat uang nih dari kakak ku. Tadi juga Ummi memberi uang jajan lebih.” Ujar Fuad dengan bangganya.
“Okelah kalo begitu.” Ajak Lian menggandeng Yuuki.
Fuad Zulkarnaen dan Kiana Dewi ialah salah satu teman Yuuki. Mereka selalu berdua hamper seperti kakak dan adik. Mereka selalu membuat Yuuki tertawa dengan ledekan – ledekan yang mereka buat. Hal itulah kesamaan dari keduanya.
Sama – sama suka meledek orang dan membuat orang tertawa.
Tak terasa waktu berjalan, tiba saat Ummi dan Abi mengantar dan mendaftarkan Yuuki dan Nur. Namun, sesuatu terjadi pada Nur. Nur tidak bisa ikut karena ia demam mendadak. Kemarin sore Nur bermain hujan – hujanan. Tinggallah Yuuki sendiri yang harus berangkat ke pesantren itu.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar